Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 
 

Kecemasan (7)

 

 

 

KECEMASAN (7)

 

 

 

‘Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Flp. 4:6)

Itulah sikap terbaik yang diajarkan kepada kita saat kita mengalami kekhawatiran dan kecemasan yang disebabkan oleh pencobaan, penyakit, kematian, makan minum, dosa kesalahan yang disembunyikan, trauma masa lalu dst.

Pertama, kita dapat menyatakan segala hal itu (apa pun yang kita inginkan) kepada Allah, buruk atau baik keadaannya, karena Dia adalah Bapa yang mengasihi kita. Bapa mana jika anaknya minta ikan akan diberi ular atau jika minta telur akan diberi kalajengking? Terlebih Bapa kita yang di Surga, tak mungkin Ia mengabaikan permohonan anak-anak-Nya. Kita dapat menyatakan dengan jujur karena Firman Tuhan menyarankannya.

Ungkapan isi hati dan keinginan dapat dinyatakan dalam doa dan permohonan ….

Doa adalah berbicara kepada Tuhan namun bagi saya doa adalah berbicara kepada Bapa kita. Bukankah Yesus mengajar kita berdoa dengan menyebut panggilan “Bapa kami yang di Surga” bukan “Raja kami atau Tuhan kami yang di Surga”? Ia memang Tuhan dan Raja tetapi dalam hal berdoa Tuhan menunjukkan adanya kedekatan dan keakraban antara anak dan bapa yang mana si anak dapat mengungkapkan apa saja yang diinginkan dan dibutuhkan.

Malam itu hujan sangat lebat turun. Guruh dan halilintar menyambar-nyambar. Lampu seketika padam. Steve mendengar teriakan dari kamar tidur sebelah “Papaaaaaa……!”. Dengan tidak menunggu sedetik pun, laki-laki itu melompat dari tempat tidur dan lari ke kamar anak perempuannya. Dalam remang-remang dia melihat anak itu lagi gemetaran, menangis dan ketakutan. Ia segera mendekapnya. “Papa di sini Leslie,….. ndak usah takut ya….” Ia mendekap gadis kecil itu makin erat dalam pelukannya, dibelai dan ditepuk-tepuk punggungnya hingga Leslie menjadi tenang kembali.

Itulah salah satu contoh kedekatan hubungan batin seorang anak dengan ayahnya. Itu pula yang digambarkan Yesus saat kita menyebut “Bapa kami yang di Surga” agar sebagai seorang anak, kita dapat dengan bebas mengutarakan permohonan kepada bapanya seperti, “Papa, aku sakit kepala, punya obat, Pa? “ atau “Papa, beli roti ya, aku lapar” atau “aku capek Papa, minta gendong” atau apa saja.

Sebuah doa dapat dijawab dengan YA, TUNGGU, atau TIDAK. Namun dalam semuanya itu Tuhanlah yang menentukan.

JAWABAN: YA

 

Dia akan menjawab YA ketika tahu jawaban itu dibutuhkan anak-Nya dengan segera. Ia ingin kita menyatakan keinginan atau permohonan doa kita kepada-Nya dan ini dinyatakan berulang-ulang kepada kita, “Mintalah maka akan diberikan kepadamu…..” (Luk. 11:9) Berkali-kali Ia memberitahukan bahwa:

Apabila kita percaya maka apa juga yang kita minta dalam nama-Nya Dia akan melakukannya untuk kemuliaan-Nya (Yoh. 14:13,14);

jika kita berada di dalam Dia dan Firman-Nya tinggal di dalam kita, kita pun akan menerima apa yang kita minta kepada-Nya (Yoh. 15:7);

apabila kita saling mengasihi, apa yang kita minta dalam nama-Nya akan juga dikaruniakan kepada kita (Yoh. 15:16-17).

Dia juga menjanjikan apabila doa kita bukan seperti seorang munafik untuk pamer tetapi di tempat yang tersembunyi, Dia akan menjawabnya (Mat. 6:6) dan yang terakhir dan paling penting adalah:

Apabila kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya maka doa kita akan dikabulkan (1 Yoh. 5:14).

JAWABAN : TUNGGU

 

Menunggu jawaban Tuhan dapat beberapa saat seperti seorang buta dicelikkan setelah membasuh matanya di kolam Siloam sementara Paulus harus menunggu selama 3 hari untuk dapat melihat kembali. Naaman menunggu hingga ia menaati perintah untuk mandi sampai 7 kali di Sungai Yordan. Abraham harus menunggu 25 tahun untuk mendapatkan Ishak sedangkan Yusuf harus menunggu dengan lebih dahulu dijual sebagai budak belian kepada Potifar, difitnah istri Potifar yang mengingininya, dipenjara, dilupakan oleh juru minuman raja yang pernah ditolongnya untuk akhirnya menjadi penguasa di Mesir.

Dalam hal ini, jawaban “TUNGGU” biasanya dipakai Tuhan untuk melatih iman, pengharapan dan ketekunan kita dalam menantikan janji Tuhan.

JAWABAN : TIDAK

 

Mungkin Anda pernah menyesal Tuhan tidak menjawab doa yang telah Anda naikkan dengan sungguh-sungguh? Gambaran ini dapat membantu kita untuk mengerti. Pernahkan Anda mengatakan TIDAK kepada anak Anda (umur tiga tahun) yang minta pisau untuk bermain? Atau anak remaja Anda minta dibelikan pistol? Atau anak gadis Anda minta pergi ke night club dengan teman prianya dan akan pulang tengah malam? Tentu jawabannya adalah “TIDAK”. Bagaimana bila anak Anda memohon dengan sangat bahkan berurai air mata? Tentu jawaban Anda tetap TIDAK karena Anda tahu hal itu membahayakan mereka bukan? Begitu pula dengan Bapa kita, apabila jawaban-Nya “tidak” berarti Dia mempunyai maksud atau alasan. Mungkin kita tidak mengerti alasannya saat doa kita ditolak tetapi kelak kita akan mengerti mengapa. Seorang penulis mengatakan, “Ketaatan seharusnya dilakukan setiap hari, apakah perintah-Nya berat atau ringan, kita setuju atau tidak, kita suka atau tidak, pengertian akan didapatkan kemudian.”

 

Kita membaca dalam Surat Yakobus bahwa jika jawaban doa yang kita harapkan adalah untuk memuaskan hawa nafsu, kita tidak akan memperoleh apa-apa (Yak. 4:1-3) seperti saat Bileam diminta Raja Balak untuk mengutuki Israel dengan imbalan upah besar, permintaan itu tidak dikabulkan bahkan yang keluar malah berkat bagi Israel.

Mengapa persembahan Kain ditolak sedangkan persembahan Habel diterima? Alkitab mengatakan bahwa persembahan Habel lebih baik dari Kain (Ibr. 11:4) karena hati Kain penuh dengan kemarahan dan kedengkian (Kej. 4:6).

Bagaimanapun juga ada permohonan orang-orang kudus yang ditolak oleh Bapa.

Di Getsemani, Yesus memohon dengan perasaan takut dan gentar, “Ya Abba, ya Bapa tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini daripada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Mrk. 14:36)

Sekalipun kita tahu Yesus rela mau mengurbankan diri-Nya dan untuk tujuan itu Dia datang ke dunia yaitu mati untuk menebus dosa manusia, Ia menyatakan juga keinginan-Nya untuk menghindari “cawan dosa” itu. Curahan hati-Nya menyatakan betapa mengerikan dan tak tertanggungkan sengsara yang akan dihadapi oleh anak manusia. Ternyata Allah tidak mengabulkan permintaan-Nya karena mempunyai alasan: kehendak-Nya adalah Putra-Nya menjadi Anak Domba Allah yang dikurbankan untuk menebus dosa manusia dan menjadi Juru Selamat dunia, termasuk Anda dan saya. Suatu contoh doa yang indah! Kita dapat menyatakan apa pun keinginan kita namun kemudian kita katakan, “Kehendak-Mu yang jadi” (ini contoh “doa orang dewasa yang matang” bukan “doa bayi” yang terus berteriak “saya minta susu….! Saya lapar….!” dan bila terlambat memberikan akan menangis sekeras-kerasnya). Yesus menyerah pada kehendak Bapa-Nya dan hasilnya ialah keselamatan seluruh manusia di dunia yang jauh lebih indah daripada bila Yesus dihindarkan dari cawan dosa.

Kita berpaling pada permohonan Paulus yang dipanjatkan hingga tiga kali agar “duri dalam daging” yang sangat mengganggunya dicabut namun Tuhan tidak mengabulkan doanya. Sebaliknya, jawaban Tuhan kepadanya, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Itulah alasan Tuhan agar dengan terus-menerus merasa sakit akibat tusukan duri itu, Paulus, rasul besar yang pernah diangkat ke Surga ketiga tidak meninggikan diri (2 Kor. 12:7] tetapi tetap merasa lemah dan rapuh sehingga selalu membutuhkan Tuhan. Dengan hati bersyukur ia mengatakan, “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah maka aku kuat” (ay. 10). Agar di dalam tubuhnya yang bagaikan bejana tanah liat yang lemah itu akan nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah bukan dari dirinya sendiri (2 Kor. 4:7).

 

Apa yang menyebabkan Anda cemas? Pencobaan? Penyakit? Kekhawatiran akan makan dan minum? Kegagalan hidup? Kita tentu dapat menyatakan keinginan kita kepada-Nya dalam doa dan permohonan, Dia mampu memberikan segala sesuatu karena semua telah dibayar lunas oleh-Nya namun bila jawabannya adalah TIDAK biarlah kita menerimanya dengan kerelaan penuh dan dengan ucapan syukur karena mengetahui Dia mempunyai alasan yang jauh lebih baik untuk mendapatkan kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya (2 Kor 4: 17).

DADDY KNOWS BEST! BAPA MENGETAHUI YANG TERBAIK!