Sejauh Mana Allah Memegang Kendali (1)

SEJAUH MANA ALLAH MEMEGANG KENDALI (1)


Para skeptis beranggapan banyaknya kepedihan dan penderitaan membuktikan jika Allah itu baik, Ia tidak berkuasa sama sekali; jika Ia berkuasa, Ia tidak baik sama sekali. Contoh: seorang pria, anak seorang misionaris di Afrika Utara, melihat seorang wanita hamil tertabrak sepasang kuda penarik kereta yang berlari kencang menerjang kerumunan orang. Sang kusir berhenti, melihat wanita itu telah meninggal dia mengangkat bahu sambil berkata, “Ini sudah menjadi kehendak Allah.”

Seorang wanita berusia 39 tahun kehilangan semangat hidup karena suaminya berselingkuh dan meninggalkannya untuk wanita yang lebih muda. Wanita itu seorang beriman dan hatinya bertanya-tanya mengapa Allah berbuat demikian terhadapnya.

Kakek dari seorang gadis remaja yang tewas terbunuh oleh pemuda mabuk memutuskan tidak lagi pergi ke gereja dan menjadi marah ketika orang-orang berusaha menghiburnya. Ia mengatakan kalau Allah baik dan mahakuasa, Ia tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi.

Sungguh sulit menghubungkan keyakinan akan kebaikan dan kuasa Allah dengan apa yang kita lihat dan dengar bahkan alami.

Orang-orang yang mengalami atau mengamati banyak penyakit yang menggelisahkan dan keadaan yang menyedihkan memiliki beberapa pilihan. Mereka dapat menyangkal keberadaan Allah dan bergumul dengan berbagai akar masalah yang tidak dapat dijelaskan. Atau, mereka menerima keberadaan Allah sebagai Pribadi yang memiliki dua perpaduan sifat yakni baik dan jahat. Mereka berkesimpulan bahwa Allah itu baik tetapi beberapa hal berada di luar jangkauan kuasa-Nya.

Pilihan lainnya ialah percaya pada nasib. Banyak orang mengambil sikap “apa yang terjadi, terjadilah” terhadap kehidupan. Apa pun yang terjadi, itulah kehendak Allah. Allah semacam ini mungkin akan ditakuti tetapi bagaimana dapat mengasihi-Nya? Jika Ia tidak dapat dikasihi, bagaimana kita dapat percaya kepada-Nya? Dari hasil pengamatan didapati bahwa “akar dari segala dosa ialah karena adanya keraguan bahwa Allah itu baik”.

Alkitab memberikan pilihan lain yakni menghadirkan Allah dalam dua sifat: mahakuasa dan mahabaik. Allah yang dikisahkan dalam Alkitab senang melihat orang-orang melakukan kebajikan dan perlahan tetapi pasti Ia akan murka terhadap mereka yang bersikeras menentang-Nya (Mzm. 7:12; Nah. 1:1-7). Ia sangat sedih terhadap mereka yang menolak diri-Nya (Kej. 6:6; Mzm. 95:10). Hati-Nya terluka saat Ia harus menegur dan menghukum (Yes. 63:9). Allah tidak berkenan dengan kematian orang fasik dan mengharapkan pertobatan mereka (Yeh. 18:23,32; 33:11). Allah menyukai kasih setia, keadilan dan kebenaran (Yer. 9:24). Ia sangat mengasihi dunia dan mengaruniakan Putra tunggal-Nya, Yesus, menjadi manusia untuk mengambil alih hukuman yang seharusnya diperuntukkan bagi kita dan rela mati seperti orang berdosa (Yoh. 3:16; 2 Kor. 5:21).

Orang-orang yang percaya kepada Yesus dan hidup taat kepada Firman-Nya mengalami kasih-Nya dan mengasihi Pribadi-Nya. Mereka akan mampu melewati penderitaan fisik yang menyedihkan juga keadaan sekitar yang menakutkan dengan sukacita yang mengagumkan. Mereka tidak marah kepada Allah tatkala mengalami penderitaan karena tidak meragukan kebaikan dan kasih-Nya.

Kenyataannya, dunia ini penuh dengan kesusahan, penderitaan, dukacita, kekejaman, dan ketidakadilan. Walau sebagian orang percaya mampu mengatasi semua itu, banyak pula yang sangat tergunjang. Kerap kali mereka bertanya-tanya di mana Allah atau mengapa Allah mengizinkan mereka mengalami hal itu.

KEBENARAN PARADOKSAL
Alkitab tidak mengungkapkan dengan jelas bagimana, kapan atau mengapa kejahatan masuk ke dalam dunia yang diciptakan Allah. Namun Alkitab menuturkan segala sesuatu yang perlu diketahui agar kita dapat hidup penuh pengharapan dan tanggung jawab dalam dunia yang jahat ini. Alkitab meyakinkan kita bahwa Allah berdaulat memegang kendali atas segala sesuatu dan akan menjalankan segala rencana serta kehendak-Nya bagi kita. Di sisi lain, Alkitab juga menyatakan bahwa kita adalah makhluk bermoral yang mampu menentukan pilihan dan Allah menganggap kita bertanggung jawab membuat keputusan-keputusan moral serta rohani yang baik. Bagaimana kedua pernyataan ini dapat dibenarkan?

KEDAULATAN ALLAH
Allah itu mahakuasa dan melibatkan diri sedemikian rupa dengan segala sesuatu yang terjadi sehingga tak seekor burung pipit jatuh ke bumi di luar kehendak-Nya (Mat. 10:29). Ia mengendalikan sejarah, dari satu orang Ia menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi (Kis. 17:26). Ia menentukan kepada siapa diri-Nya akan menaruh belas kasihan dan menghindarkan murka-Nya (Kel. 33:19; 34:5-7; Rm. 9:14-24). Allah telah memilih mereka yang kelak menjadi orang-orang tebusan di Surga (Yoh. 6:37; Rm. 8:28-29; Ef. 1:4). Allah juga terlibat dalam pengkhianatan Yudas Iskariot dengan menyediakan keadaan yang memungkinkan Yudas menggenapi peran yang memang sudah digariskan sebelumnya (Kis. 1:15-20).

Allah selalu bertindak aktif dalam sejarah bahkan saat Ia tampak tidak aktif seperti dialami oleh Yusuf. Yusuf dikasihi ayahnya tetapi dibenci oleh saudara-saudaranya. Ia dijual dan menjadi budak di Mesir. Dia difitnah melakukan penyerangan seksual terhadap istri tuannya dan dilupakan di penjara. Namun melalui masa-masa kelam lebih dari 30 tahun, pelahan Allah memimpin Yusuf menjadi penyelamat bangsa Mesir juga keluarganya dari kelaparan. Hal ini diakui sendiri oleh Yusuf untuk menenangkan saudara-saudaranya yang takut ia akan membalas dendam, “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan…” (Kej. 50:19-20)

Allah memberikan kelimpahan bagi keturunan Yakub di Mesir dan mereka beranak cucu menjadi suatu bangsa dengan 2½ juta penduduk. Kemudian Allah mengizinkan terjadinya perubahan ketika Firaun baru muncul dan berkuasa. Allah menghadirkan Musa ke dunia, menyelamatkan hidupnya dan melalui serangkaian peristiwa melatih serta memperlengkapinya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir dengan mendatangkan 10 tulah dan membinasakan Firaun beserta pasukannya. Allah juga melindungi dan memelihara mereka secara menakjubkan sampai berhasil memasuki Tanah perjanjian 40 tahun kemudian.

Dalam setiap peristiwa, peran Allah tidak selalu dapat diduga. Tindakan-Nya sering terkait dengan faktor-faktor manusia dan dunia sehingga kita tidak tahu pasti mana yang dapat kita hubungkan secara langsung dengan-Nya. Sebagai Allah yang kudus dan membenci dosa, Ia tidak akan pernah memimpin seseorang untuk melakukan kejahatan. Namun Allah juga bekerja di dalam manusia dan melalui dosanya untuk menggenapi segala kehendak-Nya. Contoh: Allah mengirim bangsa yang kejam untuk melawan bangsa Israel (Ul. 28:49-52) yang tidak taat kepada-Nya. Ia juga mendatangkan wabah dan penyakit (ay. 58-62). Allah mengaturnya sehingga penghukuman ini betul-betul terjadi. Iblis dan kerajaannya yang jahat segera mendatangkan wabah dan penyakit begitu Allah melepaskan tangan kendali-Nya. Iblis begitu berhasrat membuat Ayub menderita segera setelah Allah mengizinkannya. Allah juga memakai orang jahat, Yudas Iskariot, untuk menggenapi rencana-Nya.

Hati manusia tidak perlu dibantu untuk memikirkan dan melakukan hal jahat. Yang dibutuhkan hanyalah kesempatan dan melemahnya kontrol diri. Rencana-rencana jahat bukan dari Allah tetapi Ia mengizinkan atau bahkan turut terlibat dengan menyediakan keadaan yang memungkinkan rencana jahat itu terjadi selama hal itu terjadi untuk menyempurnakan tujuan-Nya.

Kita boleh yakin bahwa tidak akan terjadi apa-apa pada diri kita di luar izin dan kehendak Allah dan Ia mendatangkan kebaikan sesuai kehendak-Nya (Rm. 8:28). Dengan keyakinan demikian kita dapat hidup dengan penuh kepercayaan dan pengharapan bagaimanapun keadaan kita.

Tatkala keraguan datang, kita dapat meniru Ayub yang bicara terus terang dan jujur kepada Allah perihal keraguannya. Saat kita mengenal Dia semakin dalam, kita akan melihat semakin jelas betapa besar dan baiknya Dia. Kita juga akan melihat betapa kecil dan berdosanya kita. Pada akhirnya kita akan mengakhiri segala keluh kesah kita dan berkata sama seperti Ayub, “….sekarang mataku sendiri memandang engkau. Oleh karena itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayb. 42:5-6)

Terbukti Allah berdaulat dan senantiasa memegang kendali atas segala sesuatu.

KEBEBASAN MANUSIA
Di bawah kedaulatan Allah, kita adalah pelaku moral yang mempunyai kebebasan – bebas memilih untuk melakukan yang benar atau yang salah, yang baik atau yang jahat. Manusia diciptakan segambar dengan Allah; karena itu memiliki kemampuan dan tanggung jawab yang tidak sama seperti makhluk bumi lainnya seperti:

♦ Kita mempunyai tingkat pemahaman yang unik.
♦ Kita mempunyai kemampuan unik dalam memutuskan pilihan-pilihan moral.
♦ Kita mempunyai kemampuan unik untuk secara sadar mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri; untuk mengasihi dengan kasih seperti yang dimiliki Allah.

Keunikan kita akan tampak jelas ketika kita menimbang-nimbang kesanggupan kita untuk dapat mengasihi Allah di atas segalanya dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (Mat. 22:37-40). Tidak diperlukan pendidikan atau tingkat kecerdasan tinggi untuk melakukan hukum kasih ini. Kita dapat memilih untuk melakukan perintah Allah ini dengan serius atau tidak. Kita diberi kemampuan untuk mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri. Kita bertanggung jawab atas semua tindakan buruk, jahat, tak bermoral dan mementingkan diri sendiri yang kita lakukan. Oleh karena itu kita tidak berhak menyalahkan Allah atas dosa kita. Kita juga tidak dapat menyalahkan Allah bila seseorang berlaku tidak adil atau berbuat jahat terhadap kita. Kebanyakan penderitaan manusia diakibatkan dari pilihan salah yang diambil oleh orang-orang yang seharusnya dapat berbuat lebih baik.

Meskipun Allah tidak terkejut melihat kita menyalahgunakan kebebasan, Ia ikut merasakan kegagalan kita. Contoh: ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Ia kecewa ketika bertanya di mana mereka (Kej. 3:9). Ia juga meminta Kain untuk menahan niat jahatnya (Kej. 4:6-7) tetapi sia-sia. Ia menyesal melihat kejahatan manusia makin memuncak (Kej. 6:6). Allah berencana menjadikan bangsa Israel “harta kesayangan”, “kerajaan imam”, “bangsa yang kudus” (Kel. 19:5-6) dan berjanji mereka “diberkati lebih daripada bangsa-bangsa” juga “dijauhkan dari segala penyakit” jika mereka taat kepada-Nya (Ul. 7:12-16). Melalui bangsa Israel, Allah ingin diri-Nya dikenal oleh bangsa-bangsa penyembah berhala di sekitarnya. Namun Israel tidak mau tunduk dalam ketaatan yang akan menjadikan mereka terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (Kis. 13:47).

Bagaimana perasaan Allah saat mendapati umat-Nya tidak mau taat kepada-Nya dan mendatangkan pelbagai masalah bagi diri mereka sendiri? Allah marah (Mzm. 95:8-11), ikut menderita bersama mereka dan pilu hati-Nya (Yes. 63:9-10). Ia bagaikan suami penuh kasih yang harus bertindak ketika istrinya tidak setia dan menolak mengubah cara hidup hingga tidak ada pilihan lain kecuali menceraikannya (Hos. 11:8). Ia seperti ayah yang harus bertindak tegas terhadap anaknya yang bersikap kurang ajar tidak tahu berterima kasih (Mal. 1:6).

Perjanjian Baru juga melukiskan kekecewaan, kepedihan hati dan frustrasi yang dirasakan Allah. Yesus datang kepada milik kepunyaan-Nya tetapi orang-orang kepunyaan-Nya tidak menerima-Nya (Yoh. 1:11). Berulang kali Yesus memberitahu bangsa Israel bahwa Dialah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Ia mengadakan banyak mukjizat sebagai bukti bahwa perkataan-Nya benar tetapi malah dibenci, difitnah, ditolak dan akhirnya disalibkan dengan tuduhan sebagai seorang penghujat. Menjelang akhir pelayanan-Nya, Yesus menangisi Yerusalem (Luk. 19:42-44).

Apakah Anda sedang diliputi kesedihan, menderita karena kejahatan, ketidakadilan, kepedihan yang menyakitkan dan dukacita? Demikian pula dengan Allah. Apakah Anda menderita karena perlakuan orang lain? Yakinlah orang jahat yang menyebabkan hal ini terjadi. Allah tidak suka bila Anda disakiti dan Ia merasakan kepedihan Anda. Ia dapat mendatangkan kebaikan kekal bagi Anda melalui pengalaman yang sulit sekalipun (Mzm. 42). Oleh karena itu berhentilah menyalahkan Allah. Percayalah kepada-Nya. Ambillah tindakan-tindakan tepat yang dapat Anda lakukan dan lihatlah bahwa Allah akan membuktikan bahwa diri-Nya setia.

Saat menghadapi kehidupan dengan kesenangan dan kesusahannya, keindahan dan keburukannya, kebaikan dan kejahatannya, kita dapat menarik dua kebenaran:

♦ Allah yang baik berkuasa mutlak.
♦ Kita adalah pelaku-pelaku moral yang bebas memilih untuk menerima atau menolak pertolongan Allah dalam menghadapi hal-hal yang benar dan yang salah.

Sering kita menjatuhkan pilihan yang salah; pada saat itulah kita mendukakan dan mengecewakan Allah. Namun Ia tidak pernah terkejut atau khawatir. Ia sungguh-sungguh berkuasa. Ia bahkan dapat memakai orang-orang yang memberontak kepada-Nya untuk menghukum umat-Nya ketika mereka tidak taat untuk menyempurnakan semua tujuan-Nya.

Terkadang Allah tidak ikut turun tangan ketika kita mengharapkan hal itu terjadi. Ia membiarkan orang fasik hidup sejahtera sementara orang saleh menderita. Seorang pemazmur Israel mengalami hal ini namun kemudian ia berubah sikap setelah masuk ketempat kudus Allah dan sujud menyembah-Nya. Di sana ia melihat kehidupan dari sudut pandang kekekalan dan mengakui pandangannya yang dangkal lalu menegaskan keyakinannya akan kebaikan dan kuasa Allah (Mzm. 73).

Nabi Habakuk juga mengalami kebimbangan ketika Allah tidak menghukum orang-orang fasik di Israel. Ia meminta Allah menilik kejahatan mereka. Allah mengatakan bahwa penghukuman pasti akan tiba. Pasukan Babel menyerbu. Hal ini membingungkan Habakuk. Mengapa Allah membantu Babel, bangsa yang lebih jahat, kejam dan tidak taat ketimbang bangsa Israel? Lalu Allah meyakinkan Habakuk bahwa pada waktu-Nya Ia juga akan menghukum bangsa Babel. Akhirnya Habakuk menuliskan nyanyian pujian dan ungkapan rasa percayanya (Hab. 3:17-19).

Saat Putra tunggal-Nya, Yesus datang ke dunia, Ia ditolak bahkan disalibkan. Allah tidak mencemaskan hal itu karena Ia tahu bahwa hal itu harus terjadi. Ia menjadikan penyaliban dan kebangkitan Kristus sebagai jalan keselamatan dan kemuliaan kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya.

Manusia bebas untuk menentang atau menerima Allah namun ia tetap mengendalikan segala sesuatu. Tak satu pun akan terjadi bila Ia tidak mengizinkan. Pada akhirnya Ia akan memusnahkan semua yang jahat, membenarkan setiap kesalahan dan mengaruniakan sukacita abadi bagi semua yang percaya. Inilah penghiburan kita.
(bersambung)