Menghargai Pilihan Pemakaian Tuhan Akan Mendapatkan Pengangkatan

 

Minggu, Johor, 23 Juli, 2017

Pdm. Harijono

 

Shalom,

Sangatlah indah bila pertemuan ibadah yang kita lakukan bukanlah sekadar ritual tetapi merupakan suatu kebutuhan sehingga kita makin dapat mengerti keberadaan Allah di dalam Yesus Kristus yang mampu mengubah hidup kita. Dengan demikian, kita memiliki dasar kuat dalam pelayanan oleh sebab kasih Tuhan di dalam kita. Satu hal yang kita yakini ialah Ia adil dan memberikan kesempatan bagi siapa pun asal mengimani bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat dunia.

Keadilan apa yang Yesus, Pemilik Kerajaan Surga, tunjukkan kepada kita? Matius 20: 1-16 memberikan perumpamaan tentang:

1. Seorang tuan rumah yang mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya dan terjadi kesepakatan tentang pengaturan upah dan jam kerja (ay. 1-7).

Yesaya 5:1-7 menyebutkan bahwa Allah memiliki kebun anggur namun Ia kecewa karena mendapati buah anggur yang dihasilkan terasa asam padahal Ia (Pemilik kebun) telah berusaha maksimal dalam merawat kebun tersebut. Apakah kemu-dian Ia membiarkannya karena kecewa berat? Tidak! Tangan-Nya selalu terulur bagi umat pilihan-Nya meskipun bangsa ini tegar tengkuk bahkan sampai sekarang sebagian besar dari mereka masih menolak Yesus Kristus sebagai Anak Allah. Ia tidak pernah mengingkari janji-Nya, suatu saat sisa bangsa Israel yang tidak menyembah berhala pasti menerima janji keselamatan (Rm.11) sebagaimana kita, bangsa kafir, memperoleh kemurahan iman untuk mempergunakan kesempatan beroleh keselamatan (Ef. 2:8). Ilustrasi: sebagai orang tua, kita sangat kecewa dan sedih melihat anak-anak kita tidak berubah padahal kita telah berusaha mendidik mereka dengan baik sejak dini. Bukankah Tuhan juga kecewa dan sedih melihat kita yang mengaku anak-anak-Nya dan bertahun-tahun beribadah tetapi tidak menunjukkan keubahan hidup sama sekali?

Kemurahan tuan rumah berlaku bagi setiap pekerja yang didapati pukul 06.00 pagi maupun yang menganggur di pasar, mereka mendapat kesempatan sama untuk menggarap kebun anggur. Perlu diketahui, jam kerja orang Yahudi adalah dari pukul 06:00 sampai 18:00. Kalau bukan karena kemurahan, pekerja yang memiliki kecakapan hebat pun belum tentu mendapatkan pekerjaan tersebut. Melalui per-bedaan jam kerja diketahui bagaimana sikap hati pekerja juga hasil pekerjaannya – menghasilkan buah yang manis atau masam.

Implikasi: para hamba Tuhan sebagai pekerja-Nya bertanggung jawab menggarap ‘kebun anggur’ untuk keselamatan.

Waspada, pekerja-pekerja yang dipilih di pagi hari jika tidak dapat menguasai diri dan merawat hati akan sangat rentan menjadi sombong karena merasa paling dibutuhkan dan bekerja paling lama di kebun anggur itu. Bagaimana dengan sikap hati pekerja-pekerja lain yang bekerja dengan kurun waktu berbeda – ada yang ditemukan pukul 9 pagi, 12 siang, 3 sore bahkan pukul 5 petang? Mereka semua dipilih dan dipakai untuk proyek kebun anggur ini.

Tuan rumah tidak perlu susah-susah mencari pekerja, begitu keluar dia mendapati pekerja-pekerja yang menganggur padahal hari sudah pukul lima petang. Sungguh merupakan kemurahan besar bila mereka diterima bekerja di kebun anggur! Mereka tentu mengerti bahwa bekerja hanya dalam waktu satu jam tidak akan dapat menghasilkan secara maksimal; semua ini hanya karena belas kasihan dan kebaikan dari tuan rumah yang bersedia memakai mereka.

Terjadi perbedaan sikap dari para pekerja yang ditemukan di pagi hari dengan mereka yang bekerja di jam terakhir. Pekerja-pekerja di jam terakhir pasti tahu diri dengan menghargai waktu maupun kebaikan si tuan rumah. Buktinya, sikap mere-ka berdampak luar biasa, “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir." (ay. 16)

Pelajaran: hati-hati dengan pelayanan-pelayanan hasil kerja keras kita, jika kita tidak menjaga hati, tabiat sombong merasa telah berjasa akan muncul. Sikap semacam ini tidak berkenan di hadapan Tuhan. Berbeda dengan sikap tahu diri (tidak mengomel) telah mendapat kemurahan Tuhan, kita pasti berusaha menyenangkan hati-Nya.

Hendaknya kemurahan yang diberikan kepada kita ditanggapi/direspons dengan benar agar menghasilkan sesuatu yang luar biasa! Selain menyatakan kemurahan Tuhan, di dalam kasih ada keadilan, kesetiaan dan kebenaran Tuhan.

2. Proses pengupahan para pekerja (ay. 8-13).

“Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?”

Ada perbedaan pemikiran mengenai upah yang diajukan tuan rumah dengan para pekerja. Seizin Tuhan, para pekerja terakhir (pukul lima petang) dipanggil lebih dahulu dan mendapatkan upah sedinar oleh sebab kemurahan dari tuan rumah (tidak mencari mereka seperti yang dilakukannya kepada pekerja pukul enam pagi) sementara pekerja-pekerja yang bekerja sejak pagi mengira akan mendapatkan upah lebih banyak. Faktanya, semua mendapatkan upah sama yaitu sedinar sesuai dengan kesepakatan. Hal ini menimbulkan sungut-sungut berakibat ‘yang terakhir menjadi terdahulu dan yang terdahulu menjadi yang terakhir’. Semua ini disebab-kan oleh sikap yang sudah terbentuk dari pekerja-pekerja itu – ada yang bekerja karena kemurahan hati, ada pula yang bekerja dan merasa telah berjasa sehingga timbul sungutan karena kecewa bahkan menuduh si tuan rumah tidak adil berbuat sesuka hati.

Waspada, perasaan ‘telah berjasa’ bekerja banyak dalam pelayanan cenderung membuat kita kecewa, tidak dapat menerima bahkan menuntut bila menerima ‘upah’ tidak sesuai dengan keinginan kita. Ingat, Tuhan mengetahui apa yang ada di dalam hati dan pikiran kita. Untuk itu diperlukan sikap hati yang benar agar dapat mengasihi Tuhan dan berterima kasih akan anugerah-Nya. Orang yang melayani dengan tulus tidak akan banyak bersungut-sungut karena dia menyadari keterbatasannya bekerja hanya satu jam.

Pelajaran: ketulusan hati menumbuhkan belas kasihan Tuhan. Baik yang sudah lama melayani Tuhan maupun yang baru masuk dalam pelayanan, hendaknya menghargai kemurahan Tuhan sehingga kita tidak hanya diselamatkan tetapi juga mendapat pengangkatan dari-Nya.

3. Keadilan tuan rumah (ay. 14-16).

Selain kasih, Tuhan juga bersifat adil. Bila kita dipakai dalam pelayanan, ini adalah anugerah-Nya namun bila kita hidup sembrono, kemurahan-Nya akan dicabut (Rm. 11:22).

Sesungguhnya si tuan rumah berlaku adil karena dia memberi upah sesuai kese-pakatan awal sebelum pekerjaan dimulai. Namun perbedaan pemahaman menim-bulkan keluhan/sungut-sungut dari pekerja yang masuk lebih awal dan merasa sudah berjasa dibandingkan dengan pekerja yang masuk terakhir.

Perlu diketahui, kemurahan hati dan belas kasihan Tuhan merupakan hak prerogatif-Nya yang tidak tergantung pada kehendak dan usaha manusia (Rm. 9:15-16).

Kebun anggur adalah umat Israel kesayangan Allah juga kita, gereja-Nya, sementara tuan rumah adalah Allah Tritunggal di dalam Yesus Kristus dan pekerja-pekerjanya ialah para pemberita Firman. Bersikaplah hati-hati sebab orang sombong ditentang Allah sedangkan orang rendah hati dikasihi-Nya (Yes. 2:11; Yak. 4:6). Lebih lanjut, orang yang rendah hati diberi mahkota keselamatan (Mzm. 149:4).

Marilah kita membawa hidup ini dituntun Tuhan agar kita dapat memiliki bahkan menikmati kebaikan-Nya. Waspada, sikap sombong, merasa diri kuat dan berhasil dalam pelayanan hanya merugikan diri sendiri (Mat. 7:22-23). Kita perlu menjaga hati sebab sikap hati akan menentukan apakah kita menjadi orang terdahulu atau yang terakhir (ay.16).

Kenyataannya, kita sudah lama digembalakan, diberkati dengan kelimpahan Firman bahkan dipilih untuk menyampaikan kebenaran Firman tetapi masih banyak bangku di gereja yang kosong. Bagaimana tanggung jawab kita kepada Tuhan? Sudahkah kita melaksanakan Amanat agung-Nya? Hargai pilihan pemakaian Tuhan atas hidup kita maka upah sudah menanti kita. Amin.