Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 
 

Kecemasan (2)

KECEMASAN (2)

 

 

“……………. pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia, sebenarnya Allah itu setia yang tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya” (1 Kor. 10:13).

Minggu lalu kita telah membincangkan sebagian dari ayat di atas bahwa pencobaan yang kita alami sebenarnya tidak melebihi kekuatan manusia. Itulah janji Tuhan dan yang membuat pencobaan itu begitu berat serasa tak tertanggungkan ialah kemungkinan kita sendiri yang menambah beban hari ini dengan beban-beban masa lalu yang tidak dapat atau tidak mau kita lepaskan ditambah lagi dengan beban kekhawatiran dan kecemasan akan masa depan yang belum tentu terjadi.

Jika Anda masih belum mampu melepaskannya, ada sebuah undangan dari Yesus yang diberikan kepada Anda, “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan sebab kuk yang kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat. 11:28). Jika Anda masih berbeban berat dan merasa tidak dapat menanggungnya sendiri, Yesus menawarkan diri untuk memberi Anda perasaan lega seperti seorang yang tidak berbeban berat.

Apakah Anda menyadari bahwa Allah itu Setia?

Ayat selanjutnya mengatakan bahwa “Allah itu setia dan tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita”, apakah Anda meyakininya atau pernah mengalaminya?

Seorang pasangan yang setia akan selalu mencintai dan tidak pernah meninggalkan pasangannya, tidak mengkhianati kekasihnya dan tidak mengingkari ikrar pernikahannya. Ia tetap mengasihi dan menerima segala kekurangan pasangannya. Seorang sahabat yang setia adalah seorang yang tulus dan tetap mempertahankan hubungan yang baik dengan sahabatnya. “A friend in need is a friend indeed” kata sebuah pepatah. Ia dapat menerima kekurangan dan kelemahan sahabatnya dan tetap mengasihinya. Ia tertawa bersama sahabatnya saat- saat hari bahagia juga menangis bersamanya saat-saat melewati kedukaan.

Yesus melebihi pasangan maupun sahabat kita, Ia adalah Mempelai Pria Surga kita. Ia adalah Pelindung bagi janda-janda yang telah ditinggal suami mereka dan Bapa bagi yatim piatu yang telah ditinggalkan orang tua mereka (Mzm. 68:6). Perhatian-Nya juga kepada mereka yang tidak mempunyai rumah bahkan kepada para tahanan (Mzm. 68:7). Daud menyanyikan, “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku namun Tuhan menyambut aku” (Mzm. 27:10). Kesetiaan-Nya dinyatakan pula dalam Nama-Nya: “Imanuel” yang berarti “Allah menyertai kita” (Mat. 1: 23). Hal itu diteguhkan saat Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia senantiasa menyertai kita sampai kepada akhir zaman (Mat. 28:20). Allah yang memanggil kita kepada persekutuan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus, Tuhan kita adalah setia (1Kor. 1:9). Ia yang memanggil kita adalah setia, Ia juga akan menggenapinya (1Tes. 5:24). Bahkan Alkitab mengatakan jika kita tidak setia, Ia tetap setia karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya (2 Tim. 2:13).

Dia bukan saja menerima kita dengan segala kekurangan dan kelemahan kita, Ia mengampuni segala dosa kita bahkan rela menggantikan kita dengan menerima hukuman dosa kita dan mati bagi kita. Masih banyak lagi ayat-ayat dalam Alkitab yang menunjukkan betapa besar kasih setia-Nya Ia kepada umat yang dikasihi-Nya! Jika demikian besar kesetiaan-Nya kepada kita, apakah kita masih juga meragukan-Nya?

Ayat yang saya kutip di atas menunjukkan bagaimana Dia mau bersama kita menanggung semua tanggungan yang harus kita tanggung. “Pikullah kuk yang kupasang dan belajarlah pada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan….

“Kuk” adalah alat bajak yang ditarik oleh dua ekor sapi untuk menggemburkan tanah/sawah yang akan ditanami. Dapat disimpulkan bahwa dua sapi itu adalah Tuhan dan kita. Ia menawarkan untuk menyertai kita dalam menggemburkan tanah hati kita agar menjadi tanah yang produktif dan menghasilkan. “Belajarlah kepada-Ku”, kata-Nya kemudian. Saya sering membayangkan sebagai salah satu dari sapi yang menarik bajak itu, kita menoleh kepada-Nya saat menghadapi tanah yang keras dan kering. Saat Dia menunduk, kita ikut menunduk; saat Ia maju, kita ikut maju. Ketika saya terus menerus memandang Dia dan belajar dari-Nya, pekerjaan itu terasa begitu ringan dan menyenangkan! Saya merasa bahwa Dia melakukan bagian yang lebih besar dan berat lalu menyisakan kita dengan bagian yang dapat kita tanggung.

Dalam menghadapi beban diperlukan kelemahlembutan (penurutan untuk dibentuk) dan kerendahan hati (bukan dengan ketinggian hati saat menerima ajaran). Saat belajar dari Dia, kita tidak lagi memberontak ketika menghadapi pencobaan atau beban berat dengan mengeluh, “Mengapa semua ini terjadi padaku? Mengapa Kau tidak memedulikanku? Mengapa Kau begitu tega melihat aku menderita?...... beban ini terlalu berat bagiku, Tuhan…….”, tetapi sebaliknya bersyukur, “Terima kasih telah menanggung beban ini bersamaku, ajariku untuk melakukan apa yang Kauinginkan, bentuklah aku sesuai dengan kehendak-Mu melalui ujian dan pencobaan ini. Kita juga tidak lagi protes, “Bukankah aku telah melakukan ini dan itu….Bukankah aku telah berusaha hidup kudus dan berohani tinggi?” Namun dengan kerendahan diri berseru, “Aku tahu bahwa aku adalah orang berdosa yang patut mengalami semua derita ini tetapi aku juga tahu bahwa Kau menyertaiku dalam setiap pergumulan hidupku karena itulah janji-Mu kepadaku. Aku tahu bahwa aku bukan apa-apa namun Kau selalu setia menemaniku …” Betapa seringnya kita tidak menyadari kehadiran-Nya di samping kita dan menanggung kuk bersama kita!

Ketika Maria menangis karena sangat berdukacita kehilangan Lazarus, saudaranya, Yesus juga menangis! Ia tahu pengalaman yang dialami Maria amat pahit dan mendukacitakan namun Ia juga tahu bahwa itu sangat berguna bagi Maria dan Marta untuk membuat mereka lebih matang dalam mengikut Dia. Pengalaman itu kemudian membuat mereka lebih mengenal Yesus sebagai Pribadi berkuasa yang tidak hanya sanggup menyembuhkan orang sakit tetapi juga membangkitkan orang yang mati. Menangisnya Yesus melihat Maria menangis membuktikan bahwa Ia pun ikut merasakan betapa menyakitkan dan pahitnya proses pembentukan kepribadian itu namun kita perlu mengalaminya.

Ayub juga merasakan betapa parahnya penderitaan yang harus dialaminya dan semua terjadi seizin Allah. Ia sepertinya terbanting dan jatuh terjungkal ke tanah! Kotor, dukacita yang mendalam, sakit ditinggalkan semua orang …tanpa ada pembelaan dan yang ada hanyalah kritikan…sepertinya dia berada rata dengan debu tanah. Namun tanpa Ayub merasakan atau tidak, saat itu Allah tetap memerhatikan dan ada bersamanya. Ia sedang membanggakan Ayub di depan Iblis untuk membuktikan betapa tulus dan setianya Ayub kepada-Nya yang mau menerima dari-Nya bukan saja yang baik tetapi juga yang tidak baik. Allah ingin membuktikan bahwa kualitas Ayub bukanlah seperti kayu kering atau kertas yang mudah hancur dilalap api namun bagaikan emas yang makin dipanaskan makin menunjukkan kemurniannya.

Masih banyak lagi bukti yang menunjukkan betapa setianya Allah kita karena itu saat-saat kita mengalami beratnya ujian dan pencobaan yang melanda hidup kita, marilah kita selalu mengingat:

  • Bahwa Dia setia, tulus dan penuh kasih yang senantiasa menyertai saat kita berada dalam,
  • Bahwa Ia ikut menanggung beban saat kita diuji atau,
  • Bahwa Dia tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan,
  • Bahwa Dia menjanjikan jalan,
  • Bahwa Dia sedang membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik dan,
  • Bahwa Dia sedang membanggakan kita dengan membuktikan betapa tulus dan teguhnya pengikutan kita kepada-Nya!

 

(bersambung)