Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 
 

New Normal

NEW NORMAL

 

Tidak terasa kita telah memasuki bulan ketiga dari Lockdown yang telah ditetapkan pemerintah guna mematahkan penjalaran Covid-19. Semua dihimbau untuk tinggal di rumah dan hidup bersih karena keadaan yang berisiko merenggut nyawa.

“Lockdown” mempunyai dampak positif dan negatif. Dari segi positifnya, keakraban anggota keluarga makin bertambah karena masing-masing lebih banyak menghabiskan waktu bersama, lebih dekat kepada Tuhan karena banyak “stay at home” juga menyadari kerapuhan manusia hingga kita makin bergantung kepada-Nya. Manusia makin menyadari adanya pandemi ini membuktikan bahwa kedudukan tinggi, kekayaan dan kepandaian tidak dapat menjamin keselamatan (jiwa) dan kebahagiaan kita. Sisi buruknya ialah lockdown membuat perekonomian ambruk. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan tak sedikit perusahaan terpaksa gulung tikar. Semua yang dahulu diharapkan menjadi momen-momen bahagia untuk berlebaran atau Paskah bersama terpaksa harus dibatalkan. Begitu pula dengan pasangan-pasangan yang ingin merayakan pesta pernikahan harus rela menunda pelaksanaan untuk waktu yang tak dapat ditentukan. Beberapa pasangan atau keluarga berubah menjadi lebih sepi mencekam karena mereka harus kehilangan para kekasih mereka.

Saya merasakan bahwa Tuhan mengizinkan semua itu terjadi dan Ia mempunyai maksud yang mungkin belum semuanya dapat kita mengerti. Virus yang menurut para ahli tidak mungkin dapat dilenyapkan dalam waktu sekejap juga vaksin yang tidak ditemukan dalam waktu dekat menyebabkan pemerintah memutuskan untuk kita masuk ke dalam keadaan baru yang disebut dengan “New Normal”. Suka atau tidak suka kita harus “hidup berdamai dengan Corona” artinya kita keluar dari isolasi mandiri, “hidup normal” di luar rumah tetapi dengan gaya hidup baru menyesuaikan keadaan. Apa yang terjadi saat kita memasukinya? Akankah kondisinya menjadi lebih baik atau malah lebih buruk? Tidak semua dari kita dapat menentukannya juga banyak tergantung bagaimana kita menghadapinya.

Ketika saya merenungkan hal ini, terlintas dalam pikiran saya tentang seorang yang besar di zamannya dan pernah juga mengalami “lockdown”. Musa lahir di masa yang tidak baik bagi nyawanya. Saat itu Firaun, pemerintah Mesir, memerintahkan para bidan untuk membunuh semua bayi laki-laki Ibrani yang dilahirkan. Namun karena para bidan lebih takut kepada Allah dan tidak melakukan apa yang dikatakan olehnya, Firaun memerintahkan semua rakyatnya untuk melemparkan bayi laki-laki Ibrani ke Sungai Nil. Selama tiga bulan Musa disembunyikan dan disusui ibunya. Setelah tidak mungkin lagi disembunyikan, Musa diletakkan di peti pandan dilapisi dengan gala-gala dan ter lalu diletakkan di tengah-tengah teberau di tepi Sungai Nil (Kel. 2:3).

Puteri Firaun berbelas kasihan saat menemukannya dan atas usaha Miryam, kakaknya, Musa dapat dikembalikan ke ibunya untuk diasuh atas izin puteri Firaun. Setelah besar, Musa dikembalikan ke puteri Firaun dan menjadi anak angkatnya. Memang tidak diceritakan dalam Alkitab namun asuhan Yokhebed, ibunya, telah begitu tertanam dalam hati dan jiwa Musa hingga Surat Ibrani 11:24-25 menyebutkan karena iman dia menolak disebut anak puteri Firaun dan lebih suka menderita dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dosa. Dia menyadari bahwa dia adalah umat Allah bukan orang Mesir.

Musa juga pernah mengalami “New Normal” ketika tinggal di istana Firaun mempelajari pendidikan sebagai putera raja di Mesir. Sebuah gaya hidup yang berlainan dengan gaya hidup lamanya – sebagai orang Ibrani di tengah-tengah orang Mesir. Dia banyak belajar di istana, salah satunya ialah ilmu kesusasteraan yang kelak dipakai untuk menulis lima Buku pertama dari Alkitab: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Karena ketahuan membunuh seorang Mesir, Musa ketakutan dan lari ke Midian kemudian bekerja dengan menggembalakan domba-domba Yitro, mertuanya. Ia memulai kembali hidup “ bersuasana lain. Saat itulah dia belajar tentang kasih dan pemeliharaan. Ia memelihara, merawat dan mengasihi domba-domba asuhannya. Suatu kehidupan yang sangat berbeda dari sebelumnya namun justru saat itulah Allah memanggilnya untuk misi besar yaitu membawa keluar Israel dari Mesir. Melalui pengalaman hidupnya yang kedua ini, dia dipakai Tuhan untuk menggembalakan umat Israel bagi-Nya.

Nama “Musa” diperoleh dari puteri Firaun yang berarti “ditarik dari air” karena dia dikeluarkan dari air dan diselamatkan dari ancaman kematian.

Peristiwa yang sama terulang lagi, kini dialami oleh bangsa Israel yang mengalami “lockdown” ketika Allah memerintahkan mereka untuk tidak makan ragi selama tujuh hari, menyembelih domba dan melaburkan darahnya di ambang pintu kemudian memakan dagingnya. Malam itu ketika tulah kesepuluh dijatuhkan, semua keluarga Mesir kehilangan anak sulung seentara keluarga Israel diluputkan dari maut karena rumah mereka ditandai darah domba itu. Dengan susah payah, Musa berhasil membawa keluar bangsa Israel dari Mesir namun Firaun masih tetap mengejarnya. Tuhan memakai Musa untuk “menarik semua bangsa Israel dari air” Laut Teberau. Apa yang terjadi setelah mereka keluar dari Laut Teberau?

Di padang gurun bangsa Israel mengalami kehidupan “New Normal” dalam kurun waktu yang tidak mereka ketahui kepastiannya – berapa lama mereka akan berada di sana, bagaimana mereka akan hidup, kapan mereka akan tiba di Kanaan yang dijanjikan Allah kepada mereka. Sikap mereka yang sering tidak taat dan terus menerus menggerutu malah memperpanjang waktu untuk mencapai tanah perjanjian. Heran, walau mereka sering kali menunjukkan ketidaksetiaan, Allah tetap setia menyertai dan memelihara mereka. Perjanjian-Nya tetap namun siapa dan kapan mereka dapat masuk tergantung dari sikap mereka.

Tuhan mengajar Musa tentang pengetahuan dan kasih saat menjalani “New Normal”-nya; juga melalui Musa Ia mengajar umat-Nya tentang 10 Hukum, ajaran-ajaran moral tentang bagaimana mereka harus mengasihi Allah dengan segenap hati dan jiwa juga mengasihi sesama seperti diri sendiri. Ia berjanji jika mereka mendengarkan dengan seksama semua ajaran itu dan melakukannya, berkat besar akan dicurahkan kepada mereka. Angkatan lama ternyata gagal menghidupi pengajaran itu, hanya angkatan baru bersama Yusak dan Kaleb berhasil memasuki Tanah Kanaan karena ketaatan mereka.

Bukankah kita sedang mengalami “lockdown”? Dan bukankah Tuhan telah mengajar banyak hal selama lockdown ini? Mau tidak mau kita harus mengakui kelemahan manusia menghadapi pandemi ini juga kedaulatan Tuhan dalam menentukan apa pun yang dikehendaki-Nya selama pandemi ini. Banyak kesaksian menyatakan bahwa ketegangan, ketakutan, kekhawatiran, kesedihan yang dialaminya mendorong mereka untuk makin mendekatkan diri kepada Tuhan. Tak sedikit yang menyaksikan bahwa selama menderita mereka berseru, menangis kepada Tuhan dan mengalami kesembuhan sehingga ada ucapan syukur kepada-Nya. Kita dapat menyimpulkan bahwa kalau kita masih diizinkan hidup dengan sehat, ini semata-mata anugerah dan kasih karunia Tuhan.

Sebentar lagi kita akan menjalani “New Normal”, sebuah gaya hidup baru disesuaikan dengan kondisi yang akan kita hadapi. Kalau kita menaati “protokol kesehatan” yang telah ditetapkan oleh pemerintah juga mendisiplinkan diri dalam physical distancing, kita akan berhasil untuk bertahan. Sebaliknya, jika meremehkan himbauan dari pemerintah, risiko ditanggung sendiri akibat ketidaktaatan.

Sebuah ajaran rohani yang kita pelajari: Kita pun pernah “ditarik keluar dari air” saat dibaptis. Kita diselamatkan untuk menjalani kehidupan baru dengan gaya hidup baru dan bersih sesuai ajaran-ajaran Firman-Nya. Kita pun seperti berada dalam kehidupan “New Normal” untuk mendapatkan janji-janji-Nya juga kehidupan kekal bersama-Nya terbebas dari penyakit dan kematian. Apakah kita memutuskan untuk meremehkan, menggerutu, menolak ajaran-ajaran-Nya serta memberontak kepada-Nya? Semua keputusan kita akan menentukan apakah kita akan berhasil mencapai tujuan atau tidak. Jika Tuhan mengutus kita sebagaimana Ia mengutus Musa, maukah kita memakai semua yang telah kita pelajari serta kasih yang kita dapatkan untuk menolong mereka yang masih hidup dalam ancaman maut dan “menarik mereka keluar dari air” untuk mendapatkan kehidupan baru juga janji kehidupan kekal dari Tuhan bagi mereka juga?