Sepikiran Dan Seperasaan Dengan Kristus

Sepikiran Dan Seperasaan Dengan Kristus

Minggu, Lemah Putro, 03 Desember , 2017

Pdt. Paulus Budiono

Shalom,

Kita telah mendekati hari Natal dan Tahun Baru, lagu-lagu Natal telah dikumandangkan dan biasanya jumlah jemaat yang pergi ke gereja meningkat dan mencapai puncaknya di malam Tahun Baru setelah itu memasuki bulan-bulan baru berikutnya mulai menyusut serta lagu-lagu Natal tidak terdengar lagi. Apakah pelayanan kita juga naik turun menuruti suasana hati – jika lagi in the mood, kita bersemangat melayani Dia tetapi kalau hati lagi uring-uringan kita malas pergi ke gereja bahkan tidak menyentuh Alkitab? Dengan menurunnya kesungguhan kita kepada Firman Tuhan, penyakit-penyakit rohani pasti akan bermunculan. Ilustrasi: ketika kita terserang sakit flu berat, orang-orang di sekitar kita bahkan suami/istri akan menjauhi karena takut tertular, membuat persekutuan kita dengan mereka terganggu. Terlebih, rohani kurang/tidak sehat membuat rumah tangga kurang/tidak sehat pula.

Apa nasihat Firman Tuhan agar kita memiliki persekutuan sehat dengan Tuhan dan sesama? Filipi 2:5 menuliskan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,”

Aneh, Rasul Paulus mengingatkan jemaat Filipi padahal mereka suka mendukung pelayanan-nya, misal: ketika Paulus dipenjara, mereka mengunjungi dan membawa makanan maupun uang. Mereka sebelumnya miskin namun menjadi kaya karena pemberitaan Injil yang dibawa-kan oleh Rasul Paulus. Jauh berbeda dengan jemaat Korintus yang menjadi kaya raya tetapi pelit bukan main hingga Rasul Paulus mengingatkan mereka akan janjinya untuk berkurban kepada jemaat di Yerusalem dengan mencontoh jemaat Makedonia yang sangat miskin tetapi dengan penuh sukacita mengumpulkan uang untuk menolong jemaat yang ada di Yerusalem (2 Kor. 8:1-4,7; Rm. 15:25-27). Jemaat-jemaat lain masih bermasalah tetapi jemaat Filipi tidak ada masalah sehingga Paulus berterima kasih atas pemberian mereka meskipun dia tidak mem-butuhkannya karena sudah terberkati (jasmani) tetapi persembahan mereka harum dan diper-kenan Allah (Flp. 4:14-18).

Tentu Rasul Paulus mempunyai alasan untuk menasihati jemaat Filipi; sebagai hamba Tuhan dan gembala yang diberi roh pertimbangan, Rasul Paulus melihat adanya ‘penyakit’ keretakan yang tidak tampak dari luar. Itu sebabnya dia mengingatkan mereka untuk menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus agar kerenggangan dan keretakan tidak bertambah parah.

Dengan tegas Rasul Paulus mengingatkan agar jemaat Filipi (juga kita):

  • “Menaruh pikiran dan perasaan…” berarti tidak pindah-pindah – sebentar berpikiran Kristus lain kali mempunyai pikiran lain. Apa yang ada dalam pikiran dan hati kita sekarang?
  • “…pikiran dan perasaan…” Sangatlah tidak mudah menebak pikiran dan perasaan sese-orang yang dapat dipengaruhi oleh ‘serangan’ dari luar. Tutur kata seseorang ditentukan oleh pikiran dan perasaannya, tentu sangat beda nada dan kata-katanya saat perasaannya sedang ‘sakit’.

Harus diakui setiap orang dengan latar belakang berbeda – laki-perempuan, tua-muda, kaya-miskin, berkedudukan tinggi-pengangguran, pandai-bodoh dst. mempunyai pemikiran dan perasaan berbeda.

  • “…yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” bukan pribadi lain betapapun hebatnya pengetahuan, pengalaman bahkan pelayanannya.
  • “…dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, …hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;”

Apapun perbedaannya, Tuhan menginginkan adanya kesatuan hati dan pikiran dalam melakukan sesuatu, misal: dalam berkurban ada yang melakukan dengan sukacita penuh kasih namun tak jarang pula ada yang mengomel dan melakukannya dengan terpaksa. Ada pula jemaat yang kehilangan kasih mula-mula (menjadi dingin) seperti jemaat Efesus (Why. 2:4).

Berkaitan dengan rendah hati, tidaklah mudah untuk bersikap rendah hati terlebih dengan perbedaan kultur dari satu daerah dengan daerah lain.

  • “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri tetapi kepentingan orang lain

Ternyata kondisi jemaat Filipi cukup berbahaya karena tidak adanya kesatuan hati dalam mencapai satu tujuan. Hati manusia mudah berubah karena pengaruh dan tekanan dari luar terlebih jika tidak menaruh pikiran dan perasaan Kristus berakibat timbulnya kejengkelan, kedongkolan, ketersinggungan bahkan perpecahan dalam keluarga, pertemanan dan pela-yanan. Jangan kita berfokus pada kepentingan diri sendiri tetapi kita juga harus dapat memerhatikan kepentingan orang lain.

Introspeksi: berapa banyak pengikutan dan pelayanan kita turun-naik sepanjang tahun ini karena pengaruh dari perasaan yang gampang berubah? Jangan sikap semacam ini dijadi-kan kebiasaan menjelang kedatangan Tuhan yang makin dekat!

Perhatikan, Tuhan tidak menjadikan kita seperti robot yang tidak memiliki pikiran dan perasaan secara mandiri. Ia memberikan kita kebebasan dalam berpikir dan berperasaan namun kita harus berpikiran dan berperasaan seperti yang ada dalam Kristus Yesus.

Bagaimana pikiran dan perasaan Kristus itu? Rasul Paulus di bawah bimbingan Roh Kudus menuliskan walau dalam rupa Allah, Ia tidak mempertahankannya tetapi mengosongkan diri menjadi sama dengan manusia bahkan mengambil rupa hamba dan merendahkan diri serta taat sampai mati di kayu salib (Flp. 2:6-8).

Karena Yesus dalam rupa Allah, Ia menaruh pikiran dan perasaan seperti yang dimiliki Allah. Dalam proses penciptaan, Allah Tritunggal menyatakan pikiran dan perasaan-Nya, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita..”  (Kej. 1:26)

Jelas Allah menciptakan Adam-Hawa (juga kita) menurut gambar dan rupa-Nya. Bila kita menghormati Allah, kita juga harus menghormati suami/istri kita yang diciptakan serupa dengan-Nya. Namun kondisi dunia dewasa ini sangat jauh berbeda karena pelanggaran yang dilakukan oleh manusia pertama, perasaan dan pikiran manusia tercemar dengan ketidaktaatan dan dosa menjalar kepada semua orang (Rm. 5:12) serta terus berkembang. Buktinya, begitu gampangnya Kain berbohong setelah membunuh adiknya, Habel, ketika Allah bertanya kepadanya di mana adiknya (Kej. 4:8-9). Sekarang kita mungkin tidak membunuh (fisik) tetapi jika kita membenci seseorang, kita adalah pembunuh manusia (1 Yoh. 3:15). Tuhan sangat mengetahui hati kita, tidak ada sesuatu pun tersembunyi bagi-Nya (Ibr. 4:13). Oleh karena itu kembalilah kepada pikiran dan perasaan awal yang ada di dalam Yesus Kristus dan taruhlah dalam hati kita agar hati kita terbuka, jujur dan apa adanya.

Dalam perkembangan dosa, Allah melihat kejahatan manusia dan segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata (Kej. 6:5), membuat hati-Nya pilu. Sebagaimana Allah menjadi pilu hati, perasaan kita juga seharusnya menjadi sedih melihat suami/istri, anak, orang tua bahkan bangsa kita yang pikiran dan perasaannya melulu dikuasai dosa. 

Demikian pula di zaman Nuh, pikiran orang-orang sezamannya jahat dan rusak; hanya Nuh mendapat kasih karunia karena dia mencintai kebenaran dan selamatlah dia bersama keluarganya yang berjumlah delapan orang (Kej. 8:18).

Lebih lanjut keturunan Sem, Ham dan Yafet bersatu hati untuk mendirikan kota dan menara yang puncaknya sampai ke langit agar mereka tidak terserak ke seluruh bumi (Kej. 11:4). Tampaknya pikiran dan perasaan mereka bagus tetapi Allah mengacaukan bahasa mereka karena tujuan mereka tidak lagi sesuai dengan tujuan Allah. Pikiran mereka lebih berpusat kepada manusia tidak lagi kepada Allah. Waspada, bila kita mulai memfokuskan keharmonisan nikah dan keberhasilan rumah tangga serta pekerjaan kita! Demikian pula jika gereja menyan-jung pendeta berarti Yesus dinomorduakan. Allah tidak mau kita menyanjung tinggi seseorang selain Dia sebab pikiran dan perasaan manusia dapat berubah tetapi pikiran dan perasaan-Nya tetap dan kekal. Itu sebabnya jika kita menyimpang dari Firman Allah, Ia tidak senang; sebaliknya, bacalah Firman-Nya dengan kerendahan hati. Rasul Paulus begitu gencar mengata-kan agar kita mencontoh Yesus sebab pengalaman pribadinya – dia yang sebelumnya sangat membenci Yesus mengalami keubahan hidup total ketika bertemu dengan-Nya (Kis. 9).

Aplikasi: bila kita menaruh pikiran dan perasaan Yesus – Sang Firman – dalam hati, kita akan mengalami keubahan hidup dan memiliki sifat-sifat-Nya.

Apa yang terjadi pada Yesus yang adalah Allah?

- Dia merendahkan diri menjadi manusia dan mengambil posisi sebagai budak. 

Bagi manusia biasa yang tidak mempunyai prestasi, tidaklah menjadi masalah besar jika harus menjadi budak seperti bangsa Israel berjumlah kecil (70 orang) yang berkembang biak di negeri Mesir dan dijadikan budak di negeri itu. Jauh berbeda jika orang penting berkedudukan tinggi dipaksa turun pangkat namun Yesus yang setara dengan Allah tidak mempertahankan diri tetapi Ia rela merendahkan diri menjadi budak bahkan dihukum mati tanpa salah.

Aplikasi: hendaknya kita merelakan diri menjadi budak tidak berharga yang tidak mencari nama dan tidak mempunyai kebebasan. Jangan kita mempertahankan dan menuntut hak-hak kita demi harga diri yang berakibat perpecahan dalam rumah tangga maupun dalam bermasyarakat. Contoh: suami baru dapat mencintai isteri bila dia memosisikan diri sebagai budak bukan sebagai tuan; demikian pula istri mampu menghormati suaminya bila dia memosisikan diri sebagai manusia bergambar Allah yang rela rendah hati.

- Perasaan dan pikiran Yesus tidak pernah berubah, pikiran-Nya hanya satu yaitu menye-lamatkan manusia dan perasaan-Nya berfokus mencintai manusia berdosa.

Ketika beberapa orang Yunani meminta Filipus untuk dipertemukan dengan Guru mereka, Filipus dan Andreas menyampaikannya kepada Yesus yang dijawab, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan….jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yoh. 12:20-24)

Apa makna Natal bagi kita sekarang? Yesus lahir untuk disalib sebab ini menjadi pikiran Allah dalam mengutus Anak-Nya ke dunia.

Bagaimana perasaan Allah? Perasaan-Nya seperti Abraham (yang taat kepada Allah) saat mengambil pisau untuk mengurbankan putranya, Ishak (Kej. 22:10). Juga seperti Lot yang jiwanya tersiksa melihat dan mendengar perbuatan orang-orang di sekitarnya yang hidup mengikuti hawa nafsu mereka (2 Ptr. 2:7-8).

Bagaimana kita menyambut Natal? Apakah dengan pesta pora atau hati kita mengikuti perasaan dan pikiran-Nya yang bertujuan menyelamatkan manusia berdosa?

Jujur, kita hanya berani menyerahkan harta milik kita namun Yesus datang untuk menyerahkan nyawa-Nya. Ia menjadi manusia agar dapat berkomunikasi dengan manusia dan rela “turun” menjadi budak untuk diperlakukan sewenang-wenang oleh ‘majikan-Nya’ itulah kita yang tidak tahu diri.

Apa dampak kematian Yesus di salib?

Ø Terjadilah pendamaian dari dua kelompok (bangsa kafir dan Yahudi) yang bermusuhan (Ef. 2:15-16).

Ø Ia memusnahkan Iblis yang berkuasa atas maut dan membebaskan kita yang berada dalam perhambaan takut kepada maut (Ibr. 2:9-10, 14).

Jangan kita mempertahankan pikiran dan perasaan kita sendiri yang cenderung menimbulkan perpecahan dalam hubungan rumah tangga maupun sosial; sebaliknya, marilah kita berpikiran dan berperasaan seperti yang ada di dalam Kristus Yesus maka kita dapat hidup berdamai dengan orang sekitar, tidak hidup dalam ketakutan akan maut, tidak hidup untuk diri sendiri tetapi memikirkan mereka yang belum/tidak mengenal Tuhan agar mereka beroleh keselamat-an di dalam Dia dan membawa dunia kembali bersatu dengan Allah, Sang Pencipta. Amin.