Anda ingin berlangganan ringkasan khotbah melalui email ?

Silahkan mendaftar disini

(Anda akan mendapatkan email berisi ringkasan khotbah, kesaksian, dan artikel terbaru)

Sudah terdaftar dan ingin mengubah status berlangganan? Silahkan login disini 

 
 

Awas Jebakan-Jebakan Berkedok Agamawi!

Awas Jebakan-Jebakan Berkedok Agamawi!

Minggu, Johor, 20 Agustus , 2017

Pdt. Stephen Pandir Manurung

Shalom,

Sadarkah kita bahwa kejahatan sekarang ini makin mengerikan dengan berbagai modus kreatif dan dinamis sehingga sulit untuk dideteksi? Misal: penipuan berbentuk drama kecelakaan atau melalui telepon atau modus menang undian atau tagihan secara otomatis juga modus menemu-kan emas dst. Karena banyaknya penipuan yang tampak begitu ‘menawan’, tanpa sadar kita mudah terjebak dan menjadi korban karenanya. Di lain pihak, kita menjadi sangat fokus bagai-mana mencegahnya padahal semua penipuan tersebut hanya menyangkut hal-hal duniawi ber-sifat fana namun ada satu lagi jebakan mengerikan karena berkaitan dengan kehidupan kekal itulah jebakan-jebakan berkedok agamawi yang berujung pada kebinasaan. Jebakan-jebakan ini sering tidak disadari sehingga sulit diantisipasi.

Alkitab telah memberitahukan jebakan-jebakan berkedok agamawi agar kita waspada dan menghindarinya. Jebakan-jebakan apa yang Yesus ingatkan?

1. Jebakan ritualitas dan rutinitas (Luk. 11:37-40)

“Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi mengundang Dia untuk makan di rumah-nya. Maka masuklah Ia ke rumah itu lalu duduk makan. Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran karena Yesus tidak mencuci (=immerse) tangan-Nya sebelum makan.

Seorang Farisi mengundang Yesus makan di rumahnya. Tanpa praduga dan prasangka apa pun, Yesus memenuhi undangannya. Anehnya, si tuan rumah (orang Farisi) mengundang sambil mencari-cari kesalahan orang. Buktinya? Dia merasa heran Yesus tidak mencuci tangan-Nya terlebih dahulu sebelum makan. Apakah tindakan ini termasuk kejahatan? Ternyata orang Farisi dan ahli Taurat sudah terjebak pada masalah rutinitas dan ritual melebihi Firman Allah. Sebenarnya aturan mencuci tangan sebelum makan tidak tercantum dalam hukum Taurat tetapi merupakan tradisi yang mereka bangun sendiri. Akibatnya, suasana jamuan makan menjadi ‘rusak’, seharusnya bersuasanakan sukacita penuh pujian akan sajian dan lezatnya menu makanan yang dihidangkan berubah total bahkan berakhir dengan perkataan ‘Celakalah kamu’ yang keluar dari mulut Yesus.

Implikasi: orang Farisi dan ahli Taurat merupakan cermin keberadaan kekristenan yang mana agama dilakukan sebatas kegiatan ritual dan rutinitas semata.

Dalam hal ini, mencuci tangan (immerse = merendam tangan sampai penuh) tidak ber-bicara tentang higienis tetapi lebih ditekankan pada tradisi. Bukankah untuk makan (roti) cukup mencuci jari-jari tidak perlu seluruh tangan direndam? Kemungkinan Yesus sedang lapar seusai mengajar dan orang lapar perlu makan bukan ritualitas, mungkin pula Ia sudah mencuci tangan (dicelup) kemudian makan namun saat itu orang Farisi tersinggung karena mereka melihat Ia tidak mencuci tangan-Nya sesuai aturan tradisi.

Waspada bila kita beribadah tanpa mengetahui arti, tujuan dan alasan beribadah, misal: pergi ke gereja karena ikut-ikutan keluarga atau teman, mengangkat tangan saat pujian karena pemimpin pujian mengangkat tangan, “berbahasa Roh” agar terlihat tidak beda dengan orang-orang di sekitarnya dll. Akibatnya, ibadah dilakukan hanya sekadar ritualitas dan rutinitas sehingga banyak orang Kristen tidak menghargai ibadah dengan sibuk main HP, ngobrol, menoleh ke kanan kiri melihat orang keluar masuk ruang gereja dsb., mereka tidak fokus memuji Tuhan serta mendengarkan Firman-Nya.

2. Jebakan kamuflase rohani (ay. 39-41)

“Tetapi Tuhan berkata kepadanya: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.”

Jebakan kamuflase rohani sering terjadi dan paling efektif dilakukan oleh anak-anak Tuhan karena hidup di lingkungan rohani. Kenyataannya, banyak penipuan dilakukan oleh sesama pelayan Tuhan berkedok rohani misal: untuk pembangunan gereja, dana untuk PPI (abal-abal), menolong jemaat yang membutuhkan dll. padahal uang yang diterima digunakan untuk keperluan pribadi.

Kamuflase artinya perubahan bentuk, rupa, sikap, warna dsb. menjadi lain agar tidak dikenali; penyamaran, pengelabuan. Ada 25 jenis binatang di dunia ini yang jago berkamu-flase mulai dari binatang laut, bunglon, dll. Dari semua keahlian mengamuflase diri tersebut, tujuannya hanya dua: (1) kalau tidak mengelabui/menipu calon mangsa, (2) juga digunakan untuk mengelabui pemangsanya.

Perlu diketahui, cawan pada masa itu cukup dalam dan besar sehingga dapat dipakai untuk menyimpan harta benda, uang atau sesuatu yang berharga. Yesus melihat bahwa orang-orang yang kelihatannya sangat rohani ini ternyata adalah para penipu/penggarong umat. Orang Farisi hanya membersihkan bagian luarnya supaya kelihatan bagus nan indah namun Yesus menegur mereka dengan keras dan mengatakannya ‘orang bodoh’. Siapa yang dimaksud dengan orang bodoh? Bukan orang yang tidak tahu harus melakukan apa tetapi orang yang melakukan sesuatu namun tidak tahu makna dari apa yang dilakukan-nya. Terbukti, orang Farisi tetap mempertahankan gaya hidup dan tradisi tanpa mau mengalami keubahan. Akibatnya, walau rajin beribadah, tidak ada tanda-tanda perubahan hidup sehingga ibadah dilakukan demi kehadiran dan legalitas semata.

Aplikasi: hendaknya kita berdoa, beribadah dan melayani Tuhan bukan untuk dilihat orang tetapi sebagai ucapan syukur dan keinginan untuk menyenangkan hati-Nya. Bila kita tahu apa yang kita kerjakan (tidak ikut-ikutan), kita tidak akan mudah terpengaruh kemudian menghakimi orang lain ketika melihat ada perbedaan pada orang tersebut. Juga tidak terjadi perpindahan jemaat dari gereja satu ke gereja lainnya sebab salah satu penyebab ‘migrasi’ tersebut ialah keengganan bahkan takut untuk berubah setelah mendengar teguran Firman Tuhan.

Dengan keras Yesus mengoreksi rutinitas orang-orang Farisi yang mana mereka melaku-kan semua itu untuk mengelabui/menutupi dosa-dosa mereka. Mereka berfokus hanya pada bagian luar yang kelihatan padahal Tuhan membuat baik bagian dalam maupun bagian luar manusia. Justru bagian dalam dari cawan itu harus dibersihkan lebih dahulu maka sebelah luarnya akan bersih (Mat. 23:26). Dengan kata lain, inner beauty menjadi prioritas! Jangan minder/rendah diri bila penampilan luar begitu sederhana penuh keku-rangan; sebaliknya, perbaiki dan barui manusia bagian dalam (batiniah) dari hari ke hari (2 Kor. 4:16).

Lebih lanjut Yesus menginginkan ‘isinya’ diberikan sebagai sedekah maka semuanya menjadi bersih. Yesus tidak dapat ditipu dengan kemasan-kemasan indah tetapi Ia merindukan kita mempersembahkan jiwa dan hati kita kepada-Nya sehingga kita dapat menyembah di dalam Roh dan kebenaran (Yoh. 4:24).

Aplikasi: penampilan luar boleh semakin merosot karena faktor usia (walau tiap hari dipoles supaya tampak indah) tetapi manusia batiniah kita harus semakin baru dan indah di hadapan Tuhan. Jangan fokus pada perkara luar kemudian melalaikan pembentukan inner beauty sebab Alkitab mengatakan kecantikan dan kemolekan itu sia-sia (Ams. 31: 30). Jadilah seperti batu berlian yang dapat memproyeksikan cahaya dengan baik dan sinarnya terpancar kuat dari dalamnya. Jangan bersembunyi di balik hal-hal rohani untuk menutupi kejahatan tetapi buka dan lepaskan topeng/kamuflase tersebut! Biarkan keku-rangan kita terlihat untuk dibentuk menjadi mulia sebab tidak ada sesuatu pun tersem-bunyi di hadapan-Nya (Yer. 16:17; Ibr. 4:13); cepat atau lambat semua akan dibukakan!

3. Jebakan motivasi (ay. 42)

“Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.”

Orang Farisi sangat detail dalam memberikan persepuluhan dari semua yang mereka terima. Sayangnya, mereka melakukan semua itu dengan tujuan ingin merubah posisi Allah dengan menggunakan standar sendiri. Matius 15:5-6 menuliskan, “Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.”

Yesus begitu keras menegur orang-orang Farisi dan mengatakannya “Celaka” karena mereka memberikan kurban dan persembahan untuk membenarkan diri dan merubah standar keadilan Allah dengan standar keadilan diri sendiri, merubah standar kasih Allah dengan ukuran kasihnya, merubah hukum Allah untuk tidak lagi wajib menghormati orang tua jika sudah memberikan persembahan kepada Tuhan. Mengerikan sekali jika kita merubah keadilan Allah dengan standar kita sendiri, kita menjadi allah-allah kecil. Misal: dilarang mencuri tetapi kalau tidak ketahuan tidak apa-apa; kita ‘menyogok’ Tuhan dengan memberikan persepuluhan dan persembahan padahal persepuluhan dan persembahan yang kita berikan sesungguhnya tidak untuk Tuhan karena dipakai untuk keperluan ibadah berarti untuk kebutuhan kita sendiri.

Introspeksi: apa motivasi kita datang beribadah? Apakah yang miskin ingin menjadi kaya paling sedikit menerima uang transport dan sembako? Yang sakit mengalami kesembuh-an? Menyenangkan hati orang tua yang memaksa pergi gereja (sudah mendapat upah yaitu mereka senang)? Atau kita datang mempersembahkan hidup dan apa yang kita miliki kepada Tuhan? Memberikan diri diperbaiki dan dipulihkan oleh-Nya? Ingat, apa yang kita lakukan termasuk segala jerih payah kita di dalam Tuhan pasti sia-sia bila motivasi kita keliru. Untuk itu murnikan motivasi kita dalam mengikut dan melayani Tuhan!

Kita patut bersyukur bila Tuhan menegur kita melalui Firman-Nya; dengan demikian kita masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki diri dan mawas diri terhadap jebakan-jebakan ritualitas dan rutinitas, jebakan kamuflase rohani bahkan jebakan motivasi yang semuanya dapat menjerumuskan kita ke jalur salah berakhir dengan pehukuman kekal. Jangan keraskan hati, datanglah kepada-Nya, akui semua kekurangan kita dan yakinlah bahwa Ia sanggup mengubahkan kehidupan kita maka ibadah dan pelayanan kita diperkenan oleh-Nya dan Nama Tuhan dipermuliakan. Amin.


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account