Anak-Anak Dipersenjatai Di Acara Natal

LIPUTAN NATAL PERSEKUTUAN SEKOLAH MINGGU

Anak-Anak Dipersenjatai Di Acara Natal

Pernahkah kita membayangkan apa yang terpikir oleh anak-anak (mungkin juga remaja/dewasa yang masih awam dengan kekristenan) ketika mendengar istilah-istilah dalam Efesus 6:13-17?

  • Ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah
  • Berikatpinggangkan kebenaran
  • Berbajuzirahkan keadilan
  • Berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil Damai Sejahtera
  • Gunakanlah perisai iman
  • Terimalah ketopong keselamatan dan
  • Pedang Roh yaitu Firman Allah

Berbagai interpretasi dan visualisasi bisa saja muncul untuk mencoba mencari titik temu “pasangan nama” senjata fisik dan senjata rohani.

Mungkin kita sepakat bahwa untuk mengajarkan tema-tema tersebut kepada anak-anak (usia 12 tahun ke bawah) bukanlah hal yang mudah. Lebih mudah menyajikan serial tokoh dan peristiwa dalam Alkitab dibandingkan dengan menyampaikan makna simbol-simbol yang sarat dengan pengajaran rohani.

Namun apa yang terjadi pada Natal Sekolah Minggu Persekutuan 2 Desember 2018 yang lalu boleh dikata cukup menjawab pesimisme tentang sulitnya mengajarkan prinsip-prinsip rohani dalam hidup kekristenan. Tim Poppenkast berhasil melewati langkah-langkah sulit tersebut. Sarana drama musikal dan panggung boneka kembali dipakai untuk menjelaskan pengertian senjata Allah dalam peperangan rohani pada kehidupan anak-anak.

Berbagai fragmen cerita mencoba mengupas masing-masing fungsi senjata rohani dalam menangkal godaan iblis, misal:

  • Belt of Truth (Ikat Pinggang Kebenaran)

Jangan lepaskan hal-hal benar yang sesuai Frman Tuhan.

  • Breastplate of Righteousness (Baju Zirah Keadilan)

Jaga hati. Jangan ada marah, benci, dendam, iri hati...

  • Shoes of The Gospel of Peace (Kasut Kerelaan memberitakan Injil Damai Sejahtera)

Siap sedia untuk bercerita tentang Tuhan Yesus.

  • Shield of Faith (Perisai Iman)

Digunakan untuk mengalahkan setiap serangan dari Iblis.

  • Helmet of Salvation (Ketopong Keselamatan)

Jaga pikiran kita, jangan ada pikiran-pikiran yang jahat.

  • Sword of the Spirit (Pedang Roh)

Firman Allah. Bacalah Firman Tuhan dan berdoalah senantiasa.

Semua diperagakan dengan menarik.

Ada penggambaran tentang kehidupan anak-anak Tuhan yang dirongrong kuasa iblis berakhir dengan kekalahan karena melupakan senjata-senjata rohani. Iblis menjadi pemenang saat senjata rohani dicampakkan begitu saja oleh anak-anak Tuhan.

Dalam situasi seperti itu diperlukan nasihat untuk segera datang kepada Tuhan, mengaku dan memohon ampunan serta membawa bukti-bukti pertobatan. Sikap demikian menunjukkan keberpihakan kepada Tuhan. Anak-anak Tuhan harus sadar bahwa setiap orang pihak Tuhan akan menjadi lawan Iblis dan sasaran serangannya. Oleh sebab itu dibutuhkan kuasa adikodrati untuk mengalahkan Iblis dan Allah telah menyediakannya dengan memberi kita Roh Kudus-Nya di dalam diri kita serta perlengkapan senjata-Nya untuk melindungi kita.

Tim Poppenkast tidak hanya menyampaikan pesan-pesan pengajaran tersebut dalam pentas panggung. Menyadari betapa tema ini harus berkesan kuat pada anak-anak, Tim Poppenkast membuat lorong gelap yang harus dilewati oleh semua orang yang akan memasuki hall gereja. Dalam lorong tersebut dipamerkan semua jenis perlengkapan prajurit yang dikenakan dalam peperangan sesuai ukuran yang sebenarnya.

Anak sekolah Minggu yang datang dari berbagai cabang binaan juga membawa properti seperti yang dimaksud dalam Efesus 6:13-17. Ada juga yang mengenakannya secara lengkap. Mereka sangat antusias bahkan sekali-sekali terlihat ada yang memperagakan penggunaan pedang dan perisai buatannya layaknya seorang pahlawan yang baru memenangkan peperangan.

Sesi altar call di akhir acara mendapat sambutan yang sangat positif. Anak-anak diajar untuk tahu membawa hidup ini kepada Tuhan agar diperlengkapi dengan kelengkapan senjata rohani untuk melawan Iblis. Victorious In Christ!

Selamat Natal! (DD)