Kasih Agape Tak Berpamrih

Kasih Agape Tak Berpamrih

Minggu, Johor, 26 November 2017

Pdm. Stephanas Budiono

Shalom,

Sungguhkah kita mengenal Tuhan Yesus yang sudah lama mengenalkan diri-Nya kepada kita? Dan benarkah para murid-Nya mengenal Dia dengan baik? Apa yang terjadi ketika Yesus menyatakan penderitaan yang akan dialami oleh Anak manusia?

Kisah Petrus menyangkal Yesus ditulis dalam empat Injil (Mat. 26:30-35; Mrk. 14:26-31; Luk. 22:54-62; Yoh.18:25-27) yang saling mendukung dan merupakan satu kesatuan tetapi Injil Lukas menulis agak berbeda yang mana dokter/tabib Lukas memutuskan untuk membukukannya dengan teratur (Luk. 1:1-4) secara kronologis tentang Yesus dan segala sesuatu yang dikerjakan serta diajarkan oleh-Nya (Kis. 1:1-2).

Apa yang terjadi seputar pekerjaan dan ajaran Yesus hingga Ia menderita mati disalib?

  • Petrus menyangkal Yesus, Gurunya.

Lukas 22:54-62 menuliskan, “Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh. Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk mengelilinginya. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka. Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya lalu berkata: "Juga orang ini bersama-sama dengan Dia." Tetapi Petrus menyangkal, katanya: "Bukan, aku tidak kenal Dia!" Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata: "Engkau juga seorang dari mereka!" Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak!" Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas: "Sungguh, orang ini juga bersama-sama dengan Dia, sebab ia juga orang Galilea." Tetapi Petrus berkata: "Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan." Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam. Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.”

Apakah penyangkalan Petrus terhadap Yesus terjadi secara impulsif saat itu tanpa ada latar belakangnya?

Waspada, bila rencana untuk membunuh (menyangkal) Yesus sudah muncul dalam pikiran, kita harus tegas menolaknya.

  • Imam-imam kepala dan ahli Taurat mencari jalan untuk membunuh Yesus.

Lukas 22:2 menuliskan, “Imam-imam kepala dan ahli Taurat mencari jalan bagaimana mereka dapat membunuh Yesus sebab mereka takut kepada orang banyak.”

Imam-imam kepala dan ahli Taurat adalah pemimpin-pemimpin agama yang menguasai kitab. Mereka tahu Yesus adalah Mesias dan menyaksikan apa yang diperbuat Yesus tetapi mereka iri hati lalu membuat rencana bagaimana membunuh Yesus. Dengan kata lain, mereka menolak Yesus!

Sebenarnya tindakan mereka sama seperti yang dilakukan Petrus yaitu menyangkal Yesus, Sang Mesias, meskipun mereka sudah tahu kebenaran dan melihat mukjizat-mukjizat yang dilakukan oleh-Nya. Mereka begitu pengecut dan tidak berani terus terang dalam usaha membunuh Yesus karena takut kepada orang banyak.

Introspeksi: seberapa banyak dari kita yang tanpa sadar menyangkal Yesus dan merencanakan membunuh Firman Tuhan dengan sikap meremehkan/menganggap tidak perlu bahkan menolak-nya? Waspada, jangan memupuk sikap iri hati yang dapat berlanjut pada pembunuhan Yesus, Sang Firman.

  • Yudas Iskariot mengkhianati Yesus.

Lukas 22:3-4 menuliskan, “Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu. Lalu pergilah Yudas kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding dengan mereka bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka.”

Bukankah Yudas Iskariot dipilih Yesus menjadi murid-Nya tetapi dia sengaja mengkhianati Gurunya? Yudas membiarkan Iblis masuk karena didorong oleh pikirannya yang gelap.

Sungguh luar biasa kasih-Nya, walau Yesus tahu siapa saja yang akan mengkhianati dan menyangkal-Nya, Ia tetap mempersiapkan Paskah bagi murid-murid-Nya (Luk. 22:13-22).

Ketika Yesus mengatakan bahwa Anak Manusia akan menderita dan pergi seperti yang telah ditetapkan, para murid mempersoalkan siapa dari mereka yang akan menyerahkan Dia bahkan muncul pertengkaran siapa dari mereka yang terbesar (Luk. 22:23-24).

Bukankah kita telah mengambil Perjamuan Tuhan puluhan bahkan ratusan kali tetapi masih saja di pikiran mempersoalkan siapa yang salah/benar bahkan tak jarang kita merasa lebih besar/penting dari yang lain? Marilah kita melihat diri sendiri betapa kotornya hidup kita.

Apa respons Yesus menghadapi pertengkaran para murid-Nya? Jawab-Nya, “Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” (ay. 27)

Ingat, ada satu Pribadi yang bertindak sebagai Imam Besar yang melayani kita dan mempersembahkan diri-Nya menjadi kurban bagi kita.

Lebih lanjut Yesus mengingatkan Petrus, “Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum tetapi Aku telah berdoa untuk engkau supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." (ay. 31-32) Namun apa jawab Petrus? “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!" (ay. 33)

Sering tanpa sadar kita berpikir bahwa penyangkalan terjadi saat Petrus (juga kita) berada di posisi terjepit namun sebenarnya penyangkalan dimulai dari kesombongan.

Ternyata, penyangkalan, pengkhianatan maupun pembunuhan dimulai dari kesombongan, perenca-naan maupun iri hati. Bagaimanapun juga Yesus tidak berubah sikap, Ia pergi ke Bukit Zaitun untuk berdoa dan mengingatkan para murid-Nya untuk berjaga-jaga agar tidak jatuh ke dalam pencobaan namun mereka tertidur karena dukacita (ay. 39-40).

Implikasi: jangan mengikuti keinginan daging, seharusnya Roh yang ada di dalam kita mendorong kita untuk tetap berdoa agar tidak jatuh dalam pencobaan dan menjauhkan kita dari penyangkalan serta pengkhiatan kepada Yesus.

Bagaimana dengan Yudas Iskariot? Lukas 22:47-48 menuliskan “Waktu Yesus masih berbicara datanglah serombongan orang sedang murid-Nya yang bernama Yudas, seorang dari kedua belas murid itu, berjalan di depan mereka. Yudas mendekati Yesus untuk mencium-Nya. Maka kata Yesus kepadanya: "Hai Yudas, engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?"

Yudas Iskariot bersama dengan imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah yang merencanakan sesuatu kejahatan melawan Anak Allah dipenuhi kuasa kegelapan lalu mewujudkan rencananya sehingga Yesus ditangkap (ay. 52-53).

Di akhir zaman ini, kuasa kegelapan begitu terasa menjelang kedatangan Tuhan yang makin dekat. Kita yang seharusnya melakukan Firman Tuhan dengan penuh sukacita menghadapi tekanan-tekanan berat yang memicu kita untuk menyangkal Dia. Itu sebabnya kita harus tekun berdoa seperti yang Yesus inginkan agar kita tidak jatuh ke dalam pencobaan. Kita harus bersikap dewasa dalam berdoa, kita tidak lagi meminta-minta untuk keinginan diri sendiri tetapi berdoa apa yang dapat kita lakukan kepada-Nya.

Setelah Petrus menyangkal, Yesus memandang dia dan teringatlah dia akan perkataan Gurunya (ay. 61). Pasti tatapan Yesus penuh kasih sekaligus mengandung teguran, membuat Petrus menangis dengan sedihnya (ay. 62).

Meskipun ada rencana jahat, pengkhianatan Yudas dan penyangkalan Petrus, Yesus tetap melakukan Paskah dan menerima olokan serta pukulan-pukulan yang dilakukan oleh mereka yang menangkap-Nya (ay. 63-65). Tergenapi nubuat yang tertulis dalam Yesaya 53:1-8 bahwa Ia menanggung derita sengsara oleh sebab kejahatan kita.

Tuhan tetap menerima dan mengasihi kita sekalipun kita sudah menyangkal dan mengkhianati bahkan dahulu membunuh Dia. Hendaknya kita memanfaatkan tatapan mata-Nya yang penuh kasih untuk bertobat. Tak ketinggalan Roh Kudus meyakinkan kita bahwa Dia tidak berubah dan menanti kita untuk bersama dengan-Nya dalam kekekalan kelak. Amin.