Kerajaan Surga Dijanjikan Kepada Siapa?

Kerajaan Surga Dijanjikan Kepada Siapa?

Minggu, Lemah Putro, 29 Oktober, 2017

Pdt. Paulus Budiono

Shalom,

Setiap dari kita – kecil-besar, tua-muda, laki-perempuan, dst. – pasti memiliki pera-saan berbeda dalam merespons sesuatu juga terhadap kasih Tuhan. Namun hendaknya semua perbedaan ini dipelihara baik dengan tujuan tumbuh bersama dalam kesatuan. Misal: dalam doa penyerahan anak, ada anak yang sedikit ‘berontak’ karena kaget ada tangan kasar menyentuh kepalanya namun ada pula yang malah meraih dan memegang tangan Hamba Tuhan yang mendoakannya.

Pasangan suami-istri pasti bersukacita merespons kehadiran seorang bayi meskipun si istri sempat menderita ketika hendak melahirkan terlebih Yesus saat melihat anak-anak datang kepada-Nya karena orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Surga (Mat. 19:14).

Apakah janji kepemilikan Kerajaan Surga hanya berlaku bagi anak-anak yang datang kepada Yesus? Dan apa syarat untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan-Nya? Yohanes 3:3-5 menuliskan, “Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguh-nya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan ka-lau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Terdengar aneh, Nikodemus (tua) bertanya bagaimana mungkin orang sudah tua masuk kembali ke rahim ibunya untuk dilahirkan kembali namun Yesus tidak memberikan jawaban langsung terhadap pertanyaannya melainkan menjawab seorang yang tidak dilahirkan dari air dan Roh tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Di sinilah letak perbedaan respons orang dewasa (bahkan tua) dan anak: anak kecil datang dengan ‘apa adanya’ dan pasrah tanpa banyak bicara sementara orang dewasa mengemukakan banyak alasan dan motivasi berkaitan dengan Kerajaan Allah.

Terbukti Kerajaan Surga menjadi impian manusia dan terbuka bagi siapa saja alias tidak ada batasan umur untuk masuk ke dalamnya tetapi kita harus tahu syaratnya untuk menjadi warga negara Surga. Memang kita memiliki kewargaan Indonesia karena masih hidup di dunia tetapi apakah kita berkeyakinan menjadi pewaris Kerajaan Surga? Waspada, dunia dengan kecanggihan teknologi serta kecerdasan manusia membuat manusia meragukan keberadaan Allah, Sang Pencipta. Mereka berusaha mengklona (mereproduksi aseksual) manusia baru dari sperma unggul yang disimpan untuk menghasilkan resimen tentara yang gagah, kuat, tidak rentan sakit, tidak punya rasa takut dan cemas dst. Dengan demikian, mereka dapat menguasai dunia dan menganggap manusia tidak lagi ciptaan Allah.

Apa syarat untuk masuk dalam Kerajaan Allah?

  • Masuk dalam rahim untuk mengalami proses kelahiran.

Apa yang terjadi dalam rahim seorang ibu? Plasenta (ari-ari) menjadi penghubung utama antara embrio dan ibu untuk pertukaran nutrisi, oksigen, dan limbah/sisa buangan. CO2 yang bersumber dari bayi dibawa oleh sel-sel darah melalui tali pusat menuju plasenta untuk diproses dan dibersihkan lalu dikembalikan kepada ibu dalam bentuk darah bersih. Tanpa plasenta, janin tidak dapat membersihkan darahnya sendiri. Ajaibnya, janin juga dibungkus oleh ketuban yang berfungsi sebagai pelindung janin dari benturan, mencegah tali pusat dari kekeringan yang menghambat penyaluran oksigen melalui darah ibu ke janin serta berperan sebagai cadangan cairan dan sumber nutrient bagi janin untuk sementara dll. Baru setelah lahir, bayi menangis dan paru-paru serta organ-organ tubuh lainnya berfungsi sempurna.

Yesus memberi kesempatan anak-anak (yang belum dibaptis) mewarisi Kerajaan Surga (Mat. 19:14). Namun Ia juga memberi kesempatan Nikodemus masuk dalam Kerajaan Surga melalui kelahiran baru dengan bertobat dan dibaptis sebab dia seorang guru yang mengerti Taurat. Kenyataannya, kita sudah mendengar Firman Allah puluhan bahkan ratusan kali tetapi ini tidak menjamin kita sudah ‘lahir kembali’ untuk memiliki Kerajaan Surga. Dalam hal ini, diperlukan tingkat kedewasaan (rohani) untuk memutuskan masuk dalam baptisan air. Ilustrasi: bagi anak pemegang 2 warga negara (WNA dan WNI) baru diizinkan memilih warga negara mana yang dikehendaki setelah dia berumur 16 tahun.

Pertanyaan: kita memang warga negara Indonesia tetapi kita harus memilih ikut warga negara dunia atau warga negara Kerajaan Surga?

Baptisan air sama seperti seorang yang akan dilahirkan, ditandai darah dan air (ketuban yang pecah). Saat Yesus mati di atas kayu salib, keluarlah darah dan air ketika lambung-Nya ditusuk (Yoh. 19:34) dan lahirlah gereja Tuhan.

Kita dianggap sah menjadi WNI bila nama kita tercantum dalam KTP; apakah sebagai warga Kerajaan Surga, nama kita tertulis dalam buku kehidupan?

Proses kelahiran ditandai dengan dukacita karena kesakitan – pertobatan dengan pengakuan mohon pengampunan dosa – diganti sukacita karena kelepasan (dari ikatan belenggu dosa) untuk menerima Roh yang menjadikan kita anak Allah (untuk menerima warisan Kerajaan Surga) sehingga kita dapat berseru, “Ya Abba, ya Bapa.” (Rm. 8:15)

Bila Roh Allah yang lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia (1 Yoh. 4:4) ada di dalam kita, kita kuat menghadapi ancaman dunia yang hanya dapat membunuh tubuh tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa; jauh berbeda dengan Tuhan Yesus, Pemilik Kerajaan Surga yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28).

  • Minum air susu murni.

Seperti bayi yang baru lahir membutuhkan ASI; demikian pula mereka yang sudah mengalami kelahiran baru (dibaptis) menginginkan air susu murni rohani supaya bertumbuh dan beroleh keselamatan (1 Ptr. 2:2).

Hendaknya kita merindukan air susu Firman Tuhan yang murni; jangan mengon-sumsi ‘air susu’ buatan dunia yang diolah oleh profesor-profesor liberal. Kita juga harus makan ‘Roti hidup dari Surga’ (Yoh. 6:48), jangan mengonsumsi ‘roti duniawi’.  

Aplikasi: bagi ‘anak-anak’ yang baru lahir baru, minumlah ‘air susu murni’. Orang tua bertugas ‘meracik’ Firman Tuhan menjadi ‘minuman’ sehat bagi anak-anaknya. Jangan gampang ‘membeli’ susu buatan (buku-buku rohani, renungan, santapan rohani dll.) buatan teolog sekalipun jika latar belakangnya tidak jelas sebab kita tidak tahu apakah dia hanya pintar otaknya tetapi hatinya tidak berpaut kepada Tuhan. Bagi mereka yang sudah dewasa, konsumsilah Roti Firman kehidupan dan jangan suka memilih-milih Firman maupun Pembicara untuk memuaskan keinginan telinga (2 Tim. 4:3).

Yang perlu diperhatikan, kita harus tahu kapan anak/bayi berhenti minum air susu murni (disapih). Sangatlah aneh melihat anak berumur enam tahun masih minum susu pakai dot, tetapi banyak orang Kristen sudah puluhan tahun pergi ke gereja mendengarkan Firman Tuhan tetapi masih ‘mengedot’, mengonsumsi Firman yang gampang tanpa memakai otak/akal budi untuk berpikir. Bukankah Tuhan menciptakan hati, jiwa, akal budi/pikiran dan kekuatan untuk mengasihi-Nya (Mrk. 12:30)?

Alkitab memberikan contoh ketika Ishak disapih, terjadi kejutan luar biasa yaitu Ismael diusir dan Ishak menerima warisan ayahnya (Kej. 21:8-10). Kita sama se-perti Ishak dari perempuan merdeka (Sara) sebagai anak janji yang menjadi ahli waris Kerajaan Surga (Gal. 4:22-30) sebab daging tidak mewarisi Kerajaan-Nya (1 Kor. 15:50).

Demikian pula dengan Samuel kecil, setelah disapih dia dibawa ibunya, Hana, menghadap Imam Eli untuk tinggal bersamanya di rumah Tuhan seumur hidup (1 Sam. 1:24-28). Banyak orang Kristen tidak mau menjadi dewasa untuk melayani Tuhan dengan baik – kehidupan pelayanannya tidak mandiri, hanya melayani di bawah komando.

Introspeksi: bukankah sering kali kita menolak masuk dalam pelayanan dengan alasan tidak mampu, tidak punya pengalaman dll. padahal alasan mendasar ialah tidak mau? Contohlah Daniel yang menjadi pemimpin hebat di kerajaan musuh di bawah pemerintahan Raja Nebukadnezar sekaligus hebat di hadapan Tuhan (Dan. 2:48; 3:16-18).

  • Tidak menjadi serupa dengan dunia

Rasul Paulus mengingatkan agar kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah (ay. 1). Maksudnya, selama masih hidup, hendaknya kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan bukan kepada dunia. Untuk itu diperlukan keubahan hidup agar mengerti kehendak-Nya. Tantangannya ialah: jangan mencintai dunia dan segala isinya itulah keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup (1 Yoh. 2:15-16). Gereja bukan tempat untuk pertunjukan tetapi untuk penyembahan, jangan gereja malah mencontoh model dunia.

Apa karakteristik dari Kerajaan Allah?

v Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17). Kerajaan Allah tidak jauh dari kita, di mana Yesus ada di situlah Kerajaan-Nya ada (Mrk. 12:34). Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan tetapi dari kuasa (1 Kor. 4:20) yang mampu mengatasi seluruh kuasa dunia yang merusak dan membuat kita stres, bingung, dan frustasi. Kerajaan Allah berisikan orang-orang adil (1 Kor. 6:9) dst.

v Memberikan pembelaan di kala semua orang meninggalkan kita serta menye-lamatkan kita dari setiap usaha yang jahat (2 Tim. 4:16-18).

Rasul Paulus mengalami kesendirian dalam pelayanan sampai dipenjara tetapi u-capan syukur selalu keluar dari mulut bibirnya karena dia yakin masuk dalam Kerajaan Allah di Surga (ay. 18). Bukankah Yesus juga sendirian ditinggal para murid-Nya saat diadili bahkan sampai mati disalib?

v Menganugerahkan kita janji-janji berharga dan sangat besar supaya kita boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan. Untuk itu kita harus meningkatkan iman → kebajikan → pengetahuan → penguasaan diri → ketekunan → kesalehan → kasih akan saudara-saudara → kasih akan semua orang. Dengan demikian kita memiliki hak penuh untuk masuk dalam Kerajaan Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus (2 Ptr. 1:3-11).

Tuhan tidak pernah pilih kasih, Ia memberi kesempatan baik anak kecil yang datang dalam kepolosan hati maupun orang dewasa yang bertobat dan dilahirkan baru untuk mewarisi Kerajaan Surga. Oleh sebab itu tinggalkan sifat-sifat duniawi dan tingkatkan hidup rohani kita untuk beroleh janji berharga yang mana satu kali kelak kita masuk ke dalam Kerajaan-Nya dan tinggal bersama si Pemilik Kerajaan tersebut selamanya. Amin.