'Bersyukur atas Karunia Keselamatan-Nya'

BERSYUKUR ATAS KARUNIA KESELAMATAN-NYA
Mazmur 18
Johor
06-11-2022
Pdm. Jusak Pundiono
Lihat Video Ibadah: KLIK DISINI
Scan QR untuk membaca di perangkat lain:

Shalom, 

Ada himbauan melalui WA bahwa sakit penyakit tidak hanya ditentukan oleh pola makan tetapi juga oleh pola pikir dan hati kita. Untuk itu dianjurkan supaya kita memperbanyak doa dan ucapan syukur, melembutkan hati, mengikhlaskan semua yang terjadi dan menikmati kebahagiaan sekecil apa pun. Kalau dunia dapat memberi saran demikian, Firman Tuhan telah memberitahu kita ribuan tahun lalu. Oleh sebab itu ada Kitab Mazmur supaya kita memperkecil bersungut-sungut dan memperbanyak ucapan syukur. 

Daud juga mempunyai pengalaman keselamatan bersama TUHAN menghadapi semua musuh. Dia kemudian menggubah lirik puitis Mazmur 18 dan kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk merenungkan jawabnya:

  • Mengapa bersyukur atas karunia keselamatannya (ay. 1b-3)

“pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari tangan Saul. Ia berkata: "Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku! Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” 

Daud mengalami perjalanan iman dan kasih bersama Tuhan. Secara fisik, Daud pernah berlindung di gunung batu menghadapi kejaran Saul namun imannya menyatakan dia berlindung di dalam Tuhan sebagai Gunung Batunya. Secara fisik Daud menggunakan perisai dalam berperang tetapi dalam iman dia menjadikan Tuhan perisainya. Juga saat melarikan diri dari Raja Saul, imannya menjadikan Tuhan sebagai kota benteng. 

Harus diakui dalam menyelesaikan persoalan hidup, tidak semuanya dapat kita selesaikan sendiri, ada hal-hal yang tidak terjangkau oleh karena ketidakmampuan kita tetapi kita harus meyakini dengan iman bahwa Tuhan pasti menyelesaikannya bagi kita. Kalaupun kita beroleh jalan keluar dalam bentuk apa pun, iman kita tetap mengatakan bahwa semuanya itu karena Tuhan.

Mazmur 18 ini sejajar liriknya dengan 2 Samuel 22:3, “Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan.” Bahasa puitis apapun yang ditulis Daud, berkaitan dengan keselamatannya oleh sebab Allah adalah Juru Selamat pribadinya. 

Istilah tanduk keselamatan berkaitan dengan tanduk-tanduk di Mezbah Kurban Bakaran di Tabernakel yang mana tanduk-tanduk tersebut diolesi dengan darah binatang-binatang kurban. Ketika seseorang ingin menyelamatkan nyawanya karena bersalah, dia dapat datang dan memegang tanduk-tanduk tersebut seperti dilakukan oleh Adonia dengan syarat bersikap kesatria, jujur, terbuka dan mengaku dosa (1 Raja. 1:50-53). 

Aplikasi: memang tidak ada lagi tanduk pada Mezbah kurban Bakaran di Perjanjian Baru tetapi kita telah diselamatkan oleh kekuatan kurban Kristus. Hendaknya kita senantiasa mensyukuri karunia keselamatan dari Allah Bapa yang menyerahkan Putra Tunggal-Nya demi manusia berdosa. Kita masih dapat mengucap syukur di kala kehilangan orang yang kita kasihi, kehilangan harta, kesehatan, harga diri dst. oleh sebab Tuhan Juru Selamat kita. Keselamatan adalah tanduk kekuatan yang harus kita pegang teguh dengan sikap kesatria. Darah-Nya sudah melepaskan kita dari dosa membuat hati nurani menjadi baik sehingga kita dapat bersikap kesatria dan jujur di hadapan Tuhan. Perhatikan, Tuhan menyelamatkan kita tidak hanya untuk waktu-waktu lalu tetapi juga untuk waktu sekarang dan waktu yang akan datang. 

  • Kapan bersyukur atas karunia keselamatan-Nya (ay. 4-7a).

Terpujilah TUHAN, seruku; maka aku pun selamat dari pada musuhku. Tali-tali maut telah meliliti aku dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku. Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong.” 

Kapan kita bersyukur akan karunia keselamatan? Saat kita menghadapi persoalan; semua ini karena iman sebab adanya memori perjalanan iman kita bersama Tuhan, Juru Selamat, yang tidak boleh dilupakan. Saat menghadapi persoalan, marilah kita mengandalkan Tuhan sama seperti di saat kritis dan nyawa terancam, Daud hanya mengutarakan perkataan iman kepada Tuhan. Separah apa pun masalah kita, jika kita tetap percaya dan berseru kepada Tuhan, kita akan mengalami kedahsyatan pertolongan-Nya. 

Bagaimana Daud menggambarkan pertolongan Tuhan? Ketika Tuhan melihat seorang yang percaya dan mengasihi- Nya diganggu oleh persoalan berseru minta tolong, Ia murka kepada mereka yang menimbulkan persoalan kepadanya. Oleh sebab itu saat menghadapi persoalan, jangan kita mencoba mengatasi dengan kemampuan sendiri tetapi berseru mita pertolongan dari-Nya. 

Kenyataannya, manusia ditandai dengan dosa yang menyebabkan kelemahan tubuh/fisik juga langit dan bumi ini dirusak manusia sejak zaman Nuh menyebabkan terjadinya perkembangbiakan virus dan bakteri jahat bahkan mematikan. Kita tidak mampu menghadapi semua masalah ini kecuali bersyukur dan berseru meminta tolong kepada Allah semesta alam maka Ia akan menolong kita pada waktunya dengan segala kedahsyatan-Nya bagai mengguncangkan alam semesta (ay. 8-16). Kalaupun Tuhan belum menolong, Ia akan memberi kekuatan agar kita mampu menghadapi percobaan. Perhatikan, pencobaan yang menimpa tidak melebihi kekuatan kita sebab Allah itu setia dan adil. Ia akan menyelesaikan pencobaan itu pada waktu-Nya. 

Saat kita merasa disudutkan oleh pencobaan dan persoalan sepertinya kita diletakkan pada suatu tempat sempit sehingga kita tidak mampu bergerak dengan leluasa, Tuhan menjangkau kita dari tempat tinggi dan menempatkan kita di tempat yang lapang oleh sebab Ia berkenan kepada kita (ay. 20). 

  • Siapa yang bersyukur atas karunia dan keselamatan (ay. 20b-30).

Daud menyatakan diri sebagai hamba TUHAN (ay. 1), status yang dibuktikan karena setia mengandalkan Tuhan justru saat menghadapi pencobaan dan masalah. 

Introspeksi: sudahkah kita berposisikan sebagai hamba Tuhan yang setia di dalam pelayanan? Jika belum, setialah beribadah dan layani Tuhan justru saat persoalan menimpa. Bukankah Yosua awalnya disebut abdi Musa (Yos. 1:1) kemudian meningkat statusnya menjadi hamba Tuhan setelah melewati peperangan dengan mengandalkan Dia (Yos. 24:29)? Jujur, tidak ada seorang pun dari kita berani mengatakan “hidup kita benar dan tangan kita kudus” tetapi kita masing-masing sedang dalam progres hidup benar nan kudus agar diperkenan oleh-Nya. Didikan anak- anak di rumah untuk hidup benar dan kudus menjadi bekal mereka di kemudian hari untuk tidak terjatuh pada dosa kenajisan dan kejahatan.

Lebih lanjut Daud mengatakan, “Aku mengasihi (bhs. Ibr. Raham berbentuk Qal Imperfek: belum selesai mengasihi; bhs Yun./LXX. Agapao berbentuk Futur Aktif Indikatif: aku akan terus menerus mengasihi) Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!” (ay. 2). Jadi Daud bergumul terus menerus agar makin meningkat dalam mengasihi Tuhan hingga agapao terhadap-Nya dan statusnya sebagai hamba Tuhan tidak goyah. 

Marilah kita tetap meningkatkan kebenaran, kekudusan, kesetiaan dalam beribadah dan melayani Tuhan, meningkatkan kasih kita hingga kita agapao kepada-Nya. Peningkatan ini penting dan mutlak bagi kita untuk mengingat siapa Allah itu. Perlu diketahui Tuhan mengizinkan adanya persoalan dan pergumulan untuk meningkatkan kerohanian kita, membuat kita kuat dan dewasa sehingga kita dapat mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan, segenap jiwa dan segenap akal budi kita. 

  • Bagaimana dapat bersyukur atas kasih karunia keselamatan (ay. 31-40).

“Adapun Allah, jalanNya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya. Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita?” 

Kita perlu mengingat siapa Allah kita, IA adalah Allah adalah satu-satunya Pribadi yang kita sembah, tidak ada Allah lain di hadapan-Nya. Dengan kata lain, tidak ada pemberhalaan atau opsi dan cadangan dalam menyelesaikan masalah sebab ini sama dengan merendahkan Tuhan dan tidak menjadikan Dia satu-satunya Tuhan, satu-satunya gunung batu, satu-satunya perisai, satu-satunya kota benteng dan satu-satunya Juru Selamat. 

Daud hanya memiliki Taurat dan mengakuinya sebagai jalan Allah yang sempurna dan janji-Nya murni (bnd. 2 Sam. 22:31). Apalagi kita sekarang memiliki Alkitab yang utuh – Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Marilah kita tekun membaca Alkitab oleh karena janji-janji Tuhan yang luar biasa. Firman-Nya yang tertulis adalah satu-satunya perlindungan Allah kepada kita. 

Setelah menyelamatkan, Allah memberi kita perisai keselamatan dan tangan kanan-Nya menyokong kita (ay. 36) → Roh Kudus (Kis. 2:33) yang dimeteraikan atas kita setelah kita diselamatkan untuk menyokong langkah-langkah kita dan memimpin kita kepada kebenaran Firman. 

Janji-Nya yang murni – Firman yang lengkap dan utuh – juga Roh Kudus memimpin kita untuk dapat memahami setiap janji-Nya yang sempurna, memahami kehendak-Nya serta memahami jalan keluar yang dinyatakan melalui Firman setiap kali kita menghadapi persoalan. 

Daud memaparkan lebih jauh bahwa bagian-bagian tubuh seperti pinggang, kaki, lengan, mata kaki diberi kekuatan oleh Allah (berpusat pada kurban Kristus, Roh Kudus dan Firman) untuk berperang (ay. 31-40). Apa yang perlu kita perangi?

♦ Kita berperang mengatasi kelemahan-kelemahan rohani karena kurban Kristus telah membenarkan dan menguduskan kita hingga kita kelak tidak bercacat cela untuk bersekutu dengan-Nya dalam kasih sempurna (agape).

♦ Kita berperang melawan persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh “musuh-musuh yang mengaku beragama” tetapi hidup mereka tidak benar, tidak kudus, tidak setia, berbelat-belit (ay. 41-42). Daud berperang melawan Saul yang “beragama”, bangsa Filistin, Amalek dan Tuhan membela dia.

Kalau kita hidup lurus di hadapan Tuhan dan rajin beribadah serta setia melayani-Nya, Tuhan akan menguatkan dan membela kita untuk memenangkan perkara kita. 

  • Apa harapan dalam bersyukur atas karunia keselamatan (ay. 44-46).

“Engkau meluputkan aku dari perbantahan rakyat; Engkau mengangkat aku menjadi kepala atas bangsa-bangsa; bangsa yang tidak kukenal menjadi hambaku; baru saja telinga mereka mendengar, mereka taat kepadaku; orang- orang asing tunduk menjilat aku. Orang-orang asing pucat layu dan keluar dari kota kubunya dengan gemetar.” 

Tuhan membuat kita lebih dari pemenang oleh Kristus yang mengasihi kita (bnd. Rm. 8:37-39). Kapan? Ketika Dia datang kedua kali sebagai Raja di atas segala raja dan Tuan atas segala tuan. Kita mengalami kemenangan demi kemenangan (ay. 47-51) bersama Roh Kudus dan Firman Kristus menaklukkan musuh-musuh bahkan Iblis dan maut dikalahkan-Nya untuk membawa kita menjadi hakim-hakim, raja dan imam dalam kerajaan seribu tahun damai. 

Sungguh kita patut bersyukur atas karunia keselamatan-Nya oleh sebab hanya Tuhan satu-satunya Juru Selamat kita yang mampu menolong kita pada saat kesesakan mengimpit hidup kita. Kita juga berpegang pada Firman-Nya yang menjanjikan kita menjadi lebih dari pemenang bahkan menjadi imam dan raja untuk memerintah bersama-Nya di dalam Kerajaan-Nya. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account