Wanita di Mata Tuhan (I)

Ibadah Kaum Wanita

Lemah Putro, Kamis, 11 Juni 2020

Renta Leinvarben Songan

WANITA DI MATA TUHAN (I)

Shalom wanita yang dikasihi Tuhan,

Masih ada perempuan yang belum mengerti mengenai kedudukan, tugas dan tanggung jawabnya di dalam hidup nikah (rumah tangga). Ada yang beranggapan adalah suatu kewajiban atau keharusan bagi seorang istri melaksanakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga karena sudah kodratnya; menganggap semua hal diputuskan oleh suami, istri hanya manut saja; atau sebaliknya tidak mau ‘manut’ kepada suami karena merasa menikah bukan untuk menjadi pembantu.

Hal-hal seperti ini timbul akibat tidak mengerti statusnya sebagai istri, ditambah lagi dengan latarbelakang beberapa budaya/adat istiadat yang memosisikan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Tugas perempuan hanya mengurus suami, anak, dan rumah tangga, jarang diminta pendapat tentang sesuatu bahkan perempuan dianggap tidak perlu bersekolah tinggi-tinggi, cukup dapat baca dan tulis.

Secara biologis atau secara fisik, pria lebih kuat dari wanita. Kalau kita adu fisik dengan laki-laki, pasti kita kalah kecuali bagi perempuan yang belajar bela diri. Perbedaan secara biologis ini juga yang semakin memojokkan perempuan sehingga sering mendapatkan perlakuan kasar, seperti: pemukulan, pemerkosaan, dan pelecehan seksual.

Perlakuan yang tidak adil ini menimbulkan gerakan yang memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan; menuntut keadilan dan pembebasan perempuan dari ikatan agama, budaya, sosial dan struktur kehidupan lainnya yang dianggap merugikan. Gerakan ini disebut dengan Feminisme. Gerakan ini memberikan ruang bagi para perempuan mendapatkan kesempatan mengecap pendidikan yang lebih tinggi bahkan memiliki pekerjaan di luar rumah. Sayangnya, gerakan ini melewati batas. Tidak sedikit perempuan yang melecehkan laki-laki, apalagi bila pendidikan atau karirnya di atas laki-laki atau suami.

Di dalam Alkitab, ada beberapa ayat yang seolah-olah mengindikasikan bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki, akan tetapi sesungguhnya tidaklah demikian. Sejak awal, Allah telah menetapkan kedudukan serta peranan perempuan di dunia ini. Kita bersama-sama belajar apa dan bagaimana Kedudukan Perempuan di mata Tuhan.

  1. Penolong Yang Sepadan (Kejadian 2:18)

TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Setelah Allah menciptakan Adam (laki-laki), Allah memandang bahwa manusia itu tidak baik seorang diri, oleh sebab itu diciptakanlah perempuan sebagai penolong yang sepadan.

Firman Tuhan mengatakan bahwa perempuan adalah penolong yang sepadan dengan dia. Dia di sini adalah pasangan kita yang sah yaitu suami. Jadi, seorang perempuan itu adalah penolong yang sepadan hanya dengan suaminya sendiri. Jika demikian, mengapa masih ada perempuan atau istri yang merasa seolah-olah dirinya hanyalah sebagai asesoris dalam rumah tangga?; melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai istri karena memang sudah tradisi atau dari sononya memang begitu. Setinggi-setingginya sekolah, jatuh-jatuhnya ke dapur juga. Asumsi ini juga yang membuat istri merasa lebih rendah dari suami, akhirnya minder, apalagi jika latar belakang pernikahan karena dijodohkan, terlanjur melakukan hubungan seks, atau faktor lainnya. Akan tetapi, apapun latar belakang pernikahan itu, sesaat Tuhan menyatukan seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam ikatan pernikahan yang kudus, maka sesaat itu juga, istri harus tunduk kepada firman Allah, yaitu menjadi penolong yang sepadan dengan suaminya itu, mengabdikan diri sepenuhnya hanya kepada suami.

Apa arti dari frasa ‘penolong yang sepadan’ menurut Alkitab? Arti ‘penolong’ berdasarkan bahasa aslinya (Ibrani) adalah seseorang yang memberikan dukungan atau kekuatan; seseorang yang memungkinkan orang lain mencapai tujuannya.

Kata ‘sepadan’ dalam bahasa Ibrani berarti memiliki sesuatu yang istimewa yang mengindikasikan keserupaan Hawa kepada Adam. Dengan demikian, posisi perempuan (istri) adalah sebagai penolong yang sepadan dengan laki-laki (suami) karena memiliki keserupaan yaitu diciptakan serupa dengan gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27) sehingga memiliki nilai yang sama dengan laki-laki di hadapan Allah.

Berdasarkan KBBI ‘sepadan’ artinya memiliki nilai atau ukuran yang sama, sebanding (dengan), seimbang (dengan). Sepadan mengacu kepada keserasian atau keseimbangan antara laki-laki dengan perempuan; tujuan kehadiran perempuan adalah untuk memperlengkapi atau menyempurnakan keberadaan laki-laki. Allah sendiri berkata: “"Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja…”

Dengan demikian, arti frasa ‘penolong yang sepadan’ adalah perempuan atau istri yang memberikan dukungan atau kekuatan yang memperlengkapi atau menyempurnakan suami untuk mencapai tujuan. Jadi jangan lagi merasa lebih rendah dari laki-laki, sebaliknya sebagai perempuan, kita berbahagia karena kehadiran kita membuat kehidupan laki-laki (suami) menjadi lengkap dan sempurna. Ada pernyataan: Di balik kesuksesan seorang pria, selalu ada sosok wanita hebat. Pria dapat mencapai kesuksesan karena kehadiran seorang wanita yang menolong dari belakang.

Lalu, apa kedudukan atau tugas kita sebagai perempuan menurut Alkitab? Sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Allah memberikan tugas kepada Adam dan Hawa secara bersama-sama, yaitu beranak cucu, menguasai bumi dan menaklukkan semua ciptaan lainnya (Kej.1:28). Tuhan tidak membedakan posisi Adam dan Hawa, bahkan memerintahkan mereka untuk bekerja sama dalam mengelola alam semesta. Akan tetapi setelah kejatuhan dalam dosa, Allah menghukum manusia dan membagikan tugas dan tanggung jawab kepada Adam & Hawa.

Kejadian 3:16, “Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu."

Kita melihat Allah mulai membuat aturan dalam hidup nikah, yaitu Adam (suami) berkuasa atas Hawa (istri). Jadi, bila ada pertanyaan: Mengapa sih laki-laki yang harus mengatur atau berkuasa atas rumah tangga? Jawabannya: Allah yang menentukan demikian. Yang perlu kita perhatikan, tujuan Allah bukan meletakkan perempuan lebih rendah dari laki-laki, tetapi Allah memiliki tujuan supaya ada keteraturan dan keharmonisan dalam rumah tangga.

Rasul Paulus juga peduli dengan kedudukan para perempuan dalam rumah tangga. Kita baca Titus 2:3-5. Perempuan atau istri dinasihati agar mengasihi suami dan anak-anaknya, rajin mengatur rumah tangga, taat kepada suami, tujuannya adalah agar firman Tuhan jangan dihujat (Titus 2:3-5). Firman Tuhan yang mana? yaitu bahwa perempuan adalah penolong yang sepadan. Dengan kata lain, bila istri tidak menjalankan peranannya sebagai ibu rumah tangga seperti firman Tuhan - tidak peduli dengan anak-anak dan suami – berarti kita sedang membuat diri ini menjadi penolong yang tidak sepadan, dengan kata lain kita sedang menolak bahkan tanpa disadari dapat menghujat firman Tuhan.

Kedudukan atau tugas seorang istri dapat juga dibaca di Amsal 31:10,11 15, 21. Mari kaum wanita sekalian, kita memeriksa diri kita, apakah kita sedang melaksanakan firman Tuhan atau menolak firman Tuhan itu.

Dari pembacaan ayat-ayat Alkitab di atas, kita dapat memahami tugas perempuan dalam posisi atau kedudukan sebagai penolong yang sepadan bagi suami adalah: Pertama, mengatur rumah tangga. Yang dimaksud adalah mengurus anak dan suami dengan baik. Dengan demikian, istri menolong suami untuk mencapai tujuannya dalam bekerja, agar suami selalu bergairah mencari nafkah hidup, suami tidak dipusingkan lagi dengan perkara-perkara rumah tangga karena sudah ada istri yang mengurusnya dengan baik. Jangan sebaliknya, suami sudah capek bekerja, pulang ke rumah bertambah stress karena melihat keadaan rumah yang berantakan, anak-anak tidak tertib, ditambah lagi dengan istri yang mengeluh terus-menerus. Bukan menjadi penolong tetapi sebaliknya perongrong.

Kedua, mengelola keuangan dengan benar. Pada umumnya, istri adalah bendahara rumah tangga. Mari kita atur dengan bijaksana, berkat yang telah Tuhan berikan. Jangan sampai kejadian, masih tengah bulan. Bagaimana caranya? Membuat perencanaan atau anggaran pengeluaran rumah tangga. Bila kita dapat mengelola keuangan dengan baik – bukan karena besar atau kecilnya penghasilan – hal itu akan meringankan beban suami. Bukankah banyak suami terlibat kasus suap atau korupsi karena pengaruh istri? Akhirnya, masuk penjara atau bangkrut karena istri terlalu banyak menuntut, tidak puas dengan apa yang ada, selalu iri dengan perempuan lain yang lebih ‘wah’...

Pertanyaan: Bagaimana dengan istri yang berprofesi sebagai wanita karir? Apabila suami setuju, tidak masalah. Hal tersebut dapat juga dianggap sebagai penolong bagi suami untuk bersama-sama mencari nafkah hidup agar anak-anak lebih sejahtera. Bahkan mungkin karena keadaan tertentu, suami yang mengurus rumah dan anak-anak, istri yang bekerja di luar. Semua itu tidak masalah, asalkan dilakukan dengan kesadaran bahwa posisinya tetap seorang istri yang taat dan tunduk kepada suami. Bekerja di luar bukan karena ingin bebas, tidak mau terikat dengan suami, tidak mau melakukan tugasnya sebagai istri tetapi menyadari bahwa itu adalah kemurahan Tuhan.

Dengan kesadaran ini, istri tidak melupakan tugas yang sebenarnya di dalam rumah tangga. Setelah kembali ke rumah, tugas dan tanggung jawab sebagai istri kembali dilaksanakan. Jangan karena memiliki posisi yang lebih tinggi atau penghasilan yang lebih besar, akhirnya meremehkan suami. Mungkin tidak langsung disampaikan dengan perkataan, tetapi di dalam hati tidak menghormati suami. Bila sudah meremehkan, sulit bagi istri untuk tunduk kepada suami.

Efesus 5: 22-24, “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.”

Ayat firman Tuhan tersebut menentukan struktur dan tanggung jawab di dalam rumah tangga. Seperti di kantor, ada struktur organisasi, jelas urutan posisi, tugas dan tanggung jawabnya. Setiap karyawan harus tunduk kepada pimpinan di atasnya. Bila tidak, ada konsekwensi yang akan diterima. Demikian juga halnya dalam rumah tangga Kristen. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa suami bertanggung jawab langsung kepada Kristus. Istri, berada di bawah suami (red. tidak sejajar dengan suami), berarti istri wajib tunduk dan taat kepada suami. Istri boleh menyampaikan pendapat, bila suami tidak setuju, jangan memaksakan kehendak. Bila pendapat kita itu bertujuan untuk kebaikan tetapi suami tidak sependapat, apa yang harus kita lakukan? berdoa, agar Tuhan sendiri yang menggerakkan hati suami untuk mempertimbangkan pendapat si istri.

Tuhan menuntut para istri taat dan tunduk kepada suami sama seperti kita taat kepada Kristus. Tunduk kepada suami bukan berarti derajat perempuan atau istri lebih rendah dari suami, akan tetapi ini adalah hukum yang telah ditetapkan Allah untuk menghasilkan rumah tangga Kristen yang rukun dan harmonis. Bila ternyata ada suami yang belum cinta Tuhan, gumulkan terus dalam doa, tetap jalankan peranan sebagai penolong yang sepadan dengan kesadaran bahwa kita sedang dan hanya melakukan perintah Tuhan. Mungkin suatu saat, suami tersebut akan bertobat (1 Petrus 3:1-2). Oleh sebab itu, bagi para anak perempuan yang masih menantikan pasangan hidup, mintalah dengan sungguh-sungguh agar Tuhan memberikan suami yang cinta Tuhan.

Tunduk dan taat kepada suami dalam segala sesuatu, bukan sebagian atau boleh dikatakan tidak tuntas. Dalam hal ini saya mengaitkan dalam hal sebagai penolong. Menolong suami jangan tanggungtanggung, hanya setengah jalan saja. Mungkin ada suami yang sulit diberikan masukan yang baik, misalkan perihal kesehatan, jangan pernah menyerah untuk mengusahakan yang terbaik demi kesehatannya, walaupun suami tersebut agak cuek. Terus berusaha sampai saatnya Tuhan bekerja memberikan kesadaran di dalam dirinya. Mungkin istri juga memiliki kekuatiran-kekuatiran lain terkait suami, tetap bersabar, bertekun dalam doa, tetap lakukan peranan sebagai penolong yang sepadan.

Bagaimana dengan perempuan yang masih single, yang tidak menikah dan janda? Mereka menjadi penolong bagi keluarga sendiri (orangtua dan saudara) bahkan menjadi penolong bagi pelayanan di rumah Tuhan; menjalankan tugas pelayanan yang diterima dengan baik dan lebih fokus karena tidak memikirkan suami (1 Korintus 7:34b).

Kaum wanita yang dikasihi Tuhan, Kedudukan dan peranan kita sebagai penolong yang sepadan merupakan tantangan tersendiri untuk berperan secara positif, sehingga kehadiran istri atau perempuan berdampak demi kebaikan suami dan keluarga. Dengan kata lain perempuan menjadi berkat bagi orang yang ditolongnya. Perempuan dan laki-laki saling membutuhkan, karena tanpa perempuan, laki-laki menjadi lemah, demikian pula sebaliknya, tanpa laki-laki, perempuan juga menjadi lemah.

Kesimpulan:

Perempuan memiliki kedudukan yang istimewa meskipun diciptakan setelah Adam bahkan dari tulang rusuknya karena tetap diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Perempuan ditentukan Tuhan sebagai penolong yang sepadan sejak awal penciptaan, bukan setelah kejatuhan dalam dosa; suatu kedudukan dan peranan yang sangat penting karena memberikan suatu kekuatan dan dorongan bagi laki-laki (suami) untuk mencapai kesukseksan. Perempuan atau istri menjadi pelengkap laki-laki, menjadikan hidup laki-laki menjadi sempurna.

Perempuan juga merupakan salah satu kunci keberhasilan atau kegagalan dari seorang laki-laki dalam mencapai cita-citanya. Oleh sebab itu, jangan pernah minder atau rendah diri, merasa tidak berdaya sehingga terpaksa melaksanakan peranan sebagai ibu rumah tangga, sebaliknya kita patut berterima kasih kepada Tuhan karena diberikan kesempatan untuk menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu karena kedudukan dan peranan sebagai penolong yang sepadan itu sangat berharga di mata Tuhan. Amin.

---

Video Ibadah selengkapnya di  Ibadah Kaum Wanita - 11 Juni 2020 - Ibu. Renta .L Songan 

 

 

Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account