Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 
 

Kecemasan (5)

 

 

KECEMASAN (5)

 

 

Minggu lalu kita belajar tentang apa yang Yesus ajarkan yaitu lebih fokus kepada hidup daripada makanan karena makanan dan minuman hanya mengenyangkan perut dan bersifat sementara yang tidak lagi berguna saat kita meninggal namun hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan akan membawa kita kepada kehidupan kekal bersama-Nya.

Masih ingatkah Anda akan kisah orang kaya dan Lazarus yang miskin dalam Lukas 16:20-25? Jika membaca ceritanya, kita tahu bahwa orang kaya tersebut jauh melebihi Lazarus dalam hal makanan dan minuman. Jika dia memiliki kasih dan belas kasihan lalu merasa iba kepada Lazarus tentu dia akan memberi Lazarus sebagian dari makanannya. Namun hal itu tidak dilakukannya. Sebenarnya dia cukup mengenal Lazarus; terbukti ketika berada di neraka dia menyebut nama Lazarus untuk mohon pertolongannya. Memang Alkitab tidak menuliskan secara harfiah bahwa orang kaya itu tidak berbelas kasihan namun dari ceritanya, kita dapat menarik kesimpulan bahwa dia cenderung memuaskan kebutuhan perutnya sendiri dengan makan minum apa yang disukainya. Ternyata Lazarus yang kelaparan menghilangkan rasa laparnya dengan memungut remah-remah yang terbuang dari meja orang kaya tersebut, bukan dari pemberiannya. Kita tentu telah mengetahui bagaimana akhir ceritanya, Lazarus yang tidak dapat mengenyangkan perutnya dengan makan dan minuman di dunia akhirnya dijamu oleh Tuhan di Surga. Kesimpulannya, Lazarus tetap menjaga hidup dengan tidak mencuri atau menipu untuk beroleh makanan dan minuman walau ia miskin. Ia mendapat tempat di Surga sementara orang kaya yang mendahulukan makan- minum dan tidak berusaha membagi apa yang dimilikinya kepada sesama yang membutuhkan turun ke neraka.

Apa yang menarik dalam cerita ini ialah bahwa Alkitab tidak menyebutkan nama orang kaya tersebut tetapi justru menulis Lazarus, nama pengemis miskin tersebut. Ini berarti pengemis tersebut lebih dikenal dan dihargai oleh Tuhan dan Abraham karena nama itu disebut berulang-ulang dalam cerita itu. Pemanggilan nama juga dilakukan oleh Yesus sebagai Gembala baik untuk menunjukkan perhatian-Nya yang besar kepada domba-domba yang dikenal-Nya dengan memanggil mereka menurut namanya (Yoh. 10:3).

Mana yang Anda pilih? Menjadi seorang yang dikenal oleh banyak orang di bumi ini, menjadi seorang yang memiliki segalanya di bumi ini tetapi tidak memiliki apa-apa setelah mati atau orang yang mengasihi, mengenal dan dikenal Tuhan serta memiliki semuanya kelak ke Surga dan hidup bersama-Nya? Alkitab tidak melarang seorang menjadi kaya bila dia bijaksana dalam menggunakan kekayaannya (yang sebenarnya adalah pemberian Tuhan) untuk kemuliaan Tuhan – kaya dalam kebajikan, tidak egois, rajin berbuat baik, suka memberi dan membagi maka ia mengumpulkan harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya (1 Tim. 6:17-19). Ia akan dihargai Tuhan! Ingatlah bahwa Ayub, anak kebanggaan Allah dan Abraham, sahabat baik Allah, adalah orang-orang kaya yang dikasihi-Nya!

Satu hal yang harus kita ingat seperti apa yang telah difirmankan, yaitu, “hidup itu lebih penting daripada makanan”.

“………dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah……….. tubuh itu lebih penting daripada pakaian?"

Kini kita mempelajari bahwa lebih penting mengurus tubuh daripada pakaian kita. Pakaian adalah untuk tubuh supaya kita berpenampilan baik. Seorang wanita biasanya mengatakan “tidak punya baju” saat mau ke pesta walau bajunya setumpuk di almari. Umumnya para wanita tidak ingin memakai baju beberapa kali ke pesta. Kini selama COVID-19, kita yang terpaksa “tinggal di rumah” menyadari bahwa penampilan termasuk pakaian bukanlah segala- galanya dan terbukti penampilan sebaik apa pun tidak akan memberi kita keselamatan jiwa.

Beberapa bulan lalu, seseorang mengirim saya postingan seorang kaya raya (yang memiliki segalanya) meninggal. Jasadnya dihiasi dengan baju bersulamkan emas dan berlian, entah berapa puluh kalung emas melingkar di lehernya. Bukan hanya itu, peti matinya pun berlapis emas dan ditaburi dengan batangan-batangan emas. Di sebelah liang lahat di mana jenazahnya akan dimakamkan terlihat sebuah lubang yang cukup besar. Sebuah mobil mewah terjungkal di lubang tersebut untuk dikuburkan bersamanya. Menurut Anda, apakah dia masih dapat menikmati semua pakaian yang dikenakan padanya, emas, berlian dan mobil walau dikubur bersamanya? Tentu tidak! Pakaian dan harta benda juga tidak permanen dan suatu hari akan lenyap. Ayub mengatakan, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya….” (Ay. 1:21).

Memang benar bukan? Kita tidak membawa apa-apa saat dilahirkan; demikian pula kita tidak membawa apa-apa saat dipanggil Tuhan.

Jika kita hanya memusatkan diri pada apa yang dipakai, kita mendapatkan yang sementara di bumi ini. Namun bila kita menjaga kekudusan tubuh (kebersihan rohani), Tuhan memakai tubuh kita menjadi bait-Nya dan Roh Tuhan diam di dalam kita (1 Kor. 6:19). Kita dapat memilih berpenampilan baik di hadapan manusia atau di hadapan Tuhan dan menjadi bait Roh Kudus. Hari-hari ini kita dilatih bagaimana menjaga kebersihan tubuh (fisik) dengan memakai masker untuk menghindari penularan virus COVID-19, senantiasa mencuci tangan setelah melakukan sesuatu serta berolah raga dan berjemur untuk memperkuat kekebalan tubuh kita. Demikian pula seharusnya kita menjaga diri (rohani) agar tidak mudah terserang penyakit dosa dengan menjaga rohani kita selalu bersih dan membentenginya (bermasker) dari serangan “virus” Iblis. Maka, seperti bunga-bunga itu, kita akan didandani lebih daripada Salomo. Lihatlah ayat-ayat di bawah ini:

“Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu hai orang-orang yang kurang percaya? (Mat. 6:28-30)

Perhatikan apa yang Yesus katakan, “Tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang-orang yang kurang percaya?”

Yang penting bukanlah apa yang dilihat manusia seperti: penampilan kita dan apa yang kita miliki tetapi apa yang dilihat oleh Tuhan! Hanya Dia yang dapat memberi kita pakaian kemuliaan-Nya!

Marilah kita mengingat-ingat bahwa “Tubuh lebih penting daripada pakaian”

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (ay. 33)

Berulang-ulang saya merenungkan mengapa kita harus memerhatikan hidup lebih daripada makanan dan minuman juga memerhatikan tubuh lebih daripada pakaian, bukankah sebagai manusia kita memerlukan semua itu? Bukankah kita membutuhkan makanan untuk hidup dan pakaian agar kita tidak telanjang?

Bapa Surgawi kemudian membawa saya pada ayat-ayat berikutnya yang mana Yesus menjelaskan bahwa makanan-makanan yang lezat, pakaian-pakaian yang indah dan mahal dicari oleh mereka yang tidak mengenal Allah untuk memuaskan nafsu keinginan untuk memilikinya. Namun bagi kita, anak-anak Kerajaan-Nya, telah disediakan semua yang kita perlukan dan jauh lebih memuaskan daripada semua yang diinginkan oleh mereka yang tidak mengenal Allah. Semua itu ada dalam Kerajaan Allah dan kita harus mencarinya! Ia memperkenalkan suatu makanan yang jauh lebih memuaskan itulah “melakukan kehendak Dia yang mengutus kita dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). “Makanan” yang disebut Yesus itu akan memberikan kepuasan batin kita. Ia pun memperkenalkan pakaian indah yang lebih indah dari semua pakaian di dunia ini, yaitu “kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih” – perbuatan-perbuatan benar dari orang-orang kudus (Why. 19:8). Bagi kehidupan yang melakukan dan menyelesaikan pekerjaan Tuhan disertai dengan perbuatan-perbuatan yang benar, Tuhan berjanji akan memberikan pemeliharaan-Nya dengan berlimpah!

Ya Tuhan, terima kasih untuk janji pemeliharaan-Mu! kami tidak khawatir dan ragu lagi karena pada-Mu ada semua yang kami butuhkan. Engkau adalah Raja yang empunya Kerajaan Surga dan Bapa Pemelihara kami. Kiranya Roh Kudus-Mu senantiasa memimpin kami untuk selalu mencari Kerajaan Surga dan kebenarannya lebih utama daripada mencari hal-hal yang tidak kekal di dunia ini.

(bersambung)