Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Kehidupan Yang Dimurkai Tuhan

Kehidupan Yang Dimurkai Tuhan

Pdm. Setio Dharma Kusuma, Minggu, Lemah Putro, 18 Maret 2018

 

Shalom,

Pernahkah Anda dalam berkomunikasi dengan seseorang yang mana dalam perbincangan itu terjadi pemujian terhadap penampilan dan tindak tanduk Anda? Entah komunikasi itu dilakukan dengan bertatap muka maupun komunikasi melalui WhatsApp, BBM atau pun sosial media. Pasti hati Anda berbunga-bunga, tetapi apa reaksi Anda ketika tiba-tiba di tengah-tengah komunikasi tersebut lawan bicara Anda menceletuk tentang masa lalu Anda yang sangat kelam? Mungkin saja timbul perasaan tidak enak karena merasa orang tersebut sangat usil telah mengungkit-ungkit masa lalu atau Anda bersikap biasa dan dapat menerimanya. Hal sama terjadi pada jemaat Efesus yang mana Rasul Paulus memuji iman dan perbuatan kasih mereka terhadap orang-orang kudus (Ef. 1:15, 22-23) namun tiba-tiba suasana pujian menurun ketika dia mengingatkan mereka, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu.” (Ef. 2:1)

Bukankah sering terjadi dalam pembicaraan antara suami istri, rekan sepelayanan, rapat dll. atmosfer/suasana yang awalnya baik kemudian menurun bahkan terkesan mendeskreditkan dan memojokkan kita? Kita tidak tahu apa motivasi seseorang memuji kemudian menjatuhkan dengan sengaja tetapi Rasul Paulus tidak asal menulis (tidak asal dalam berkomunikasi) untuk menyudutkan jemaat Efesus (juga kita), ada tujuannya. Dia mengingatkan bahwa mereka (juga kita) dahulu layak dimurkai (dihukum) oleh Allah sebab:

1. Hidup (walked = berjalan) mengikuti jalan (= kebiasaan) dunia (Ef. 2:2a)

Kita dahulu sudah mati (=tidak berguna) karena pelanggaran dan dosa serta hidup (=berjalan) mengikuti kebiasaan (alur) dunia. Di surat lain, Rasul Paulus menulis-kan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,” (Rm. 12:2a)

Dapatkah kita tidak menjadi serupa dengan dunia sementara kita masih hidup di dunia ini? Yang dimaksud ialah kita jangan menyesuaikan diri dengan norma-norma yang ada di dunia ini. Norma adalah aturan atau ukuran yang dipakai sebagai tolok ukur untuk menilai atau membandingkan sesuatu. Bentuk dari norma itu sendiri ada yang tertulis ada pula yang tidak tertulis. Contoh: KUHP di Kepolisian merupakan norma tertulis yang dapat dibaca dengan jelas, misal: masuk ke rumah orang tanpa izin dianggap mencuri. Namun banyak pula norma tidak tertulis yang diikuti karena menjadi kebiasaan umum, misal: untuk membuat suasana lebih ‘heboh’ di reuni, panitia mengundang Master of Ceremony (MC) laki-laki berperan sebagai wanita alias banci. Apakah di KUHP Kepolisian ada larangan tertulis laki-laki tidak boleh berperan sebagai wanita? Tidak ada! Namun sebagai anak Tuhan, apakah kita setuju dan senang melihat pemandangan seperti itu? Seharusnya kita merasa kasihan dan membina ‘laki-laki’ semacam itu supaya kembali menjadi laki-laki normal, bukan malah dijadikan tontonan dan bahan tertawaan. Norma di dunia memandangnya berbeda, seorang banci laris diundang di pesta ulang tahun, pernikahan dll. untuk mendatangkan gelak tawa para tamu. Contoh lain, mereka yang beruang tidak dilarang membeli barang-barang mahal dan bermerek tetapi kalau merasa hidupnya ‘menjadi lebih hidup’ dengan barang bermerek tersebut, ini menjadi masalah sebab mereka menempatkan barang bermerek itu sangat berarti dalam hidupnya dan tidak dapat hidup tanpanya.

Aplikasi: apa pun yang kita katakan, tampilkan dan lakukan hendaknya memulia-kan Tuhan bukan mengikuti kebiasaan dan norma dunia.

2. Menaati penguasa kerajaan angkasa (ay. 2b)

Penguasa kerajaan angkasa (supernatural) ini sedang bekerja di antara orang-orang durhaka (disobedience = ketidaktaatan).

Perlu diketahui, penguasa kerajaan angkasa ini mempunyai pemerintahan dan ada strata kepemimpinannya: penguasa, penghulu, roh-roh jahat (Ef. 6;11-12).

Roh penguasa angkasa ini bekerja aktif dan mendatangkan hasil ketidaktaatan terhadap Firman Tuhan. Jadi, kalau kita tidak taat kepada perintah Allah, ini sama dengan kita tunduk dan taat kepada penguasa angkasa.

Waspada, roh ketidaktaatan dapat menyerang kita membuat kita malas pergi ke gereja karena memilih-milih pendeta yang berkhotbah, malas berdoa meskipun telah diingatkan oleh Roh Kudus dst.

3. Hidup (berjalan) di dalam hawa nafsu daging, menuruti/melakukan kehendak (desire) daging dan berpikiran jahat (ay. 3).

Daging (sarks) mempunyai kehendak dan keinginan, jika keinginan dibuahi akan melahirkan dosa dan dosa yang matang melahirkan maut (Yak. 1:15). Yesus – Sang Firman – juga menjadi manusia/daging (sarks) tetapi Ia tidak berdosa (Yoh. 1:14; 2 Kor. 5:21).

Kita bisa duduk di gereja tetapi pikiran berjalan ke mana-mana tanpa seorang pun tahu kecuali Tuhan dan kita sendiri. Juga masih hidup/berjalan di dalam hawa nafsu daging yang diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan daging seperti: per-cabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dsb. (Gal. 5:19-21).

Introspeksi: masihkah ada perselisihan, perseteruan, iri hati dalam pelayanan? Juga masihkah kepentingan diri sendiri alias egois menguasai kita?

Pertanyaan: apakah kita masih termasuk golongan yang dimurkai Allah? Kita dapat mengevaluasi diri: apakah kita beribadah kepada Tuhan tetapi dalam waktu ber-samaan masih melakukan perbuatan-perbuatan daging? Misal: kita aktif melayani Tuhan tetapi perselingkuhan, korupsi dll. tetap berjalan terus. Dapatkah dibayangkan bagaimana perasaan Tuhan melihat sikap dan tindakan kita yang berdiri di dua sisi berlawanan itu? Kita dapat menutupi semua perbuatan kita di hadapan keluarga dan teman tetapi tidak ada sesuatu pun tersembunyi di hadapan-Nya (Mat. 10:26).

Bila tiga kriteria di atas yang menjadi ciri orang dimurkai Allah tidak ada pada kita, jangan kemudian sombong karena merasa hidup benar dan suci. Ingat, semua ini bukan hasil pekerjaan kita tetapi karena kasih karunia Allah semata (Ef. 2:8-9). Inilah tujuan dari Rasul Paulus menulis (berkomunikasi) dengan jemaat Efesus yang diawali dengan pemujian namun disisipi peringatan akan masa lalu. Kita diselamatkan oleh iman bukan hasil perbuatan baik kita. Setelah dibangkitkan/dihidupkan dari kematian (rohani) akibat pelanggaran dan dosa, kita diminta untuk tidak hidup menuruti kebiasaan dunia, tidak menaati penguasa kerajaan angkasa yang membawa kita kepada ketidaktaatan akan Firman Tuhan serta tidak melakukan keinginan-keinginan daging dan berpikiran jahat. Dengan demikian, kita akan beroleh penebusan sepe-nuhnya yang menjadikan kita milik Allah untuk kelak tinggal bersama-Nya selamanya. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account