Hendaknya Kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus Senantiasa Menyertai Kita

Hendaknya Kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus Senantiasa Menyertai Kita

Pdt. Paulus Budiono, Johor, Minggu, 20 Januari 2019

Shalom,

Pernahkah Anda memerhatikan rasa makanan pertama dan makanan terakhir pada sendok makan yang masuk mulut kita? Atau tegukan minuman pertama dibandingkan dengan tegukan minuman terakhir dalam botol atau gelas? Apakah terasa berbeda atau sama atau awalnya lezat dan menyegarkan tetapi berakhir dengan bosan tidak dihabiskan atau malah sebaliknya, awalnya terasa aneh tetapi makin lama makin terasa nikmat?

Bagaimana komentar Anda terhadap irisan terakhir dari ‘roti’ yang disajikan oleh Surat Efesus 6:24 bertuliskan, “Kasih karunia menyertai semua orang yang mengasihi Tuhan Yesus Kristus dengan kasih yang tidak dapat binasa.”

Dalam pola Tabernakel, surat Efesus terkena pada Meja Roti Sajian. Perlu diketahui roti sajian hanya boleh dimakan oleh imam-imam dan keluarganya tidak setiap hari tetapi khusus hanya hari Sabat (Im. 24:5-9). Dan Yesus mengatakan “Akulah Roti Hidup” (Yoh. 6:35,48).

Efesus 6:24 merupakan asupan makanan dari ‘sendok’ Surat Efesus terakhir namun masih ingatkah asupan sendok pertama itulah Efesus 1:1? Bagaimana kita menghadapi ‘makanan roti khusus’ Firman Tuhan? Apakah kita benar-benar menikmatinya dari awal hingga akhir atau terpaksa menghabiskan karena tidak berani menolaknya?

Roti sajian di Tempat Kudus hanya ada satu model dan satu rasa, tidak ada macam-macam model maupun rasa. Ketika Daud dan pengikutnya kelaparan, dia menemui Imam Ahimelekh meminta makanan. Ahimelekh tidak mempunyai roti biasa kecuali roti kudus di atas Meja Roti Sajian dan memberikan kepadanya dengan syarat Daud dan orang-orangnya harus menjaga diri terhadap perempuan (1 Sam. 21:1-4). Singkat kata, Daud diperkenan makan roti kudus yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi para imam.

Berbeda dengan makanan sehari-hari yang terdiri dari pelbagai macam bahan dan rasa juga taste-nya tergantung dari orang yang suka/tidak suka; Roti kehidupan hanya ada satu pilihan dan satu rasa.

Masihkah irisan terakhir dari ‘roti’ yang ditawarkan oleh Surat Efesus (“kasih karunia menyertai semua orang yang mengasihi Tuhan kita Yesus Kristus dengan kasih yang tidak binasa”) menarik dan menggairahkan kita? Siapa yang terlibat di dalamnya?

  • Rasul Paulus, penulis Surat Efesus.
  • Tikhikus yang disuruh membawa surat ini kepada jemaat Efesus.
  • Nama Tuhan Yesus Kristus.

Ternyata bangsa Israel pernah ditegur karena membelanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti dan upah jerih payah untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan. Mereka diminta untuk mendengarkan Allah agar memakan yang baik dan menikmati sajian paling lezat (Yes. 55:2-3). Dengan kata lain, hati mereka tidak menginginkan Tuhan (roti hidup) tetapi yang lain.

Introspeksi: apakah kita menikmati (roti) Firman Allah yang kita dengar dalam setiap ibadah maupun baca dalam renungan pribadi yang memberikan jaminan hidup kekal? Atau ibadah menjadi suatu keterpaksaan? Bila kita mengerti Firman Allah adalah makanan yang meng-hidupkan, kehidupan rohani kita akan menjadi ‘kurus’ dan lemah jika kita kurang makan atau mengurangi porsi makanan. Sebaliknya, rohani kita menjadi kuat penuh energi bila kita makan Firman Tuhan yang hidup. Sama seperti Allah memelihara bangsa Israel dengan Manna selama 40 tahun; meskipun mereka memungut Manna hanya di pagi hari, Manna tersebut cukup untuk konsumsi sarapan pagi, siang dan malam.

Hendaknya kita mensyukuri ‘irisan roti terakhir’ (Ef. 6:24) karena di dalamnya ada Nama Tuhan Yesus Kristus yang agung. Di dalamnya juga mengandung ‘rasa’ kasih karunia menyertai semua (tidak pilih-pilih) yang mencintai Tuhan Yesus Kristus. Bahkan Ia memberikan kasih karunia-Nya kepada jemaat Galatia yang tidak setia kepada-Nya dengan mengikuti injil lain yang memutarbalikkan Injil Kristus (Gal. 1:6-7) juga kepada jemaat Efesus yang penuh gejolak.

Hendaknya kita mengasihi Tuhan betapapun lemah dan kurangnya pengertian kita akan Dia. Marilah kita bertekad mencintai Tuhan Yesus Kristus karena hari-hari ini kasih manusia makin dingin (Mat. 24:12). Yesus pernah mengecam orang Farisi dan ahli Taurat yang memuliakan Dia dengan bibir padahal hati mereka jauh dari-Nya (Mat. 15:1,8). Waspada, jangan kita rajin dan ‘setia’ dalam pelayanan pekerjaan Tuhan tetapi hati kita jauh dari-Nya. Kasih harus ber-sumber dari hati, beda dengan mulut yang mudah mengumbar kata-kata cinta tanpa didasari kasih sesungguhnya. Contoh: pemuda-pemudi yang sedang jatuh cinta begitu mudahnya mengobral kata-kata cinta tetapi beberapa bulan kemudian putus cinta dan ganti dengan pasangan lain.

Rasul Yohanes di usia tua dan dikucilkan di Pulau Patmos menulis teguran Tuhan kepada pendeta hingga jemaat Efesus yang telah menolak kasih-Nya dengan meninggalkan kasih semula (Why. 2:4). Perhatikan, jangan mudah membuat rencana dan janji untuk lebih menga-sihi Tuhan juga lebih rajin melayani Dia di awal tahun 2019 tetapi di dalam perjalanan belum sampai akhir tahun 2019 kita lupa dan menganggap tidak perlu lagi melibatkan Yesus, si Pemberi kasih yang tidak binasa.

Tuhan ‘mengancam’ Jemaat Efesus jika mereka tidak bertobat, Ia akan mengambil kaki dian dari tempatnya karena kejatuhan mereka begitu dalam (Why. 2:5). Posisi kaki dian dalam Tabernakel berhadapan dengan roti yang terletak di atas Meja Roti sajian (Kel. 35). Jika mereka tidak lagi mencintai Firman Allah, posisi mereka sebagai pelita dunia akan digeser dan doa penyembahan mereka (Mazbah Pembakaran Ukupan) tidak akan ada artinya.

Bangsa Israel mengomel ketika makan Manna tiap hari kemudian membanding-bandingkan dengan makanan di Mesir yang bervariasi: ikan, daging, mentimun, semangka, bawang prei, bawang putih, bawang merah (Bil. 11:5). Jangan bersikap seperti bangsa Israel yang awalnya mengomel terhadap Manna kemudian meningkat menjadi muak terhadapnya.

Mengapa Allah hanya menyajikan Manna selama 40 tahun untuk dikonsumsi bangsa Israel tanpa dicampur-campur dengan makanan lain? Untuk mendidik mereka menjadi rendah hati (Ul. 8:2).

Bagaimana respons kita terhadap Firman Tuhan? Apakah kita ‘cerewet’ minta Firman yang divariasi dengan banyak ilustrasi dan filosofi dunia untuk membuat tambah menarik dan enak didengar oleh telinga? Hati-hati kalau kita muak terhadap Firman yang diberitakan berulang-ulang! Sesungguhnya bila kita menerima Firman Tuhan apa adanya, tanpa disadari kita dimampukan untuk rendah hati dan orang yang rendah hati dikasihi Tuhan (Yak. 4:6). Dan Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Rm. 8:28).

Umumnya kita akan lebih menghargai karya sebuah tulisan kalau kita mengetahui siapa dan latar belakang penulisnya. Terbukti Surat Efesus ditulis oleh Rasul Paulus sendiri (Kol. 4:18) dan dia pasti tidak menulis sembarangan tetapi memeriksanya lebih dahulu sebelum dibawa oleh Tikhikus ke jemaat Kolose dan jemaat Efesus. Sayang, dalam dunia literasi sekarang ini, nama dan tanda tangan si penulis begitu dipercaya tanpa lebih dahulu membaca/memeriksa isi tulisannya yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam suratnya Paulus menuliskan, Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri” untuk menunjukkan bahwa dia bertanggung jawab terhadap apa yang ditulisnya. Dia dalam penderitaan dibelenggu di penjara saat menulis surat Efesus. Di era itu, autentisitas/keaslian sangatlah penting; sangat menyedihkan, sekarang tanda tangan mudah dipalsukan dengan menggunakan media elektronik canggih dan plagiat/penjiplakan karangan orang lain bermunculan untuk diakui sebagai karangan sendiri. Tindakan ini berisiko tinggi sebab tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam beberapa surat lainnya, Rasul Paulus juga menegaskan bahwa dia menulis dengan tangannya sendiri, antara lain:

  • Surat Korintus, tertulis dalam 1 Korintus 16:21-23, “Dengan tanganku sendiri aku menulis ini: Salam dari Paulus. Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranata! Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu.”
  • Surat Tesalonika, tertulis dalam 2 Tesalonika 3:16-18, ““Dan Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus dalam segala hal kepada kamu. Tuhan menyertai kamu sekalian. Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Inilah tanda dalam setiap surat: beginilah tulisanku. Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian!”

Ada ilmu grafologi/tulisan tangan yang mempelajari sifat dan karakter seseorang melalui tulisan tangan dan tanda tangannya dilihat dari tegak atau miringnya tulisan (ke kanan/kiri), tekanan dan ketebalan tulisan (berat, sedang, ringan) dan ukuran tulisan (besar, menengah dan kecil).

Lazimnya pula pada setiap buku atau karya tulisan selalu dicantumkan nama penulis/pengarangnya namun bagaimana dengan hasil karya tulisan Rasul Paulus yang berjumlah 13-14 buah itu?

¨ Dia tidak menuliskan “ini kutulis dengan tanganku sendiri” dalam setiap suratnya.

¨ Dia selalu mengawali tulisannya dengan perkataan “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus”; “Dari Paulus yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus”; “Dari Paulus, seorang rasul bukan karena manusia juga bukan oleh seorang manusia melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah Bapa yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati” dst.

¨ Dia hanya menulis namanya sebanyak 31 kali dalam suratnya, nama Tikhikus muncul 4 kali tetapi Nama yang berkaitan dengan Tuhan Yesus Kristus tertulis 71 kali dalam Surat Efesus; 51 kali di Surat Kolose; 38 kali di Surat Roma; 42 kali di Surat 1 Korintus; 18 kali dalam 2 Korintus, hingga Surat Filemon Nama Tuhan tercatat sebanyak 248 kali. Singkatnya, Nama Tuhan Yesus Kristus disebutkan paling banyak. Betapa bahagianya jika Nama Yesus me-nyertai kita senantiasa! Alkitab sendiri menegaskan di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Nya, di situ Ia ada di tengah-tengah mereka (Mat. 18:20). Dapat dibayangkan jika Yesus berada di tengah-tengah kita memberikan solusi, damai, kemenangan dll. dalam hidup kita!

Harus diakui, semua tidak selalu berjalan mulus untuk mengakui Tuhan Yesus Kristus dan menyebut Nama-Nya. Kita harus berani menanggung risiko diejek, diancam, ditolak, dikucil-kan bahkan dianiaya demi Kristus. Beranikah kita?

Jangan kita melecehkan apalagi menolak kasih karunia pemberian Tuhan Yesus Kristus karena di dalamnya ada hidup kekal bersama-Nya. Agungkan Nama-Nya selalu maka Ia ada bersama kita untuk memberikan damai sejahtera dan jalan keluar atas masalah bahkan kemenangan menghadapi tipu daya Iblis. Amin.