Bagaimana Pengikutan Kita?

Bagaimana Pengikutan Kita?

Minggu, Johor, 19 November 2017

Pdm. Harijono

Shalom,

Bila kita memiliki Firman Tuhan, Roh dan kasih-Nya dalam hidup kita, kita akan mampu menjalani hidup yang diombang-ambingkan oleh ‘keganasan laut’ ujian dan pencobaan yang bertujuan memurnikan iman kita. Namun, jangan lupa, Ia mem-berikan janji hak penuh masuk dalam Kerajaan Surga bila kita dapat bertahan hingga pada akhir hidup kita.

Sadarkah kita bahwa pengikutan kita kepada Yesus Kristus tidaklah selalu berada ‘di jalan’ yang mulus dan enak tetapi melalui proses pertumbuhan sampai kepada pengenalan sempurna agar tidak mudah tersandung (2 Ptr. 1:5-11)? Untuk itu ibadah sangatlah penting dan berarti sebab membawa kita kepada keselamatan; Tuhan tidak berkenan jika kita meninggalkan pertemuan-pertemuan ibadah dengan sengaja (Ibr. 10:25) karena tersandung dengan orang di gereja, kesibukan bekerja dll.

Apa yang Tuhan inginkan dalam kita beribadah? Pengikutan, pengenalan kita kepada-Nya tidak berhenti pada keberkatan perkara jasmani (kesehatan prima, kepandaian, pendidikan tinggi, keuangan baik dst.) tetapi harus dilanjutkan sampai ‘ke seberang’ untuk melihat kemuliaan-Nya.

Apa yang Yesus lakukan sebagai bukti kasih Allah kepada manusia berdosa? Matius 8:16-22 menuliskan, “Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya:"Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." Ketika Yesus melihat orang banyak mengelilingi-Nya, Ia menyuruh bertolak ke seberang. Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Seorang lain yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izin-kanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka." Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya.”

Yesus melakukan banyak mukjizat kesembuhan dan pengusiran roh jahat seperti telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya. Ia telah memikul dosa kita di kayu salib supaya kita yang mati terhadap dosa menjadi hidup dalam kebenaran (1 Ptr. 2:24). Namun Ia menginginkan lebih dari kesembuhan fisik (hidup sehat dan makmur) yaitu ‘bertolak ke seberang’.

Siapakah orang-orang yang mengelilingi Yesus menjelang malam itu? Mereka tentu mempunyai pengalaman dengan Yesus, setidaknya pernah mendengar berita dari orang-orang lain atau menyaksikan sendiri bagaimana Yesus dengan kuasa Firman menyembuhkan orang sakit atau yang bersangkutan mengalami sendiri kuasa Yesus kemudian dengan sukarela membawa temannya yang sakit kepada Yesus untuk disembuhkan. Jelas, kuasa Yesus terdengar di mana-mana – kuasa hikmat yang mam-pu menyelesaikan segala masalah.

Apakah Yesus puas mereka mengalami mukjizat kesembuhan dari pelbagai penyakit dan gangguan dari roh jahat? Ia menyuruh supaya bertolak ke seberang. Sebenarnya ini merupakan kelanjutan kasih-Nya bagi mereka yang sudah mengalami kesembuhan untuk tidak berhenti di situ tetapi ke seberang melewati badai hidup bersama-Nya. Ini menunjukkan peningkatan kualitas dari mereka yang sudah disembuhkan untuk mengalami keselamatan sampai kepada hidup kekal bersama-Nya.

Siapa dan apa responsnya terhadap tawaran Yesus ke ‘seberang’?

  • Ahli Taurat

Ahli Taurat memosisikan Yesus sebagai Guru dan mengatakan bahwa dia akan mengikuti Yesus ke mana saja Ia pergi. Kita tahu guru bertugas mengajari orang supaya pandai tidak peduli apakah kepandaian itu masuk ke dalam hati dan mengubah hidupnya.

Sebenarnya tindakan ahli Taurat ini proaktif namun Yesus tahu persis siapa dia. Bagaimana sikap seorang ahli Taurat?

- Dia melayani jemaat Yahudi (yang banyak orang Farisi di dalamnya) mem-beritakan Taurat dengan teliti dan cermat tetapi dia sendiri tidak melaku-kannya. Dengan kata lain, dia seorang munafik (Mat. 23:3-5, 13,-15, 28).

- Penampilan di luar tampak bersih tetapi di dalamnya penuh kejahatan dan kekotoran/kenajisan (Mat. 23:25-27).

Ternyata pengikutan ahli Taurat ini hanya sebatas otak/pikiran karena mereka orang pandai tetapi hatinya berbicara lain, tidak mengalami keubahan dari kitab Taurat Musa.

Apa respons Yesus terhadap permintaan ahli Taurat tersebut?

Yesus memberi perumpamaan seekor serigala (Mat. 8:20). Nabi-nabi palsu yang menyesatkan digambarkan sebagai serigala buas yang menyamar seperti domba (Mat. 7:15). Dengan kata lain, ahli Taurat seolah-olah mengajarkan kebenaran tetapi sesungguhnya menyesatkan. Selain menyesatkan, serigala bersifat ganas siap menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba (Yoh. 10:12). Ahli Taurat bagaikan gembala upahan yang takut melihat kedatangan serigala ganas dan segera berusaha menyelamatkan diri sendiri, menunjukkan tidak adanya sifat tanggung jawab.

Yesus juga menyinggung tentang burung, menggambarkan kekotoran/kenajisan (Im. 11:13-19).

Jelas Yesus (Anak Manusia) meletakkan kepala-Nya pada tubuh-Nya, itulah kita yang dipelihara Firman untuk dibenarkan, dikuduskan setelah menerima penebus-an (1 Kor. 1:30).

Harus diakui, tidaklah mudah menjalani proses dibenarkan dan dikuduskan setelah beroleh pengampunan. Contoh, seorang muda kaya yang telah melakukan semua perintah Tuhan ingin beroleh hidup kekal. Oleh Yesus dia disuruh menjual segala miliknya dan memberikannya kepada orang miskin lalu mengikut Dia. Namun anak muda ini sedih dan pergi (Mat. 19:16-22), karena hartanya banyak, dia tidak rela.

  • Murid Yesus

Murid ini menawar ajakan Yesus dengan alasan mau menguburkan ayahnya dahulu. Tentu alasan ini tidak salah sebab seorang anak patut mengutamakan orang tua yang sudah membesarkannya tetapi di hadapan Tuhan hal ini dianggap tindakan egoistis karena lebih memikirkan diri sendiri daripada memikirkan orang lain yang membutuhkan Injil Kristus.

Sebagai murid, dia diharapkan dapat melanjutkan apa yang telah diajarkan Yesus untuk membawa orang-orang ke dalam kerajaan Surga. Namun pengenalan murid ini kepada Tuhan belum mencapai bobot tinggi, dia lebih memikirkan kepen-tingannya sendiri ketimbang perkara Surgawi. Namun lebih lanjut Yesus mengata-kan, “Ikutlah Aku…” merupakan pengharapan bahwa saatnya bagi murid tersebut untuk mengikut Yesus.

Pengikutan murid ini berbeda dengan pengikutan ahli Taurat yang memang sejak awal tidak ditandai kesungguhan hati. Pengikutan dan pengenalan murid ini masih tergolong ‘kanak-kanak’ (Ibrani 5:13) sehingga tidak dapat membedakan mana yang utama/terpenting dan tidak. Murid ini memanggil “Tuhan” sebagai penga-kuan bahwa Yesus adalah Juru Selamat. Mendengar alasan ini Yesus masih berbelas kasihan dan tidak langsung menolaknya tetapi memberi kesempatan kedua dengan mengajak dia untuk ikut dengan-Nya (Mat. 5:22-23).

Aplikasi: bila kita masih diberi kesempatan kedua untuk mengikut Tuhan, jangan sia-siakan tetapi manfaatkan sebagai panggilan terakhir (bnd. 2 Kor. 6:1-8) sebab kemurahan Tuhan ada batasnya.

Kasih Allah begitu besar bagi manusia berdosa dengan mengutus Yesus ke dunia untuk mati disalib agar kita hidup. Yesus tidak berhenti menyembuhkan orang-orang dari segala kelemahan jasmani dan jiwa yang dirongrong oleh roh jahat tetapi Ia ingin kita maju bertolak ‘ke seberang’ untuk beroleh hidup kekal. Untuk itu kita harus berani bayar harga dengan menerobos ombak dan badai laut ujian maupun pencobaan.

Bagaimana respons kita terhadap ajakan Tuhan untuk lanjut ‘menyeberang’? Akankah kita bersikap seperti ahli Taurat yang hanya berpura-pura/munafik atau tidak dewasa seperti murid Yesus yang tidak dapat membedakan mana yang menjadi prioritas hidup sehingga lebih mengutamakan keinginan diri sendiri (bnd. Flp. 2:3-4)?

Bila Tuhan masih memberi kesempatan kedua, manfaatkan sebaik-baiknya supaya jangan kita tertolak selamanya. Jangan kita puas dengan berkat-berkat pemeliha-raan jasmani tetapi lanjutkan pengikutan kita hingga kita berhasil ‘menyeberang’ untuk satu kali kelak tinggal bersama Yesus Kristus, Mempelai Pria Surga. Amin.