A Man Behind The Scene

A Man Behind The Scene

“Prok… prok… prok!” — Tepuk tangan meriah bahkan a big standing applause terdengar meng-iringi berakhirnya sebuah pertunjukan yang baru saja selesai dan sukses digelar. Termasuk juga ketika seorang juara diumumkan namanya untuk menerima piala kemenangan. Semua mata memandang kagum pada pribadi-pribadi di atas panggung yang telah berhasil membawakan sebuah penampilan yang memukau. Bertubi-tubi pujian dan riuhnya suara kegembiraan seakan hanya ditujukan kepada mereka.

Di tengah-tengah luapan kebahagiaan tersebut, adakah terpikir untuk menengok sejenak keadaan di belakang panggung? Siapa saja dan bagaimana mereka? Orang di balik layar memang tidak terkenal karena mereka tidak pernah tampil di depan umum. Jika sebuah acara sukses, hampir dipastikan tidak ada yang peduli pada perencana konsep, pengatur sound system, penata rias sampai bagian kostum. Namun bila terjadi kesalahan, merekalah yang harus bertanggung jawab. Sesungguhnya, keberadaan mereka yang tidak kelihatan itulah yang memegang peranan penting bagi suksesnya seorang aktor atau sang juara.

Lihat saja para pembalap Formula 1. Mereka pasti akan kehilangan banyak waktu bila tidak memiliki tim pendukung yang kuat dan gesit saat setiap kali penggantian ban. Dengan cekatan tim melakukan tugasnya masing-masing dan hanya dalam hitungan detik, si pembalap yang tetap duduk di dalam mobilnya dapat melaju kembali dengan kondisi prima. Kesuksesan Michael Schumacher di masa jayanya juga tak lepas dari keandalan para teknisi yang membantunya.

Nama Tenzing Norgay hampir tidak pernah disebutkan mengiringi ketenaran Sir Edmund Hillary sebagai orang pertama yang menaklukkan Mount Everest. Dialah yang memandu Hillary untuk menyelesaikan pendakian monumental tersebut. Bagi Norgay, ini bukan masalah karena dia menyadari bahwa dia hanyalah seorang pemandu yang mana tugas utamanya mengantar orang sampai ke tujuan. Apa yang dicapai setelah itu bukanlah bagiannya.

Ada pula sebuah kisah populer tentang orang lumpuh yang ingin mendapat kesembuhan dari seorang Rabi. Melihat kerumunan orang yang begitu banyak, rasanya tidak mungkin si lumpuh dapat masuk ke dalam rumah untuk bertemu sang Rabi. Empat orang temannya sepakat berinisiatif membuka atap rumah tersebut dan menurunkan si sakit tepat di hadapan sang Rabi. Dia sembuh dan… di akhir cerita peran empat orang teman yang menolong ini nyaris terlupakan. Fokus orang hanya pada yang sakit menjadi sembuh dan yang lumpuh berjalan (Luk. 5:17-25).

Pemain belakang layar selalu bekerja all out. Dan ketika tepukan tangan terdengar, mereka hanya bisa bersandar lelah di belakang panggung sambil tersenyum puas walau pujian dan sorak sorai bukan untuknya.

Patut rasanya sebuah penghargaan juga dilayangkan bagi mereka yang bekerja di belakang layar karena mereka bekerja lebih awal dan pulang paling akhir. Mereka harus mempersiapkan dan membereskan kembali semua perlengkapan setelah acara selesai. Mereka pulalah yang mengantar pertunjukan itu tampil sempurna.

Layaklah untuk direnungkan bahwa keberhasilan seseorang tidak terletak pada kehebatan orang itu sendiri tetapi juga peran orang-orang di sekitar yang mendukungnya. Mereka adalah suami, istri, anak, orang tua termasuk para bawahan dan pembantu yang mungkin sering terlupakan.

Tuhan adalah Pribadi yang bekerja di belakang layar kehidupan kita. Tanpa-Nya kita bukanlah apa-apa dan tanpa-Nya pula kita tidak dapat berbuat apa pun. Bila kita dapat meraih keberha-silan, ini semua karena karya-Nya; oleh sebab itu segala kemuliaan hanya bagi-Nya semata!

Lilik Harwani - Jakarta