Raihlah Janji Hidup Kekal Bersama Kristus

Raihlah Janji Hidup Kekal Bersama Kristus

Pdt. Paulus Budiono, Minggu, Lemah Putro, 13 Mei 2018

Shalom,

Kita ikut berduka terhadap sesama anggota Tubuh Kristus yang menjadi korban pemboman teroris pada saat mereka lagi beribadah. Peristiwa memilukan hati ini menyadarkan kita akan ketidakberdayaan kita menghadapi ancaman bahaya yang dapat menyerang sewaktu-waktu tanpa pernah diduga sebelumnya. Untuk itu kita sangat membutuhkan Tuhan, Pemilik hidup kita, di mana pun dan kapan pun kita berada. Kalaupun seizin Tuhan peristiwa tragis terjadi, kita beroleh jaminan hidup kekal bersama Dia selamanya.

Rasul Paulus mengandalkan Tuhan sepenuhnya sehingga di dalam ketidakberdayaan dipenjara, dia tidak mengasihani diri sendiri tetapi masih memikirkan jemaat Efesus. Dalam kondisi serba terbatas, dia menulis surat kepada mereka, salah satu isi suratnya tertulis di Efesus 3:1-6, “Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah – memang kamu telah mendengar tentang tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah yang dipercayakan kepadaku karena kamu, yaitu bagaimana rahasianya dinyatakan kepadaku dengan wahyu seperti yang telah kutulis di atas dengan singkat. Apabila kamu membacanya, kamu dapat mengetahui dari padanya pengertianku akan rahasia Kristus yang pada zaman angkatan-angkatan dahulu tidak diberitakan kepada anak-anak manusia tetapi yang sekarang dinyatakan di dalam Roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus, yaitu bahwa orang-orang bukan Yahudi karena Berita Injil turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus.”

 

Roh Kudus menuntun Rasul Paulus untuk mengawali ayat pertama dan mengakhiri ayat yang menunjukkan janji berkat bersifat kekal yaitu beroleh kasih karunia dan damai sejahtera bagi orang yang percaya dalam Kristus Yesus (Ef. 1:1-2; 6:24). Oleh sebab itu hendaknya kita tidak bosan mendengarkan dan membaca Alkitab – Firman Allah – walau kita sudah tahu dan membacanya berulang-ulang. Namun jangan sekadar membaca Alkitab tetapi harus disertai iman bahwa Allah itu ada; jika tidak, Allah tidak berkenan (Ibr. 11:6). Tak jarang ada jemaat datang ke gereja dengan banyak masalah, pulang gereja masih berbeban berat dengan masalah karena dia tidak beriman Tuhan sanggup menyelesaikan masalahnya.

Mengapa Rasul Paulus ‘mengungkit-ungkit’ masa lalu jemaat Efesus (juga kita) bahwa mereka (juga kita) dahulu tidak mengenal Allah dan mati dalam dosa (Ef. 2:1, 11-12; 3:1)? Juga terhadap jemaat Filipi, Rasul Paulus tidak keberatan menulis surat dengan topik sama untuk memberikan kepastian akan kebenaran sejati kepada mereka (Flp. 3:1). Semua ini dilakukannya agar kita tahu asal usul kita sebelum mengenal Tuhan untuk tidak menjadi sombong dan sok mengenal Dia. Contoh: bangsa Israel telah dibebaskan dari belenggu perbudakan selama 400 tahun di Mesir. Mereka dipelihara dan dilindungi Allah (YHWH) selama perjalanan di padang gurun bahkan di Kanaan tetapi ternyata mereka sok mengenal Dia padahal hati dan pikiran mereka masih terpaku pada Mesir.

Merupakan rahasia Allah yang tidak dapat diungkapkan bahwa bangsa Yahudi maupun bangsa kafir saat berada di wadah kekekalan sudah dipilih sebelum dunia dijadikan untuk menjadi kudus tak bercela di hadapan-Nya (Ef. 1:3-4).

Siapa pun kita, dari etnis apa pun, semuanya berasal dari nenek moyang sama yaitu Adam dan Hawa. Namun sayang, pengultusan marga-marga tertentu sering menimbulkan pengotak-ngotakan dan merusak persekutuan satu sama lain. Silsilah dapat membuat manusia menjadi sombong tetapi kalau kita menyadari asal usul kita adalah manusia berdosa yang patut dihukum mati, kita akan tetap rendah hati walau kita diangkat dan diberi aneka ragam karunia Roh Kudus.

Lebih lanjut Rasul Paulus mengemukakan bahwa oleh kuasa Roh Kudus rahasia yang ter-sembunyi di zaman angkatan-angkatan dahulu telah dinyatakan kepada para rasul dan nabi-Nya yang kudus (Ef. 3:2-4) sehingga tidak lagi ada rahasia yang masih tertutup. Dengan demikian jangan ada hamba Tuhan mengaku mendapatkan wahyu dan pembukaan rahasia Firman Tuhan! Sebaiknya beritakan Firman Tuhan berdasarkan pengalaman keubahan hidup seperti dilakukan oleh Rasul Paulus ketika bertemu Raja Agripa berdampak hati raja berguncang dan hampir-hampir menjadi orang Kristen (Kis. 26).

Demi beroleh pembukaan rahasia Kristus, Rasul Paulus rela menderita dipukul, dilempari batu bahkan dipenjara. Bagaimana dengan pemberita Injil zaman sekarang/now? Apakah masih ditandai ‘darah’ pengurbanan? Apa pesan Yesus sebelum Ia naik ke Surga? Supaya para pe-mimpin rohani bertekun dalam doa hingga mereka penuh dengan Roh Kudus. Mereka juga menerima berkat tak berkesudahan serta dikuatkan untuk menginjil ke seluruh dunia.

Marilah kita menghargai Firman Allah dan memahami betapa panjang, lebar, tinggi dan dalamnya kasih Kristus (Ef. 3:18). Harus diakui manusia tidak mempunyai kasih; untuk itu Ia memberikan kasih-Nya kepada kita sehingga kita mampu mengasihi sesama.

Terbukti Injil memiliki kuasa menjadikan kita, bangsa kafir, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus (Ef. 3:6). Hendaknya kita termotivasi untuk memberitakan Injil karena ladang Indonesia masih luas dan banyak warga Indonesia belum/tidak mengenal Allah yang hidup.

Bila kita menyumbangkan darah di PMI (Palang Merah Indonesia) puluhan kali, kita akan menerima penghargaan; sebaliknya, Yesus memberikan darah-Nya demi keselamatan manusia berdosa namun yang diperoleh-Nya malah caci maki bernada penolakan. Kapan kita ‘menolak’ Dia? Jika kita malas dan bosan membaca Alkitab serta melecehkan Perjamuan Tuhan. Yesus menjadi teladan sempurna, Ia berani dan rela menanggung risiko mati disalib untuk menjadi Juru Selamat manusia dan kebangkitan-Nya dari kematian membuktikan Dia Anak Allah.

Jelas sekarang, kita harus tetap berpegang hanya pada Injil salib Kristus. Oleh pengurbanan darah-Nya, kita (bangsa kafir) diselamatkan → Pelataran

Setelah ditebus oleh darah Yesus, kita yang dahulu tercerai-berai sekarang menjadi satu Tubuh Kristus itulah Bait Allah kudus → Tempat Kudus berlanjut kepada Tempat Mahakudus untuk beroleh janji tinggal bersama Kristus, Kepala dari tubuh sekaligus Mempelai Pria Surga, di Yerusalem baru selamanya. Amin.