Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 
 

Sejauh Mana Allah Memegang Kendali (2)

SEJAUH MANA ALLAH MEMEGANG KENDALI (2)


KERAJAAN YANG BERSETERU

Selain melukiskan Allah yang berdaulat, Alkitab juga menggambarkan perseteruan Allah dengan kekuatan lain yang memusuhi-Nya. Musuh-Nya, Iblis, mempunyai kekuatan besar sehingga ia disebut “penguasa dunia ini” (Yoh. 12:31) dan “ilah zaman ini” (2 Kor. 4:4). Paulus menunjukkan kekuasaan Setan atas “kegelapan” dan “kerajaan angkasa” (Kis. 26:18; Ef. 2:1-2; Kol. 1:13). Seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat (1 Yah. 5:19).

Iblis memiliki kuasa atas dunia dan memimpin kerajaan kejahatan untuk bertempur melawan Kerajaan Allah. Perseteruan antara dua kerajaan ini tampak lebih nyata dalam sikap dan perbuatan manusia baik secara moral maupun rohani.

Orang-orang yang memilih kerajaan kegelapan akan mencerminkan roh pemimpinnya, Iblis, pembunuh dan bapa segala dusta (Yoh. 8:44). Kerajaan kegelapan memiliki kuasa sangat hebat. Kuasa ini telah menyebabkan semakin banyaknya dosa dan penderitaan yang merusak bumi ini.

Orang-orang yang memilih Allah sebagai Raja akan mencerminkan roh Pemimpinnya yakni Pribadi yang menciptakan kehidupan (Kis. 17:28) dan Pribadi yang tidak berdusta (Tit. 1:2).

KERAJAAN ALLAH

Kerajaan Allah ialah kerajaan segala abad dan pemerintahan-Nya tetap melalui segala keturunan (Mzm. 145:13). Tidak ada tempat mana pun – di Surga, dunia dan neraka – di luar jangkauan kuasa Allah. Bahkan Iblis hanya dapat bertindak jika Allah mengizinkan. Selain memegang kendali atas segala peristiwa alam, Allah juga mengadakan mukjizat-mukjizat (Mzm. 135:6-9).

Kerajaan Allah terkadang menunjuk pada alam rohani yang ada sekarang. Kita masuk dalam pemerintahan Allah saat percaya kepada Yesus Kristus. Allah membebaskan orang-orang percaya dari kuasa kegelapan dan memindahkan ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih (Kol. 1:13). Kerajaan Allah berbicara tentang kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17). Oleh sebab itu mereka yang ada di bawah pemerintahan Allah pasti memiliki kasih, kejujuran, kebaikan, suka berdamai, dan bersedia mengampuni.

Kerajaan Allah dapat pula mengacu pada alam jasmani di masa depan. Suatu hari kelak Yesus Kristus akan kembali ke dunia dan membangun Kerajaan-Nya dengan keadilan, kebenaran dan kedamaian yang universal. Peperangan akan dihapuskan (Yes. 9:6-7), keadilan sosial akan dinyatakan (Yes. 65:21-22), segala penyakit jasmani akan disingkirkan (Yes. 35:5-6). Inilah kondisi yang menyenangkan hati Allah. Perang, ketidakadilan, bencana alam dan hal-hal buruk lainnya terjadi karena dosa menyerang dunia yang pada mulanya diciptakan dalam kondisi baik.

KERAJAAN IBLIS

Alkitab tidak menceritakan sejak kapan Iblis menjadi musuh Allah. Juga tidak diceritakan dengan detail riwayat kejatuhan Iblis. Saat Iblis memberontak ia menyeret sejumlah besar malaikat bersamanya dan menjadi komplotannya. Iblis menganiaya Ayub, membuat Daud menjadi sombong dan membujuknya untuk menghitung orang Israel (1 Taw. 21:1). Roh jahat, anggota balatentara Iblis, menjadi roh dusta dalam mulut para nabi yang menasihati Ahab untuk memulai perang yang menewaskannya (1 Raj. 22:13-28). Iblis juga menimbulkan duri dalam daging bagi Paulus (2 Kor. 12:7). Iblis dan roh jahat melancarkan kuasanya melalui orang-orang yang terlibat dalam penyembahan berhala dan sihir (1 Kor. 10:20). Nabi-nabi palsu diberi wewenang (2 Kor. 11:13-14) untuk membuat mukjizat palsu (2 Tes. 2:9; Why. 18:23).

Kerajaan iblis sangat kuat dan berpengaruh. Iblis dan pengikutnya bertanggung jawab atas banyaknya kejahatan di dunia ini. Mereka penuh kejahatan dan kebencian. Mereka ikut andil terjadinya peperangan, ketidakadilan, penyiksaan, wabah, dll. yang merusak dunia ini. Namun mereka hanya dapat melakukannya seizin Allah.

MASALAH MEMBINGUNGKAN

Mengapa Allah mengizinkan adanya kejahatan? Terkadang kita bertanya-tanya mengapa Allah yang mahakuasa mengizinkan sebagian orang bersikap sangat jahat dan tidak berperasaan. Perbudakan, penganiayaan, kekerasan, pembunuhan dan pelanggaran susila membuktikan kejahatan manusia yang mengerikan. Mengapa Allah tidak mencegahnya ketika mereka melakukan sesuatu yang keji dan amoral? Jika Allah menghalangi segala kejahatan berarti Ia meniadakan adanya pemikiran penuh kebencian dan amoral yang dapat menyebabkan terjadinya pembunuhan dan tindakan merusak diri. Ia juga menghilangkan kesempatan bagi kita untuk memercayai-Nya dalam keadaan baik maupun buruk.

Umat manusia menjadi seperti sekarang ini karena orang-orang yang pernah mengenal Allah berpaling dari-Nya dan mulai menyembah berhala serta melakukan perbuatan-perbuatan amoral (Rm. 1:21-23). Oleh karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati akan kecemaran, hawa nafsu yang memalukan, pikiran-pikiran terkutuk (ay. 24-28). Ketika Allah mengingatkan tentang tuntutan hukum Allah, mereka tetap berbuat jahat bahkan mendorong orang lain bergabung bersama mereka (ay. 32).

Mengapa Allah mengizinkan terjadinya bencana dan penyakit? Meskipun kita dapat mengalami pertumbuhan rohani melalui penderitaan (Ibr. 12:6), terkadang kita menjumpai penderitaan yang begitu kejam dan tidak ada manfaatnya. Siapa merasa beruntung melahirkan bayi yang cacat? Kebaikan apa yang diperoleh dari keterbelakangan mental yang parah? Mengapa korban stroke yang sudah tidak dapat berbicara atau menggerakkan anggota tubuhnya harus berbaring di ranjang dari tahun ke tahun? Apa yang dapat dilakukan oleh lansia melewati bulan demi bulan dengan hidup yang sudah tidak berguna?

Harus diakui terkadang kita tidak menemukan alasan atau maksud dibalik penderitaan yang kita alami. Namun bukan berarti tidak ada alasan atau maksud Ilahi dibalik semua itu, hanya saja kita tidak melihatnya. Tak seorang pun mengetahui mengapa Bartimeus dilahirkan buta. Yesus mengatakan bukan karena dosa siapa-siapa melainkan supaya pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia (Yoh. 9:3). Oleh sebab itu kita harus yakin bahwa Allah mengetahui jawaban atas pertanyaan “mengapa?”.

Peristiwa-peristiwa yang menggelisahkan itu merupakan panggilan untuk bertobat. Ingat, hidup hanyalah bagian kecil dari sesuatu yang lebih besar. Yesus mengatakan 18 orang yang mati tertimpa menara bukan karena kesalahannya lebih besar dibandingkan para pendosa pada umumnya. Namun kalau kita tidak bertobat, kita semua akan binasa dengan cara demikian (Luk. 13:4-5). Kapan pun kita menjumpai sakit-penyakit, cacat tubuh, malapetaka, korban kecelakaan dll., kita harus ingat bahwa kita tidak lebih baik dari mereka.

Menghadapi kenyataan hidup yang menggelisahkan menyadarkan kita bahwa Allah bukanlah penyebab terjadinya keadaan-keadaan semacam itu dan Ia turut menderita bersama mereka yang terluka. Dunia sekarang ini berada di bawah kutuk Allah sejak kejatuhan manusia pertama (Kej. 3:17-19). Seluruh makhluk sangat menantikan kedatangan kristus kedua kalinya untuk membebaskan kita dari segala kekecewaan dan penderitaan yang diakibatkan oleh roh jahat (Rm. 8:18-25).

Akibat dosa, Allah mengizinkan masuknya unsur kekacauan ke dalam dunia. Mahasiswa geologi tahu bahwa kerak bumi menjadi tempat terkuburnya berbagai jenis spesies yang pernah hidup di bumi tetapi tidak dapat bertahan hidup. Faktor-faktor genetik menunjukkan adanya keturunan dalam beberapa keluarga yang mengidap penyakit diabetes, jantung, kanker dll. Allah mengizinkan alam berjalan menurut kehendaknya sendiri. Dia mengelola dunia ini dan ikut terlibat dalam setiap situasi. Sesungguhnya Ia tidak bersukacita melihat orang-orang harus menanggung dukacita dan penderitaan.

Ketika Yesus datang ke dunia, Ia memperlihatkan sikap Bapa Surgawi terhadap sakit penyakit dan segala bentuk kecacatan. Ia memperlakukan semua itu bagaikan musuh dengan cara menyembuhkan yang sakit, mencelikkan yang buta, membuat yang lumpuh berjalan dst. Ia merasa jengkel dan marah memikirkan semua penderitaan dan kesusahan yang dibawa Iblis dan dosa ke dalam dunia.

Menyadari penderitaan dan dukacita di dunia disebabkan oleh alam dan musuh-musuh Allah cukup menghibur dan kita merasa lega mengetahui Allah mengontrol kehidupan serta turut menderita bersama kita. Percayalah bahwa Ia memiliki alasan yang baik atas semua yang terjadi walau kita tidak dapat melihatnya. Jauhkan dari sikap berlebihan dalam menghadapi kesukaran, kesusahan dan penderitaan hidup. Kita memperoleh anugerah ketika mengarahkan pandangan kepada Allah saat mengalami penderitaan. Kita berduka sesaat setelah itu kepedihan sirna dan kita dapat terus maju.

Mengapa Allah mengizinkan sejarah manusia terus bergulir dari generasi ke generasi walau sebagian besar mati tanpa iman dalam Kristus menuju neraka abadi? Kita tidak berhak menuduh Allah bertindak kejam karena membiarkan sejarah manusia terus berjalan. Rasul Petrus menyatakan ini adalah tanda kasih Allah yang penuh kesabaran karena Ia menghendaki tidak ada yang binasa melainkan semua berbalik dan bertobat (2 Ptr. 3:9). Allah memberikan tambahan waktu agar semua orang yang dipilih-Nya dapat diselamatkan.

Sama seperti kita tidak memahami kemuliaan Surgawi, kita juga tidak mampu memahami bagaimana mereka yang memberontak melawan Allah menjalani kematian kekal. Yang kita ketahui ialah Allah mahakuasa dan selalu bertindak adil. Juga pentingnya keputusan yang kita buat sementara hidup di dunia ini.

IMPLIKASI PRAKTIS

Hidup ini sulit dan terkadang sulit pula memahami apa yang patut kita percayai. Namun Allah tidak meninggalkan kita dalam kegelapan. Bahkan di tengah gelapnya kungkungan bencana alam, penyakit yang menghancurkan dan ketidakadilan yang menyakitkan, Allah memberikan pengetahuan yang baik dan yang jahat dalam hati kita. Kita memiliki tanggung jawab untuk memilih yang baik. Ia ingin kita merespons terang yang dikaruniakan-Nya dan meneladani-Nya dalam kasih, ketaatan dan keyakinan.

Berkomitmen untuk hidup dalam terang. Titik puncak penyataan diri Allah adalah ketika Ia datang dalam pribadi Yesus Kristus di bumi ini. Yesus turut menanggung penderitaan, kekecewaan dan kesusahan kita. Ia yang tak berdosa mati disalib bagaikan penjahat. Semua itu dilakukan-Nya demi kita supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor. 5:21).

Bila kita mengaku dosa dan percaya kepada Yesus Kristus maka keselamatan bukanlah langkah buta menuju kegelapan; sebaliknya, keselamatan adalah langkah menuju terang.

Berkomitmen kepada Kristus merupakan suatu perjalanan menuju terang.

Berkomitmen untuk hidup dalam kasih. Untuk mengalami kebaikan dan keselamatan dari Allah, kita harus hidup dengan kasih sejati bagi Dia dan sesama (Mat. 22:37,39). Kita harus menyenangkan Allah lebih daripada menyenangkan diri sendiri. Ini berarti kita meninggalkan cara hidup lama dan menunjukkan kebaikan, murah hati dan mau mengampuni di dalam setiap hubungan yang kita bina. Selain itu, kita menjangkau sesama dengan Injil, memberikan persembahan kasih dan melayani dengan sukarela untuk meringankan penderitaan yang ada di sekeliling kita.

Berkomitmen untuk hidup dalam ketaatan. Saat kita berkomitmen mengasihi Allah dan sesama, otomatis kita akan berkomitmen untuk hidup dalam ketaatan. Kita menjadikan Alkitab sebagai pedoman dan berupaya keras menaati setiap perintah di dalamnya. Kita berpijak pada kebenaran dan keadilan.

Berkomitmen untuk hidup dalam keyakinan. Orang Kristen tidak luput dari penderitaan dan dukacita. Mereka kehilangan orang yang dikasihi, terserang kanker, dilanda bencana alam sebagaimana dialami oleh orang tidak percaya. Saat kita percaya kepada-Nya, bukan berarti Allah menjadikan kita makhluk kesayangan-Nya yang terus ditimang-timang. Jika ini dilakukan-Nya, kita akan menjadi sosok yang puas dengan diri sendiri dan sombong. Kita menjadi orang Kristen yang hanya mengharapkan keuntungan duniawi. Bukankah melalui penderitaan, Ayub mengenal Allah dengan pemahaman baru?

Paulus juga mengalami banyak penderitaan dalam melayani Tuhan, bahkan dia berseru tiga kali minta duri di dalam dagingnya dicabut tetapi Tuhan meyakinkan bahwa kasih karunia-Nya sudah cukup baginya sebab justru dalam kelemahan kuasa-Nya menjadi sempurna (2 Kor. 12:9). Paulus dapat menerima kehendak Allah dengan sukacita (ay. 10). Ia kemudian menulis surat kepada jemaat yang sedang mengalami penyiksaan agar bersabar dan menerima perlakuan buruk sama seperti dialami Yesus yang tidak membenci atau ingin membalas dendam.

Pengalaman Yesus dan Paulus mengingatkan bahwa penderitaan hanyalah bersifat sementara tetapi kemuliaan bersifat kekal (Rm. 8:18; 2 Kor. 4:16-18; 1 Ptr. 5:10). Dalam menghadapi penderitaan dan penyaliban, Yesus menyerahkannya kepada Allah yang menghakimi dengan adil (1 Ptr. 2:23). Demikian pula dengan Paulus, dalam penderitaannya ia memercayai Allah bahkan siap menghadapi kematian karena yakin mahkota kebenaran telah tersedia baginya (2 Tim. 4:6-8).

Mari nyatakan keyakinan kita kepada Allah. Saat melakukannya, kita akan merasakan anugerah yang memberi kita kekuatan untuk menang atas peristiwa terburuk sekalipun dalam kehidupan yang dapat menghempaskan kita keluar dari jalur yang benar.

Tak ada jawaban yang mudah. Namun kita dapat berserah kepada Kristus dan hidup dalam kasih, ketaatan dan keyakinan/iman maka kita akan mengalami kemenangan mengalahkan dunia (1 Yoh. 5:4).

Saduran dari: Sejauh Mana Allah Memegang Kendali (Seri Terang Ilahi)