Di Kayu Salib Aku Melihat Segala Kejahatanku (5) (Vida S.)

Di Kayu Salib Aku Melihat Segala Kejahatanku (5)

(Vida S.)

Darah-Nya telah habis tercurah, lidah-Nya kering melekat di langit-langit mulut-Nya. “Aku haus”, kata-Nya. Entah kepada siapa Ia mengutarakan kehausan itu. Perkataan pertama ditujukan ke-pada Bapa-Nya memohon pengampunan bagi manusia. Yang kedua bagi penjahat yang disalib bersama-Nya; yang ketiga bagi ibu dan murid yang dikasihi-Nya dan yang keempat bagi Allah yang meninggalkan-Nya. Secara fisik, Dia pasti merasakan kehausan karena seharian tidak ma-kan maupun minum juga kelelahan serta ba-nyaknya tetesan darah karena penyiksaan. Belum lagi dijemur di bawah terik matahari yang menyengat di siang bolong. Ia pasti mengalami dehidrasi berat.

Teringat olehku ketika orang banyak membawa-Nya ke Golgota untuk disalibkan. Mereka memberi-Nya anggur bercampur mur (Mrk. 15:23) tetapi Yesus menolaknya! Mengapa? Bukan-kah Dia sedang kelelahan dan kehausan saat itu?

Dari beberapa buku, aku mempelajari bahwa anggur bercampur mur tersebut merupakan ‘narkotika’ yang biasa diberikan kepada seorang yang disalibkan untuk meringankan rasa sakit yang bakal dideritanya. Itu sebabnya Yesus menolak sebab Ia sudah bertekad untuk merasakan dan mengalami semua siksaan manusia berdosa sepenuhnya tanpa dikurangi sedikit pun.

Aku pun tidak mengerti sepenuhnya keadaan isi hati-Nya ketika Ia menyatakan kehausan. Teringat olehku kata-kata pemazmur ketika dia haus merindukan Allah-Nya:

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” (Mzm. 42:1-3)

Apakah jiwa-Nya juga mengalami kehausan semacam itu? Kehausan jiwa karena merindukan Allah – Bapa-Nya yang meninggalkan-Nya?

Di tengah perasaan yang sangat galau tiba-tiba hatiku begitu mengagumi-Nya. Rasa syukur tak terucapkan dengan kata-kata melihat pembelaan-Nya yang begitu besar bagiku dan bagi semua manusia. Ia rela dan sengaja meninggalkan juga tidak memperhitungkan hak-hak-Nya sebagai Allah. Ia telah berdiri di pihak manusia dan sebagai manusia seutuhnya yang dilumuri dosa siap menerima hukuman mati sehingga Ia memanggil Bapa sebagai “Allah-Nya”.

Dari pukul 12:00 tengah hari hingga pukul 3 petang merupakan siksaan terberat bagi-Nya namun Ia sama sekali tidak bersuara. Baru di detik-detik terakhir Ia berseru kepada Allah dan menyatakan kehausan-Nya.

Aku teringat saat Yesus bercerita tentang orang kaya dan Lazarus miskin yang kemudian   meninggal dan berada di pangkuan Abraham. Orang kaya juga mati dan menderita sengsara di alam maut. Ketika memandang ke atas dari jauh dilihatnya Abraham dan Lazarus duduk di pangkuannya, orang kaya itu memohon Abraham agar Lazarus mencelupkan ujung jarinya ke dalam air untuk menyejukkan lidahnya sebab orang kaya tersebut sangat kesakitan dalam nyala api. Inilah keadaan neraka dan Yesus sedang mengalaminya!

Nicky Gumble, penulis “One Year Devotion” mengatakan, “Saat itulah Allah mendemonstrasikan keadilan-Nya dalam menghukum dosa”. Allah memang mahakasih dan mahamurah tetapi juga mahaadil. Dia membenci dosa dan menghukum dosa seperti yang telah diucapkan-Nya. Saat itu semua kejahatan, kesengsaraan, kegelapan dan kengerian akibat dosa telah ditumpahkan sepenuhnya atas Yesus sehingga Allah berpaling dari-Nya.

Kemudian seseorang memberi-Nya cuka dan Ia meneguknya. Kali ini bukan untuk meringankan atau mengurangi rasa sakit tetapi untuk menggenapi nubuat dalam Kitab Suci tentang diri-Nya, “…Dan pada waktu aku haus mereka memberiku minum anggur asam .” (Mzm. 69:22)

Setiap detail nubuat yang menggambarkan tentang diri-Nya: kelahiran-Nya, pelayanan-Nya bahkan sengsara-Nya yang tertulis dalam Perjanjian Lama telah digenapi-Nya satu persatu. Dalam ketaatan Dia menuntaskan seluruh tugas yang dibebankan Bapa kepada-Nya.

Lirik dari lagu itu bergema kembali dalam jiwaku:

Di kayu salib aku melihat segala kejahatanku,

Oleh-Nya Yesus menderita sangat

Untuk selamatkanku…..

“Ya Yesus, betapa besar kasih-Mu kepadaku dan betapa besar pengurbanan-Mu bagi manusia juga bagiku. Jiwaku begitu haus akan Engkau, janganlah kiranya meninggalkanku, ya Allah yang hidup.”

(bersambung)