Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 
 

Kecemasan (6)

 

 

 

KECEMASAN (6)

 

 

Kehilangan Hadirat Allah

Kehilangan hadirat Allah (Roh Allah) dapat juga menjadi salah satu penyebab seorang mengalami kecemasan. Banyak orang berpendapat bahwa rasa puas dapat diperoleh dari kekayaan, kedudukan tinggi, keberhasilan dalam karier, ketenaran atau dari seks. Namun kenyataannya kita mendengar seorang kaya bunuh diri dengan melompat dari lantai lima sebuah gedung bertingkat, seorang bintang film terkenal dengan banyak penggemar ditemukan tewas bunuh diri di kamarnya, seorang dokter berkedudukan tinggi melompat dari bangunan di fakultasnya dan banyak lagi….. mereka tenar, kaya, sukses dalam karier namun dipenuhi dengan kecemasan dan kehampaan sehingga membuat mereka putus harapan.

Di dalam diri manusia, ada sebuah tempat yang hanya dapat diisi oleh Roh Tuhan agar manusia mengalami damai sejahtera penuh. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia mengembuskan napas hidup kepadanya (Kej. 2:7). Tanpa Roh Tuhan, manusia akan merasa kosong dan hampa. Kalau saja mereka tahu hal ini dan mencari Tuhan, semua yang tragis tentu tidak akan terjadi.

Seorang wanita Samaria berusaha memenuhi kehampaan jiwanya dengan menikahi lima laki-laki namun dia tidak mendapatkan kepuasan. Setelah dia bertemu Yesus, kedamaian dan kepuasan berbual-bual bagaikan aliran yang mengalir dari dalam hatinya. Ia telah dipenuhi dengan “Air Hidup” dari Yesus.

Ketika Roh Tuhan undur dari Raja Saul karena ketidaktaatan, Saul mengalami kecemasan luar biasa dan roh jahat mengganggunya sehingga ia merasa amat tidak nyaman. Untuk itu Daud muda didatangkan supaya bermain kecapi saat Saul gelisah. Permainan kecapi Daud membuat Saul merasa nyaman kembali. Ternyata nyanyian dapat membantu menenangkan hati yang galau. Namun ketika para penyanyi memuji Daud lebih dari Saul, kecemasan Saul kembali terbakar oleh kecemburuan menyebabkan dia sangat membenci Daud dan ingin membunuhnya. Sayang, Saul tidak berusaha kembali dan memohon ampun kepada Tuhan; sebaliknya, dia mendatangi seorang pelihat (dukun) untuk minta pertolongan! Ia hancur dalam depresi.

Rasa bersalah di masa lampau yang masih menghantui dapat juga membuat kita cemas dan gelisah. Raja Daud pernah mengalaminya. Ketika dia berzina dengan Batsyeba, istri Uria (2 Sam.11), dia berusaha menutupinya. Bahkan Daud sengaja berusaha membunuh Uria dengan membiarkannya mati di medan perang. Tuhan kemudian mengutus Nabi Natan untuk menegurnya dan teguran itu membuat Daud sadar serta merasa sangat berdosa. Perasaan bersalah begitu menyelimuti hati Daud, membuatnya galau dan gelisah. Namun Daud tidak membiarkan perasaan itu menghancurkan jiwanya, ia memohon ampun kepada Tuhan. Tangisan itu diungkapkan dalam Mazmur 51, “Kasihanilah aku ya Allah menurut kasih setia-Mu, hapuslah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar, bersihkan aku seluruhnya dari kesalahanku. Dan tahirkan aku dari dosaku! terhadap Engkau sajalah aku berdosa………lepaskan aku dari hutang darah…” Daud sadar ia telah kehilangan Roh Allah saat melakukan dosa lalu memohon, “Jadikan aku tahir ya Allah, perbaharuilah batinku!... jangan membuang aku dan jangan mengambil roh-Mu yang kudus daripadaku! Dalam Mazmur 32, dia mengutarakan betapa bahagianya setelah dia diampuni. Ia menceritakan bahwa selama kesalahan itu terus dibiarkan tersembunyi di dalam dirinya, dia merasakan penderitaan yang begitu menekan, “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari;….siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, ” Namun setelah ia tidak lagi menutupi dosanya dan mengakui semua kepada Tuhan (ay. 5), Tuhan mengampuninya (ay. 6). Tindakan itu sebenarnya sangat sulit dilakukan apalagi bagi seorang raja yang disegani rakyatnya. Namun setelah dia berani mengakuinya, ia merasa begitu bebas dan berbahagia. Perasaan itu ditulisnya dalam ayat 1-2, “Berbahagialah manusia yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan dan yang tak berjiwa penipu.”

Ketika masih muda, saya pernah mengikuti sebuah kebaktian KKR di Jakarta dan melayani di bidang Paduan Suara. Di hari kedua saya meninggalkan tugas pelayanan untuk mengunjungi keluarga saya yang tinggal di kota itu. Mengunjungi keluarga sebenarnya bukanlah suatu kesalahan jika saya telah selesai bertugas namun kesalahan saya adalah meninggalkan tugas untuk kepentingan pribadi. Hujan sangat deras ketika saya kembali ke stadion di mana KKR diadakan. Langit begitu gelap ketika hujan deras, jalanan banjir besar, petir menyambar berkali-kali dan guruh menggelegar selama perjalanan saya kembali ke tempat pelayanan. Hati saya begitu kacau, saya selalu salah jalan membuat lebih lama tiba di tempat tujuan. Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu 30 menit saya tempuh dalam waktu 1½ jam. Tuhan menegur saya dan kegelisahan begitu meliputi saya karena saya masih berada di jalanan di saat saya melayani. Perut terasa melilit-lilit karena perasaan bersalah. Ketika saya tiba di tempat, Paduan Suara telah selesai menaikkan pujian. Tak seorang pun tahu ketidakhadiran saya kecuali seorang teman yang biasa berdiri di samping saya dalam Paduan Suara yang menanyakan mengapa saya tidak berada di tempat saat menyanyi. Kembali saya malu mengakui kesalahan lalu memberi alasan saya sedang sakit perut.

Berbulan-bulan saya menutupi pelanggaran itu. Ketika membaca Mazmur 32, saya dapat merasakan apa yang dirasakan Daud. Saya merasa telah hidup sebagai seorang penipu dan munafik karena menyembunyikan suatu pelanggaran. Sering saya merasa lemas, tidak berdaya dan jiwa saya merana. Saya tidak lagi dapat memusatkan hati saat membaca atau mendengar Firman Tuhan juga tidak dapat berdoa. Saya mengalami depresi berat. Bermalam-malam saya tidak dapat tidur nyenyak dan hati terasa begitu kering hingga suatu saat saya tidak lagi dapat menahannya. Saya kemudian memberanikan diri mengakui kesalahan kepada Pemimpin Paduan Suara. Saya mengangkat telepon, dengan suara dan tubuh gemetaran saya meneleponnya, “Saya mau minta maaf kak!”, kata saya sambil menangis, “saya telah bersalah. Saya meninggalkan tugas pelayanan saat KKR beberapa bulan lalu untuk kepentingan pribadi. Saya begitu menyesal…” Dengan terbata-bata saya menceritakan pelanggaran saya. Di luar dugaan, suara di seberang menyahut dengan lembut, “Baiklah Vida, lain kali jangan dilakukan lagi ya?” Saat mendengar jawaban itu, hati saya terasa disiram air dingin. Jiwa saya berteriak kegirangan! Andaikan saya tahu jawabannya, saya akan sudah mengatakannya berbulan-bulan lalu tanpa harus menderita batin begitu lama….saya merasa begitu bebas!

Banyak kesalahan di waktu lalu yang membuat kita dihantui rasa bersalah terus menerus. Akibatnya kita merasa cemas, gelisah dan galau tiada habis-habisnya. Kita malu mengakui dan berusaha menutupinya karena merasa biasa dikenal baik, termasuk rohaniawan, pemimpin atau orang tua. Parahnya, sering kita tidak dapat mengampuni diri sendiri. Kisah Daud dapat memberi pelajaran baik bagi kita. Daud seorang raja juga dikenal sangat rohani dan hidup dekat dengan Tuhan tetapi berani mengakui kesalahannya. Sebuah kata-kata bijak mengatakan, “Mengetahui apa yang salah adalah hal yang baik, mengampuni orang yang bersalah kepada kita adalah hal lebih baik tetapi mengakui kesalahan dan dosa kita adalah hal yang terbaik!” Memang mengakui dosa apalagi yang memalukan adalah hal yang sangat sukar dilakukan namun jika kita dapat melakukannya, kita akan mengalami kebebasan dan merasakan kebahagiaan luar biasa.

Banyak orang tidak dapat mengampuni diri sendiri karena kesalahan di waktu lampau. Mereka depresi dan membenci diri sendiri. Hal ini menyebabkan banyak orang menderita baik jasmani maupun batin. Saya pernah mendengar kesaksian seorang ibu yang tanpa sengaja saat mengendarai kendaraan menabrak anaknya sendiri yang lagi bermain di halaman sehingga meninggal. Bertahun-tahun dia menyesali apa yang telah terjadi dan tidak dapat mengampuni diri sendiri. Ia mengalami depresi yang makin lama makin parah hingga seorang hamba Tuhan memberitahukan bahwa Allah dapat mengampuni dosa seburuk apa pun walau merah seperti kirmizi menjadi putih seperti salju dan sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba akan menjadi putih seperti bulu domba. Apabila Yesus memerdekakan kita maka kita akan benar-benar merdeka (Yoh. 8:36). Ia mohon pengampunan serta kelepasan dari Tuhan dan dia benar-benar merdeka.

Jika Tuhan telah mengampuni dosa dan membebaskan kita, mengapa kita masih mempertahankan dosa itu dan membiarkannya tetap membelenggu hidup kita?

(bersambung)