Manusia Baru Yang “4 M”

Manusia Baru Yang “4 M”

Pdm. Jusak Pundiono, Minggu, Johor, 23 September 2018

Shalom,

Bila Tuhan menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi, Ia tidak bermaksud men-datangkan kegelisahan atau ketakutan tetapi justru membuat kita bersukacita. Perhatikan, pakaian seragam (sekolah, kantor, gereja dst.) menunjukkan jati diri seseorang dan si pemakai diharapkan berperilaku sesuai dengan misi di balik seragam tersebut sebab ini berkaitan dengan pandangan orang lain terhadap mereka yang berseragam sama. Misal: ketika kita melihat seseorang berseragam pelayan Tuhan kita akan mempunyai gambaran akan pelayan-pelayan Tuhan lain yang berseragam sama.

Firman Tuhan menyatakan setiap orang percaya mengalami pembaruan karena dia mengenakan pakaian baru dan menanggalkan pakaian lama.

Apa yang harus diperbuat untuk menjadi manusia baru mengenakan ‘pakaian baru’? Efesus 4:25-29 menasihatkan agar kita “4 M”:

1. Membuang dusta (ay. 25)

“Karena itu buanglah dusta (Yun. Pseudos = tidak nyata/imitasi) dan berkatalah benar seorang kepada yang lain karena kita adalah sesama anggota.”

Waspada, bila satu orang berdusta, anggota-angota lain dalam kelompok itu akan terkena imbasnya. Misal: satu murid suka berdusta menimbulkan pandangan negatif terhadap teman-teman sekelompok dengan murid itu.

Ayat 25 diawali dengan kata penghubung “Karena itu” untuk menunjukkan adanya kaitan dengan ayat sebelumnya (ay. 24) yaitu “mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”

Untuk mengenakan manusia baru kita harus membuang/menanggalkan manusia lama. Apa yang harus dibuang/ditinggalkan? Dusta yang bermakna: tidak nyata atau imitasi. Membuang/menanggalkan dusta berarti membuang segala sesuatu yang tidak nyata.

Imamat 19:11 mengingatkan agar kita tidak mencuri dan tidak berbohong/berdusta kepada sesama. Misal: kita mencuri (perbuatan nyata) namun ketika di-tanya apakah kita telah mencuri kita berdusta dengan mengatakan ‘tidak mencuri’ berarti kita membuat kesalahan nyata (mencuri) menjadi tidak nyata atau kesa-lahan mencuri itu seolah-olah tidak ada.

Mengapa kita berdusta? Karena (1) takut dan (2) tidak mau terlihat salah.

Berdusta juga berarti memungkiri sesuatu seperti tertulis dalam Imamat 6:1-3, “TUHAN berfirman kepada Musa: "Apabila seseorang berbuat dosa dan berubah setia terhadap TUHAN dan memungkiri terhadap sesamanya barang yang diper-cayakan kepadanya atau barang yang diserahkan kepadanya atau barang yang dirampasnya atau apabila ia telah melakukan pemerasan atas sesamanya atau bila ia menemui barang hilang dan memungkirinya dan ia bersumpah dusta – dalam perkara apa pun yang diperbuat seseorang sehingga ia berdosa –”

Sebagai manusia baru berpakaian baru, kita harus berbicara apa adanya, jujur, terbuka tidak hanya kepada manusia tetapi terutama kepada Tuhan. Bukankah kita sering berdalih dan mencari-cari alasan untuk tidak melakukan sesuatu yang seha-rusnya dapat kita lakukan?

Bagaimana membuang dusta?

  • Kita diciptakan menjadi manusia barumenurut kehendak Allah bukan dari kemampuan diri sendiri. Kemampuan manusia paling hebat pun cuma dapat menjiplak; hanya Allah yang mampu menciptakan dan menge-nakan pakaian baru kepada ciptaan-Nya dalam kebenaran dan kekudusan sejati.

Kita dapat memakai ‘seragam/pakaian’ apa saja untuk menunjukkan atribut-atribut orang Kristen tetapi kalau Tuhan tidak menciptakan pakaian baru dalam kehidupan kita maka apa yang kita kenakan hanyalah pakaian imitasi/tidak nyata/palsu/pura-pura/kemunafikan. Misal: kita bisa tampak sibuk dalam ba-nyak pelayanan dan manusia hanya mampu melihat penampilan luar kita tetapi Tuhan mengetahui motivasi sesungguhnya dibalik pakaian yang kita kenakan.

Bagaimana Allah di dalam Yesus Kristus mengenakan kita pakaian baru? Kita diperlengkapi (clothed = dikenakan, dipakaikan) dengan kuasa dari tempat tinggi itulah Roh Kudus (Luk. 24:49).

Bila kita mengenakan pakaian baru oleh Roh Kudus, kita dapat melayani penuh rendah hati tanpa ada tanda dusta. Dengan demikian kita melayani (tampil dilihat orang maupun di belakang layar) mengenakan pakaian kebenaran dan kekudusan sejati dari tempat yang mahatinggi.

  • Kita diperintahkan untuk berkata benar seorang kepada yang lain.

Dusta tidak berasal dari kebenaran (1 Yoh. 2:21) dan pendusta tidak memiliki kebenaran, Iblislah bapa segala dusta (Yoh. 8:44).

Perhatikan, dusta bukanlah perkara ringan karena berkaitan dengan anggota-anggota tubuh Kristus lain yang dibangun untuk menyatu dengan Kristus sebagai Kepala. Gereja boleh memiliki banyak nama tetapi nanti hanya ada satu nama gereja yang dikenal itulah pengantin perempuan Kristus di langit bumi baru. Langit bumi sekarang ini hanya imitasi yang sedang menuju kehancuran. Waspada, pendusta tidak akan masuk dalam Yerusalem baru (Why. 21:27; 22:15).

Tuhan menyediakan pakaian baru untuk menciptakan kita menjadi baru dan kita diproses terus menerus menjadi sama serupa dengan Dia dalam kebenaran dan kekudusan yang sejati.

2. Mengendalikan amarah (ay. 26-27)

“Apabila kamu menjadi marah janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.”

Tentu kita boleh marah tetapi cara/gaya marah kita tidak boleh membuat kita berdosa (bnd. Ams. 22:24-25; Ams. 29:22).

Kita diperintahkan untuk memadamkan amarah agar tidak berdosa dan tidak mem-beri kesempatan kepada Iblis. ‘Kemarahan’ kita seharusnya dapat membawa orang berdosa tertegur dan Roh Kudus bekerja menginsafkannya.

Kita harus dapat memadamkan amarah sebelum matahari terbenam. Bagi orang Yahudi, satu hari berlangsung dari matahari terbenam hingga matahari terbenam esok harinya, misal hari Sabat (Im. 23:32). Jika seorang menjadi najis dan sudah melakukan prosesi penahiran, ia najis sampai matahari terbenam (Im.15). Ini menjadi jangka waktu yang menentukan apakah amarah makin surut atau malah menajiskan diri sendiri dan sesama. Itu sebabnya kita harus dapat mengendalikan diri di bawah kuasa Tuhan yang dapat mengendalikan matahari (Mzm. 104:19). Waspada, Iblis menajiskan kita karena perkataan-perkataan jahat dan najis keluar dari mulut yang berasal dari hati (Mat. 12:34).

Allah, Sang Pencipta, mengendalikan matahari sehingga tahu waktu terbenamnya; Ia pula yang menciptakan kita. Kalau kita tidak dapat mengendalikan marah, kita tidak dikendalikan oleh Sang Pencipta dan Roh Kudus tetapi dikendalikan oleh Iblis karena kita sudah memberi kesempatan kepadanya. Iblis akan mengendalikan kita melalui apa yang kita lakukan atau ucapkan dalam amarah kita.

Jangan menganggap sepele tabiat suka marah dengan dalih Yesus sendiri juga pernah marah. Ketahui apa yang membuat Yesus marah dan apa yang menjadi dasar kita cepat emosi. Hendaknya kita dapat mengendalikan diri dalam kasih sebab Roh Allah dan kasih-Nya telah diberikan kepada kita saat kita percaya kepada-Nya. Kita tahu bahwa kasih itu panjang sabar (1 Kor. 13:4), biarlah ini menjadi latihan bagi kita untuk dapat mengendalikan amarah.

3. Melakukan pekerjaan baik (ay. 28)

“Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.”

Marilah kita suka membagi berkat kepada mereka yang membutuhkan dan memberikan persembahan untuk pekerjaan Tuhan. Ada banyak faktor yang membuat kita beroleh berkat. Tuhan mau supaya berkat itu diperoleh dengan tangan sendiri hasil kerja keras disertai kerajinan, ketertiban dan disiplin bukan hasil dari mencuri.

Jangan gagal paham terhadap ayat yang mengatakan “Tuhan memberkati orang yang dikasihi-Nya selagi dia tidur” (Mzm. 127:2). Ayat ini berlaku bagi mereka yang bekerja keras, rajin dan apa yang dikerjakannya itu baik serta tidak mengandalkan kerja kerasnya melainkan menyerahkan hasil kerja keras mereka kepada Tuhan.

Ada begitu banyak jenis pekerjaan yang dikategorikan baik dan tidak baik. Kita dapat memilahnya melalui bisikan Roh Kudus yang ada dalam kita serta Firman Tuhan yang kita baca setiap hari. Kebaikan Tuhan tercatat dalam Alkitab dan puncak kebaikan-Nya ialah penyelamatan manusia berdosa.

Mencuri dalam bahasa Yunani adalah klepto dan dari sini muncul istilah kleptomania = kelainan jiwa berupa keinginan hendak mencuri yang tidak dapat ditahan-tahan. Kita dilarang mencuri yang dilakukan dengan sengaja termasuk mencuri waktu dan mencuri kesempatan. Bagaimana kita mengoperasikan fungsi tangan? Dengan tangan kita dapat melakukan pekerjaan baik; dengan tangan pula kita dapat melakukan perbuatan tidak baik alias jahat!

Aplikasi: hendaknya kita menggunakan tangan untuk melakukan pekerjaan baik. Tuhan tidak melihat besar dan banyaknya pekerjaan kita tetapi ketulusan hati seperti janda miskin mempersembahkan uang dua peser (Luk. 21:1-4) disertai pakaian kebenaran dan kekudusan.

4. Mengucapkan perkataan baik (ay. 29)

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun di mana perlu supaya mereka yang men-dengarnya beroleh kasih karunia.”

Setiap suku mempunyai perkataan-perkataan kotor yang dipakai sehari-hari dan dianggap tidak bermasalah apalagi dosa dalam menggunakannya.

Bila dahulu kita terbiasa mengucapkan perkataan kotor, setelah mengenakan pakaian baru ciptaan Tuhan dan Roh Kudus menyelubungi kehidupan kita, semua perkataan kita berbalik menjadi perkataan yang terkontrol. Perkataan yang kita ucapkan bersifat membangun tidak lagi kotor mengandung kebusukan yang meru-sak motivasi, keinginan, pikiran dan hati orang lain. Ingat, setiap ucapan sia-sia (bhs. Yun: sapros) itu kotor apalagi kalau diucapkan tak henti-hentinya (nyerocos terus).

Introspeksi: pakaian apa yang kita kenakan untuk menutupi kehidupan kita? Pakaian yang Tuhan ciptakan atau pakaian ciptaan sendiri?

Kalau dahulu kita lebih banyak menggunakan mulut dan tulisan untuk meng-ekspresikan ketajaman perkataan yang menusuk/menyakitkan, di zaman now, kita memakai jari menuliskan berita hoax, gosip, guyonan porno dll. untuk disebarkan di sosial media, facebook, Yahoo Messenger dll. Sesungguhnya pakaian yang kita kenakan (karena ada Roh Kudus) memberi kita kemampuan untuk memilih dan mengontrol apa yang diketik, di-posting dan diunggah! Memilih yang membangun atau merusak, yang fitnah atau kebenaran, opini atau fakta! Hendaknya apa yang kita lakukan dan ucapkan mendatangkan kasih karunia dan damai sejahtera!

Apa ciri-ciri perkataan baik? Bermoral, mulia, pantas, berguna sehingga mem-bangun bukan bermulut manis asal menyemangati, memuji dan menyanjung.

Perkataan baik diucapkan di mana perlu maksudnya pemilihan kata-kata baik haruslah tepat juga digunakan pada waktu yang tepat.

Kita telah beroleh kasih karunia menjadi manusia baru yang tidak lagi berkata dusta, tidak mudah marah; sebaliknya, melakukan pekerjaan baik dan mengucapkan perkataan baik sehingga tercipta kesatuan tubuh yang terus bertumbuh ke arah Dia, Yesus, sebagai Kepala. Amin.