Di Tempat yang Sunyi

DI TEMPAT YANG SUNYI (4)

(penutup)


Di rumah terasa sangat sepi. Anak-anak semua pergi ke luar, ada yang bekerja ada pula yang ke sekolah dan aku benar-benar sendirian di rumah. Di tahun-tahun lalu, saat-saat seperti itu terasa sangat mencemaskan.

Ketika malam tiba, kecemasan datang lagi dan lagi.

Aku kemudian menyadari bahwa ada pihak yang menginginkan kehancuranku. Dia adalah Iblis yang mengisi hati dengan kesedihan, penyesalan dan kekecewaan. Tak jarang dia mengingatkanku akan kesalahan-kesalahan yang telah kubuat hingga aku merasa tiada lagi pengampunan bagiku. Aku kemudian menyadari bahwa “si penuduh” ingin menghancurkan aku dengan segala tuduhan-tuduhannya. Ketika aku menyadarinya, aku memaksakan diri untuk bangkit dan melawannya! Aku menyadari betapa bodohnya aku! Aku memiliki Tuhan yang berkuasa tetapi aku tidak menggunakan kuasa-Nya yang diberikan kepadaku. Aku hanyalah sarung tinju tanpa tangan Petinju di dalamnya. Dia sudah berkurban untuk membebaskanku, mengapa aku membiarkan diriku kembali tertawan oleh kegelisahan dan kecemasan hingga makin tenggelam dan terpuruk?

“Tolonglah aku, Tuhan….” seruku. Aku tidak lagi menghiraukan rasa lemah dalam tubuhku lalu aku berseru, “Enyahlah kau Iblis yang mencoba untuk menghancurkanku! Aku adalah milik Yesus. Yesus kini di dalamku dan apa yang ada di dalamku lebih besar darimu! Tiada lagi tempat bagimu!”

Suatu kerinduan besar untuk mendekat dan bersatu dengan Tuhan begitu memenuhi jiwaku namun ternyata tak semudah itu aku mendapatkannya. Ketika aku berjuang untuk berdoa dan membaca Firman-Nya, sukar bagiku untuk memusatkan pikiran kepada-Nya. Kusadari bila aku tidak menyatukan diri dengan Kristus, aku akan berada dalam kekuasaan si jahat. Ini membuatku semakin keras berjuang untuk menjatu dengan-Nya. Berulang-ulang aku menyebut Nama-Nya, aku menyanyi dan memuji Dia, jika aku tidak mengerti apa yang kubaca, aku mengulanginya lagi dan lagi…..Setiap saat aku berusaha untuk berbicara dengan Dia dan mengingat Firman-Nya hingga suatu saat aku benar-benar merasakan kehadiran-Nya yang begitu dekat denganku bahkan di dalamku.

“Yesus,” kataku, “Aku tidak mau kehilangan Engkau lagi….. ingatkan bila aku bersalah, ampuni dosa-dosaku dan tariklah aku bila aku menympang sedikit saja dari-Mu.” Aku merasakan kasih-Nya begitu mendalam dalamku.

“Aku tidak akan membiarkanmu sebagai yatim piatu,” bisik-Nya, “Aku selalu bersamamu walau kau sering kali tidak menyadarinya.”

Aku teringat sebuah nyanyian berbahasa Inggris “Lonely years I had nothing, my life had no meaning, „till I heard about Calvary. Then I knelt down in prayer, the Lord met me there, Now Jesus He‟s living in me……He‟s in my feet when I‟m walking, in my tongue when I‟m talking, in my eyes and now I can see….He‟s in the songs that I‟m singing, in my heart His joy is ringing, Jesus… is living in me..” Terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia berbunyi “Di tahun-tahunku yang sepi dan sendirian aku tidak memiliki apa pun, hidup ku tidak bermakna hingga aku mendengar tentang Golgota. Aku kemudian berlutut dan berdoa dan Tuhan menjumpai aku. Kini Yesus hidup di dalamku! Dia berada di kakiku saat aku berjalan, di lidahku ketika aku berbicara; di mataku dan kini aku dapat melihat! Dia berada di dalam lagu-lagu saat aku menyanyikannya dan di dalam hatiku hingga aku penuh dengan sukacita-Nya…… Yesus, Dia hidup di dalamku”.

Selama berminggu-minggu lagu itu mengiang-ngiang di hati dan telingaku, aku menyanyikannya berulang-ulang setiap hari. Aku merasakan betapa bahagianya dapat hidup bersama Dia selamanya.

Setiap bangun pagi, aku berterima kasih karena sepanjang malam aku dapat tidur dengan tenang dan nyenyak (sebelumnya aku sukar tidur). Aku bersyukur Ia membangunkanku pagi itu untuk kembali bersekutu dengan-Nya. Kumohon tuntunan-Nya agar aku dapat menggunakan hari itu untuk melayani-Nya dan berbuat baik bagi sesama.

Jujur kukatakan bahwa tidak setiap hari aku dalam keadaan baik, ada kalanya kecemasan dan kekhawatiran timbul kembali namun aku selalu mengingatkan diriku untuk selalu menyatu dengan-Nya agar tidak lagi jatuh dalam pengaruh si Iblis.

Kehidupan di dunia memang penuh cobaan dan tantangan, kadang kelemahan datang lagi dan badai yang ganas mencoba untuk menghancurkan kita.

Aku teringat suatu hari terjadi peristiwa yang benar-benar membuatku tergoncang dengan hebatnya. Aku merasa tak kuat lagi untuk meneruskan perjalananku. Aku sungguh merasa sendirian menghadapi badai itu dan tak mengharapkan seorang pun dapat menolongku. Ketika aku merenung dalam keadaan tergoncang itu, aku melihat sebuah benda kecil kenang-kenangan dari seorang sahabat yang kini hidup sangat jauh dariku. Benda itu telah tergeletak di mejaku sejak puluhan tahun lalu dan tampak tidak terlalu berarti bagiku.

Tuhan memakai benda kecil itu, sebuah hiasan meja berbentuk segitiga, yang mana tertulis dua kata mutiara berbahasa Inggris di dua sisinya. Sebuah sisi tertulis sebuah ayat yang terdapat dalam Mazmur 90:1, “Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata pada Tuhan: Tempat Perlindunganku dan kubu pertahananku Allahku yang kupercayai.”

Di sisi lainnya terdapat sebuah doa, “Lord, help me to remember that nothing is going to happen to me today that You and I can‟t handle together” (aku menuliskan dalam bahasa asli karena begitu indah bunyinya). Hatiku melonjak dengan keras! Aku mengucapkan doa itu dengan suara keras dan setiap kali menghadapi tantangan, aku selalu mengucapkan doa tersebut, “Tuhan, tolonglah aku untuk selalu ingat bahwa tak ada sesuatupun terjadi padaku hari ini yang Kau dan aku tidak dapat mengatasinya bersama-sama.”

Hatiku merasa begitu tenang bersama-Nya. Laluilah saat-saat sunyi Anda bersama-Nya dan Dia akan membuatnya menjadi saat yang indah penuh kebahagiaan! (VS)