Emosi dan Proses Pengampunan

EMOSI DAN PROSES PENGAMPUNAN
Scan QR untuk membaca di perangkat lain:

Ada dua hal yang membuat kita kesal: hal-hal negatif yang orang lain lakukan terhadap kita serta hal-hal negatif yang kita lakukan terhadap diri sendiri dan orang lain. Kita sulit melupakan apa yang telah diperbuat orang lain terhadap kita juga sulit melupakan apa yang telah kita perbuat terhadap diri sendiri dan orang lain.

Apapun yang menghancurkan kepercayaan kita terhadap diri sendiri atau orang lain akan memengaruhi bukan hanya kita pribadi tetapi juga hubungan kita dengan orang lain.

CEPAT UNTUK MENGAMPUNI
Alkitab mengajar kita untuk “selalu siap” dan cepat mengampuni (Ef. 4:31-32). Untuk itu kita harus mengenakan karakter Kristus yang berarti kita harus tahan menderita, sabar, tidak mudah tersinggung, lamban untuk marah, cepat mengampuni dan penuh belas kasih.

MENGAMPUNI UNTUK MENCEGAH SETAN MENGAMBIL KEUNTUNGAN
Kita harus mengampuni supaya setan tidak beroleh keuntungan atas kita (2 Kor. 2:10-11). Saat kita mengampuni orang lain, bukan hanya kita berbuat baik terhadap mereka tetapi kita juga berbuat baik kepada diri sendiri karena ketidakrelaan untuk mengampuni menghasilkan kebencian dan akar kepahitan di dalam diri kita yang meracuni seluruh sistem kita.

Di malam keberangkatan bangsa Israel keluar dari Mesir, Tuhan menyuruh mereka mempersiapkan jamuan Paskah yang mencakup tumbuh-tumbuhan pahit. Mengapa? Untuk mengingatkan mereka akan kepahitan yang mereka alami di dalam perbudakan. Kepahitan adalah milik perbudakan.

Rasa pahit dapat mengakibatkan reaksi fisik tertentu. Kepahitan selalu menghasilkan reaksi yang sama di dalam diri kita secara spiritual. Bila tanaman pahit membuat kita merasa tidak enak, hal yang sama juga terjadi pada Roh Kudus yang diam di dalam diri kita.

Kepahitan bermula dari sebuah akar – akar yang pahit selalu menghasilkan buah kepahitan – dan benihnya ialah ketidakrelaan untuk mengampuni. Kepahitan berasal dari kesalahan- kesalahan kecil yang tidak kita biarkan berlalu tetapi kita putar ulang di dalam benak kita hingga menjadi besar dari proporsinya dan bertumbuh sampai besar sekali. Selain itu ada juga pelanggaran-pelanggaran besar dilakukan oleh orang-orang terhadap kita. Semakin lama kita membiarkan mereka tumbuh dan membusuk, semakin kuat efeknya dan semakin meracuni seluruh keberadaan kita seperti: kepribadian kita, sikap dan perilaku kita, sudut pandang kita dan relasi-relasi kita terutama relasi kita dengan Allah.

Untuk mencegah agar setan tidak menarik keuntungan dari kita, ampunilah! Berbuatlah sesuatu yang baik bagi diri sendiri dan lupakan pelanggaran itu! Ampunilah untuk mencegah diri sendiri teracuni dan terpenjara.
 
Menurut Webster, kata mengampuni berarti membebaskan dari kesalahan atau pelanggaran: memaafkan. Saat seseorang bersalah kepada kita, kita cenderung berpikir bahwa orang itu berutang kepada kita. Saat seseorang melukai kita, kita bereaksi seakan-akan orang tersebut telah mencuri sesuatu dari kita atau melukai kita secara fisik. Kita merasa orang tersebut berutang kepada kita. Itu sebabnya Yesus mengajar kita berdoa “Bapa Kami”, “Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12).

Di dalam Imamat 25, kita membaca tentang tahun Yobel yang mana semua utang dimaafkan dan semua yang berutang diampuni dan dibebaskan. Saat kita ada di dalam Kristus, setiap hari menjadi tahun Yobel. Kita dapat mengatakan kepada mereka yang berutang kepada kita, “Saya mengampunimu dan membebaskanmu dari utang-utangmu. Engkau bebas untuk pergi.”

Menurut Alkitab, kita tidak boleh selamanya menganggap orang lain berutang kepada kita sama seperti kita sendiri tidak boleh berutang kepada siapa pun selain saling mengasihi (Rm. 13:8). Kita harus belajar mengampuni orang dan membatalkan utang mereka kepada kita. Alangkah bersukacitanya ketika seseorang tahu bahwa ia diampuni dari hukuman penjara selama 10 tahun! Itulah kabar baik salib sebab Yesus telah membayar utang kita dan Allah mengatakan kepada kita, “Engkau tidak lagi berutang kepada-Ku.” Masalahnya, masihkah kita berusaha membayar utang dosa kita kepada Tuhan atau kita masih berusaha menagih utang dari sesama? Sama seperti Allah telah membatalkan utang kita dan mengampuni kita, begitu pula kita harus membatalkan utang sesama dan mengampuni mereka.

BIARKAN BERLALU
Berapa kali Anda bermasalah dengan seseorang dan berpikir bahwa Anda telah membereskannya tetapi orang itu terus mengungkit-ungkitnya? Yesus memerintahkan agar kita melupakan, meninggalkan, membiarkannya berlalu dan berhenti membicarakannya. Bagaimana cara kita melakukannya? Menerima Roh Kudus yang memberikan kekuatan dan kemampuan untuk mengampuni (Yoh. 20:21-23) sebab tidak ada seorang pun mampu melakukannya sendiri.

Pengampunan dosa merupakan kekuatan pertama yang dianugerahkan kepada orang-orang saat mereka dilahirkan kembali dan ini menjadi kewajiban kita sebagai orang percaya. Namun meskipun kita memiliki kuasa untuk mengampuni, tidaklah mudah untuk mengampuni dosa.

Saat seseorang melakukan sesuatu yang menyakiti Anda, datanglah kepada Tuhan dan terimalah kekuatan dari-Nya untuk menempatkan kehendak Anda di altar dan mengatakan, “Tuhan, saya mengampuni orang ini. Saya membebaskannya dan membiarkannya berlalu.” Jika Anda melakukannya, Anda telah membiarkannya berlalu. Tidak ada gunanya setelah berdoa kita pergi bersama teman-teman lalu mengungkit-ungkit masalah itu lagi. Mengapa? Karena setan akan memakainya sebagai kesempatan untuk membatalkan keputusan Anda untuk mengampuni dan merampas damai sejahtera serta berkat Anda. Waspada, setan akan menjebak Anda bahkan melalui mulut orang Kristen lain (Yak. 1:19). Jika seseorang menjebak dengan bersikeras mengorek masalah-masalah di gereja atau pelayanan Anda, lakukan seperti yang diperintahkan Alkitab, lambat untuk berbicara, cepat untuk mendengarkan dan lambat untuk tersinggung atau marah. Biarkan orang itu tahu dengan sopan tetapi tegas bahwa Anda tidak ingin mendiskusikannya. Setiap kali Anda mendengar sesuatu yang membuat Anda kesal dan menyebabkan Anda ingin bertindak sembrono, berhenti dan pikirkanlah, “Apa yang sedang Iblis coba lakukan sekarang?” iblis mencoba untuk membatalkan doa pengampunan Anda dengan menjebak Anda memutar ulang pelanggaran itu lagi dan lagi.

Kita harus berhati-hati agar tidak merusak karakter atau reputasi seseorang. Hanya karena seseorang bersalah kepada kita tidak membuat kita berhak membalasnya. Itu tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Keputusan untuk mengampuni mencegah setan untuk mengambil keuntungan atas diri Anda. Jangan terjebak dalam umpan si Iblis. Jangan terus memutar ulang kesalahan itu. Jika Anda benar-benar ingin melupakan sesuatu yang menyakitkan, berhentilah untuk berpikir dan membicarakannya.

Sebenarnya tidak cukup bahwa kita mengampuni orang lain, kita juga harus berhati-hati agar kita tidak mengutuk mereka dan tidak berbicara buruk tentang mereka sekalipun mungkin mereka pantas mendapatkannya. Sebaliknya, kita harus berbuat seperti yang Yesus perbuat dan memberkati mereka (Mat. 5:43-44; Luk. 6:28; Rm. 12:14) serta berbicara yang baik-baik tentang mereka. Mengapa? Karena dengan berbuat demikian, kita bukan hanya memberkati mereka tetapi juga memberkati diri sendiri.

Sementara kita belajar mengampuni, kita harus ingat bahwa kita tidak hanya mengampuni sesama tetapi juga mengampuni diri sendiri. Kita harus dapat mengampuni diri sendiri akan dosa dan kegagalan serta kelemahan kita seperti kita mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Jika tidak, kita akan hidup di dalam perasaan bersalah. Akibatnya, persekutuan kita dengan Allah akan hancur.

Jika kita melakukan kesalahan, datanglah kepada Tuhan dan akui semuanya, Ia akan mengampuni semua dosa kita dan melupakannya. Dan tidak ada hukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus; yang lama sudah berlalu dan semua telah dijadikan baru (Rm. 8:1; 2 Kor. 5:17). Jadi, mengapa kita tidak mengampuni diri sendiri seperti kita mengampuni orang lain?
 
Kita berpikir jika mengetahui hal-hal tertentu menimpa kita, kita akan merasa puas. Kita berusaha mencari tahu apa yang Allah sembunyikan dari kita demi kebaikan kita sendiri. Hendaknya kita belajar memercayai Allah dan tidak mereka-reka segala sesuatu dalam hidup ini. Harus ada saat di mana kita berhenti hidup di masa lalu dan bertanya mengapa. Sebaliknya, kita belajar mengizinkan Allah mengubah luka hati kita menjadi sesuatu yang istimewa.

MENGIKAT DAN MELEPASKAN DENGAN MENGAMPUNI
Kita perlu tumbuh hingga pada titik di mana kita cepat untuk mengampuni. Sebagai orang percaya, kita memiliki otoritas untuk mengikat dan melepaskan (Mat. 18:18). Matius 18:21-35 berbicara mengenai pengampunan sementara ayat 15-17 mengajarkan tentang saudara yang bersalah dan kita harus memutuskan tali persaudaraan dengannya jika dia tetap tidak mau mendengarkan nasihat. Semua ini dilakukan demi kebaikannya bukan kebaikan kita untuk membantunya menyadari betapa parah perilakunya, bertobat dan menunjukkan perilaku yang baik.

PENGAMPUNAN DAN PEMULIHAN
Pengampunan tidak selalu berarti pemulihan. Jika relasi dapat dipulihkan dan atas kehendak Allah maka pemulihan merupakan rencana terbaik. Namun relasi yang rusak tidak selalu dapat dipulihkan. Meskipun kita mengambil keputusan untuk mengampuni seseorang, mungkin dibutuhkan waktu lama sebelum emosi-emosi kita dapat dipulihkan.
Mengampuni tampak seperti membersihkan infeksi pada luka. Firman Allah membantu kita memperbarui pikiran kita dalam hal bagaimana kita harus menangani dengan benar luka emosional itu. Namun seberapa dalam luka itu tergantung pada seberapa baik luka itu ditangani pada tahap-tahap awal. Jika sebuah luka ditangani dengan benar sejak dari awal, bekas lukanya tidak akan menimbulkan masalah. Namun jika tidak diurus dan infeksinya dibiarkan berkembang dan menyebar sekalipun luka itu dibersihkan dan dibalut, bekas luka yang jelek mungkin tetap ada dan dapat menimbulkan masalah di kemudian hari.

Hal yang sama juga berlaku secara emosional dan secara fisik. Tindakan yang terbaik adalah cepat mengampuni. Namun banyak orang tidak menyadari hal ini saat pertama kali terluka. Jika seseorang tidak diajari prinsip-prinsip dan pedoman yang baik, ia bereaksi dengan cara alami sebagai manusia yaitu kebencian terhadap pelaku berakibat hati keras, pemberontakan dan banyak masalah lain yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diatasi. Akan lebih sulit disembuhkan jika lukanya sangat dalam dan meninggalkan bekas. Namun Allah berjanji memberikan pemulihan dan Ia menepati apa yang Ia janjikan jika kita melakukan apa yang Ia perintahkan kepada kita.

Kita dapat memutuskan untuk mengampuni mereka bahkan berbuat baik dan memperlihatkan belas kasih kepada mereka tetapi kita mungkin masih merasa terluka oleh mereka. Dibutuhkan waktu untuk membuat perasaan kita sejalan dengan keputusan kita sama seperti luka fisik tampak sembuh di bagian luar tetapi di dalamnya mungkin masih parah dan peka. Oleh sebab itu kita harus dapat membedakan pengampunan sejati dari perasaan-perasaan masih marah dan peka.

MENGAMPUNI versus PERASAAN
Tipu daya terbesar dalam masalah pengampunan yang setan tanamkan ialah jika perasaan- perasaan seseorang belum berubah, ia masih belum mengampuni. Banyak orang menyakini tipu daya ini. Mereka memutuskan untuk mengampuni seseorang yang telah menyakiti mereka tetapi Iblis meyakinkan mereka bahwa karena perasaan mereka masih tetap sama, mereka belum sepenuhnya mengampuni orang tersebut. Itu sebabnya mereka berdoa berkali-kali, “Tuhan, aku ingin mengampuni tetapi tidak bisa! Tolonglah aku, Tuhan.”

Sudah waktunya kita memerangi rasa takut yang mengendalikan kita bertahun-tahun. Kita harus dapat membedakan antara pengampunan dengan perasaan kita. Kita mengampuni karena kita mengasihi Allah dan ingin melakukan perintah-Nya. Dibutuhkan waktu lama agar perasaan kita dapat menerima keputusan kita karena dalamnya luka batin tetapi kita telah melakukan bagian kita. Kita telah bertindak berdasarkan Firman Allah dan membuat keputusan untuk mengampuni walau pemulihan masih belum memungkinkan.

Kita melakukan apa yang dapat kita lakukan dan Allah akan melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan. Kita dapat memutuskan untuk menaati Allah tetapi kita tidak dapat mengubah perasaan kita. Allah melakukannya bagi kita seiring dengan berlalunya waktu. Pemulihan membutuhkan waktu! Kita dapat membersihkan, membalut dan merawat luka tetapi kita tidak dapat menyembuhkannya. Yesuslah Penyembuhnya.

Ingat, putuskan untuk mengampuni, doakan musuh kita, berkati mereka, berbuat baik kepada mereka karena dengan demikian kita mengalahkan kejahatan dengan kebaikan (Rm. 12:21). Dan mohonlah Allah membereskan perasaan-perasaan kita.

Disadur dari: “Mengelola Emosi Anda” oleh Joyce Meyer


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account