Perhatikan Bagaimana Kamu Hidup!

Perhatikan Bagaimana Kamu Hidup!

Pdt. Paulus Budiono, Minggu, Johor, 21 Oktober 2018

Shalom,

Masihkah kita percaya adanya mukjizat? Mukjizat apa yang kita inginkan? Mukjizat kesem-buhan? Mukjizat pemulihan dari keterpurukan ekonomi dan pekerjaan, keretakan nikah dan rumah tangga dst.? Yakinkah hidup kita ditentukan oleh perkataan Tuhan? Dan percayakah Kitab Kejadian sampai Wahyu adalah Firman Allah tanpa salah? Jika ya, saat membaca dan mendengarkan perkataan/Firman Allah yang ditulis dalam pelbagai terjemahan bahasa, kita harus mengaminkan bahwa setiap perkataan-Nya baik berupa nasihat, peringatan, teguran, penghiburan dll. ditujukan bagi diri sendiri bukan untuk orang lain.

Nasihat apa yang Tuhan sodorkan bagi kita saat ini? “Karena itu perhatikanlah dengan saksama bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang bebal tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat. ” (Ef. 5:15-16)

“Karena itu” menunjuk pada akibat dari penyebab/alasan kalimat sebelumnya (ayat 14) yang menyatakan “Bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu."

Rasul Paulus menulis Surat Roma (± 57M) dalam urapan Roh Kudus kemudian dikanonisasi menjadi Firman Allah dan dibaca hingga saat ini. Dia mengingatkan kita untuk bangun dari tidur karena keselamatan sudah lebih dekat daripada waktu kita menjadi percaya. Hari sudah jauh malam sebab itu kita harus menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkatan senjata terang (Rm. 13:11-12). Rasul Paulus tidak hanya meng-ingatkan jemaat Efesus tetapi juga jemaat Roma dan jemaat-jemaat lain (termasuk kita yang membaca tulisannya). Perhatikan, setiap ayat dalam Alkitab yang ditulis lebih dari 40 penulis dengan latar belakang beda tetapi semua dalam urapan Roh Kudus tidak boleh dipilah-pilah sesuai selera kita karena ini sama dengan tidak memercayai keseluruhan Firman Allah – Yesus – yang tidak dapat dipisah-pisahkan.

Kita, bangsa kafir, dahulu mati dalam dosa tetapi oleh kasih Allah kita dibangkitkan bersama Kristus untuk beroleh keselamatan (Ef. 2:1-5). Setelah bangun dari tidur dan bangkit dari mati kita memperoleh terang Kristus untuk berhati-hati bagaimana kita hidup. Harus diakui, orang tua mempunyai kehati-hatian dan keteledoran sendiri; demikian pula orang muda dan anak-anak memiliki keseriusan dan kegegabahannya sendiri. Oleh sebab itu Alkitab mengingatkan siapa pun agar hati-hati untuk:

  • Tidak seperti orang bebal tetapi seperti orang arif dengan mempergunakan waktu yang ada karena hari-hari ini adalah jahat (Ef. 5:15b-16).

Untuk tidak melanggar larangan (“tidak/jangan”), kita harus mematuhi tata tertib yang berlaku di seluruh aspek kehidupan (di rumah, sekolah, pekerjaan dan masyarakat). Firman Allah tidak hanya menegakkan kasih karunia tetapi juga kebenaran dan keadilan. Keadilan Allah dibuktikan dengan menghukum dosa kita yang dahulu hidup dalam kegelapan untuk sekarang kita beroleh kasih karunia terang yang harus kita pertahankan. Kita harus selalu berada di dalam terang di tengah kegelapan dunia ini bagaikan Kandil Emas di Tabernakel yang bersinar terang di malam sampai pagi hari (Kel. 27:20-21; Im. 24:3). Bayangkan kalau kita hidup dalam kegelapan, kita akan terbentur satu sama lain berakibat timbulnya banyak masalah!

Perjanjian Lama tepatnya Amsal 15:20 menegaskan anak arif/bijak menggembirakan ayahnya tetapi anak bebal menghina/memalukan ibunya. Setiap dari kita pasti memiliki ayah-ibu meskipun tidak semua dari kita mempunyai anak. Rasul Paulus mengatakan bahwa hamba Tuhan berposisikan sebagai ibu yang mengasuh dan merawat jemaat (anaknya) sekaligus sebagai ayah yang memberikan nasihat supaya jemaat hidup berkenan kepada Allah yang memanggilnya ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya (1 Tes. 2:7,11-12).

Faktanya, banyak filsuf menuliskan ‘kata-kata bijak’ dan tanpa sadar banyak orang Kristen mencomot kata-kata manusia lebih daripada Firman Allah.

Siapa orang bodoh yang dimaksud oleh Allah? 1 Korintus 1:18-19 menuliskan, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan…"

Aneh, Tuhan sendiri menciptakan manusia yang pandai dan arif tetapi mengapa Ia mau membinasakan hikmat mereka? Pastikan bahwa hikmat yang kita kembangkan itu berasal dari Allah bukan semata-mata dari ilmu dan kepandaian manusia sehebat apa pun (ay. 20) sebab Kristus adalah hikmat Allah (1 Kor. 1:24) dan hikmat di luar Alkitab tidak dapat dipertanggungjawabkan. Jadi, kalau kita mengikuti hikmat dunia, kita justru bodoh di hadapan Tuhan sebab kenyataannya banyak orang pandai dan jenius di dunia ini malah tidak mengakui Yesus bahkan menghalangi orang lain percaya kepada-Nya dengan temuan teori-teori mereka. Misal: teori evolusi Darwin masih diajarkan di sekolah-sekolah membuat siswa tidak percaya manusia diciptakan oleh Allah.

Perolehan hikmat yang benar dimulai dari menerima Pribadi Yesus dan misi penyelamatan serta pengampunan dari-Nya. Itu sebabnya hikmat menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi dan kebodohan untuk orang-orang bukan Yahudi yang tidak terpanggil (ay. 23).

Selain hidup arif/bijak, kita harus mempergunakan waktu dengan tepat dan baik sebab waktu tidak dapat diputar balik atau ditahan atau dibayar ganti rugi jika kita terlambat melakukan sesuatu. Misal: kemarin kita tidak makan (biasa 1 piring), sekarang kita makan double porsi untuk menggantikan makanan yang seharusnya dikonsumsi kemarin. Memang kita dapat memaksakan diri makan 2 piring tetapi perut menjadi sakit karena kelebihan. Kalau kita makan dengan rutin, kesehatan pun akan terpengaruh. Demikian pula dalam membaca Alkitab jangan terputus-putus! Apakah pembacaan langsung 10 pasal cukup menggantikan beberapa hari absen tidak membaca Alkitab? Sesungguhnya tindakan ini malah merusak dan membuat ‘sakit’ sebab kita asal baca tanpa merenungkan makna dan pesan Tuhan kepada kita.

Waktu terus berjalan, bila hampir 2000 tahun lalu Rasul Paulus mengatakan ‘hari-hari ini adalah jahat” terlebih hidup di zaman akhir ini. Kejahatan apa yang makin merajalela di hari-hari ini? Percabulan, kecemaran dan keserakahan (Ef. 5:3) yang membuat seseorang kehilangan keselamatan.

Kita tidak hidup melulu di dalam gereja tetapi lebih banyak melakukan kegiatan di luar gereja. Itu sebabnya Rasul Paulus mengingatkan, “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.” (Kol. 4:5)

Sebagai orang Kristen, kita harus dapat menjadi contoh/teladan bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang (di)luar Tuhan. Pakailah hikmat Allah (bukan budaya, kebiasaan atau filosofi dunia) dalam berbicara dengan mereka! Untuk itu kita harus berani menanggung risiko dilecehkan, dikecam bahkan dikucilkan. Misal: mana yang harus dipilih: kebudayaan leluhur yang sudah melekat turun temurun atau kebenaran Firman Tuhan? Apakah kita kompromi supaya aman dan dikenal atau kita konfrontasi dengan risiko dipecat bahkan dikucilkan?

Hendaklah kata-kata kita senantiasa pernuh kasih dan tidak hambar sehingga kita tahu bagaimana memberi jawab kepada setiap orang (Kol. 4:6). Dalam merespons perta-nyaan, kritikan, ejekan, sanjungan dll., hendaknya kita tidak mengeluarkan perkataan sia-sia (kotor dan najis) tetapi selalu menanggapi dengan bahasa kasih penuh rasa (tidak hambar). Oleh sebab itu kita yang berada di dalam (keluarga, gereja) harus belajar bersatu dengan tidak suka bertengkar agar menjadi kesaksian bagi orang-orang luar. Lebih lanjut Rasul Petrus menegaskan agar kita siap sedia di segala waktu untuk memberikan pertanggungjawaban dengan lemah lembut dan hormat kepada setiap orang yang meminta pertanggungan jawab tentang pengharapan yang ada pada kita (1 Ptr. 3:15). Sering terjadi pembelajaran di sekolah Alkitab (bersifat teori) tidak sama dengan praktik di lapangan pelayanan. Di sinilah Tuhan menjadi Guru dan hikmat-Nya dibutuhkan untuk dapat memberikan jawaban arif kepada jemaat (tua-muda, besar-kecil, beda bahasa dll.) yang datang minta pendapat atau pertolongan.

  • Tidak bodoh tetapi mengerti kehendak Tuhan

Apa yang menjadi kehendak Tuhan? Roma 12:1-2 menuliskan, “Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah itu adalah ibadahmu yang sejati. Jangan kamu menjadi serupa dengan dunia tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna!”

Untuk mengetahui kehendak Allah, kita harus berusaha minimal ikut kebaktian dan membaca Alkitab sendiri. Kita mempersembahkan tubuh yang hidup, maksudnya kita memakai otak dan hati dengan serius bukan sambil main-main saat membaca Alkitab. Ironis, kita serius belajar di sekolah atau kerja keras mengais rezeki tetapi asal-asalan mencari Firman Allah dan tidak ada usaha serius untuk mengerti kehendak-Nya.

Kehendak Allah ialah menyelamatkan kita dengan mengirimkan putra-Nya yang tunggal lahir di dunia bahkan mati disalib demi manusia berdosa. Namun sayang, kita lebih sering disibukkan dengan pesta perayaan Natal ketimbang kerinduan mendengarkan Firman Allah. Kita harus ada usaha mencari kehendak Tuhan yang membuat kita dapat membedakan mana yang baik dan berkenan di hadapan-Nya. Dengan demikian otak pikiran kita tahu bagaimana hidup kudus agar tidak mudah tergoda dengan daya tarik dunia yang dibungkus begitu apik tetapi menjebak. Waspada terhadap Yesus yang lain, roh yang lain dan Injil yang lain (2 Kor. 11:3-4)!

Yesus sendiri mengatakan bahwa di dunia kita menderita penganiayaan tetapi kita harus kuat hati sebab Ia telah mengalahkan dunia (Yoh. 16:33). Dengan kata lain kita harus dapat mengalahkan dunia bukan malah ditaklukkan dunia dengan segala tipu dayanya. Perhatikan, iman dapat mengalahkan dunia (1 Yoh. 5:4)! Iman yang mana? Kalau kita beriman bahwa Yesus adalah Anak Allah (ay. 5).

  • Tidak mabuk oleh anggur yang menimbulkan hawa nafsu tetapi penuh dengan Roh

Mengapa kita harus penuh dengan Roh? Agar dapat berkata-kata dalam mazmur dan pujian serta mengucap syukur senantiasa (ay. 19-20) bukan omelan-omelan yang selalu keluar dari mulut bibir kita.

Kita harus penuh Roh Kudus supaya tidak ada kesempatan ‘orang luar’ mengisi celah kosong karena kondisi ketidakpenuhan. Bila kita penuh dengan Roh, semua aspek kehidupan kita dikuasai oleh Roh Kudus sehingga kita dapat mengerti seluruh kebenaran Firman (Yoh. 16:13).

Siapa Roh Kudus itu? Roh Kudus bukanlah sekadar angin atau kekuatan seperti diajarkan oleh suatu aliran gereja tetapi pribadi Allah.

Apa dampak orang yang dipenuhi Roh Kudus? Waktu gereja mula-mula dipenuhi Roh Kudus, mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan (Kis. 2;42); waktu jemaat Korintus dipenuhi Roh Kudus, mereka memuji Tuhan, waktu Petrus dipenuhi Roh Kudus, dia mengetahui kebohongan Ananias dan Safira (Kis. 5:3,9); orang yang dipenuhi Roh Kudus akan bersukacita walau dianiaya (Kis. 16:25); suka bermazmur dan memuji Tuhan serta mengucap syukur senantiasa (Ef. 5:19-20) dll.

Kitab Mazmur (150 pasal) mengungkapkan nyanyian untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Dari awal (pasal 1) ditegaskan bahwa kita akan berbahagia bila merenungkan Firman Tuhan siang dan malam ditutup dengan “Haleluya, pujilah Allah” yang meng-ungkapkan kesukaan luar biasa (Mzm. 150).

Ketika ‘haleluya’ diteriakkan oleh himpunan orang banyak di Surga, pelacur besar yang merusak bumi dengan percabulannya dihukum Allah (Why. 19:1-2). Dengan kata “haleluya!” perkawinan Anak Domba telah tiba (Why. 19:6-7).

Bagaimana kita menggunakan hidup kita? Apakah kita menggunakan hikmat Allah dengan hidup dalam kekudusan agar berkenan bagi-Nya? Sudahkah kita menggunakan waktu dengan tepat dan baik untuk mengutamakan Tuhan dan memuliakan Dia senantiasa melalui mazmur dan pujian? Marilah kita siap sedia dengan seruan “haleluya’ menyambut kedatangan-Nya kembali untuk bersatu dengan Dia di Yerusalem baru selamanya. Amin.