Perlengkapan Senjata Allah Harus Tepat Guna Dan Tepat Pakai

Perlengkapan Senjata Allah Harus Tepat Guna Dan Tepat Pakai

Pdt. Paulus Budiono, Minggu, Lemah Putro, 2 Desember 2018

Shalom,

Umumnya dalam suasana penyembahan, orang Kristen tenggelam dalam kebanggaan diri dan memuji gerejanya paling hebat urapan dan penyembahannya. Pertanyaan: mengapa banyak orang luar tidak masuk dalam gereja? Berapa persen penduduk Surabaya yang masuk gereja untuk memuji Tuhan dan menyembah Dia? Ingat, kalau sekarang kita tidak suka memuji dan menyembah Tuhan, kita tidak akan cocok berada dalam Kerajaan-Nya yang siang malam memuji Dia (Why 4:8-9). Ilustrasi: ketika tamu asing diundang ke Istana Merdeka di Jakarta, dia harus menyesuaikan diri dengan tata cara dan budaya Indonesia agar dapat diterima dengan baik oleh pihak istana. Demikian pula jika kita ingin tinggal dalam Kerajaan Allah, dari sekarang kita sudah harus mulai membiasakan diri melakukan kegiatan-kegiatan yang lazim ditemui di sana sehingga kita tidak lagi canggung saat tiba waktunya kita pindah ke sana.

Alkitab memberikan panduan agar kita melatih diri dengan baik. Tindakan dan sikap apa yang harus kita lakukan? Kita harus siap siaga karena sedang menghadapi peperangan melawan Iblis, penguasa-penguasa dan penghulu dunia serta roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12). Untuk itu kita harus mengenakan kelengkapan senjata Allah dari kepala sampai telapak kaki untuk tidak mudah ditembus oleh panah api dari si jahat (ay. 13-17). Kalau kita benar-benar melakukan Firman Tuhan, kita dapat menjadi kesaksian hidup bagi mereka yang hidup nikahnya beran-takan, persoalan anak yang berontak kepada orang tua dll. Mereka melihat pola hidup kita (tanpa dibuat-buat atau show-off) oleh sebab pada kita ada bukti kemenangan di dalam Kris-tus. Firman Tuhan tidak berhenti hanya pada seruan tetapi kalau diterapkan dalam keseharian hidup akan berdampak besar. Contoh: orang Kristen di kota Efesus (yang penuh dengan pe-nyembahan berhala) hanya berjumlah 12 orang. Waktu Rasul Paulus datang ke kota itu, mere-ka belum mendengar tentang Roh Kudus dan dibaptis dengan baptisan Yohanes. Paulus menjelaskan lebih jauh tentang baptisan air kemudian mereka dibaptis dalam Nama Tuhan Yesus dan dipenuhi Roh Kudus (Kis. 19:1-7). Selanjutnya mereka menjadi garam dan terang bagi kotanya.

Siapakah yang mampu berperang? Anak-anak pasti belum dapat memanggul senjata, hanya orang dewasa mandiri yang mampu berperang. Bagaimanapun juga, anak-anak harus senan-tiasa dimotivasi untuk memakai senjata Allah agar dalam proses tumbuh kembang menginjak dewasa mereka tetap ingat akan pedang Allah. Bukankah roh-roh jahat begitu gencar merusak (pancaindra) anak-anak melalui gadget? Oleh sebab itu didiklah mereka dengan ajaran Firman Tuhan agar pikiran dan hati mereka menjadi landasan untuk mencintai kelengkapan senjata Allah karena mereka juga menghadapi Iblis dan antek-anteknya. Jangan menyalahkan siapa-siapa kalau pikiran kita terkena ‘sabetan’ senjata Iblis karena tidak memakai ketopong! Sungguh, amatlah penting untuk melindungi kepala hingga telapak kaki dengan kelengkapan senjata Allah!

 

 

Perlu diperhatikan, setiap senjata memiliki cara penggunaannya sendiri-sendiri. Walau sudah memakai senjata lengkap kita dapat kalah jika salah atau tidak tahu cara menggunakannya. Untuk itu perlengkapan senjata Allah harus tepat guna dan tepat pakai. Contoh:

  • Bangsa Israel belum lama keluar dari Mesir ketika mereka diserang oleh orang Amalek di Rafidim. Musa berdiri di puncak bukit mengawasi jalannya peperangan dengan memegang tongkat Allah di tangannya. Musa ditemani Harun dan Hur. Apabila Musa mengangkat ta-ngannya, lebih kuatlah Israel tetapi apabila ia menurunkan tangannya, Amalek lebih kuat. Melihat Musa penat mengangkat tangan, Harun dan Hur mengambil batu untuk tempat duduk Musa lalu mereka menopang tangan Musa di sisi kiri dan sisi kanan sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. Demikianlah Amalek dikalahkan dengan mata pedang (Kel. 17:8-13).

Implikasi: jangan mudah menyalahkan pemimpin/gembala tetapi hendaknya kita semua (gembala-penatua-majelis-jemaat) bahu membahu bekerja sama menghadapi musuh untuk beroleh kemenangan.

  • Ketika sudah dekat dengan Tanah Perjanjian, Kanaan, bangsa Israel yang suka bersungut-sungut takut masuk Kanaan karena terpengaruh omongan tidak benar (hoax) dari sepuluh pengintai. Akibatnya, Allah marah dan menghukum mereka mengembara 40 tahun di pa-dang gurun sesuai dengan jumlah hari pengintaian (40 hari) – satu hari dihitung satu tahun (Bil. 14:33-34). Mendengar hal ini, bangsa Israel kecut hati kemudian keesokan paginya hendak naik ke puncak gunung untuk menduduki Kanaan. Musa melarang mereka sebab TUHAN tidak menyertai mereka tetapi mereka nekat naik gunung, akibatnya mereka dika-lahkan oleh orang Amalek dan orang Kanaan yang mendiami pegunungan itu. Perhatikan, meskipun menggunakan senjata, orang Israel tetap kalah sebab Tuhan tidak beserta mereka.

Aplikasi: hendaknya kita tidak suka memaksakan kehendak diri sendiri maju ‘berperang’ tetapi terimalah ‘hukuman’ Tuhan akibat dari kesalahan yang kita perbuat. Ingat, walau kita memakai senjata dengan lengkap, kita akan tetap kalah bila Tuhan tidak menyertai kita.

  • Bangsa Israel sudah tinggal di Kanaan. Mereka berperang melawan orang Filistin dan ter-pukul kalah, 4.000 orang tewas dalam peperangan itu. Mereka pikir kekalahan mereka disebabkan karena tidak adanya Tabut Perjanjian bersama mereka maka diambilnya Tabut itu dari Silo. Hofni dan Pinehas (anak imam Eli) ada di dekat Tabut Perjanjian Allah. Orang Filistin sempat gemetar mendengar sorak sorai di perkemahan Israel oleh sebab hadirnya Tabut Perjanjian. Namun apa yang terjadi? Bangsa Israel tetap terpukul kalah, 30.000 pasukan gugur, tabut Allah dirampas bahkan Hofni dan Pinehas tewas (1 Sam. 4:1-11). Perlu diketahui, Hofni dan Pinehas adalah orang-orang dursila, mereka memandang rendah kurban untuk Tuhan (1 Sam. 1:12-17) dan melakukan perzinaan dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan Pintu Kemah Pertemuan (ay. 22). Terbukti hidup sembrono apalagi tanpa disertai kehadiran Tuhan pasti akan tetap ditandai kekalahan. Jangan bertindak tanpa bertanya kepada Tuhan atau tidak melibatkan Dia!
  • Raja Saul duduk di singgasana dan tombak ada di tangannya sementara Daud bermain kecapi untuk menenangkannya. Tiba-tiba Saul dikuasai roh jahat lalu melemparkan tombak ke arah Daud untuk menancapkan Daud ke dinding. Hal ini disebabkan Saul membenci Daud karena iri hati melihat Daud lebih banyak mengalahkan musuh (1 Sam. 18:1-11). Saul salah dalam menggunakan senjata.

Aplikasi: hendaknya kita tidak salah dalam menggunakan senjata Allah. Jangan ada iri hati karena musuh kita bukan manusia (menantu-mertua) tetapi Iblis dan roh-roh jahat.

  • Raja Israel, Ahab, menyamar/berpura-pura dan maju ke pertempuran bersama raja Yehuda, Yosafat. Raja Aram memerintahkan pasukannya untuk melawan raja Israel (Ahab) saja. Panglima pasukan mau menyerang Raja Ahab tetapi kecele karena ternyata Raja Yosafat. Tiba-tiba seseorang menarik panahnya dan menembak sembarangan saja. Aneh, panah itu mengenai Raja Ahab di antara sambungan baju zirahnya berakhir dengan kematian bebe-rapa jam kemudian (1 Raja. 22:30-37). Anak panah mempunyai ‘mata’ untuk memanah orang yang suka berpura-pura dan berbohong.

Aplikasi: hendaknya kita menjaga hati dan tidak suka membohongi orang (suami, istri, teman dll.) Sebaliknya, miliki hati yang jujur sebab Tuhan ikut campur dalam peperangan. Adanya kepura-puraan/ketidaksungguhan dalam berperang akan merusak kemenangan yang ingin dicapai.

  • Petrus merasa hebat karena mampu menjawab dengan tepat pertanyaan yang diajukan Yesus (Mat. 16:15-17). Ketika Yesus ditangkap, Petrus emosi lalu menghunus pedangnya memotong telinga kanan hamba Imam Besar (Yoh. 18:10). Apakah Yesus senang mendapat pembelaan dari murid-Nya? Ia menyuruh Petrus menyarungkan pedangnya (ay. 11).

Petrus penuh emosi mau membela Tuhan tetapi dia pula yang menyangkal gurunya (Yoh. 18:15-27). Setelah dipenuhi Roh Kudus, Petrus mulai berlatih bagaimana menggunakan pedang Allah. Dia menasihati kita agar hati-hati memakai pedang dan melawan Iblis dengan iman yang teguh maka dia akan lari (1 Ptr. 5:8-9).

Jika kita mengalami kegagalan secara fisik, kita perlu latihan lebih serius terlebih lagi per-kara rohani. Sekalipun tidak kasatmata, roh penentang harus dirubuhkan (2 Kor. 10:2-5).

Sesungguhnya Alkitab telah mengingatkan kita untuk tidak memberi kesempatan kepada Iblis (Ef. 4:27); berarti dahulu kita suka memberi kesempatan kepadanya bahkan mati dalam dosa karena taat kepada penguasa-penguasa kerajaan angkasa (Ef. 2:1-3). Setelah menjadi manusia baru, jangan kita kembali dikalahkan oleh roh-roh jahat yang masih berusaha memengaruhi kita lagi. Bukankah ada pasangan suami-istri yang sudah diberkati tetapi tidak sungguh-sungguh dalam Tuhan akhirnya jatuh dalam perselingkuhan? Ini bukti bahwa Iblis berusaha keras merusak kehidupan nikah.

Kt harus ‘berlatih perang’ dengan baik. Mengapa negara Israel yang kecil ditakuti oleh negara-negara kuat? Karena mereka memiliki tentara-tentara tangguh yang dilatih secara profesional dan siap pakai setiap saat. Mereka diindoktrinasi untuk memiliki jiwa nasionalis tinggi dan setia kawan yang kuat. Pemimpin menjadi teladan dan tidak asal main perintah tetapi berani berkurban demi anak buah. Kesatuan bangsa Israel begitu kuat karena iman mereka kepada Allah.

Introspeksi: sudahkah kita memerhatikan jiwa-jiwa yang ‘terhilang’ tidak tergembalakan? Atau kita sibuk dengan pelayanan pekerjaan Tuhan tanpa memedulikan keluarga dan teman yang belum mengenal Tuhan atau mundur dari-Nya?

Kita beroleh kemenangan mutlak dari Iblis oleh darah Anak Domba (Why. 12:7-11). Bukankah bangsa Israel dibebaskan dari kematian anak sulung oleh sebab darah domba yang bubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas (Kel. 12:7,13).

Sudahkah hati kita dibubuhi dan disucikan oleh darah Kristus? Iblis sempat memengaruhi Petrus dan Yesus menghardiknya (Mat. 16:21-23). Iblis juga memengaruhi pikiran Yudas sehingga dia tidak percaya Yesus adalah roti hidup, daging dan darah-Nya adalah makanan dan minuman sesungguhnya untuk beroleh hidup kekal. Dimulai dengan tidak percaya, setelah Yudas diberi Yesus roti yang dicelupkan ke dalam cawan saat itu ia kerasukan Iblis dan Yesus mengatakan kepadanya, “Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera.” (Yoh. 13:21, 26-27)  

Waspada, jangan menolak Firman Tuhan sesaat pun! Jika hari ini kita menolak Firman-Nya, makin hari kita makin tidak percaya akan perintah-Nya. Sebaliknya, marilah kita menghargai dan menjunjung tinggi pengurbanan Yesus melalui kematian-Nya disalib serta memakai per-lengkapan senjata Allah dan menggunakannya dengan tepat agar kita beroleh kemenangan bersama-Nya. Amin.