Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 
 

Kecemasan (3)

 

K E C E M A S A N (3)

 

 

“ pencobaan-pencobaan yang kita alami adalah pencobaan yang biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia, sebenarnya Allah itu setia yang tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Pada waktu kita dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar, sehingga kita dapat menanggungnya". (1Korintus 10:13).

Pada bincang-bincang kita Minggu lalu, saya telah membagikan janji Tuhan yang mengatakan bahwa pencobaan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan manusia. Jadi, bila kita merasa terlalu berat dan tak tertanggungkan, kemungkinan disebabkan karena kita menambah beban yang tidak seharusnya kita tanggung untuk hari ini dengan beban-beban, kegagalan, penyesalan di masa lampau atau beban kekhawatiran akan apa yang bakal menimpa kita di masa depan yang belum waktunya kita pikirkan karena kemungkinan belum tentu terjadi. Kita juga telah belajar bahwa Allah itu setia dan tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Kali ini marilah kita memeriksa janji ketiga yaitu pada waktu dicobai Ia akan memberikan kepada kita jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya!

Mungkin saat ini Anda berada dalam keadaan sangat rumit yang sepertinya tidak ada jalan keluar. Anda merasa cemas, putus asa dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Memang tak seorang pun dari kita dapat menghindarkan diri dari persoalan-persoalan yang harus dihadapi setiap hari. Janganlah cemas sebab persoalan setiap hari adalah wajar. Yesus pun mengatakan bahwa setiap hari ada kesusahannya/persoalannya sendiri (Mat. 6:34). Kadang-kadang memang dibutuhkan adanya persoalan yang hadir di dalam hidup kita, karena dengan demikian kita tahu ketidakmampuan kita sebagai manusia dan kita memerlukan Tuhan untuk menolong kita mengatasi persoalan yang kita hadapi. Tergantung bagaimana sikap kita menghadapinya. Akankah kita menghadapinya dengan kekuatan sendiri yang sangat kecil ini atau kita memenuhi undangan-Nya untuk datang kepada-Nya yang dapat memberikan kita kelegaan dan jalan keluar?

Di bawah ini ada beberapa contoh bagaimana Tuhan menyediakan jalan keluar bagi masalah-masalah rumit yang membuat kita cemas, takut, bingung dan khawatir saat menghadapinya:

Dia Memberikan Kita Jalan Keluar

Sering kita mendengar kesaksian dari seseorang yang menghadapi jalan buntu dan hampir menyerah, Tuhan kemudian datang tepat waktu. Ada saja jalan yang disediakan Tuhan bahkan sering tidak masuk di akal kita, seperti yang terjadi di bawah ini:

Ketakutan dan kekhawatiran Israel saat keluar dari Mesir dan dikejar oleh Firaun beserta bala tentaranya. Apa jalan keluar yang disediakan Allah saat Israel menghadapi jalan buntu? Di depan terbentang Laut Teberau yang begitu luas dan di belakang ada pasukan Mesir yang mengejar, maju kena, mundur kena! Beberapa dari mereka marah dan menggerutu tetapi Allah menunjukkan jika Ia menetapkan untuk membebaskan Israel dari perhambaan dan kesengsaraan di Mesir, Ia juga menyediakan jalan keluar! Ternyata Ia membelah Laut Teberau sehingga Israel dapat melewatinya dan menenggelamkan seluruh pengejar mereka! Kemenangan di pihak Israel dan kehancuran di pihak Mesir! Pernahkah bangsa Israel membayangkan hal itu akan terjadi?

Bagaimana dengan Elia saat menghadapi kejaran dan ancaman dari Raja Ahab setelah ia mengatakan pada raja Ahab bahwa tidak akan ada embun atau hujan di negaranya kecuali saat Elia mengatakannya? Jalan keluar yang ditunjukkan Allah kepada Elia adalah pergi ke Sungai Kerit, sungai kecil di masa kekeringan yang panjang itu. Dia dapat minum dari sungai tersebut dan Allah memakai burung-burung gagak mengirimkan roti serta daging dua kali sehari agar dia tetap hidup. Burung gagak? Burung yang sering dihubungkan dengan tanda kematian dan kenahasan kini memelihara hidupnya? Tahukah Anda bahwa roti dan daging yang dibawakan dapat langsung dimakan tanpa Elia harus memasaknya? Selama beberapa saat Elia tinggal di dekat sungai Kerit. Masa kekeringan masih juga berlangsung. Ia menghadapi masalah lain ketika Sungai Kerit menjadi kering. Kembali Allah memberinya jalan keluar! Allah memerintahkan Elia pergi ke janda Sarfat yang miskin dan juga terancam kelaparan dan kematian di saat kekeringan itu. Secara akal manusia tidak mungkin janda tersebut dapat memelihara Elia karena ia hanya memiliki sedikit tepung dan minyak sebagai makanan terakhir bagi dia dan anaknya. Namun Allah memakainya! Melalui makanan terakhir yang diberikan lebih dahulu kepada Elia, ia tidak kehabisan bahan makanan sehingga dia dapat memelihara Elia, anaknya juga dirinya sendiri hingga waktu yang Tuhan tentukan (1 Raja-Raja 17: 1-24). Dapatkah Anda bayangkan jalan keluar tersebut? Sungguh, bagi Tuhan tidak ada hal yang mustahil bukan?

Ingatkah jalan keluar yang dihadapi wanita berdosa yang tertangkap saat berbuat zina? Dapatkah Anda membayangkan apa yang ada di pikiran wanita tersebut? Gundah? Menyesali perbuatannya? Takut menghadapi batu-batu yang akan menghancurkan tubuhnya hingga mati? Ia rasanya pasrah dan siap untuk mati. Ia tahu ia berdosa dan tidak lagi dapat melepaskan diri dari hukuman itu. Hanya kata-kata sederhana dari Yesus telah membebaskan dia dan menyelamatkan dia dari hukuman, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Sederhana bukan? Jalan keluar yang diberikan Yesus untuk pembebasannya ialah pengampunan dan tidak lagi mengulang perbuatan dosanya.

Ingatkah kita juga akan jalan keluar yang diberikan bagi Petrus, Paulus dan Silas saat mereka dipenjara? Penjara biasanya merupakan tempat penuh penderitaan dan kecemasan bagi mereka yang terhukum apalagi mereka yang menghadapi hukuman seumur hidup atau hukuman mati. Mereka seolah-olah tidak lagi mempunyai masa depan. Bagaimana mereka dibebaskan Tuhan? Ketika Herodes melihat bahwa orang Yahudi senang melihat Yakobus dibunuh, ia pun menyuruh memenjarakan Petrus. Petrus dipenjarakan dengan penjagaan yang ketat oleh empat regu, masing-masing regu terdiri dari empat prajurit. Ia tidur di antara dua prajurit dan terbelenggu dengan dua rantai. Secara manusia, adakah harapan bagi Petrus untuk bebas? Tentu tidak. Namun bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin. Malam itu malaikat Tuhan datang dan membangunkannya; rantai pengikatnya berguguran, pintu- pintu penjara terbuka dan malaikat memimpin Petrus keluar dari penjara (Kis. 12:1-19). Paulus dan Silas pun mengalami hal serupa. Mereka difitnah, pakaian mereka dikoyak, didera dan dimasukkan ke ruang penjara paling tengah, kaki mereka dibelenggu dan dipasung. Apakah mereka cemas dan takut? Seharusnya keadaan tubuh yang hancur membuat mereka berteriak kesakitan tetapi mereka malah berdoa dan menaikkan puji-pujian kepada Allah. Sikap mereka telah memberi berkat bagi narapidana lainnya! Di mana pun dan dalam keadaan apa pun, kehadiran Allah dapat memberi kita sukacita! Gempa bumi terjadi, belenggu mereka terlepas dan pintu-pintu penjara terbuka! Paulus dan Silas bukan saja menjadi berkat bagi sesama narapidana tetapi juga membawa kepala penjara bersama seluruh keluarganya percaya kepada Tuhan (Kis. 16:19-34).

Bagaimana dengan persoalan Yusuf yang dipenjara tanpa salah? Ia dibenci saudara-saudaranya karena impiannya. Ia dijual dan menjadi hamba Potifar. Karena berusaha menjaga kehidupan suci, ia malah difitnah oleh istri Potifar yang menginginkan dirinya. Ia kemudian dijebloskan ke penjara. Ia hidup dekat dengan Allah dan Allah meyertainya hingga semua yang diperbuatnya berhasil tetapi dia pernah dilupakan oleh orang yang ditolongnya. Bagaimanapun juga Allah tidak pernah melupakannya. Jalan keluar yang dibuka oleh Allah sungguh luar biasa! Yusuf menjadi seorang pemelihara yang mengingat dan menolong orang-orang yang sedang kelaparan termasuk saudara-saudara yang dahulu sangat membencinya.

Ingatkah kita bagaimana TUHAN memberi jalan keluar bagi bangsa Yahudi saat menghadapi rencana Haman untuk pemusnahan bangsanya di zaman Ester? Siapa yang membuat Raja Ahasyweros tidak dapat tidur? Malam itu Ahasyweros membuka buku catatan sejarah kerajaan dan TUHAN seperti menunjukkan bahwa yang berjasa adalah Mordekhai bukan Haman. Siapa yang menjadikan Ester terpilih menjadi permaisuri raja hingga kemudian dapat menolong bangsanya dari pemusnahan yang dirancang oleh Haman? Siapa sebenarnya Ester? Bukankah dia hanyalah seorang tawanan perang, seorang buangan? Mungkinkah seorang Ester bermimpi menjadi permaisuri seorang raja yang kaya raya? Anda juga dapat mengalami sesuatu yang tidak pernah Anda pikirkan, semua telah disediakan bagi siapa pun yang mengasihi Dia! Anda masih ragu?

Saya seperti tidak dapat berhenti menceritakan bagaimana Tuhan membuka jalan bagi setiap persoalan. Anda tentu dapat menemukan tokoh-tokoh lain dalam Alkitab atau bahkan Anda telah mengalaminya sendiri. Indah, unik, mahabesar dan hal-hal lain yang tidak pernah kita pikirkan! Karena itu jangan coba-coba mendikte Tuhan atau mereka-reka sendiri bagaimana memecahkan persoalan Anda karena cara-Nya jauh lebih indah daripada cara kita!

(Bersambung)