Kelegaan di dalam Kesesakan

KELEGAAN DI DALAM KESESAKAN
Mazmur 4
Lemah Putro
24-07-2022
Pdm. Setio Dharma Kusuma
Lihat Video Ibadah: KLIK DISINI
Scan QR untuk membaca di perangkat lain:

Shalom, 

Pernahkah kita berada di satu titik di mana kita mengikut dan melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh tetapi yang diterima malah cemooh. Kita merasa sudah berbuat baik kepada Tuhan tetapi orang-orang di sekitar kita dan komunitas gereja menganggap pekerjaan kita tidak ada artinya bahkan menjadikannya bahan omongan dan olokan serta senda gurau yang tidak ingin kita dengar sehingga kita memutuskan pindah gereja untuk melegakan kita. Apakah ini merupakan jalan keluar yang baik? 

Raja Daud pernah mengalami masa kesesakan dan apa yang dilakukannya? Dia menulis mazmur diiringi permainan kecapi dengan judul “Doa pada malam hari” (Mzm. 4). Pengertian apa dari ayat-ayat tersebut yang kita peroleh untuk mendapatkan kelegaan di dalam kesesakan? Bila di masa itu adalah Daud memperoleh kelegaan menghadapi kesesakan, sekarang siapa yang dapat memperoleh kelegaan yang sama seperti yang dialami Daud?

  • Kehidupan yang dibenarkan oleh Allah (ay. 2)

“Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!” 

Ketika berseru dalam doa, Daud sama sekali tidak menonjolkan kebenarannya tetapi menekankan Allah yang membenarkan dia. Dia ingat bukan pribadinya yang benar tetapi karena Allah yang membenarkannya. 

Bagaimana kita dibenarkan oleh Allah? Kita diselamatkan dan dibenarkan dengan beriman kepada Kristus Yesus (Ef. 2:8) yang telah berkurban mati bagi kita.

Apakah beriman saja itu cukup? Matius 7:16 menuliskan “dari buahnya kita mengenal seseorang” berarti iman harus disertai dengan tindakan/perbuatan (Yak. 2:17). Memang kebenaran bukan dari diri kita tetapi orang dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya bukan hanya karena iman (ay. 24). Dengan kata lain, kebenaran datang dari Kristus melalui iman tetapi ada buah yang diminta.

Buah (perbuatan) apa yang diminta? Melakukan kehendak Bapa Surgawi (Mat. 7:21). 

Introspeksi: bila kita dalam kesesakan, periksa diri apakah kita sudah beriman kepada Tuhan dan melakukan kehendak-Nya sebagai perbuatan iman? 

Dalam pengajaran Tabernakel, kita memahami:

Pintu Gerbang → Yesus satu-satunya jalan keselamatan sebagai Juru Selamat dan kita beriman kepada-Nya. Mazbah Kurban Bakaran → Yesus adalah kurban persembahan yang sempurna untuk pengampunan dosa. Pintu Kemah → Kepenuhan Roh Kudus.

Di Tempat Kudus ada 3 perabot (Kandil Emas, Meja Roti Sajian, Mazbah Pembakaran Ukupan) → menjadi terang saksi Kristus, persekutuan dengan Firman Tuhan, Doa/penyembahan. Bila tiga perabot ini menggambarkan tiga macam ibadah – Ibadah Minggu Raya, Ibadah Pendalaman Alkitab, Ibadah Doa. 

Pertanyaan: di mana perbuatan imannya? Apakah hanya saat berada di dalam tiga macam ibadah saja? 

Tentu penafsiran menjadi tiga macam ibadah tidaklah salah tetapi ketika kita beriman kepada Kristus dan mengakui-Nya sebagai satu-satunya Juru Selamat maka dorongan untuk selalu memikirkan Juru Selamat pasti ada kapan pun tanpa dibatasi oleh tiga macam ibadah. Kesaksian: seorang ibu muda berkeyakinan lain menonton film Passion of Christ tentang kematian Yesus. Dia terdiam dan meneteskan air mata karena terharu melihat ada orang ketika mau disalib masih mau menolong musuhnya dengan menyembuhkan telinga yang diparang oleh murid-Nya. Juga menderita hebat hingga mati bukan karena kesalahan sendiri tetapi untuk orang lain. Di sini terlihat cara Tuhan memanggil orang untuk mengenal-Nya. Ibu ini makin tergerak untuk mencari tahu siapa Orang di film tersebut. Dia kemudian membeli buku dan pada akhirnya dia mengaku kepada keluarganya bahwa dia ingin menjadi orang Kristen. Akibatnya keluarganya yang non-Kristen marah dan menolak dia. Ibu ini dipakai Tuhan dengan pelbagai cara, dengan masih berhijab dia menyanyikan lagu-lagu rohani dan saat Natal dia memasang pohon Natal. 

Siapa yang mendorong ibu ini percaya kepada Yesus? Ketika mendengar Injil keselamatan dan percaya, dia dimeteraikan dengan Roh Kudus (Ef. 1:13). Jelas ada peran Roh Kudus yang membuat ibu ini percaya kepada Tuhan. Jika dikaitkan dengan pengajaran Tabernakel, Pintu kemah menunjukkan peran dari Roh Kudus. Apa artinya? Jangan kebenaran dikotak-kotakkan karena dapat menimbulkan “penghakiman” yang menyudutkan seseorang masih berada di Pelataran sementara yang lain berada di Tempat Kudus karena mengikuti tiga macam ibadah. Bukankah Roh Kudus sudah berperan sejak di Pintu Gerbang saat orang percaya kepada Yesus? Ibu ini menetapkan diri untuk dibaptis berarti dia mendeklarasikan pertobatannya dalam Bejana Pembasuhan. Terbukti ibu ini menjalankan perbuatan-perbuatan iman dengan nyata. 

Jelas perbuatan iman dapat dilakukan dalam keseharian hidup supaya buahnya terlihat. Tiga perabot di dalam Tempat Kudus harus tampak buahnya – ada persekutuan dengan Firman Allah dengan membaca Alkitab setiap hari, rindu menjadi terang dan senantiasa ada kehidupan doa. Tindakan/perbuatan iman ini tidak dapat dikotak- kotakkan atau berhenti hanya pada tiga macam ibadah.

  • Kehidupan yang dipilih oleh Allah (ay. 4).

“Ketahuilah bahwa TUHAN telah memilih bagi-Nya seorang yang dikasihi-Nya; TUHAN mendengarkan apabila aku berseru kepada-Nya.” 

Bicara tentang pemilihan berarti ada pemisahan di dalamnya. Contoh: ketika Harun dari suku Lewi dipilih Tuhan menjadi imam besar bagi bangsa Israel, Tuhan memperlakukan suku Lewi beda dari 11 suku lainnya. Suku ini tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama orang Israel (Ul. 18:1). Bukankah ini berarti suku Lewi dipisahkan dari suku-suku lainnya? 

Apakah kita juga dipilih oleh Tuhan? Tuhan memilih kita supaya kita menghasilkan buah dan apa yang kita minta kepada Bapa dalam Nama-nya akan diberikan kepada kita (Yoh. 15:16). Ayat ini mempunyai pernyataan yang sama dengan Mazmur 4:4. 

Memang kita masih hidup di dunia ini tetapi kita dipilih/dipisahkan dari dunia. Tentu kehidupan yang dipilih adalah kehidupan yang dibenarkan juga (Rm. 8:29-30). Jadi, pemilihan harus siap dengan pemisahan. Dipisahkan dari apa? Dari cemooh dan kebohongan yang membuat kita sesak seperti dialami oleh Raja Daud. Misal: kita sudah serius dalam pelayanan tetapi masih saja dicaci maki bahkan digosipkan membuat kita sesak rasanya.

Mengapa kesesakan ini dikaitkan dengan pelayanan? “Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku dinodai,” (Mzm. 4:3).

Kita beroleh kemuliaan bukan karena kepandaian atau kekayaan karena banyak orang di luar Tuhan lebih kaya dan pandai tetapi kita dimuliakan ketika dilayakkan melayani Tuhan. Siapa orang-orang yang menodai kemuliaan kita? Bisa orang-orang yang mempunyai pengaruh atau kekuasaan atau orang-orang luar dll. Dapat dibayangkan kalau kita sudah berbuat benar, mengomunikasikan dengan benar tetapi mereka tetap tidak bisa menerima? Akibatnya terjadilah pemisahan. Kita tidak perlu berdebat panjang untuk membela diri, tunjukkan buahnya saja yang tentu bukan dari kuat dan gagah kita tetapi dengan pertolongan Tuhan. 

Bagaimana mungkin orang yang dikasihi Tuhan, dibenarkan dan dipilih oleh-Nya diizinkan mengalami kesesakan? Setiap orang yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salibnya setiap hari (Mrk. 8:34). 

Mengapa kita harus memikul salib tiap hari? Karena kita masih hidup dalam daging yang mempunyai banyak keinginan yang tidak pernah terpuaskan. Oleh sebab itu jangan mengejar keinginan duniawi tetapi persiapkan diri menjadi pribadi yang berbuah saat Tuhan datang untuk layak masuk dalam pernikahan Anak Domba. 

Raja Daud mengingatkan kita boleh marah tetapi jangan berbuat dosa (ay. 5). Tentu suami-istri bisa berbeda pendapat/’cekcok’ tetapi jangan berlanjut hingga cerai; jangan anak melawan orang tua hingga menjadi anak durhaka. Waspada, dalam kondisi marah yang meledak-ledak, ada potensi kita memberi kesempatan Iblis masuk (Ef. 4:26-27). Bukankah sering terjadi karena marah yang tak terkendali membuat mata gelap dan berakhir dengan pembunuhan? 

  • Kehidupan yang mempersembahkan kurban yang benar dan percaya kepada Tuhan (ay. 6).

Memang Raja Daud tidak pernah menikmati Bait Suci tetapi dia mempersiapkan semua bahan bangunan Bait Suci untuk didirikan oleh anaknya, Salomo. Dia meninggal sebelum Bait Suci itu berdiri. Dia tidak diizinkan membangun Bait suci sebab dia telah banyak menumpahkan darah (1 Taw. 22:7-8). Dengan demikian, “persembahkan korban yang benar” lebih banyak berbicara tentang konsep Tabernakel Musa bukan Bait Suci. 

Persembahan kurban yang benar di era Tabernakel ialah persembahan lembu tidak bercela sebagai kurban penghapus dosa (Im. 4:3) dan ini digenapi di dalam Kristus yang membawa darah-Nya sendiri (Ibr. 9:11-14). 

Aplikasi: hendaknya kita senantiasa mengaitkan diri dengan kurban Kristus yang mampu menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia agar kita dapat beribadah (latreuo = serve = melayani) kepada Allah yang hidup (Ibr. 9:14).

Rasul Paulus menasihati supaya kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup karena ini adalah ibadah (latreia = service = pelayanan) yang sejati (Rm. 12:1). 

Bukti bahwa kehidupan kita terkait dengan kurban Kristus ialah kita mempersembahkan tubuh ini sebagai persembahan yang kudus. Tindakan apa yang harus kita lakukan? Kita harus berani tampil beda, tidak serupa dengan dunia ini dengan pembaruan budi sehingga kita dapat membedakan mana kehendak Allah, yang baik dan yang berkenan bagi-Nya (Rm. 12:2). 

Yakinkan bahwa kita dipilih Allah, dibenarkan oleh-Nya untuk menghasilkan perbuatan-perbuatan iman sebagai buah pertobatan. Kita mengalami pembaruan akal budi/pikiran dan mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan kurban yang benar dan berkenan di hadapan-Nya. Dengan demikian kita akan mengalami kelegaan di dalam kesesakan dan sukacita yang diperoleh melebihi kekayaan jasmani. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account