Jam jam Menjelang Paskah (3)

PENGADILAN-PENGADILAN DUNIA

 

Dia yang adalah Pembela kita tidak membela diri-Nya sendiri. Dia yang adalah Perantara kita tidak berbicara untuk menyanggah perkara-Nya sendiri dan Dia yang merupakan Pelindung hidup kita tidak mencoba untuk melindungi diri-Nya sendiri. Ia membiarkan hukuman itu menimpa-Nya.

Ia memilih menjadi manusia yang rentan seperti kita untuk mengganti posisi kita agar kita terlepas dari hukuman dan mendapatkan kemenangan.

Pilatus berdiri di depan Raja segala raja yang saat itu sama sekali tidak menunjukkan diri-Nya sebagai Raja. Tangan-Nya dibelenggu, mukanya kotor penuh ludah dan bekas penganiayaan brutal dari tentara yang menggiring-Nya. Sang Raja telah membiarkan diri-Nya diadili dari satu pengadilan ke pengadilan lain secara tidak adil tanpa dapat ditemukan kesalahan yang patut untuk dijatuhi hukuman mati. Ke Hanas, Imam Besar Kayafas, Mahkamah Agama Sanhedrin, Pontius Pilatus, Herodes dan terakhir kembali ke Pilatus. Tekanan dari massa yang dihasut oleh para pemimpin agama dan orang Parisi yang dendam kepada-Nya telah begitu memanas. Mereka menghendaki kematian-Nya. “Salibkan Dia…! Salibkan Dia…!” teriak orang banyak dengan penuh kemarahan. Memang tepat seperti dikatakan Pengkhotbah: di tempat pengadilan tidak terdapat keadilan (Pkh. 3:16).

Pilatus tahu bahwa Yesus tidak bersalah selain itu istrinya juga telah memperingatkan dia berkenaan dengan mimpinya bahwa Yesus tidak bersalah. Namun massa menuntut penyaliban-Nya. Ia merasa begitu terdesak dan tidak dapat melawan arus massa yang berteriak-teriak. Kebenaran telah dikalahkan oleh kebencian yang keji. Satu-satunya yang dapat diperbuat Pilatus adalah mencuci tangan dan melepas tanggung-jawab lalu membiarkan Yesus diperlakukan seperti kehendak banyak orang.

Yesus tahu apa yang akan terjadi mengenai sengsara hingga kematian-Nya di kayu salib. Ia telah menyelesaikan separuh dari perjalanan kesengsaraan-Nya dan tidak undur selangkah pun untuk menuntaskannya. Ia menyerahkan semua kepada Bapa yang telah mengutus-Nya untuk tujuan itu. Ia hanya melihat sesuatu yang lebih besar dan kekal di balik kehancuran diri-Nya itulah keselamatan seluruh umat manusia yang dicintai-Nya.

Paling tidak kita melihat dua orang terlepas dari pehukuman yang nyaris menimpa mereka saat itu. Barabas, penjahat besar, yang sebenarnya patut mendapat hukuman penyaliban dibebaskan dan hukuman itu kemudian ditimpakan kepada Dia yang tidak berdosa. Juga penjahat yang disalib di sebelah-Nya yang nyata-nyata telah menjalani hukuman penyaliban. Ia memang mati tetapi menjelang kematiannya dia dibimbing bukan menuju siksaan kekal di neraka namun mendapat kehidupan kekal bersama Kristus di Firdaus karena berkeyakinan bahwa Yesus memang Raja yang kekal.

Kalau saja mereka mengerti akan hal itu….namun mereka tidak mengerti dan tidak mau mengerti.

Yesus, terima kasih untuk pengurbanan-Mu. Kau telah menggantikan hukuman yang seharusnya kuterima…. Terima kasih Yesus, terima kasih…”

(VS)