Khawatir

 Khawatir

Apakah Anda mengkhawatirkan masa depan Anda berkaitan dengan kesehatan, pekerjaan, keluarga atau keuangan? Putuskanlah hari ini untuk tidak lagi merasa khawatir. Corrie ten Boom, seorang wanita yang terselamatkan dari kamp konsentrasi Hitler yang mematikan berkata, “Kekhawatiran adalah memikul beban esok hari dengan kekuatan hari ini.” Berarti memikul beban dua hari sekaligus – menanggung beban esok hari sebelum waktunya. Marilah kita berharap kepada Tuhan dan belajar untuk memercayakan hidup ini kepada-Nya dari hari ke hari.

Dari Keluaran 15 – 16 kita dapat mempelajari bagaimana Allah menjanjikan pemeliharaan-Nya dari hari ke hari. Seperti itu juga halnya saat Yesus mengajar kita berdoa, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya..” (Mat. 6:11). Bukankah lebih baik berharap kepada Allah dan percaya bahwa Dia sanggup menyediakan apa pun yang kita perlukan saat kita membutuhkannya?

Nyanyian Musa dan Mariam dalam Keluaran 15 merupakan contoh yang indah dalam berharap kepada Tuhan. Mereka memuji Allah untuk karakter-Nya yang tinggi luhur, kuat dan menye-lamatkan (Kel. 15:1-5), memuji Allah akan apa yang Ia telah lakukan di masa lampau – keselamatan, penyelamatan dan pemeliharaan-Nya dengan cara yang ajaib (ay. 6-12) dan memuji Allah akan apa yang akan dilakukan-Nya di masa mendatang – bimbingan, keselamatan, perlindungan dan pemeliharaan ( ay. 13-18).

Allah menjanjikan pemeliharaan untuk kebutuhan jasmani mereka – menurunkan “roti dari Surga” (Kel. 16:4a) yang disebut “manna” (ay. 31). Setiap hari Allah menyediakan makanan sesuai dengan kebutuhan mereka pada hari itu. Mereka tidak diperbolehkan menyimpan manna untuk esok harinya (ay. 19).

Kita selalu tergoda untuk menyimpan apa yang kita rasa akan diperlukan untuk masa depan. Kita bukannya memercayakan diri kepada Allah serta meyakini bahwa Dia sanggup memenuhi segala kebutuhan kita saat kita memerlukannya. Ini juga berarti kita lebih mengandalkan berkat masa lalu kita.

Sungguh menyedihkan melihat betapa cepatnya umat Allah melupakan kebaikan dan pemeli-haraan Allah di masa lampau dan mulai menggerutu akan masalah-masalah yang dihadapi saat itu. Bukankah kita juga sering melakukan hal yang sama? Ayat-ayat di atas menjadi pe-ringatan agar kita senantiasa memercayakan diri kepada Allah dalam segala kondisi – baik atau tidak baik.

Yesus sendiri mengatakan bahwa Dia merupakan “pemeliharaan” yang disediakan Allah bagi dunia ketika Dia berkata, “Akulah Roti Hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan daripadanya, ia tidak akan mati. Akulah Roti hidup yang telah turun dari sorga, jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yoh. 6:48-51)

Yesus yang telah dibangkitkan merupakan kebutuhan jiwa kita yang tak ternilai karena Ia yang telah dibangkitkan dapat memberikan kita kehidupan kekal selama-lamanya.

Terima kasih Tuhan untuk janji-Mu

Memenuhi segala keperluan kami

Menurut kekayaan dan kemuliaan-Mu dalam Kristus Yesus (Flp. 4:19).

Ketika aku melihat ke masa lalu,

Hatiku penuh dengan ucapan syukur dan terima kasih

Ketika aku menatap masa depanku,

Aku hanya memercayakan diriku

Dengan penuh keyakinan

Bahwa Engkau akan terus mencukupkan

Apa pun yang menjadi keperluanku

Sesuai dengan kekayaan dan kemuliaan-Mu di dalam Yesus

Yang telah dibangkitkan.

(Saduran dari Bible in One Year 2019 oleh Nicky Gumble)