Menjadi Teladan - Efesus 5:1-21

Menjadi Teladan - Efesus 5:1-21

Pdm. Stephanus F.Y. Songan, Minggu, Johor, 28 Oktober 2018

Shalom,

Berbicara mengenai keteladanan, Tuhan menjadi model teladan sempurna di muka bumi ini. Tidaklah mudah menjadi seorang model seperti terjadi dalam dunia fashion show yang berjalan di cat walk, mereka adalah orang-orang pilihan melalui pelatihan-pelatihan di rumah model tertentu.

Model bagaimana yang Tuhan inginkan dari kita? Efesus 5:1-2 menuliskan, “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah (imitators of God) seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.”

Yesus sudah memberikan teladan bagaimana Dia mengasihi kita bahkan menyerahkan diri-Nya sebagai persembahan yang harum bagi Allah.

Bagaimana kita harus bersikap agar dapat menjadi model teladan yang Tuhan inginkan?

  • Dimulai dari dalam/gereja

Surat Efesus ditujukan kepada jemaat Efesus tentang bagaimana menjadi manusia baru yang dipraktikkan di dalam gereja Efesus terlebih dulu sebelum nanti keluar. Ini terlihat dari ayat-ayat berikut ini:

“Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain karena kita adalah sesama anggota.” (Ef. 4:25) Sebaliknya, “dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.” (Ef. 5:19)

Pertama-tama teladan/penurut Allah dimulai dari dalam lebih dahulu paling kecil dimulai dari dalam keluarga, kehidupan nikah bergerak keluar ke gereja kemudian ke masyarakat. ‘Inner beauty’ harus terpancar keluar.

Tuhan ingin kita menjadi imitator Allah yaitu peniru-peniru Allah. Dalam bahasa Indonesia, imitasi berarti tiruan, bukan asli. Jelas, kita bukan yang asli tetapi imitasi dari Yesus. Kita hanya mengikut Dia, meneladani dan meniru sampai mirip benar menyerupai Allah tetapi kita tetap bukan Allah. Yang asli hanya satu itulah Allah dan kita hanya tiruan-Nya. Ilustrasi: ketika melihat perhiasan begitu cantik berkilauan, kita sudah tertarik untuk memakainya padahal perhiasan itu hanya imitasi; terlebih lagi bila kita memakai yang asli. Demikian pula kita adalah imitasi Yesus, hendaknya orang tertarik melihat Yesus ada dalam hidup kita karena kita meniru jejak-Nya. Walau orang dapat melihat betapa kudus kita hidup, kita tetap imitasi dan kemuliaan hanya bagi Tuhan. Kita tidak boleh mencuri kemuliaan-Nya dan menjadi sombong karena pujian orang. Contoh: bila hidup nikah kita baik dan kudus, ini semua karena Tuhan bukan kita yang hebat dan kita harus mengembalikan kemuliaan bagi Dia, Sang Pencipta nikah.

1 Petrus 2:21-23 menuliskan agar kita mengikuti jejak Kristus yang telah meninggalkan teladan dengan menderita tanpa membalas tetapi menyerahkan semua kepada Bapa-Nya yang menghakimi dengan adil. Teladan yang ditinggalkan-Nya ialah kita hidup dalam kasih dan rela berkurban. Tanpa kasih, kita dapat menjadi sombong.

Selain menjadi peniru Allah untuk hidup dalam kasih dan rela berkurban, kita diingatkan akan kehidupan masa lalu kita yang gelap (Ef. 2:11) tetapi sekarang kita adalah terang di dalam Tuhan (Ef. 5:8). Apa maksudnya? Ada perubahan/pertobatan signifikan dari gelap menjadi terang – dahulu mati karena dosa dan menanggalkan manusia lama dengan nafsu yang menyesatkan (Ef. 2:1,22) untuk bangkit bersama Kristus menjadi anak-anak terang.

Hidup dalam Kristus berarti menjadi manusia baru tetapi kita diingatkan masa lalu agar kita tidak menjadi sombong dan tidak kembali kepada hidup lama. Untuk itu kita harus tahu dengan jelas perbedaan hidup lama (gelap) dan hidup baru (terang).

Aplikasi: setelah hidup dalam terang, kita menjadi teladan dalam kasih dan rela berkurban tanpa ada motivasi kesombongan di dalamnya. Jangan mundur/kembali lagi kepada hidup lama karena tindakan ini tidak diperkenan Tuhan.

Apa penyebab orang Kristen mundur kembali kepada kehidupan lama?

- Karena tidak ada pertumbuhan rohani, bertahun-tahun mengikut Tuhan tetapi tidak suka makanan Firman Tuhan yang keras, hanya suka mengonsumsi susu (Ibr. 5:12-14).

- Tidak tahan mengalami penderitaan (Ibr. 10:36-39).

Waspada, jika seseorang kembali kepada hidup lama, kondisi hidupnya akan jauh lebih buruk daripada semula bagaikan anjing kembali lagi ke muntahnya dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya (2 Ptr. 2:20-22).

  • Ada label yang melekat yaitu: (anak-anak) terang dan (orang-orang) kudus. Ilustrasi: label yang tertera pada suatu produk menunjukkan komposisi dari produk itu. Bila tertulis beralkohol 2% berarti minuman itu mengandung alkohol 2% sesuai dengan apa yang tertulis di label.

Sebagai teladan, kita mempunyai label: anak-anak terang dan orang-orang kudus. Melalui label ini, orang-orang mengetahui kita ada perbuatan-perbuatan kudus dan terang.

Perbuatan-perbuatan kudus dan terang dibuktikan dengan tidak adanya percabulan, kecemaran, keserakahan dan perkataan kotor (Ef. 5:3-4) yang ditunjukkan/ditudingkan kepada kita oleh seseorang. Kita menjadi orang kudus oleh darah Kristus (Ibr. 13:12) dan anak terang karena percaya kepada Yesus yang adalah terang (Yoh. 12:36).

Aplikasi: hendaklah kita menjaga perkataan, sikap dan tindakan dalam kekudusan dan terang. Jangan suka berbohong tetapi pertahankan integritas/kejujuran tinggi. Nyatanya, banyak orang pandai bahkan jenius tetapi sedikit yang jujur. Sesungguhnya, orang jujur lebih dibutuhkan di dunia sekuler maupun rohani ketimbang orang pintar tetapi tidak jujur. Misal: pengusaha jujur meskipun bangkrut dapat bangkit kembali karena bank masih memperbolehkan dia pinjam uang, teman-teman bisnis membantu dia karena mereka percaya akan kejujurannya. Beda jika dia suka berbohong sana-sini, tak seorang pun percaya kepadanya.

Efesus 5:10 mengatakan, “dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.” Kalau kita berbicara terang/jujur, buahnya akan terlihat nanti dan pasti berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran dalam hidup kita (Ef. 5:9-10).

Perhatikan, kita ada label kudus dan terang yang berlaku kapan pun dan di mana pun kita berada.

  • Memiliki cara hidup pasti dalam mempergunakan waktu, mengerti kehendak Tuhan dan penuh Roh Kudus (Ef. 5:15-21).

Bagaimana lifestyle kita dalam keseharian hidup?

- Sudahkah kita mempergunakan waktu (redeeming time, making the most of your time, making the time of every opportunity) yang ada karena hari-hari ini adalah jahat?

Bagaimana kita, orang kudus dan anak terang, mempergunakan waktu dan kesempatan yang ada? Seorang pengusaha menggunakan waktu untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Semua orang diberi waktu sama yaitu 24 jam sehari. Berapa jam dihabiskan untuk tidur, sekolah/bekerja, berkomunikasi dengan Tuhan dalam Firman dan doa dst.? Buatlah daftar dan perinci semua kegiatan sehari-hari untuk mengetahui apa yang diperbuat dengan waktu yang Tuhan berikan!

Mengapa kita harus bijaksana dalam menggunakan waktu? Karena hari-hari ini adalah jahat sehingga waktu yang Tuhan berikan harus dimanfaatkan untuk melawan kejahatan yang ada di dunia ini dengan perbuatan-perbuatan baik. Manfaatkan waktu untuk memuliakan Tuhan dan lawanlah kejahatan jangan bermalas-malasan apalagi melampiaskan keinginan daging semata! Singkapkan/telanjangi perbuatan gelap untuk diterangi Firman Tuhan! Kita sudah cukup menyia-nyiakan waktu ketika masih hidup dalam kegelapan, sekarang tiba saatnya untuk menebus dan memanfaatkan waktu dengan berbuat kebaikan, keadilan dan kebenaran.

- Bagaimana kita mengerti kehendak Tuhan? Melalui pembacaan dan perenungan Firman Tuhan. Alkitab menjadi acuan untuk mengetahui kehendak Tuhan dan melakukannya.

Namun bagaimana kita dapat mengerti kehendak-Nya jika kita malas beribadah, tidak suka membaca dan merenungkan Alkitab? Giatlah dalam persekutuan dengan anak-anak Tuhan lainnya untuk membangun iman dan mengerti kehendak Tuhan lebih dalam lagi.

Jika kita malas beribadah, kita makin tidak mengerti kehendak Allah. Akibatnya terang makin redup dan kekudusan makin lenyap; kita tidak lagi peka terhadap bisikan Roh Kudus dan tidak mengikuti pimpinan-Nya yang dapat berakibat fatal. Contoh: dalam kasus Ananias dan Safira, hati mereka dikuasai Iblis sehingga mendustai Roh Kudus berakibat keduanya mati (Kis. 5:1-10).

- Hati harus dipenuhi dan dikuasai oleh Roh Kudus. Jangan memberi kesempatan sedikitpun dalam pikiran untuk merancangkan sesuatu yang jahat sebab Iblis cepat masuk dan berusaha menguasai hati kita. Sebaliknya, biarkan hati kita dipenuhi Roh Kudus sehingga terucap kata-kata indah penuh pujian dan nyanyian bagi Tuhan (Ef. 5:19).

Dalam pujian kita dapat berkomunikasi satu dengan lain – menasihati, menegur dan mengajar serta mengucap syukur kepada Allah (Kol. 3:16). Sebenarnya, dengan bernyanyi kita saling menguatkan.

Sudahkah kita hidup dalam terang dan kekudusan? Dibuktikan dengan berbuat kebaikan, keadilan dan kebenaran serta memanfaatkan waktu dengan tepat untuk memuliakan Tuhan, mengerti kehendak-Nya dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus sehingga ucapan syukur dan pujian selalu keluar dari mulut bibir kita. Amin.