Beberapa Nasihat Sebagai Peringatan - Yudas 1:1-24

Beberapa Nasihat Sebagai Peringatan - Yudas 1:1-24

Pdm. Markus Budi Rahardjo

Minggu, Lemah Putro, 19 November, 2017

Shalom,

Sesungguhnya Tuhan telah memberikan beberapa nasihat sebagai peringatan sebelum sesuatu terjadi sebagai bentuk perlindungan Allah Tritunggal terhadap jemaat-Nya. Bukankah kita sebagai orang tua juga tidak bosan-bosan memberi nasihat dan peringatan kepada anak-anak kita agar mereka memiliki karakter baik sebab anak yang dikasihi perlu ditegur bahkan dihajar (kalau perlu) demi kebaikan mereka (Ibr. 12:5-10)?

Yudas juga menulis banyak nasihat dan teguran dalam tulisannya di Surat Yudas untuk menunjukkan perlindungan Tuhan kepada kita. Dalam pengajaran Tabernakel, Surat Yudas terkena pada Tudung kulit lumba-lumba yang merupakan tudung teratas atau keempat dari tiga tudung di bawahnya. Tudung ini tidak indah, tidak mempunyai ukuran tertentu tetapi kulitnya sangat kuat dan tahan terhadap segala pengaruh cuaca (panas, dingin, hujan, angin dan badai) di padang gurun. Tudung ini bicara soal pehukuman.

Tudung yang berlapis-lapis tersebut (tenda Tabernakel, tenda bulu kambing, tudung kulit domba jantan yang diwarnai merah dan tudung kulit lumba-lumba) menunjukkan betapa kuat dan amannya perlindungan Tuhan terhadap gereja-Nya, termasuk kita.

Peringatan apa yang tertulis dalam Suratan Yudas? Kita harus waspada terhadap:

  • Orang-orang fasik yang menyelusup di tengah-tengah kita. Mereka menyalah-gunakan kasih karunia Allah untuk melampiaskan hawa nafsu mereka dan mereka menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus

Siapa yang dimaksud orang fasik ini? Kamus Alkitab menuliskan: orang keji, membenarkan diri, serakah, menyombongkan diri, mencari kesalahan, pura-pura beribadah, mengajarkan tetapi tidak melakukan, memuliakan Allah di bibir saja, suka dihormati, lebih mementingkan adat istiadat daripada Firman Tuhan.

Tuhan memberikan ancaman keras terhadap orang fasik, “Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, Firman Tuhan semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka.” (Mal. 4:1) Itu sebabnya, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik…” (Mzm. 1:1)

  • Pengejek-pengejek yang hidup menuruti hawa nafsu kefasikan

Pengejek-pengejek tersebut sering menguji kesungguhan iman kita kepada Kristus sebab setiap orang yang mengikut Dia harus berani menyangkal diri dan memikul salib (Mat. 16:24). Contoh: Ayub mengalami ujian berat yang mana semua anak dan hartanya habis bahkan si istri yang seharusnya menjadi penolong malah mengejeknya untuk mengutuki Allahnya lalu mati (Ay. 2:9).

Ejekan tidak hanya ditujukan kepada kita, pengikut Kristus, tetapi Kristus sendiri mengalaminya saat Dia disalib bahkan penjahat yang turut disalib di sampingnya pun menghujat Dia (Luk. 23:35,39).

Pada akhir zaman ini pengejek-pengejek makin gencar melontarkan ejekan kapan Tuhan datang kembali untuk meruntuhkan iman orang percaya (2 Ptr. 3:3-4).

  • Pemecah belah yang dikuasai oleh keinginan dunia dan hidup tanpa Roh Kudus

Siapa yang dimaksud dengan pemecah belah ini? Kamus Alkitab menyatakan: orang yang cenderung mempertajam perbedaan-perbedaan yang ada (menghasut) sehingga menghancurkan kesatuan dan persatuan gereja. Ini jelas berlawanan de-ngan tujuan akhir gereja Tuhan yaitu kesatuan dan persatuan Tubuh Kristus (Ef. 4:15-16).

Roh pemecah (Yunani: hairesis) mempunyai arti: merampas, mengambil yang bu-kan miliknya, merusak, pertikaian/perselisihan, perbedaan pendapat dan tujuan.

Apa nasihat Yudas dalam menghadapi orang fasik, pengejek dan pemecah belah?

v Kita harus membangun diri di atas dasar iman (ay. 20).

Kehidupan rohani tidak boleh berhenti hanya sebatas iman tetapi terus dibangun dan iman harus teruji menghadapi segala rintangan dan ujian. Banyak pahlawan iman menjadi teladan bagi kita, antara lain: Abraham, Nuh, Ayub, Sadrakh-Mesakh-Abednego (yang menolak perintah Raja Nebukadnezar untuk menyembah patung emas yang dibuatnya; Dan. 3:17-18).

Yesus sendiri dalam Perjanjian Baru memuji iman seorang perwira yang hambanya sakit lumpuh dan minta disembuhkan (Mat. 8:8b,10b).

Iman kita terbangun bila kita selalu berdoa dan dipenuhkan oleh Roh Kudus (Yoh. 14:26).

v Kita memelihara kasih Allah (ay. 21).

Kasih Allah dibuktikan dalam pengurbanan-Nya di atas kayu salib (Yoh. 3:16) dan keselamatan untuk hidup kekal dikaruniakan kepada mereka yang bertahan sampai pada kesudahannya (Mat. 24:13).

Kita dapat memelihara kasih Allah dengan selalu menghargai kurban Kristus, bersedia menanggung kesalahan bahkan berkurban untuk orang lain, rela diren-dahkan dengan diolok, dihina, dicaci maki seperti telah diteladankan oleh Kristus sebab untuk itulah kita dipanggil (1 Ptr. 2:21).

v Kita menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu (ay. 22-23a); dengan kata lain, kita peduli terhadap keselamatan orang lain.

Yesus telah memberikan teladan sempurna dengan menunjukkan belas kasihan kepada orang-orang lain ketika Ia berada di bumi selama 3½ tahun. Setiap hari Ia berkeliling ke kota dan desa memberitakan Injil Kerajaan Surga, mengajar dalam rumah-rumah ibadat serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (Mat. 9:35).

Kenyataannya, banyak pengikut Kristus meragukan keselamatan di akhir hidupnya sebab mereka tidak mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2: 12). Kita harus peduli terhadap kondisi orang semacam ini dengan memberikan kekuatan nasihat Firman Tuhan agar imannya teguh kembali (bnd. Ibr. 12:12-13).

Allah memberikan perlindungan kuat bagi kita dalam menghadapi orang-orang fasik, pengejek-pengejek dan pemecah belah yang berusaha menggoyahkan bahkan meru-buhkan iman kita. Untuk itu kita harus membangun diri dengan dasar iman yang suci, memelihara kasih Allah serta berbelas kasihan kepada orang lain yang masih me-ragukan keselamatannya agar bersama kita mereka juga beroleh keselamatan dan tinggal bersama Tuhan Yesus, Mempelai Pria Surga, di Yerusalem Baru selamanya. Amin.