UJIAN KASIH

UJIAN KASIH

Hari telah gelap ketika saya check-in di hotel di Waco, Texas. Wisata tiga hari memang menyenangkan tetapi cukup melelahkan, mengunjungi tiga kota dalam tiga hari. Tidak ada yang lebih saya inginkan kecuali tidur karena istirahat yang baik mengubah semuanya.

Begitu matahari bersinar menghangatkan pagi, saya meng-ikat tali sepatu saya, melambaikan tangan kepada resep-sionis hotel lalu pergi menjelajahi daerah sekitar. Berlari di kota asing dapat membuat kita kesulitan. Agar tidak ter-sesat, saya tetap berada di satu jalan untuk mulai berlari dan balik berlari pula.

Berlari kembali ke hotel terasa lebih lama tetapi saya anggap karena saya kurang cepat menyesuaikan diri de-ngan lingkungan baru. Ketika memasuki lobi, saya melihat ada hidangan prasmanan sarapan pagi. Saya tidak melihat makanan itu sewaktu pergi tadi. Segera saya mengambil roti walau harus membakar sendiri dan secangkir kopi kemudian berbincang-bincang sejenak dengan sepasang warga Brasil.

Seusai sarapan, saya memutuskan untuk kembali ke kamar. Saya berjalan lurus melewati lobi, belok ke kanan di lorong pertama, melewati kolam renang di dalam hotel (saya tidak melihat kolam renang ini tadi malam) dan sampai di pintu pertama sebelah kanan. Namun ada sesuatu yang salah. Kartu kunci saya tidak mau membuka pintu kamar. Saya mencoba untuk kedua kalinya. Tidak berhasil. Saya menengadah untuk melihat nomor kamar. Ini bukan kamar saya!

Saya kembali menelusuri langkah-langkah saya. Kembali ke lorong, melewati kolam renang, kembali ke lobi dan tersenyum kepada sang manager, keluar pintu depan dan melihat ke tanda di gerbang masuk. Oh my God! Ini bukan hotel saya! Di mana hotel saya? Saya melihat ke kanan lalu ke kiri. Itu dia! Di sebelah.

Ternyata saya melewatkan waktu sejam lamanya di hotel yang salah, bertamu di lobi dan mengobrol dengan tamu-tamunya. Makan makanannya, minum kopinya bahkan memuji sang manajer untuk dekorasinya.

Saya merasa seolah-olah saya berada di tempat yang benar. Tak sekalipun saya mengangkat kepala dan mengernyitkan dahi serta berpikir “tempat ini rasanya aneh” sebab terasa tidak aneh. Namun perasaan saya salah. Kartu kunci membuktikan bahwa perasaan saya salah. Tak peduli seberapa banyak saya merasa seakan-akan berada di tempat yang benar tetapi kenyataannya saya tetap berada di tempat yang salah.

Saya ingin tahu apakah Anda pernah berbuat kesalahan sama, tidak dengan hotel tetapi dengan cinta? Pernahkah Anda membuat keputusan tentang hubungan cinta berdasarkan perasaan bukan kenyataan? Berbicara tentang cinta, umumnya perasaan dan emosilah yang berkuasa. Bulu kuduk yang mengatur keadaan. Benarkah itu? Dapatkah perasaan dipercaya? Dapatkah sebuah hubungan terasa benar tetapi ter-nyata salah? Seorang ibu tanpa suami mengangguk. Seorang mahasiswa yang patah hati juga setuju.

Perasaan dapat membohongi kita. Kemarin saya berbicara dengan seorang gadis remaja yang merasa heran oleh ketiadaan cinta di hatinya terhadap pemuda yang begitu didambakannya sebelum mereka berkencan. Aneh, begitu pemuda tersebut menunjukkan perhatian kepadanya, gadis ini kehilangan minat. Saya juga teringat pada seorang ibu muda. Menjadi orang tua tidaklah seromantis yang diharapkannya. Mengganti popok dan menyusui tengah malam sama sekali tidak menyenangkan dan ia merasa bersalah karena hal-hal tersebut. “Apakah aku kurang cinta?”, pikirnya.

Pernahkah Anda berpikir bagaimana menilai kualitas kasih sayang? Rasul Paulus me-nawarkan tes/ujian kepada kita, “Kasih itu tidak bersukacita karena kejahatan tetapi karena kebenaran” (1 Kor. 13:6). Ayat ini mengandung ujian kasih.

Maukah Anda memisahkan yang palsu dan yang faktual, yang imitasi dari yang tulen? Dapatkah Anda mengetahui apa yang Anda rasakan itu kasih yang sejati? Tanyakan hal ini kepada diri sendiri ‘apakah aku mendorong orang lain melakukan apa yang benar/tidak benar’! Jika Anda menemukan diri Anda menghasut orang lain untuk berbuat jahat, ini bukan kasih. Demikian pula sebaliknya, orang lain menghasut Anda untuk berbuat jahat. Contoh klasik: sepasang anak muda sedang berkencan. Cinta si pemuda melampaui zona nyaman dan aman si gadis. Si gadis menentangnya tetapi si pemuda berusaha membujuknya dengan rayuan ‘aku mencintaimu, jika kamu mencintaiku….” Ini detektor cinta palsu. Si pemuda tidak mencintai gadis itu. Ia hanya senang bermain seks dan menyukai tubuh si gadis. Kasih sejati tidak pernah meminta sang kekasih melakukan apa yang salah. Kasih tidak membuat orang lain tersandung (bnd. 1 Yoh. 2:10) bahkan sebaliknya ‘kasih itu membangun’ (1 Kor. 8:1).

Inginkah Anda tahu apakah kasih Anda kepada seseorang itu sejati? Apakah per-sahabatan Anda itu tulen? Lagi, tanyakan pada diri sendiri “apakah aku bersukacita atas hal yang benar” dan “bersukacita dengan orang yang bersukacita, menangis dengan orang yang menangis” (Rm. 12:15)? Jawablah dengan jujur, sungguhkah Anda senang melihat teman Anda berhasil atau Anda iri hati? Jika dia tersandung dan jatuh dalam kemalangan, benarkah Anda iba kepadanya atau malah diam-diam me-rasa senang? Kasih tak pernah bersukacita atas kemalangan atau kejahatan orang lain. Sebaliknya, kasih berbagi sukacita dengan orang-orang yang hidup dalam kebenaran.

Anda baru tahu kasih Anda nyata jika Anda turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain seperti dirasakan oleh Catherine Lewis bagi narapidana penjara Sing Sing. Ketika suaminya, Lewis, menjadi kepala penjara tahun 1921, Catherine adalah seorang ibu muda dengan tiga anak perempuan. Setiap orang mengingatkannya agar dia tidak melangkahkan kaki ke dalam penjara. Namun dia tidak mendengarkan mereka. Ketika pertandingan basket penjara pertama diadakan, ia pergi dengan tiga putri di belakangnya dan duduk di barisan penonton bersama para narapidana.

Suatu saat ia berkata, “Saya dan suami akan menjaga orang-orang ini dengan baik dan saya percaya mereka akan menjaga saya dengan baik! Saya tidak perlu kha-watir!”

Ketika mendengar seorang narapidana pembunuh yang buta, Catherine mengajarinya Braille sehingga orang itu dapat membaca. Saat tahu ada narapidana lain yang lemah pendengaran, ia belajar bahasa isyarat sehingga mereka dapat berkomunikasi. Selama 16 tahun Catherine melembutkan hati-hati keras para narapidana di Sing-Sing. Pada tahun 1937, dunia melihat perbedaan yang dibuat oleh kasih sejati.

Para narapidata tahu ada sesuatu yang salah ketika Lewis tidak melaporkan diri untuk bekerja. Dengan cepat kabar menyebar bahwa Catherine terbunuh dalam kecelakaan mobil. Keesokan harinya tubuh Catherine dibaringkan di rumahnya 1,2 km dari pen-jara. Ketika pengganti kepala penjara berjalan-jalan di pagi hari, ia melihat sekum-pulan besar orang berdiri di pintu gerbang utama. Mereka merapat ke pagar dan air mata menggenang di pelupuk mata. Tak seorang pun berbicara atau bergerak. Mereka berdiri sedekat mungkin dengan perempuan yang telah memberikan kasih kepada mereka.

Kepala penjara membuat keputusan luar biasa. “Baiklah, kalian dapat pergi! Hanya pastikan kalian masuk kembali nanti malam!” Mereka adalah penjahat-penjahat Amerika paling kejam – para pembunuh dan perampok yang dikucilkan selama-lamanya. Akan tetapi mereka diperbolehkan berjalan keluar tanpa pengawal ke rumah Catherine untuk memberikan penghormatan terakhir padanya. Heran, satu demi satu balik ke penjara.

Kasih sejati mengubah orang. Tidakkah kasih Allah mengubah kita? Kita buta tidak dapat melihat maksud dan tujuan hidup ini hingga Dia menunjukkannya kepada kita. Telinga kita tidak berfungsi, hati juga tidak mengerti namun Ia berbicara dengan bahasa kita dan membebaskan kita dari kekerasan hati. Ingat, Allah menginginkan yang terbaik dari kita dan setiap tindakan-Nya bertujuan agar kita mengenal-Nya. Ia bersukacita apabila kita melakukan apa yang benar (Mzm. 147:11) dan menangis apabila kita menangis. Percayalah Ia sumber segala penghiburan dan menyertai kita saat kita menjalani masa-masa yang sulit (2 Kor. 1:3-4).

Apa itu kasih? “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pen-damaian bagi dosa-dosa kita.” (1 Yoh. 4:10)

Kalau begitu apa yang harus kita lakukan dalam merespons kasih-Nya?

  • Berhati-hatilah. Pastikan kita berada di tempat yang Allah tentukan. Jika kita curiga tidak berada di tempat yang benar, keluarlah. Jangan memaksakan apa yang salah menjadi benar.

Biarkan kasih Allah melingkupi kita lebih dahulu. Ada kalanya Ia mengizinkan kita merasakan kerapuhan kasih manusia sehingga kita dapat menghargai kekuatan kasih-Nya.

  • Berdoalah. Bagaimana jika sudah terlambat khususnya bila Anda menikah dengan seseorang yang tidak Anda cintai atau dia tidak mencintai Anda? Banyak yang memilih untuk pergi/cerai namun ingatlah kasih adalah salah satu rasa buah Roh Kudus (Gal. 5:22). Mintalah Allah untuk membantu Anda mengasihi sebagai-mana Ia mengasihi kita semua. Yakinlah bahwa Allah yang telah membangkitkan orang mati juga mampu menghidupkan kembali bara-bara api kasih Anda.
  • Bersyukurlah. Bersyukurlah kepada orang-orang yang mengasihi Anda juga mereka yang mendorong Anda untuk melakukan apa yang benar dan memuji ketika Anda melakukannya.

Perlu diketahui, walau kita tidak mengasihi dengan kasih sempurna, kasih-Nya tetap sempurna bagi kita. Allah selalu memelihara dan memuji apa yang benar. Ia tidak pernah berbuat salah dan tidak pula membujuk orang untuk berbuat salah atau bersukacita ketika orang berbuat salah sebab Ia adalah kasih dan kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran (1 Kor. 13:6).

Disadur dari: A Love Worth Giving by Max Lucado