Kuasa Allah Melampaui Doa Dan Pikiran Kita

Kuasa Allah Melampaui Doa Dan Pikiran Kita

Pdm.Budy Avianto, Johor, Minggu, 1 Juli 2018

Shalom,

Hendaknya kita senantiasa bersukacita memuji dan mendengarkan Firman Tuhan. Hari ini kita mempelajari Surat Efesus 3:20-21 yang menuliskan, “Bagi Dialah yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.”

Perhatikan doa, pikiran dan kuasa saling terkait. Kita tahu kasih Allah itu tak terbatas dan tak terselami oleh pengetahuan dan pikiran manusia yang terbatas (Ef. 3:18).

Sehubungan dengan kasih, Rasul Paulus mengatakan, “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” (1 Kor. 13:11)

Tentu pola pikir anak-anak berbeda dengan cara pikir orang dewasa. Contoh: Si Pembicara memiliki dua cucu, satu balita (3 tahun) dan satunya remaja berumur 14 tahun. Apa yang dipikirkan dan diminta oleh mereka sudah berbeda, cucu remaja tidak lagi suka diantar ke sekolah dan ingin belajar menyetir mobil. Cucu balita lagi gandrung makan ice cream. Supaya tidak bolak balik ke supermarket, si kakek membelikan ice cream dalam porsi besar. Dengan lahap cucu balita makan ice cream tanpa henti walau sudah diingatkan berkali-kali karena lagi pilek, panas dan batuk. Dia baru berhenti mengonsumsi ice cream setelah ‘dihajar’ sakit gigi dan kesakitan sehingga pergi ke dokter gigi. Sejak itu dia tidak mau makan ice cream meskipun diiming-imingi enak.

Demikian pula dengan kasih, harus bertumbuh menjadi dewasa sehingga kita dapat mengenal Tuhan dengan sempurna dimulai dari iman, pengharapan dan kasih (1 Kor. 13:12-13).

Orang-orang Efesus yang percaya kepada Kristus disebut orang-orang kudus (Ef. 1:1) menun-jukkan adanya progres pertumbuhan rohani dari percaya – disucikan untuk mengalami pembaruan hidup – tak bercacat di hadapan-Nya.

Introspeksi: sudah berapa lama kita menjadi orang Kristen? Apakah kita masih bersifat kanak-kanak rohani yang egoistis dan selalu meminta untuk kepentingan diri sendiri tanpa pernah memberi? Apakah doa kita hanya berfokus minta pertolongan (keuangan, kesehatan dll.) dan perlindungan Tuhan? Seperti sifat anak kecil yang ‘tidak mau rugi’, apakah kita memberikan sesuatu (persepuluhan dan kurban persembahan) dengan mengharapkan imbalan/pamrih: berkat berlipat ganda, penghormatan dan ketenaran?

Manusia tidak memiliki kasih sebab kasih berasal dari Allah yang dibuktikan dengan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita (1 Yoh. 4:7,10). Sungguh tidak masuk di akal, Allah mengasihi kita justru saat kita berdosa melawan Dia (Rm. 5:8) dan berada dalam bayang maut akibat upah dosa (Rm. 6:23).

Bagaimana kita mengasihi Allah? Jika kita menuruti segala perintah Firman-Nya (Yoh. 14:15, 23). Terbukti manusia (Adam dan Hawa) tidak memiliki kasih sebab mereka melawan perintah Allah (walau belum ada Taurat) bahkan di luar Taman Eden Kain membunuh Habel, adiknya. Kain tidak mengasihi adiknya berarti dia tidak mengenal Allah yang adalah kasih (1 Yoh. 4:8).

Jujur, menaati Firman Allah sering menyakitkan ‘daging’ kita. Misal: makin kita rajin ke gereja, makin toko kita sepi dari pembeli. Namun jangan mundur dengan pencobaan yang berusaha menggugurkan kasih kita kepada-Nya!

Bagaimana Allah memperlakukan orang-orang yang dikasihi-Nya? Kasih tidak selalu disayang-sayang, bila perlu dihajar supaya tidak terhilang. Ia menghajar orang yang dikasihi-Nya dan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika Ia membebaskan seseorang dari ganjaran yang harus dideritanya, dia bukan anak tetapi anak gampang/tidak sah (Ibr. 12:6,8). Contoh: Raja Daud disegani oleh lawan dan kawan, dengan kuasa yang dimilikinya dia berbuat dosa dengan mengambil Batsyeba dan membunuh suaminya, Uria (2 Sam. 11). Orang-orang se-istana pasti mengetahui perbuatannya yang salah tetapi mereka bungkam tidak berani menegurnya.

Apakah hatinya tenang setelah dia mendapatkan apa yang diingininya? Dia mengaku, “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu…siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering seperti oleh teriknya musim panas.” (Mzm. 32:3-4)

Allah yang mahakasih masih berkemurahan kepadanya, melalui teguran Nabi Natan, Daud bertobat dan menyesali dosanya. Bagaimanapun juga dia tetap harus menanggung ‘hajaran’ dengan kematian anaknya. Dia kemudian mengatakan, “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!” (ay. 1)

Selain penuh kasih, Allah juga memiliki kuasa. Ia Allah di atas semua allah. Yesaya 40:25-26 menuliskan, “Dengan siapa hendak kamu samakan Aku seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus. Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satu pun tiada yang tak hadir oleh sebab Ia mahakuasa dan mahakuat.”

Allah tidak hanya kasih tetapi juga mahakuasa dan mahakuat. Siapa dapat memanggil mata-hari, bulan dan bintang untuk muncul sesuai jadwal waktunya (pagi, siang, malam) selain Dia?

Waspada, kuasa tanpa kasih hanya akan menghancurkan. Contoh: Hitler, diktaktor Jerman Nazi, menggunakan kekuasannya (tanpa kasih) mengakibatkan kematian ± 50 juta orang selama Perang Dunia II. Pemimpin rohani (pendeta, penatua, majelis) karena memegang jabatan penting dalam gereja juga dapat menggunakan kuasanya untuk menekan jemaat berakibat tidak adanya kesatuan dalam Tubuh Kristus.

Allah melihat manusia makin jahat dan makin mengikuti hawa nafsu daging sehingga Ia berniat memusnahkan manusia dan binatang ciptaan-Nya (Kej. 6:5-7) namun Nuh beroleh kasih karunia-Nya (ay. 8). Dengan mahakuat-Nya, Ia menurunkan hujan selama 40 hari 40 malam (Kej. 7:4). Abraham juga dipilih Allah dan dijanjikan menjadi bapa sejumlah besar bangsa (Kej. 17:4). Bagaimanapun juga manusia tidak jera dengan hukuman Allah dan kembali berbuat jahat sehingga Ia memusnahkan Sodom dan Gomora tetapi Lot diselamatkan karena doa Abraham (Kej. 19). Terbukti Ia mahakuasa sekaligus mahakasih! Ia tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman (2 Ptr. 2:4-10).

Apakah kasih dan kuasa-Nya berhenti pada umat pilihan-Nya, bangsa Israel? Tidak. Perwira Kornelius (orang kafir) takut akan Allah yang tidak dikenalnya (bnd. Kis. 17:23). Kasih karunia Allah jatuh padanya karena dia saleh, suka memberi sedekah kepada orang Yahudi (musuhnya) serta senantiasa berdoa kepada-Nya. Allah kemudian menyuruh Petrus (orang Yahudi) menemui Kornelius. Awalnya Petrus menolak dengan alasan orang Yahudi dilarang keras bergaul dengan orang non-Yahudi yang dianggap najis. Namun Allah mengubah pola pikirnya dan pergilah Petrus ke rumah Kornelius yang berakhir dengan bertobatnya Kornelius, sanak saudara dan sahabat-sahabatnya. Mereka dipenuhi Roh Kudus dan dibaptis (Kis. 10:1-4, 28, 34-35, 42-48).

Terbukti kasih Allah menjangkau orang-orang kafir, termasuk kita, yang dahulu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel, tidak mendapat bagian dalam janji-Nya, tanpa pengharapan dan tanpa Allah (Ef. 2:12) menjadi ahli waris dan anggota Tubuh Kristus (Ef. 3:6).

Kedewasaan dalam kasih memengaruhi doa kita. Yesus mengajarkan kita untuk tidak berdoa seperti orang munafik yang ‘pamer’ doa supaya dilihat orang, tidak bertele-tele karena Ia sudah mengetahui apa yang kita butuhkan (Mat. 6:5-13). Kalau kita mengenal Allah itu mahakasih dan mahakuasa, kita tidak perlu khawatir akan hari esok (Mat. 6:34).

Hendaknya kita menjadi dewasa rohani dengan suka merenungkan Firman Tuhan dan melaku-kannya. Dewasa rohani akan memengaruhi pikiran dan perasaan kita dalam mengenal Allah. Juga doa kita tidak lagi minta-minta tetapi doa penyembahan dengan memberikan apa yang kita miliki.

Oleh kasih-Nya, kita dapat mengasihi Dia dan mengasihi sesama dan oleh kuat kuasa-Nya kita diselamatkan dari pencobaan untuk satu kali kelak beroleh keselamatan penuh dengan tinggal bersama Dia selamanya di Yerusalem baru. Amin.