Semua Anggota Tubuh Bertumbuh Dalam Segala Hal Ke Arah Kristus Yang Adalah Kepala

Semua Anggota Tubuh Bertumbuh Dalam Segala Hal Ke Arah Kristus Yang Adalah Kepala

Pdt. Paulus Budiono, Johor, Minggu, 26 Agustus 2018

Shalom,

Perasaan anak kecil sangatlah berbeda dibandingkan dengan perasaan orang dewasa dalam merespons kebaikan Tuhan. Anak kecil menganggap Tuhan sangat baik jika semua keingin-annya dikabulkan sementara orang dewasa berterima kasih dan mengakui Tuhan sangat baik karena mereka menerima anugerah keselamatan dari kematian kekal akibat dosa. Untuk itu pengaguman kita kepada-Nya tidak boleh berhenti sebatas level kanak-kanak rohani menghadapi kondisi dunia yang makin jahat tetapi hendaklah memberikan diri dididik Firman Tuhan untuk tumbuh dewasa. Waspada, Iblis dengan antek-anteknya sangat gencar meniupkan angin pengajaran sesat terutama kepada anak-anak muda usia produktif agar iman mereka mati. Bahkan beberapa negara melarang diadakannya kegiatan rohani secara terbuka di tempat umum. Ada waktunya kita juga tidak dapat lagi beribadah dengan bebas. Oleh sebab itu tekunlah merenungkan Firman Tuhan selama kita masih diberi waktu dan ke-sempatan oleh-Nya.

Di era Musa, Firaun memerintahkan semua bayi laki-laki yang dilahirkan dibunuh sementara anak perempuan dibiarkan hidup (Kel. 1:16) karena mereka nanti akan ikut suami jika menikah. Kalau suaminya orang Mesir, iman perempuan Israel akan hilang. Sekarang, Iblis tidak mem-bunuh secara fisik tetapi membunuh otak (mencuci otak) dan keyakinan seseorang melalui canggihnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan juga seminar-seminar yang dibung-kus apik tampak begitu rohani padahal bertujuan membunuh iman mereka kepada Allah, Sang Pencipta, sehingga mereka tidak percaya akan adanya Allah.

Rasul Paulus menasihati agar kita tidak menjadi anak kecil yang mudah diombang-ambingkan oleh pelbagai angin pengajaran sesat (Ef. 4:14) yang berusaha menenggelamkan perahu kehi-dupan kita. Rasul Paulus mempunyai pengalaman 14 hari terombang-ambing di tengah lautan hampir tenggelam karena kapalnya dihantam angin badai (Kis. 27). Sudahkah sauh peng-harapan kita tertancap kuat pada batu karang teguh, Yesus, di dasar laut kehidupan kita hingga kita dapat tiba di pelabuhan Yerusalem Baru (bnd. Ibr. 6:19-20)?

Kristus memberikan lima jawatan (rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus agar kita tumbuh dewasa bukan lagi anak-anak yang mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran dan permainan palsu manusia dalam kelicikannya yang menyesatkan (Ef. 4:11-14).

Lebih lanjut Rasul Paulus menasihati, “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.”

Perlu diketahui, ketika membaca sepucuk surat baik yang menyenangkan (surat cinta, surat promosi jabatan dst.) maupun surat yang menjengkelkan (surat utang, surat tilang dst.) biasakan membaca dari awal hingga akhir, jangan membaca sepenggal-penggal atau kon-sentrasi hanya pada bagian tertentu untuk menghindari persepsi berbeda dan cenderung salah. Sikap yang baik dan sportif ialah membaca secara keseluruhan untuk dapat mengerti per-masalahannya. Alkitab adalah ‘surat cinta’ Allah kepada manusia bahkan Yesus menjadi Manusia dan bertabernakel di tengah kita (Yoh. 1:14). Bila kita mengasihi-Nya, pasti tidak ada alasan ‘tidak ada waktu’ membaca Firman-Nya untuk mengerti mengapa Ia menulis ‘surat cinta’ tersebut. Faktanya, kita sering mengabaikan Alkitab yang sesungguhnya membawa kita kepada kesejukan, ketenteraman, damai, kemenangan dll. yang tidak dapat diberikan oleh dunia.

Rasul Paulus menegaskan agar kita berpegang teguh dalam kebenaran Firman karena:

  • Manusia diciptakan oleh Allah untuk diselamatkan, dikuduskan dan disempurnakan di hadapan-Nya (Ef. 1). Manusia menginginkan kebahagiaan tetapi tidak memperolehnya kare-na kehilangan keselamatan kekal.
  • Kita yang dahulu mati dalam dosa dibangkitkan oleh pengampunan melalui darah Yesus yang dicurahkan di atas kayu salib (Ef. 2).
  • Kita yang beroleh kehidupan baru mengenal kasih Kristus yang tak terhingga lebar, pan-jang, tinggi dan dalamnya (Ef. 3).
  • Kita tidak tinggal anak-anak (rohani) tetapi mengalami proses pertumbuhan menjadi dewa-sa untuk tidak mudah jatuh diombang-ambingkan pelbagai angin pengajaran yang menye-satkan (Ef. 4).
  • Kita yang telah dewasa rohani siap masuk dalam pernikahan dengan Kristus, Mempelai Pria Surgawi (Ef. 5).
  • Sebagai kehidupan berkeluarga pascanikah, orang tua tidak boleh menyakiti anak dan anak harus hormat kepada ayah-ibu juga bagaimana kita hidup bermasyarakat. Semua ditandai dengan kedewasaan rohani untuk siap menghadapi peperangan melawan pemerintah, penguasa dan penghulu dunia serta roh-roh jahat di udara (Ef. 6).

Aneh, mengapa Allah yang mahakuasa tidak meredakan angin pengajaran sesat padahal Ia mampu melakukannya jika mau (bnd. Mat. 8:24-27; Kis. 27:24)? Sebab Ia ingin kita dewasa (rohani) untuk dapat mengatasi dan melewati amukan angin pengajaran-pengajaran sesat secara mandiri. Pengajaran sesat ini dapat masuk melalui medsos dan gadget kita. Hanya orang dewasa rohani yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat (bnd. Ibr. 5:14).

Apa yang dapat menahan perahu kehidupan kita untuk tidak hanyut terbawa badai angin peng-ajaran sesat? Bila sauh dilabuhkan ke dasar laut dan menancap kuat di dasar tersebut yaitu bila sauh pengharapan kita labuhkan ke belakang tabir (Tempat Mahakudus) di mana Yesus, Imam Besar, berada (Ibr. 6:19-20). Sebaliknya, perahu kehidupan kita gampang hanyut saat sauh pengharapan diangkat dan kita tidak lagi membutuhkan Yesus.

Jika imam besar Harun diperbolehkan masuk ke Tempat Mahakudus setahun sekali untuk mem-persembahkan darah domba bagi pelanggaran dirinya sendiri dan pelanggaran umat Israel (Ibr. 9:7); Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban (Ibr. 7:27b) dan menyerahkan nyawa-Nya saat disalib sehingga tabir terobek (Mat. 27:51) dan Ia menembus masuk ke daerah kesempurnaan.

Allah tidak pernah berdusta dan hanya kepada-Nya kita beroleh perlindungan dan pengharapan akan masa depan kita (Ibr. 6:18). Buktinya? Saat Yesus – Sang Firman menjadi Manusia – diadili, tak satupun ditemukan dusta keluar dari mulut-Nya. Jauh berbeda dengan manusia hebat mana pun pasti pernah berbohong ketika kepentingannya dipojokkan! Waspada, Iblis adalah bapa segala dusta dan dia pembunuh manusia sejak semula (Yoh. 8:44). Alkitab menulis banyak tentang sepak terjang Iblis yang berusaha menjatuhkan manusia termasuk Manusia Yesus melalui dusta dan kebohongannya. Misal: seizin Allah, Iblis menguji Ayub habis-habisan tetapi akhirnya keadaan Ayub dipulihkan; Yesus dicobai Iblis di padang gurun setelah puasa 40 hari 40 malam dll.

Aplikasi: dengan mencintai Firman Allah, kita dimampukan untuk tidak berdusta kepada suami, istri, anak dst. Jangan menjadi orang Kristen anak-anak yang hanya suka minta-minta berkat jasmani untuk penghidupan sehari-hari! Tradisi orang Israel, saat pria (dewasa) bertemu tu-nangannya (dewasa), mereka tidak berhura-hura kelewat batas tetapi membahas serius masa depan yang akan dilalui berdua.

Bagaimana kita mengetahui sauh telah tertancap kuat di dasar laut untuk tidak mudah hanyut ketika diterpa gelombang keras akibat angin kencang? Tarik sauhnya untuk memastikan apa sudah mencengkeram kuat di dasar laut dan talinya jangan diperpanjang supaya tidak molor-molor. Banyak kali orang Kristen tidak puas dengan khotbah di satu gereja kemudian pindah mencari ajaran lain, membuatnya semakin jauh dan semakin lemah walau ada sauh namun ada kemungkinan perahunya terbalik. Jika sauh pengharapan tertancap kuat pada keselamatan bahkan lebih dalam lagi pada kesucian, kita akan aman di tengah-tengah ombak yang terus menyerang kita.

Bagaimanapun juga, kita harus tetap mengikuti petunjuk yang telah diberikan yaitu: kita ber-pegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih untuk bertumbuh di dalam segala hal (bukan ke segala arah) ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala (Ef. 4:15). Kenyataannya, banyak orang Kristen bertumbuh rohaninya tetapi tidak fokus kepada Kristus. Mereka memegang doktrin ini, dogma itu dst. sehingga tidak terarah dengan baik padahal seluruh anggota tubuh (kaki, tangan, mata, telinga, mulut dll.) harus bertumbuh ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

Kepala, yang mana di dalamnya ada otak, menjadi pusat pengendali seluruh anggota tubuh. Kadang-kadang tanpa sadar kita menjadi kepala menggantikan posisi Yesus sehingga bukan Yesus yang mengendalikan tetapi emosi kita yang mau mengatur atau mengabaikan anggota tubuh Kristus lainnya. Akibatnya, dalam kegiatan pelayanan, pertumbuhan terjadi menurut kemauan sendiri bukan ke arah Dia. Benarkah kaki tidak membutuhkan tangan, telinga tidak membutuhkan mata dst. (1 Kor. 12:14-20)? Mungkinkah gembala bergerak sendiri tanpa peduli terhadap penginjil dsb.? Ilustrasi: semua anggota tubuh saling berkaitan dan bekerja sama demi tercapaikan sesuatu yang diinginkan. Misal: tangan diperintahkan kepala (otak) untuk mengambil Alkitab, mata melihat Alkitab dan kaki berjalan menuju ke tempat Alkitab menurut petunjuk mata. Jika salah satu anggota tubuh mogok tidak mau melakukan tugasnya, Alkitab yang diinginkan tidak akan pernah didapat.

Setiap anggota tubuh harus siap sedia setiap saat melakukan tugas sesuai dengan kemampuan yang diberikan oleh-Nya. Misal: anggota paduan suara begitu merdu melantunkan lagu saat bertugas tetapi ketika tidak ada jadwal menyanyi, suaranya tidak terdengar sama sekali di antara jemaat. Jujur, kita sering belum sepenuhnya masuk dalam anggota tubuh. Akibatnya, kita sering tersinggung, tidak senang dengan seseorang dll. karena kita belum/tidak menyatu.

Waspada, badai angin yang kencang berusaha menarik dan menggugurkan pengharapan kita! Untuk itu kita harus bersikap dewasa dengan meninggalkan pikiran dan perkataan anak-anak. Faktanya, banyak orang Kristen masih suka bahasa anak-anak yang pro sini dan pro sana seperti terjadi pada jemaat Korintus yang pro Apolos, Paulus, Petrus (1 Kor. 3:4). Ingat, Tuhan memakai masing-masing dari kita dengan karunia berbeda tetapi arah tujuannya sama yaitu Yesus, Kepala gereja.

Lebih lanjut, seluruh anggota tubuh rapi tersusun dan diikat (bukan tersusun lepas bebas) men-jadi satu oleh pelayanan semua bagiannya (mata terus menjadi mata tidak berubah tugas menjadi telinga) sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota. Jangan kita melayani ala kadarnya tetapi menurut kadar/ketentuan karunia yang kita terima! Jelas, kita tidak boleh iri hati dengan karunia orang lain tetapi menekuni karunia kita sendiri dan melakukannya penuh sukacita. Iri hati dan dengki berpotensi merusak kesatuan dan kerja sama antaranggota tubuh berakibat tubuh tidak bertumbuh dengan sehat. Misal: tangan yang beralih tugas melakukan pekerjaan kaki akan berakhir dengan kekacauan.

Tiap-tiap anggota harus bertumbuh dan membangun diri di dalam kasih. Tidak ada satu ang-gota tubuh yang paling murni dan sempurna kecuali Allah yang adalah kasih serta tidak ada sifat cemburu, sombong, pemarah, dll. di dalamnya. Kita harus memiliki iman, pengharapan dan kasih; yang paling besar di antaranya ialah kasih (1 Kor. 13:1-13).

Sekarang kita mengerti bahwa semua anggota tubuh tidak boleh bekerja sendiri-sendiri meskipun mempunyai karunia hebat tetapi dengan kerja sama yang kuat terciptalah anggota tubuh Kristus sempurna sesuai dengan kehendak-Nya dan siap menerima Kristus sebagai Kepala atas tubuh-Nya. Amin.

Shalom,

Perasaan anak kecil sangatlah berbeda dibandingkan dengan perasaan orang dewasa dalam merespons kebaikan Tuhan. Anak kecil menganggap Tuhan sangat baik jika semua keingin-annya dikabulkan sementara orang dewasa berterima kasih dan mengakui Tuhan sangat baik karena mereka menerima anugerah keselamatan dari kematian kekal akibat dosa. Untuk itu pengaguman kita kepada-Nya tidak boleh berhenti sebatas level kanak-kanak rohani menghadapi kondisi dunia yang makin jahat tetapi hendaklah memberikan diri dididik Firman Tuhan untuk tumbuh dewasa. Waspada, Iblis dengan antek-anteknya sangat gencar meniupkan angin pengajaran sesat terutama kepada anak-anak muda usia produktif agar iman mereka mati. Bahkan beberapa negara melarang diadakannya kegiatan rohani secara terbuka di tempat umum. Ada waktunya kita juga tidak dapat lagi beribadah dengan bebas. Oleh sebab itu tekunlah merenungkan Firman Tuhan selama kita masih diberi waktu dan ke-sempatan oleh-Nya.

Di era Musa, Firaun memerintahkan semua bayi laki-laki yang dilahirkan dibunuh sementara anak perempuan dibiarkan hidup (Kel. 1:16) karena mereka nanti akan ikut suami jika menikah. Kalau suaminya orang Mesir, iman perempuan Israel akan hilang. Sekarang, Iblis tidak mem-bunuh secara fisik tetapi membunuh otak (mencuci otak) dan keyakinan seseorang melalui canggihnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan juga seminar-seminar yang dibung-kus apik tampak begitu rohani padahal bertujuan membunuh iman mereka kepada Allah, Sang Pencipta, sehingga mereka tidak percaya akan adanya Allah.

Rasul Paulus menasihati agar kita tidak menjadi anak kecil yang mudah diombang-ambingkan oleh pelbagai angin pengajaran sesat (Ef. 4:14) yang berusaha menenggelamkan perahu kehi-dupan kita. Rasul Paulus mempunyai pengalaman 14 hari terombang-ambing di tengah lautan hampir tenggelam karena kapalnya dihantam angin badai (Kis. 27). Sudahkah sauh peng-harapan kita tertancap kuat pada batu karang teguh, Yesus, di dasar laut kehidupan kita hingga kita dapat tiba di pelabuhan Yerusalem Baru (bnd. Ibr. 6:19-20)?

Kristus memberikan lima jawatan (rasul, nabi, pemberita Injil, gembala dan pengajar) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus agar kita tumbuh dewasa bukan lagi anak-anak yang mudah diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran dan permainan palsu manusia dalam kelicikannya yang menyesatkan (Ef. 4:11-14).

Lebih lanjut Rasul Paulus menasihati, “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Perlu diketahui, ketika membaca sepucuk surat baik yang menyenangkan (surat cinta, surat promosi jabatan dst.) maupun surat yang menjengkelkan (surat utang, surat tilang dst.) biasakan membaca dari awal hingga akhir, jangan membaca sepenggal-penggal atau kon-sentrasi hanya pada bagian tertentu untuk menghindari persepsi berbeda dan cenderung salah. Sikap yang baik dan sportif ialah membaca secara keseluruhan untuk dapat mengerti per-masalahannya. Alkitab adalah ‘surat cinta’ Allah kepada manusia bahkan Yesus menjadi Manusia dan bertabernakel di tengah kita (Yoh. 1:14). Bila kita mengasihi-Nya, pasti tidak ada alasan ‘tidak ada waktu’ membaca Firman-Nya untuk mengerti mengapa Ia menulis ‘surat cinta’ tersebut. Faktanya, kita sering mengabaikan Alkitab yang sesungguhnya membawa kita kepada kesejukan, ketenteraman, damai, kemenangan dll. yang tidak dapat diberikan oleh dunia.

Rasul Paulus menegaskan agar kita berpegang teguh dalam kebenaran Firman karena:

· Manusia diciptakan oleh Allah untuk diselamatkan, dikuduskan dan disempurnakan di hadapan-Nya (Ef. 1). Manusia menginginkan kebahagiaan tetapi tidak memperolehnya kare-na kehilangan keselamatan kekal.

· Kita yang dahulu mati dalam dosa dibangkitkan oleh pengampunan melalui darah Yesus yang dicurahkan di atas kayu salib (Ef. 2).

· Kita yang beroleh kehidupan baru mengenal kasih Kristus yang tak terhingga lebar, pan-jang, tinggi dan dalamnya (Ef. 3).

· Kita tidak tinggal anak-anak (rohani) tetapi mengalami proses pertumbuhan menjadi dewa-sa untuk tidak mudah jatuh diombang-ambingkan pelbagai angin pengajaran yang menye-satkan (Ef. 4).

· Kita yang telah dewasa rohani siap masuk dalam pernikahan dengan Kristus, Mempelai Pria Surgawi (Ef. 5).

· Sebagai kehidupan berkeluarga pascanikah, orang tua tidak boleh menyakiti anak dan anak harus hormat kepada ayah-ibu juga bagaimana kita hidup bermasyarakat. Semua ditandai dengan kedewasaan rohani untuk siap menghadapi peperangan melawan pemerintah, penguasa dan penghulu dunia serta roh-roh jahat di udara (Ef. 6).

Aneh, mengapa Allah yang mahakuasa tidak meredakan angin pengajaran sesat padahal Ia mampu melakukannya jika mau (bnd. Mat. 8:24-27; Kis. 27:24)? Sebab Ia ingin kita dewasa (rohani) untuk dapat mengatasi dan melewati amukan angin pengajaran-pengajaran sesat secara mandiri. Pengajaran sesat ini dapat masuk melalui medsos dan gadget kita. Hanya orang dewasa rohani yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat (bnd. Ibr. 5:14). 

Apa yang dapat menahan perahu kehidupan kita untuk tidak hanyut terbawa badai angin peng-ajaran sesat? Bila sauh dilabuhkan ke dasar laut dan menancap kuat di dasar tersebut yaitu bila sauh pengharapan kita labuhkan ke belakang tabir (Tempat Mahakudus) di mana Yesus, Imam Besar, berada (Ibr. 6:19-20). Sebaliknya, perahu kehidupan kita gampang hanyut saat sauh pengharapan diangkat dan kita tidak lagi membutuhkan Yesus.

Jika imam besar Harun diperbolehkan masuk ke Tempat Mahakudus setahun sekali untuk mem-persembahkan darah domba bagi pelanggaran dirinya sendiri dan pelanggaran umat Israel (Ibr. 9:7); Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban (Ibr. 7:27b) dan menyerahkan nyawa-Nya saat disalib sehingga tabir terobek (Mat. 27:51) dan Ia menembus masuk ke daerah kesempurnaan.

Allah tidak pernah berdusta dan hanya kepada-Nya kita beroleh perlindungan dan pengharapan akan masa depan kita (Ibr. 6:18). Buktinya? Saat Yesus – Sang Firman menjadi Manusia – diadili, tak satupun ditemukan dusta keluar dari mulut-Nya. Jauh berbeda dengan manusia hebat mana pun pasti pernah berbohong ketika kepentingannya dipojokkan! Waspada, Iblis adalah bapa segala dusta dan dia pembunuh manusia sejak semula (Yoh. 8:44). Alkitab menulis banyak tentang sepak terjang Iblis yang berusaha menjatuhkan manusia termasuk Manusia Yesus melalui dusta dan kebohongannya. Misal: seizin Allah, Iblis menguji Ayub habis-habisan tetapi akhirnya keadaan Ayub dipulihkan; Yesus dicobai Iblis di padang gurun setelah puasa 40 hari 40 malam dll.

Aplikasi: dengan mencintai Firman Allah, kita dimampukan untuk tidak berdusta kepada suami, istri, anak dst. Jangan menjadi orang Kristen anak-anak yang hanya suka minta-minta berkat jasmani untuk penghidupan sehari-hari! Tradisi orang Israel, saat pria (dewasa) bertemu tu-nangannya (dewasa), mereka tidak berhura-hura kelewat batas tetapi membahas serius masa depan yang akan dilalui berdua. 

Bagaimana kita mengetahui sauh telah tertancap kuat di dasar laut untuk tidak mudah hanyut ketika diterpa gelombang keras akibat angin kencang? Tarik sauhnya untuk memastikan apa sudah mencengkeram kuat di dasar laut dan talinya jangan diperpanjang supaya tidak molor-molor. Banyak kali orang Kristen tidak puas dengan khotbah di satu gereja kemudian pindah mencari ajaran lain, membuatnya semakin jauh dan semakin lemah walau ada sauh namun ada kemungkinan perahunya terbalik. Jika sauh pengharapan tertancap kuat pada keselamatan bahkan lebih dalam lagi pada kesucian, kita akan aman di tengah-tengah ombak yang terus menyerang kita.

Bagaimanapun juga, kita harus tetap mengikuti petunjuk yang telah diberikan yaitu: kita ber-pegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih untuk bertumbuh di dalam segala hal (bukan ke segala arah) ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala (Ef. 4:15). Kenyataannya, banyak orang Kristen bertumbuh rohaninya tetapi tidak fokus kepada Kristus. Mereka memegang doktrin ini, dogma itu dst. sehingga tidak terarah dengan baik padahal seluruh anggota tubuh (kaki, tangan, mata, telinga, mulut dll.) harus bertumbuh ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.

Kepala, yang mana di dalamnya ada otak, menjadi pusat pengendali seluruh anggota tubuh. Kadang-kadang tanpa sadar kita menjadi kepala menggantikan posisi Yesus sehingga bukan Yesus yang mengendalikan tetapi emosi kita yang mau mengatur atau mengabaikan anggota tubuh Kristus lainnya. Akibatnya, dalam kegiatan pelayanan, pertumbuhan terjadi menurut kemauan sendiri bukan ke arah Dia. Benarkah kaki tidak membutuhkan tangan, telinga tidak membutuhkan mata dst. (1 Kor. 12:14-20)? Mungkinkah gembala bergerak sendiri tanpa peduli terhadap penginjil dsb.? Ilustrasi: semua anggota tubuh saling berkaitan dan bekerja sama demi tercapaikan sesuatu yang diinginkan. Misal: tangan diperintahkan kepala (otak) untuk mengambil Alkitab, mata melihat Alkitab dan kaki berjalan menuju ke tempat Alkitab menurut petunjuk mata. Jika salah satu anggota tubuh mogok tidak mau melakukan tugasnya, Alkitab yang diinginkan tidak akan pernah didapat.

Setiap anggota tubuh harus siap sedia setiap saat melakukan tugas sesuai dengan kemampuan yang diberikan oleh-Nya. Misal: anggota paduan suara begitu merdu melantunkan lagu saat bertugas tetapi ketika tidak ada jadwal menyanyi, suaranya tidak terdengar sama sekali di antara jemaat. Jujur, kita sering belum sepenuhnya masuk dalam anggota tubuh. Akibatnya, kita sering tersinggung, tidak senang dengan seseorang dll. karena kita belum/tidak menyatu.

Waspada, badai angin yang kencang berusaha menarik dan menggugurkan pengharapan kita! Untuk itu kita harus bersikap dewasa dengan meninggalkan pikiran dan perkataan anak-anak. Faktanya, banyak orang Kristen masih suka bahasa anak-anak yang pro sini dan pro sana seperti terjadi pada jemaat Korintus yang pro Apolos, Paulus, Petrus (1 Kor. 3:4). Ingat, Tuhan memakai masing-masing dari kita dengan karunia berbeda tetapi arah tujuannya sama yaitu Yesus, Kepala gereja.

Lebih lanjut, seluruh anggota tubuh rapi tersusun dan diikat (bukan tersusun lepas bebas) men-jadi satu oleh pelayanan semua bagiannya (mata terus menjadi mata tidak berubah tugas menjadi telinga) sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota. Jangan kita melayani ala kadarnya tetapi menurut kadar/ketentuan karunia yang kita terima! Jelas, kita tidak boleh iri hati dengan karunia orang lain tetapi menekuni karunia kita sendiri dan melakukannya penuh sukacita. Iri hati dan dengki berpotensi merusak kesatuan dan kerja sama antaranggota tubuh berakibat tubuh tidak bertumbuh dengan sehat. Misal: tangan yang beralih tugas melakukan pekerjaan kaki akan berakhir dengan kekacauan.

Tiap-tiap anggota harus bertumbuh dan membangun diri di dalam kasih. Tidak ada satu ang-gota tubuh yang paling murni dan sempurna kecuali Allah yang adalah kasih serta tidak ada sifat cemburu, sombong, pemarah, dll. di dalamnya. Kita harus memiliki iman, pengharapan dan kasih; yang paling besar di antaranya ialah kasih (1 Kor. 13:1-13).

Sekarang kita mengerti bahwa semua anggota tubuh tidak boleh bekerja sendiri-sendiri meskipun mempunyai karunia hebat tetapi dengan kerja sama yang kuat terciptalah anggota tubuh Kristus sempurna sesuai dengan kehendak-Nya dan siap menerima Kristus sebagai Kepala atas tubuh-Nya. Amin.