Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 
 

Akulah Kebangkitan dan Hidup (1)

AKULAH KEBANGKITAN DAN HIDUP (1)
Scan QR untuk membaca di perangkat lain:

Di dalam kalimat-kalimat penutupnya, Rasul Yohanes mengatakan, “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya yang tidak tercacat dalam kitab ini,” (Yoh. 20:30) Kemudian, “Masih banyak hal lain lagi yang diperbuat oleh-Nya tetapi jikalau semuanya itu harus kutuliskan satu per satu maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu.” (Yoh. 21:25) Maka betapa kagetnya ketika kita mendapatkan bagaimana Yohanes terkesan pelit dalam jumlah mukjizat yang ia catat. Tahukah Anda berapa banyak mukjizat yang dicatatnya? Yohanes hanya mencatat tujuh mukjizat yang Yesus lakukan:

  1. Mengubah air menjadi anggur (Yoh. 2).
  2. Menyembuhkan anak pegawai istana (Yoh. 4).
  3. Menyembuhkan orang lumpuh (Yoh. 5).
  4. Memberi makan 000 orang (Yoh. 6).
  5. Berjalan di atas air (Yoh. 6).
  6. Mencelikkan mata orang buta (Yoh. 9).
  7. Membangkitkan Lazarus dari kematian (Yoh. 11).

Mengapa hanya tujuh? Jelas itu bukan suatu kebetulan mengingat Yohanes suka sekali dengan jumlah tujuh baik dalam Injil maupun Wahyu. Tujuh adalah angka sempurna. Jadi dengan tujuh mukjizat tersebut Yesus secara sempurna dibuktikan sebagai Anak Allah sebagaimana tujuan Yohanes menulis Injil ini. Mengapa pula mukjizat kebangkitan Lazarus diletakkan pada urutan ketujuh? Karena mukjizat ini secara sengaja ingin diletakkan di puncak sebagai tanda terbesar dan final melampaui tanda-tanda sebelumnya. Mengapa mukjizat ini merupakan mukjizat puncak? Perhatikan bahwa mukjizat ini ditempatkan dalam konteks penutupan pelayanan Kristus bagi orang banyak. Setelah peristiwa ini Yesus menarik diri dan menghabiskan waktu-Nya hanya dengan murid-murid-Nya. Ia menyiapkan mereka untuk menghadapi tantangan setelah ditinggalkan oleh-Nya. Ia akan ditangkap dan disalibkan, Ia akan mengecap secara pribadi kematian-Nya. Murid-murid akan meneruskan pelayanan-Nya di bumi ini. Makin besar dan berat tantangan serta pelayanan yang mereka hadapi, makin dibutuhkan pengenalan terhadap Kristus yang lebih utuh, pengenalan akan misi dan kuasa-Nya. Jika Yesus hanya menyembuhkan Lazarus dari penyakitnya, hal itu hanya sedikit sekali pengaruhnya bagi pengenalan murid-murid terhadap-Nya karena mereka sebelumnya telah sering melihat bagaimana Ia menyembuhkan orang sakit. Jadi kebangkitan Lazarus merupakan demonstrasi sempurna tentang ketuhanan, misi Yesus dan kuasa-Nya untuk menggenapi misi tersebut. Ia adalah Tuhan atas kehidupan dan penakluk kematian.

Hal ini tidak saja menjelaskan mengapa kebangkitan Lazarus merupakan tanda puncak tetapi juga menjelaskan mengapa Kristus menunda kedatangan-Nya selama dua hari (bukan satu atau tujuh hari). Ketika Yesus tiba, Lazarus telah mati empat hari. Yesus ingin meyakinkan orang-orang bahwa ketika Ia tiba di Betania, Lazarus telah benar-benar mati. Empat hari adalah waktu yang dibutuhkan untuk itu. Mishnah (kitab berisi diskusi para rabbi ± 70-200) menegaskan bahwa identitas sebuah mayat hanya diberikan selama tiga hari saja. Bagi orang Yahudi, selama tiga hari setelah kematian roh si mati masih mengenali wajahnya serta melayang-layang mengelilingi tubuhnya sehingga ia hadir dan menyaksikan ekdukaan sanak family dan kawan-kawannya di sekeliling tubuhnya. Dukacita orang-orang yang ditinggalkannya menambah usahanya untuk dapat masuk kembali ke dalam tubuhnya karena ia tidak tega meninggalkan keluarganya ang begitu berdukacita. Ini juga alasan mengapa disewa para penangis profesional untuk menambah kental suasana duka. Jadi dipercaya bahwa dalam tiga hari itu mungkin saja orang mati bangkit kembali. Setelah lewat hari ketiga, mayat berubah warna tanda dimulainya pembusukan dan roh si mati akan pergi selama-lamanya. Hari keempat menjadi puncak dukacita karena hari itu seluruh pengharapan agar si mati hidup kembali sudah pupus. Inilah yang Yesus inginkan. Jika Yesus mau mendemostrasikan bahwa Ia Penakluk maut, Ia harus membiarkan orang melihat maut berkuasa penuh dan pada saat itulah Ia mengalahkannya. Kristus menghendaki agar orang-orang tidak meragukan bahwa Ia sungguh adalah kebangkitan dan hidup.

URUTAN

Saying (pernyataan) baru kemudian doing (melakukannya). Yesus lebih dahulu menyatakan diri-Nya sebagai kebangkitan dan hidup baru kemudian membangkitkan Lazarus.

Ada tiga hal yang patut diperhatikan dalam peristiwa ini:

  • Tingkat kemudahan

Pada urutan saying dan doing, Yesus menjadi pendusta kalau klaim-Nya tidak terbukti. Orang akan marah karena merasa dibohongi. Lain kali orang tidak akan memercayai perkataan-Nya lagi. Sebaliknya, jika yang dilakukan-Nya tidak menghasilkan apa-apa, Kristus tidak perlu menanggung risiko apa pun. Orang-orang malah menghibur-Nya dan mengatakan, “Sudahlah, relakan, dia sudah mati.”

  • Tantangan iman

Pada urutan doing dan saying, iman tidak mendalam. Melihat dahulu baru percaya. Ada bukti baru beriman sebagaimana dilakukan oleh orang-orang (Yoh. 11:45). Sedangkan pada urutan saying dan doing, kita dituntut untuk beriman dahulu baru kemudian melihat atau mengalaminya. Dengan demikian, walau banyak Firman Allah tidak kita lihat kenyataannya sekarang, kita tidak meragukan bahwa ketika tiba waktunya kita akan melihat kenyataannya.

  • Sebab-akibat

Apa yang Yesus katakan tentang diri-Nya adalah hasil doing-Nya membangkitkan Lazarus. Ada kalanya kita tidak mengetahui dengan jelas hasil doing kita. Dalam pelayanan penulis, beberapa kali doanya mengenai penyembuhan dikabulkan Tuhan tetapi bukan berarti dia dapat menyebut dirinya ahli mendoakan orang sakit.

Yesus adalah sumber sebab bukan akibat. Kebangkitan Lazarus adalah hasil dari Kristus sebagai kebangkitan dan hidup bukan karena Ia mampu membangkitkan Lazarus kemudian Ia menyebut diri- Nya sebagai kebangkitan dan hidup. Yesus tidak hanya mempunyai kemampuan membangkitkan kematian tetapi Ia adalah kebangkitan dan hidup itu sendiri. Ia tidak pernah gagal tetapi penakluk dan pemenang atas kematian. Ia adalah sumber kehidupan dan kehidupan itu sendiri. Itu sebabnya ketika Yesus membangkitkan orang mati Ia tidak pernah mengatakan, “Aku akan mencoba semampu-Ku untuk membangkitkannya. Kalau bangkit ya untung kalau tidak bangkit ya memang orangnya sudah mati.” Pada peristiwa membangkitkan Lazarus, Yesus berteriak memberi perintah, “Lazarus, marilah keluar!” (Yoh. 11:44) Pada peristiwa membangkitkan anak janda di Nain, Yesus berkata, “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” maka bangunlah orang itu (Luk. 7:14). Kemudian ketika membangkitkan anak perempuan Yairus, Yesus berkata, “Hai anak, bangunlah!” Anak itu pun bangkit berdiri (Luk. 8:54).

Apa bedanya menerima Yesus yang adalah kebangkitan dan hidup dengan menerima Yesus yang dapat memberikan kebangkitan dan hidup? Misal:

  • Ketika Anda sakit ada dua orang datang membesuk Anda. Yang seorang berkata, “Saya tahu caranya mendapatkan kesembuhan Maukah kamu sembuh?” yang lain berkata, “Saya adalah kesembuhan. Maukah kamu menerima saya?” Apa perbedaan antara menerima orang pertama dengan menerima yang kedua?
  • Saat Anda berada dalam kegelapan, ada dua orang datang mau menolong. “Mari ikut saya ke tempat terang,” kata yang seorang. Yang lain berkata, “Sayalah terang. Di dalam diri saya tidak ada ” Mana yang Anda inginkan dan apa bedanya?
  • Anda hidup di dalam dosa dan maut. Dua orang datang menawarkan kebebasan. Yang pertama berkata, “Saya mengetahui setelah melalui usaha yang lama, bagaimana kira-kira caranya bebas dari dosa. Maukah kamu saya tunjukkan caranya?” Yang lain berkata, “Saya adalah kebebasan. Ikutlah ”

Yang mana yang akan kita pilih dan apa perbedaan di antara keduanya? Menerima yang kedua pasti juga menerima apa yang ia klaim tentang siapa dia.

ARTI “AKULAH KEBANGKITAN DAN HIDUP”

Setelah menyatakan diri sebagai kebangkitan dan hidup, Kristus menjelaskan masing-masing artinya. Mengenai kebangkitan dikatakan-Nya, “Barangsiapa percaya kepada-Ku walaupun walaupun ia sudah mati ia akan hidup.” (Yoh. 11:25)

Tentang hidup dikatakannya, “Dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya.” (ay. 26)

Apa yang dimaksud Yesus dengan hidup dan mati di sini? Apakah berarti jika kita percaya kepada Kristus maka ketika kita mati (sebagaimana Lazarus) kita akan dibangkitkan setelah itu dan kita tidak akan pernah mati lagi alias hidup selamanya? Jelas bukan ini artinya. Orang percaya tetap mengalami kematian. Bahkan Lazarus yang dibangkitkan pun di kemudian hari mati juga. Jadi di sini bukan pengertian hidup-mati secara jasmaniah tetapi rohaniah.

Dalam Injil Yohanes, hidup yang dikaitkan dengan percaya kepada Kristus itu selalu berarti hidup kekal. Inilah yang menjadi tujuan Yohanes menulis Injilnya. Yohanes sering menggunakan peristiwa natural/fisik kemudian menaikkannya ke level rohani seperti: percakapan dengan perempuan Samaria tentang air sumur, Yesus kemudian diperkenalkan sebagai air hidup (Yoh. 4:1-14). Pada peristiwa Yesus memberi makan 5.000 orang dengan roti (harfiah), Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai roti hidup. Dengan peristiwa kebangkitan Lazarus dari kematian, Yesus diperkenalkan sebagai sumber kebangkitan dan kehidupan (rohani) yang kekal.

Jadi manusia berada dalam kematian rohani namun ketika percaya kepada Yesus ia dibangkitkan dari kematian itu dan mempunyai hidup kekal. Pada awal pelayanan-Nya, Yesus berkata, “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.” (Yoh. 5:24) Dengan kata lain, manusia dalam dosanya bukan hidup berjalan menuju maut melainkan sudah ada di dalam maut dan berjalan menuju maut yang lebih mengerikan: kematian kedua bersifat kekal (Why. 20:14). Maut merupakan proses bermula dari kematian rohani kemudian melalui kematian jasmani manusia dibawa menuju kematian kekal. Mati rohani berarti hidup tanpa Allah walau ini bukan berarti tanpa agama. Ateisme makin mengokohkan kematian rohani manusia karena menolak Allah secara terang-terangan. Walau kematian rohani merupakan kehidupan tanpa Allah, manusia belum sepenuhnya ditinggalkan oleh-Nya. Pemeliharaan dan kesempatan kembali kepada-Nya tetap diberikan kepada manusia. Baru pada kematian kekal manusia mengalami sepenuhnya hidup dipisahkan dari Allah dan berkat-Nya.

Disadur dari “Menapaki Hari bersama Allah” oleh Yohan Candawasa


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account