Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Pengenalan Yang Benar Terhadap Allah

Pengenalan Yang Benar Terhadap Allah

Pdt. Paulus Budiono, Minggu, Lemah Putro 11 Maret 2018

Shalom,

Harus diakui, setiap orang haus akan cinta; terbukti puisi, lagu, film dan buku-buku cerita yang ditulis selalu berbau cinta; tak terkecuali lagu-lagu yang dinyanyikan di gereja juga berbicara tentang cinta. Apakah cinta yang dicetuskan dalam lagu-lagu gereja bermakna sama dengan lagu-lagu cinta pada umumnya? Kalau sama maka ibadah kita hanyalah sekadar agama dan khotbah yang disampaikan melalui mimbar merupakan penjelasan filosofi manusia belaka.

Bagaimana penjelasan Alkitab – Firman Tuhan – tentang kasih/cinta? Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:8,16). Allah Sang Pencipta di dalam Tuhan Yesus Kristus adalah kasih maka apa pun yang Dia katakan dan lakukan selalu berbau kasih. Dengan kata lain, di dalam Dia tidak ada kebencian, kebohongan, kegelapan yang menimbulkan kekecewaan, kegeraman, kesedihan, keputusasaan dst.

Rasul Paulus memiliki hubungan intim dengan Tuhan, Sumber kasih, dan mempraktikkan kasih terhadap jemaat-jemaat (termasuk jemaat Efesus) yang dibimbingnya dengan selalu mengucap syukur kepada Tuhan dan mengingat mereka dalam doa (Ef. 1:15-16). Lebih lanjut apa yang dimintanya kepada Tuhan? “dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut bukan hanya di dunia ini saja melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (ay.17-23)

Dari ayat-ayat di atas, Rasul Paulus ingin menekankan:

 

  • Betapa besar pengharapan yang terkandung dalam panggilan-Nya.
  • Betapa kaya kemuliaan dari bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus.
  • Betapa hebat kuasa-Nya bagi kita sehebat kuasa untuk membangkitkan Kristus.

Kita harus terlebih dahulu mengenal Pribadi Tuhan untuk dapat mengerti pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan-Nya. Bukankah kita telah dipilih sebelum dunia dijadi-kan (Ef. 1:4)? Dapatkah dibayangkan kita sudah dipilih saat dunia belum ada dan semua dalam kondisi kosong/nol? Juga logikanya, seseorang/sesuatu dipilih karena dapat meng-hasilkan manfaat/keuntungan bagi pemilihnya. Apakah kita memenuhi kriteria yang men-janjikan? Sama sekali tidak. Lalu siapa yang memilih? Allah, Sang Pencipta, yang mampu menjadikan dari mustahil/tidak ada menjadi tidak mustahil/ada (Yer. 32:17,27).

Siapa kita yang telah ‘dipilih dan disimpan’ lebih dahulu oleh Allah baru kemudian Ia menciptakan langit dan bumi dilengkapi dengan penciptaan manusia di hari terakhir (ke-6)? Binatang-binatang di udara, di air dan di darat diciptakan melalui Firman yang dikatakan Allah (Kej. 1:1-25) tetapi manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah Tritunggal (ay. 26) dari debu tanah (Kej. 2:7) supaya kita hidup kudus tidak bercacat di hadapan-Nya (Ef. 1:4). Jangan pernah lupa, setinggi apa pun jabatan/kedudukan kita, sekaya apa pun harta yang kita miliki, sehebat bagaimanapun otak kita dan secakap/cantik bagaimanapun rupa kita, kita akan kembali ke debu tanah. Ketika Ayub (yang hebat kekayaan dan pengetahuannya) dalam penderitaan, dia hebat pula berdebat saat meng-hadapi tiga sahabatnya (Ay. 6 – 31) karena dia belum/tidak mengenal Allah secara pribadi. Dia bahkan mengeluh apa maksud dan untungnya Allah menciptakan dia dari tanah liat untuk kemudian dijadikannya debu kembali (Ay. 10:3,9). Namun pertemuannya dengan orang muda, Elihu, yang rendah hati menyadarkan Ayub (tua) siapa dirinya.

Introspeksi: bukankah sering terjadi orang tua cenderung melecehkan kemampuan anak muda dan menganggapnya masih ‘hijau’, ‘bau kencur’ sementara orang tua sudah makan banyak ‘asam garam’ dan ‘bau tanah’?

Sesungguhnya, seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikianlah TUHAN sayang kepada mereka yang takut akan Dia sebab Dia tahu bahwa kita dari debu (Mzm. 103:13-14) dan dijauhkan-Nya kita dari pelanggaran (ay. 12). Bagaimana sikap kita (anak) ter-hadap Bapa Surgawi? Waspada, sering terjadi karena merasa begitu mengenal Bapa Surgawi, kita sebagai anak bertindak sembrono tidak menghargai-Nya dan bersikap ‘kurang ajar’ kepada-Nya! Sikap yang benar ialah kita takut dan hormat terhadap Bapa Surgawi. Jangan terlalu takut hingga tidak berani mendekat Dia! Jangan pula fokus menghormati liturgi-liturgi gereja sehingga kita menjadi orang Kristen yang ‘kaku’ dan tidak bebas.

Untuk apa Tuhan mengingatkan asal usul kita dari debu tanah? Supaya kita tidak sombong sebab Tuhan dapat mencabut nyawa kita sewaktu-waktu dan setelah itu kita harus mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan selama masih hidup (2 Kor. 5:10). Itu sebabnya Rasul Paulus menegaskan adanya tubuh jasmani yang akan kembali kepada debu tetapi tubuh rohani berasal dari Surga (1 Kor. 15:44-49).

Oleh karena Adam melanggar perintah Allah, mulailah dosa masuk ke dalam dunia dan kita semua berdosa serta menghadapi kematian (Rm. 5:12). Adam pertama mati dalam pelanggaran meskipun dia berumur 930 tahun (Kej. 5:5); demikian pula kita semua mati dalam dosa (Ef. 2:1-2) tetapi Allah tahu apa yang akan terjadi setelah dunia dijadikan-Nya. Rencana-Nya tetap berjalan namun yang perlu diingat, kita, manusia jasmani, mem-butuhkan keubahan menjadi manusia rohani di dalam Kristus. Allah membawa kita menuju pada awal penciptaan dengan memulihkan manusia daging menjadi manusia rohani. Dengan demikian, kita dapat mengerti pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan-Nya.

Kita, orang berdosa, dipanggil untuk beroleh pengampunan di dalam Kristus dan diberi kesempatan meraih hidup kekal di Surga bersama-Nya (Ef. 2:6). Masalahnya, pengharap-an apa yang kita inginkan? Faktanya, banyak orang Kristen datang di gereja mengharap-kan kebutuhan (fana) yang ada di dunia ini.

Kita dapat memahami pengharapan apa yang dimaksud bila kita mengenal Dia dengan benar (Ef. 1:17) untuk mengetahui isi hati-Nya. Ilustrasi: semakin erat hubungan batin suami-istri, semakin jelas masing-masing mengenal pasangannya (dari nada suara, mimik, gerak gerik dll.) sehingga cepat tahu bila suami/istri tidak enak hati atau hati lagi berbunga-bunga.  

Dapatkah kita mengenal hati Allah saat kita membaca Alkitab? Apakah kita membacanya dengan monoton, datar tanpa ekspresi? Atau penuh perasaan menimbulkan keakraban dan keingintahuan tentang apa yang Tuhan kehendaki? Jangan mendengar atau membaca Firman Tuhan dengan sikap sudah tahu dan sudah mendengar sebelumnya; waspada, jika seorang menyangka dia mengetahui segala sesuatu, dia sebenarnya tidak tahu apa-apa. Dengan demikian, kita memiliki sikap rendah hati.

Rasul Paulus begitu peduli terhadap jemaat yang diasuhnya sehingga tahu pertumbuhan iman mereka (melalui pemberitaan Firman kekal yang disampaikannya) dan senantiasa mengingat mereka dalam doanya (Ef. 1:16).

Introspeksi: sudahkah gembala mengenal kondisi iman jemaatnya dan senantiasa men-doakan mereka agar mereka makin mengenal Pribadi Tuhan bukan hanya mendoakan untuk kemajuan usaha atau kesehatan prima mereka? Jemaat diarahkan untuk lebih mengenal Tuhan daripada mengenal pendetanya supaya pendeta menyadari bahwa Tuhan jauh lebih hebat darinya. Jika tidak, pendeta tersebut akan merasa hebat karena disanjung oleh jemaatnya.

Pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan-Nya? Apakah hanya supaya masuk Surga setelah menerima Yesus? Lebih dari itu! Roma 8:23-25 menuliskan, ”Dan bukan hanya mereka saja tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.”

Umumnya, jika kita berdoa mengharapkan sesuatu kemudian Tuhan mengabulkan doa kita dan harapan kita terjawab, kita tidak lagi berdoa dan ibadah kita ’kendor’. Namun peng-harapan apa yang kita doakan dengan tekun sebab kita belum menerimanya sampai sekarang? Pengharapan akan kedatangan Tuhan kembali dan kita menjadi anak-Nya sepenuhnya. Bukankah kalau kita tidak tahu apa yang kita nantikan, kita tidak akan ber-gairah untuk ibadah?

Perhatikan, kalau kita mau mengenal Allah, kita harus mengenal pribadi Yesus; kalau kita mengenal pribadi Yesus kita akan mengenal pentingnya Roh Kudus di dalam hidup kita. Kita tidak akan mengenal Allah tanpa mengenal Anak. Kita tidak akan tahu Roh Kudus jikalau kita tidak mengenal pribadi Yesus. Betapa tak terpisahkan ketergantungan Allah Tritunggal di dalam Tuhan Yesus Kristus (Ef. 1: 1-6, 13-14)! Baik Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus memiliki hakikat sama.

Kita dapat mengenal Bapa dengan baik dan benar melalui Firman-Nya karena Yesus adalah Firman menjadi daging (Yoh. 1:14). Masalahnya, gereja mulai tidak berani me-nyampaikan Yesus itu Tuhan dan tidak mengaitkan Allah ada di dalam Yesus Kristus. Sesungguhnya, Yesus adalah Allah sendiri. Itu sebabnya, Dia memberikan Roh hikmat dan wahyu supaya mata kita dicelikkan untuk melihat betapa hebat panggilan-Nya, betapa mulia warisan-Nya dan betapa besar kuasa kebangkitan-Nya!

Roh Kudus berkarya lebih jauh dalam hidup kita hingga pada akhirnya jemaat yang adalah Tubuh-Nya dikuasai sepenuhnya oleh Tuhan sebagai Kepala (Ef. 1:19-23). Ilustrasi: kepala adalah organ terpenting pada tubuh untuk melindungi otak yang mengatur seluruh sistem dalam tubuh. Jika Kristus tidak menjadi Kepala kita, tidak ada satu pun beres dalam hidup kita, semua kacau tidak terkendalikan.

Marilah kita mengenal Pribadi Tuhan Yesus Kristus dengan benar agar pengharapan kita tidak sia-sia untuk satu kali kelak bertemu dengan Dia, Mempelai Pria Surga, dan tinggal bersama-Nya di Yerusalem Baru selamanya. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account