Iman Yang Melampaui Penderitaan

Iman Yang Melampaui Penderitaan

Pdm. Wahyu Widodo, Minggu, Johor, 3 Juni 2018

Shalom,

Kadar keimanan seseorang akan menentukan cara pandang terhadap berbagai hal yang terjadi dalam hidupnya sehingga memengaruhi bagaimana harus bertindak ketika menghadapi masalah. Iman yang terus bertumbuh memberikan ketenangan hidup sekalipun menghadapi tekanan berat yang menindas dan kita akan terus berjalan dalam kepastian. Misal: musibah kebakaran maupun musibah korban bom teroris yang menelan anggota keluarga maupun satu keluarga tentu seizin Tuhan tetapi bukan berarti Ia tidak melindungi mereka. Cara kematian seseorang merupakan kedaulatan Tuhan semata, kita tidak berhak menghakiminya. Di sini dibutuhkan iman yang melampaui penderitaan. Jangan iman kita lemah dan hilang hanya karena doa permohonan kita tidak dijawab Tuhan atau jawaban-Nya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan!

Iman tidak berasal dari diri sendiri melainkan anugerah karena mendengar Firman Kristus (Rom.10:17). Oleh iman, kita mengalami keubahan perilaku serta dapat memahami makna kehidupan.

Bagaimana iman Rasul Paulus terhadap Injil Kristus? Efesus 3:8-13 menuliskan, “Kepadaku yang paling hina di antara segala orang kudus telah dianugerahkan kasih karunia ini untuk memberitakan kepada orang-orang bukan Yahudi kekayaan Kristus yang tidak terduga itu dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya. Sebab itu aku minta kepadamu, supaya kamu jangan tawar hati melihat kesesakanku karena kamu, karena kesesakanku itu adalah kemuliaanmu.”

Pengakuan Rasul Paulus yang mengambil posisi paling hina di antara segala orang kudus bukanlah cetusan ucapan tanpa makna tetapi merupakan pengakuan tulus yang ke luar dari hati nurani terdalam karena menyadari masa lalunya yang telah semena-mena menganiaya pengikut Tuhan dengan tujuan menghancurkan iman mereka. Sesungguhnya, menolak iman sama dengan menolak Kristus yang memberikan kekayaan rohani itulah hidup kekal.

Kekejaman Saulus/Paulus terhadap pengikut Tuhan dilakukan di luar iman karena dia belum mengenal Kristus. Ketika Stefanus mempertanggungjawabkan imannya di pengadilan agama di hadapan imam besar dan para ahli Taurat, dia tetap kukuh beriman kepada Kristus sekalipun berada di bawah tekanan dan intimidasi berat. Kesaksian yang disampaikannya tentang Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf hingga Musa Daud dan Salomo masih dapat diterima tetapi ketika dia menyinggung Orang Benar (Yesus) yang mereka khianati dan bunuh, mereka marah lalu menyeret Stefanus ke luar kota dan melempari batu hingga mati. Saulus mendengar, menyaksikan dan setuju Stefanus mati dibunuh (Kis. 6 – 7).

Ternyata pengakuan Paulus tentang dirinya yang paling hina tidak berkaitan dengan kemiskinan akan materi atau ilmu tetapi karena dia tidak memiliki iman Kristus untuk dapat melakukan perbuatan baik.  

Setelah Paulus mengenal Kristus melalui pengalaman panggilan langsung dari Tuhan Yesus untuk dijadikan alat-Nya yang berguna bagi bangsa kafir (Kis. 9:3-6, 15), dia menyatakan kekayaan Kristus yang dikaruniakan tidak hanya kepada dirinya tetapi juga bagi bangsa non-Yahudi (kafir). Rasul Paulus menganggap pengenalannya akan Kristus Yesus lebih mulia dari semua bahkan dia rela melepaskan semua atribut yang dimilikinya untuk beroleh Kristus (Flp. 3:8).

Iman yang membimbingnya mengenal Kristus mengubah pandangannya tentang kekayaan sejati yang tersembunyi berabad-abad dan sekarang diungkapkan melalui Kristus Yesus.

Sesungguhnya iman tidak terbatas oleh waktu, ruang dan keadaan/kondisi sama seperti Firman Allah itu hidup dan tak dapat dibinasakan. Untuk ini Paulus mengemban tugas penyelenggara kasih karunia yang sudah dilimpahkan Tuhan kepadanya bagi bangsa kafir.

Keagungan kasih karunia-Nya ditunjukkan dengan jelas dan nyata melalui keubahan hidup Paulus dari seorang ganas dan penentang jalan keselamatan Kristus menjadi alat-Nya dan dipercaya memberitakan rahasia kekayaan Kristus kepada jemaat tentang pelbagai hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di Surga sesuai dengan maksud abadi yang dilaksanakan dalam Kristus Yesus.

Pelbagai ragam hikmat yang dilimpahkan kepada jemaat Tuhan membuat mereka tidak berkekurangan apa pun (sempurna) di hadapan-Nya. Dengan demikian, jemaat tetap bertumbuh oleh iman menuju kedewasaan sepenuhnya.

Apabila pertumbuhan iman mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam rencana-Nya yang abadi, kita beroleh keberanian tanpa keraguan masuk menghadap Allah yang mahasuci tanpa ada jarak yang membatasi. Semua ini karena penyucian yang dikerjakan Kristus dengan darah-Nya yang kudus berdampak jemaat-Nya menjadi kudus serta diperlengkapi dengan kekayaan rohani yang memperkenan Allah untuk hidup di dalam-Nya.

Lebih lanjut Rasul Paulus mengingatkan agar jemaat (juga kita) tidak tawar hati melihat kesesakan yang dideritanya. Kita didorong untuk tetap mempertahankan kekayaan rohani dengan iman teguh sekalipun menghadapi berbagai macam kesesakan maupun aniaya karena segala perkara yang terjadi di dalam iman pada Kristus adalah kemuliaan hidup yang sesungguhnya.

Betapa ruginya jika kita menjadi tawar hati terhadap kekayaan Kristus yang telah dilimpahkan/dicurahkan kepada kita! Sebaliknya, biarlah kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menopang kita dalam kuasa Roh Kudus sehingga kita memiliki iman yang melampaui segala penderitaan. Amin.

Pdm. Wahyu Widodo, Minggu, Johor, 3 Juni 2018