Hati Yang Penuh Luka

Hati Yang Penuh Luka

Pelicano adalah kapal yang paling tidak di-inginkan di dunia. Sejak tahun 1986, kapal ini lontang-lantung di laut lepas. Masalahnya bukan pada kapalnya meskipun berkarat dan banyak teritipnya, kapal pengangkut dengan panjang 142 meter ini masih sanggup berlayar di laut.

Masalahnya bukan pada pemiliknya yang tetap mengurus lisensi dan membayar pajak; bukan pula pada awak kapalnya yang memiliki cukup kemampuan. Kalau begitu apa masalahnya se-hingga kapal ini ditolak di mana-mana? Karena kapal itu penuh dengan sampah. Pemiliknya berpikiran akan cepat mendapat profit/untung dengan memindahkan sampah yang akan dibakar dan abunya dibuang ke dalam perut kapal. Namun ternyata tak seorang pun mau mengambilnya. Siapa mau gunungan sampah tua membusuk yang mungkin beracun?

Kapal Pelicano tak berteman ini merupakan perumpamaan hati penuh dengan ‘sampah’ yang tidak lebih baik keadaannya. Jika kita makin dijauhi oleh keluarga dan sahabat, teliti apakah hati kita penuh dengan ‘sampah’ berbau busuk?

Kehidupan mempunyai cara untuk mengeluarkan muatan tumpukan sampah kemarahan, perasaan bersalah, pesimisme, kepahitan, kecemasan, kefanatikan, penipuan, ketidaksabaran dll. kepada suami yang workaholic/pekerja keras, istri yang terlalu banyak mengeluh, atasan yang mengharapkan terlalu banyak, anak yang terlalu banyak merengek dst.

‘Sampah’ memengaruhi kita dan menjangkiti hubungan-hubungan kita. Hal ini terjadi pada Kain, bukankah pikirannya penuh dengan kemarahan sebelum ada darah di tangannya? Juga Marta yang suka mau tahu urusan orang lain sebelum mengomel menggunakan lidahnya serta kaum Farisi yang telah membunuh Yesus di dalam hati mereka sebelum mereka membunuh-Nya di atas salib.

Perhatikan, pikiran yang berkecamuk hari ini menjadi tindakan esok hari; iri hati hari ini menjadi kejahatan dendam esok hari; kemarahan hari ini menjadi penganiayaan esok hari; hawa nafsu hari ini menjadi perzinaan esok hari; ketamakan hari ini menjadi penggelapan uang esok hari; rasa bersalah hari ini adalah ketakutan esok hari…

Itu sebabnya Rasul Paulus menulis, “Kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain.” (1 Kor. 13:5b) Hidup akan menjadi lebih mudah dan lebih baik jika kita tidak mengizinkan ‘sampah’ menumpuk dalam hati. Salomo menasihati, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Ams. 4:23)

Kita mempunyai pilihan dan Rasul Paulus menawarkan supaya kita menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2 Kor. 10:5). Tugas kita ialah melindungi ‘kapal hati’ dan menolak pikiran-pikiran sampah masuk; begitu mereka muncul di dermaga, kita langsung bertindak mengusirnya.

Menawan/menaklukkan pikiran adalah urusan yang serius. Yesus tahu pikiran Petrus yang menolak penderitaan salib yang akan diderita-Nya dan dengan tegas Ia mengatakan, “Enyahlah iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat. 16:22-23)

Bagaimana respons kita saat rekan-rekan menyerang prestasi dan memandang sebelah mata kemampuan kita? Apakah kita akan membiarkan serangan ‘sampah’ tersebut memenuhi pikiran kita? Jika ya, kita akan berbau busuk seperti kapal Pelicano. Sebaliknya, kita harus menawan/menaklukkan pikiran-pikiran tersebut. Ingat, sampah boleh menumpuk di dermaga tetapi tidak berarti harus ada sampah di kapal kita. Kita mempunyai pilihan untuk mencegah atau mengizinkan pikiran memuat sampah busuk itu.

Bagaimana dapat mengubah keadaan kapal Pelicano? Mengubah barang muatannya! Demikian pula hendaknya kita mengubah pikiran ‘sampah’ diganti dengan pikiran tentang kasih Allah dan membiarkan ‘barang baik’ masuk. Rasul Paulus mengingatkan agar kita memikirkan perkara-perkara di atas (Flp. 4:8). Buatlah daftar ‘barang baik’ untuk dimuat dalam kapal kita, antara lain: kasih Tuhan, belas kasihan-Nya, pengampunan-Nya, kebaikan-Nya dst.; juga daftar berapa kali Tuhan menyatakan kasih-Nya, pengampunan-Nya dll. kepada kita sehingga kita dapat berbuat hal yang sama kepada sesama.  

Jika kita mengaku ‘orang baik’ dan merasa tidak pernah melakukan sesuatu yang melukai hati Tuhan, periksa diri:

- Apakah pernah tidak jujur dengan uang-Nya? Ini termasuk penipuan.

- Apakah cinta pada nafsu jasmani dan kemasyhuran membuat kita berbalik dari-Nya? Ini perzinaan.

- Apakah ke gereja untuk dilihat orang daripada untuk melihat Dia? Ini bentuk kemunafikan.

- Apakah kita pernah berjanji kepada-Nya tetapi tidak menepatinya? Ini suatu kebohongan. Dst.

Sedikit kasih dapat mengubah sebuah kehidupan seperti dilakukan Yesus terhadap perempuan Samaria (Yoh. 4). Berbicara mengenai perempuan ini, ada beberapa catatan yang perlu diper-hatikan, yaitu: (1) Diskriminasi. Dia orang Samaria yang dibenci oleh bangsa Yahudi. (2) Gender: seorang perempuan dianggap lebih rendah oleh laki-laki. (3) Ia janda cerai tidak hanya sekali atau dua kali tetapi lima perkawinan gagal bahkan dengan lelaki keenam yang sekarang ini tidak juga memberikan cincin kawin kepadanya. Namun Yesus mengubah seluruh kehidup-annya dan perempuan itu menjadi misionaris-Nya dengan menginjili seluruh kota (Yoh. 4:39-42). Semua terjadi karena perempuan Samaria ini membiarkan Yesus masuk kapal dan meng-ubah barang muatannya yang penuh dengan sampah menjadi muatan kasih karunia.

Perempuan Samaria, Zakheus, Rasul Paulus dan jutaan orang lain mengundang Yesus masuk ke kapal hati mereka dan Ia membuang seluruh sampah busuk yang memenuhi bahkan melukai hati mereka diganti dengan barang-barang baik nan mulia yang datangnya dari atas.

Bagaimana dengan kita? Buang dan hanyutkan sampah-sampah tersebut dan biarkan “Kapten” mengendalikan kapal hati kita dengan rencana-rencana-Nya yang jauh lebih baik bagi kita.

Disadur dari: A Love Worth Giving by Max Lucado