Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Merespons Undangan Perjamuan Kerajaan Allah

MERESPONS UNDANGAN PERJAMUAN KERAJAAN ALLAH
Lukas 14:1-24
Lemah Putro
14-11-2021
Bapak Hari Gunawan
Lihat Video Ibadah: KLIK DISINI
Scan QR untuk membaca di perangkat lain:

Shalom,

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menerima undangan dari seseorang entah undangan untuk ulang tahun, syukuran, pernikahan dll. Adapun responsnya bermacam-macam, antara lain: bersukacita diundang karena merasa dianggap orang penting apalagi kalau si pengundang adalah orang terhormat; ada yang bingung mau datang atau tidak sebab tidak tahu mau memberi kado apa, pakaian apa yang dipakai dll.; ada pula yang cuek karena lebih sibuk dengan urusan bisnisnya dst.

Bagaimana dengan perasaan si pemberi undangan itu sendiri? Tentu dia sangat mengharapkan tamu yang diundang (keluarga dekat, kerabat, teman) bersedia dan menyempatkan waktu untuk datang ke pestanya.
Injil Matius lebih sering menggunakan istilah Kerajaan Surga; baik Kerajaan Allah maupun Kerajaan Surga memiliki makna sama.

Kalau seseorang mengundang tamu untuk hadir di pestanya, tentu dia sangat mengharapkan tamu undangan menghargai undangan tersebut. Namun apa reaksinya ketika tamu itu tidak menghargai undangannya kemudian tidak datang? Si pengundang tidak dapat berbuat apa-apa kecuali mengelus dada atau marah dan tersinggung mengapa tidak datang.

Bagaimana sikap dari tuan rumah di Lukas 14 ini ketika undangannya ditolak dengan banyak alasan (ay. 18-20)? Ia menjadi murka kemudian menyuruh orang-orang seadanya (miskin, cacat, buta, lumpuh) bahkan memaksa semua orang di jalan dan lintasan untuk datang ke pesta (ay. 21,23).

Perhatikan, bukankah Allah memberikan undangan panggilan bagi manusia berdosa untuk datang kepada-Nya agar beroleh keselamatan dari-Nya? Tentu panggilan-Nya tidak dalam bentuk paksaan secara fisik tetapi melalui Injil (good tidings = kabar baik). Jadi Injil merupakan undangan dari Allah bagi orang berdosa agar mereka percaya kepada Yesus. Injil merupakan perintah untuk datang kepada-Nya juga berita pengampunan dosa melalui pengurbanan Yesus sekaligus mengandung ancaman bagi mereka yang menolak dan desakan untuk percaya kepada Yesus agar beroleh keselamatan.

Apa respons kita kalau Pemilik Kerajaan Allah mengundang kita untuk hadir dalam pesta yang diadakan-Nya? Lukas 14:1-24 menuliskan adanya beberapa sikap yang harus diambil untuk merespons undangan dari-Nya, yakni:

•    Harus memahami dan mengalami Sabat (ay. 1-6)

Pada suatu Sabat Yesus diundang oleh pemimpin orang Farisi makan di rumahnya. Undangan ini bersifat “khusus” dalam arti begitu Ia masuk, semua mata mengamat-amati- Nya dengan saksama untuk mencari kesalahan yang akan diperbuat-Nya.

Hari Sabat menjadi pintu masuk orang-orang Farisi, ahli Taurat, imam kepala untuk menyalahkan Yesus dalam perjalanan pelayanan-Nya. Mengapa mereka selalu mencari kesalahan Yesus di hari Sabat? Sebab mereka mensakralkan hari Sabat sebagai salah satu hukum Taurat yang mana tidak boleh ada kegiatan apa pun dilakukan di hari itu. Mereka mengacu pada sejarah hari Sabat ketika Allah berhenti berkarya dalam penciptaan di hari ketujuh (Kej. 2:3; Kel. 20:10). Masalahnya, Yesus dan murid-murid-Nya sering melakukan kegiatan fisik di hari Sabat dan ini dianggap suatu pelanggaran bagi mereka padahal Sabat sesungguhnya yang dimaksud Yesus ialah perhentian di dalam Dia dan perjumpaan pribadi dengan-Nya untuk mengalami ketenangan/kedamaian dan kelegaan. Semua Sabat dalam Perjanjian Lama sudah digenapi oleh Yesus, Anak Manusia, yang adalah Tuhan atas hari Sabat (Mat. 12:8) dan wujud Sabat sesungguhnya ialah Kristus (Kol. 2:16-17). Itu sebabnya Yesus tidak begitu mementingkan Sabat/perhentian fisik seperti yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli Taurat.

Saat ini Tuhan mengizinkan dunia mengalami pandemi COVID selama hampir 2 tahun dimulai dari penyebarannya dan kita mengalami “Sabat jasmani” karena berhenti beribadah on site dengan tidak datang ke gereja juga tidak lagi ada pelayanan padat seperti yang biasa dilakukan. Dengan lewatnya waktu akhirnya Tuhan melalui pemerintah memberikan izin beribadah kembali walau dengan prokes ketat. Tuhan menghendaki kita merespons undangan ibadah tatap muka untuk merasakan kembali suasana Kerajaan-Nya. Upayakan datang ke gereja bukan malah malas karena sudah terbiasa ibadah online di rumah oleh sebab kenyamanan menyangkut waktu, tenaga, uang!

Dalam perikop ini dikisahkan tentang orang sakit busung air yang berdiri di hadapan Yesus. Apa itu busung air? Penimbunan cairan di rongga perut akibat penyakit sirosis/kanker hati, jantung, gagal ginjal sehingga tampak perutnya membesar dan pasti tidak nyaman serta mengganggu penampilan!

Sebelum disembuhkan oleh-Nya, Yesus bertanya kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi apakah diperbolehkan menyembuhkan orang pada hari Sabat. Setelah itu Ia menyembuhkan orang itu dan menyuruhnya pergi. Dapat dibayangkan betapa sukacita dan lega serta damainya orang yang bebas dari penderitaan busung air tersebut!

Jadi makna Sabat sesungguhnya ialah kita mengalami perhentian dalam damai sejahtera (Rm. 14:17). Sudahkah kita memahami arti Sabat dan mengalaminya? Apa tanda kita mengalami Sabat? Hati ada damai sejahtera, sikap dan penampilan kita tidak menjadi sandungan bagi orang lain juga Sabat dalam perkataan artinya berhenti mengatakan hal- hal negatif seperti reaksi orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang bungkam tidak sanggup membantah Yesus (ay. 4). Jangan hati dan mulut mudah menghakimi orang lain tetapi keluarkan perkataan-perkataan membangun yang menjadi berkat!

•    Hidup dalam kerendahan hati (ay. 7-11)

Melalui perumpamaan undangan pesta perkawinan, Yesus mengingatkan agar tamu undangan tidak gila/menuntut hormat (Gal. 5:26). Sebaliknya, kita harus rendah hati dan belajar menekan ego sendiri untuk tidak mempermalukan orang lain.

•    Memerhatikan kaum yang lemah (ay. 12-14)

Yesus mengingatkan tuan rumah yang mengundang-Nya untuk mengundang orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan buta. Dengan mengundang mereka yang tidak mempunai apa-apa untuk membalas, tuan rumah itu berbahagia dan akan mendapat balasan pada hari kebangkitan orang-orang benar.

Aplikasi: kita ada semangat berbagi tanpa memandang bulu. Dengan memerhatikan mereka yang lemah, kita berbahagia dan Tuhan sendiri yang membalasnya pada hari kebangkitan bahkan saat ini kita mengalami kebahagiaan sebab lebih berbahagia memberi daripada menerima (Kis. 20:35).

•    Menghargai undangan dan menggunakan kesempatan yang diberikan (ay. 15-24)

Ketika Yesus sedang berbicara tentang siapa yang diundang dalam perjamuan, tiba-tiba ada seorang tamu menyeletuk, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Langsung Yesus merespons dengan memberikan perumpamaan tentang undangan perjamuan besar dan mengundang banyak orang tetapi semua yang diundang tidak hadir dengan mengemukakan banyak alasan (baru membeli ladang, baru membeli lembu, baru kawin). Tentu undangan tidak disebarkan dengan mendadak tetapi sudah ada pemberitahuan jauh-jauh hari sebelumnya agar tamu yang diundang “save the date”. Menjelang pesta, undangan disebarkan untuk konfirmasi kedatangannya namun ternyata para undangan menolak untuk hadir. Kemudian diundanglah kelompok orang miskin, orang cacat, orang buta, orang lumpuh bahkan orang-orang di jalan dan lintasan dipaksa ikut masuk dalam perjamuan itu.

Kesimpulan, ternyata bukan hanya orang yang sibuk kerja atau ada urusan yang menolak hadir tetapi orang-orang di dalam kelemahan, kekurangan dan keterbatasan juga bisa menolak undangan perjamuan Tuhan. Perhatikan, Tuhan tidak mau orang lemah memanfaatkan kelemahannya untuk menolak undangan-Nya. Kalau mereka menyia-nyiakan kesempatan itu, orang lain akan mengisi dan menggantikan tempat mereka untuk menikmati jamuan-Nya. Dan konsekuensi orang yang menolak undangan-Nya ialah mereka tidak akan dapat masuk dalam Kerajaan Allah.

Aplikasi: hendaknya kita tidak menolak undangan Tuhan masuk dalam Kerajaan-Nya dengan alasan apa pun – kesibukan bisnis, urusan pribadi, kekurangan dan kelemahan dst.
– agar satu kali kelak kita tidak ditolak masuk dalam perjamuan kawin Anak Domba untuk menjadi Mempelai Perempuan-Nya (Why. 19:9).

Marilah kita merespons undangan perjamuan Kerajaan Allah dengan menerima Injil keselamatan untuk menikmati Sabat/perhentian dalam damai sejahtera dan satu kali kelak menikmati perjamuan besar perkawinan anak Domba serta tinggal bersama Pengantin Pria Surga dalam Kerajaan-Nya selamanya. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account