Di Kayu Salib Aku Melihat Segala Kejahatanku (1)

Di Kayu Salib Aku Melihat Segala Kejahatanku (1)

(Vida S.)

Aku sedang berdiri bersama jemaat ketika menyanyikan lagu:

Di kayu salib, aku melihat segala kejahatanku,

Olehnya Yesus menderita sangat

Untuk selamatkanku…

Lagu itu dinyanyikan berulang-ulang. Tiba-tiba hatiku begitu hancur, aku merasakan suasana berdiri di tengah-tengah massa yang berada di dekat salib itu. Keadaan begitu redup dan kacau balau. Terdengar kata-kata menghina, mengu-tuk, menyindir, memaki dari mereka yang membenci-Nya bercampur dengan suara isak tangis dan rintihan penuh kesedihan serta keputusasaan dari mereka yang mengasihi-Nya. Aku tak tahan melihat-Nya. Darah tercecer di tanah dari tempat tangan dan kaki-Nya ditembus paku besar untuk ditancapkan pada kayu yang kasar itu.

Beberapa saat lalu aku mempelajari mengapa Dia yang tidak berdosa harus turun ke dunia dan disalibkan bahkan mati. Aku mempelajari bahwa Dia datang karena kasih-Nya kepada manusia. Ia sengaja datang dan rela untuk menderita. Aku mempelajari pula manusia yang awalnya diciptakan tanpa dosa telah jatuh karena ketidaktaatan pada perintah Allah. Ketidaktaatan membuat mereka berdosa, hidup terpisah dari Allah dan menderita di atas bumi ini. Mereka makin lama makin tenggelam dan terpenjara dalam lumpur dosa. Mereka makin tidak berdaya untuk menyelamatkan diri sendiri. Telah ada ketentuan bahwa manusia harus mati. Itulah hukuman yang telah ditentukan bagi setiap pelanggar perintah Allah.

Namun Allah terlanjur mengasihi manusia ciptaan-Nya dengan kasih-Nya yang kekal dan tidak berkesudahan. Kasih-Nya tidak mungkin berakhir sekalipun manusia sedang diliputi dosa dan pelanggaran….Dia merencanakan sesuatu… manusia harus diselamatkan! Aku teringat betul ayat yang sangat terkenal itu:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh. 3:16)

Ayat itu begitu indah, merupakan tema keseluruhan dari isi Kitab Suci yaitu Penyelamatan Manusia!

Harus ada seorang yang menjadi Juru Selamat untuk datang menolong membebaskan manusia dari hukuman yang telah ditentukan. Namun manusia di bumi ini tidak mungkin mampu membebaskan diri karena mereka semua berdosa dan semua terbelenggu serta terpenjara. Hanya Allah yang sanggup melakukannya! Karena telah ditentukan bagi manusia untuk dihukum harus ada Seorang yang dapat menggantikannya. Yesus yang memiliki kepribadian Allah telah datang sebagai manusia (satu-satunya manusia tidak berdosa dan tanpa salah) dengan semua kefanaannya. Dia datang untuk menggantikan manusia yang terhukum, merasakan penderitaan kesengsaraan dan mati sehingga manusia dapat dibebaskan.

Sebagai “bapa manusia”, Adam telah tidak taat dan berdosa sehingga manusia di seluruh dunia (keturunannya) tercemar oleh dosa. Itu sebabnya semua manusia terlahir di dunia dalam keadaan berdosa. Sedangkan Yesus sebagai “Anak Manusia, Adam yang kedua”, telah berdiri di hadapan Allah mewakili seluruh manusia menggantikan ketidaktaatan manusia dengan ketaatan-Nya yang penuh pada Bapa hingga kematian-Nya.

Kembali aku merasakan suasana seakan-akan berada sangat dekat dengan salib-Nya sehingga aku dapat dengan jelas merasakan penderitaan-Nya dan mendengarkan setiap kata dan seruan-Nya…

“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka per-buat.” (Luk.23:34)

Aku mendengar seruan-Nya kepada Bapa begitu bergetar, bersungguh-sungguh dengan permohonan pengampunan yang sangat mendalam. Aku dapat merasakan kasih-Nya yang begitu besar bagi manusia yang telah menganiaya-Nya. Kata-kata-Nya merupakan pembelaan kepada manusia untuk menutupi kesalahan mereka di hadapan Allah. Aku melihat wajah itu. Muka-Nya penuh darah dari luka-luka di kepala-Nya yang tercocok mahkota duri tajam yang dikenakan orang kepada-Nya. Aku juga melihat punggung-Nya yang tercabik-cabik merupakan bilur-bilur dan luka yang menganga. Sungguh Ia dalam kondisi begitu menderita! Aku melihat wajah-Nya kotor berdebu dan ludah yang menjijikkan menempel dimuka-Nya. Tubuh yang biru lebam bekas tamparan dan tinju… Mereka telah membuat-Nya tampak begitu buruk rupa dan menderita walau Dia sebenarnya tidak bersalah.

Ia seolah-olah memohon kepada Bapa-Nya, “Ampuni mereka Bapa, jika Engkau tidak meng-ampuni mereka, mereka tidak akan bebas dari dosa dan mereka tidak dapat diselamatkan. Jika mereka tidak dapat diselamatkan, sia-sialah kedatangan-Ku. Bukankah Aku datang untuk me-nyelamatkan mereka?”

Dalam kesengsaraan-Nya, Ia masih membela orang-orang yang telah membuat-Nya sengsara dengan mengatakan, “Bapa, mereka tidak sadar akan apa yang mereka lakukan, ampunilah mereka…” Doa itu diperuntukkan bagiku juga. Untuk aku yang penuh dosa dan cacat cela ini (sering kali aku menyadari betapa berdosanya aku).

Aku tersentak. Teringat kembali olehku beberapa hari lalu ketika aku begitu sakit hati terhadap sikap seorang sahabat yang sangat melukaiku. Hatiku terasa penuh kepahitan kepadanya. Aku sempat membencinya. Aku ingin mengampuninya namun merasa tak mungkin aku dapat melupakan perbuatannya. Teringat kembali olehku bagaimana seorang muda bersikap kasar terhadapku dengan kata-kata yang begitu menusuk perasaanku, seorang yang lebih tua. Untuk beberapa hari kami tidak saling menyapa. Aku enggan berbicara dengannya dan belum dapat mengampuninya. Hal itu membuat hatiku penuh dengan kegelisahan dan ketidaksejahteraan padahal Tuhan telah mengampuniku. Aku merasa begitu berdosa dan jahat. Ia mengampuni mereka yang membuat-Nya amat sengsara bahkan berdoa bagi keselamatan mereka.

Sikap-Nya dalam menghadapi penderitaan telah membuka mataku dan memberiku teladan bagaimana seharusnya aku bersikap menghadapi penderitaan hidup.

Tuhan, mengapa aku tidak dapat bersikap seperti-Mu?

Mengapa hatiku penuh kebencian dan kepahitan bukan kasih?

Penuhi aku dengan kasih-Mu, ya Tuhan,

Ajari aku untuk dapat mengampuni karena Kau telah mengampuniku.

Pengampunan-Mu telah membebaskan hatiku

Yang terpenjara oleh kepahitan dan ketidakbahagiaan,

Oleh kesendirian dan kegalauan.

Aku ingin bahagia, ingin bebas seperti burung yang terbang tinggi bersama-Mu,

Aku pun ingin mengampuni dan memberikan rasa bahagia bagi mereka yang bersalah padaku,

Seperti yang telah kurasakan.

Aku tahu ini sulit namun bersama-Mu aku tahu aku mampu.

(bersambung)