Nama Tuhan Yesus Kristus Yang Terutama

Nama Tuhan Yesus Kristus Yang Terutama

Pdt. Paulus Budiono, Johor, Minggu, 27 Januari 2019

Shalom,

Masih ingatkah bahwa Surat Efesus dan Surat Kolose ditulis tangan sendiri oleh Rasul Paulus? Bagaimana dengan surat lainnya? 2 Tesalonika 3:17-18 menuliskan, “Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Inilah tanda dalam setiap surat: beginilah tulisanku. Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian!”

Mengapa Rasul Paulus begitu menekankan soal tanda (tangan) dan tulisan tangan? Seberapa pentingnya pengakuan sebuah nama dan tanda (tangan)? Dengan adanya nama dan tanda dalam setiap surat, Paulus ingin menegaskan bahwa dia tidak me-nulis sembarangan dan dapat mempertanggungjawabkan karyanya. Juga dia memiliki model dan gaya penulisan sendiri, ada tanda yang menjadi ciri khasnya lalu dia menambahkan kalimat “Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian!”

Terbukti nama dan tanda tangan penulis sangat penting bagi pembacanya; itu sebabnya (maha)siswa disuruh membuat karangan, skripsi, tesis dll. dengan mencari referensi dari buku-buku karangan penulis terkenal. Sayang, kini tanda tangan dapat di-scan dengan mudah dan plagiator tanpa rasa bersalah menjiplak karangan orang lain dan mengakuinya sebagai karangan sendiri. Perhatikan, makin terkenal nama seseorang dan makin penting kedudukannya, makin berharga tanda tangannya.

Rasul Paulus pasti mempunyai suatu kepentingan dalam penulisan surat-suratnya sehingga dia membubuhkan nama, tanda(tangan) yang menjadi ciri khas tulisannya untuk membedakannya dengan tulisan orang lain. Tentu dia tidak bermaksud untuk membanggakan diri tetapi karena tanggung jawab sebab dia menulis tidak dalam kondisi tenang dan nyaman tetapi lebih banyak dalam penderitaan bahkan dipenjara.

Apa kepentingan Rasul Paulus menulis nama disertai tanda yang menjadi ciri khas dalam penulisan surat-suratnya termasuk surat Tesalonika?

2 Tesalonika 2:1-3 berbicara tentang kedatangan Tuhan (eskatologi). Untuk itu Paulus meminta supaya jemaat Tesalonika (juga kita) agar tidak cepat bingung dan gelisah oleh ilham roh (seseorang), pemberitaan (melalui KKR disertai mukjizat) atau surat yang dikatakan darinya seolah-olah hari Tuhan telah tiba. Berarti dia menyadari ada surat-surat palsu yang mengatasnamakan dirinya di zaman itu. Terlebih sekarang kejahatan pemalsuan makin hebat sehingga orang awam sukar membedakan mana yang asli dan mana yang aspal. Pemalsuan juga terjadi dalam gereja, adanya sekte Yahwe yang tidak mengakui Allah Tritunggal, mengakui Yesus hanya sebagai nabi bukan Allah dan Yesus hanya ciptaan Allah. Belum lagi buku-buku yang ditulis oleh para doktor dan profesor teologi liberal, mana yang kita pegang serta kagumi dan mana yang harus kita tolak?

Kesaksian Pembicara: waktu mengurus pembangunan SALEM di Rajawali, pemerintah meminta tanah itu dibeli atas nama siapa dan untuk siapa kemudian petugas sinode menuliskan nama “Paulus Budiono”. Pemerintah bertanya, “Siapa dia?” dijawab, “Ketua umum.” Ditanya lebih lanjut, “Siapa dia?” Petugas sinode menunjukkan hasil mubes. Pemerintah hanya melihat sepintas kemudian menjawab, “Siapa dia? Saya tidak kenal!” Bayangkan, Bpk. Pdt. Paulus Budiono sudah 4 tahun berposisikan seba-gai ketua umum sinode dan telah menandatangani ribuan surat ternyata tidak dikenal oleh pemerintah! Sebenarnya, mereka bukannya tidak tahu tetapi ingin memperbaiki sistem supaya tanda tangan ketum sinode diakui oleh pemerintah.

Rasul Paulus sangat terganggu dengan munculnya surat-surat palsu yang mencatut namanya. Faktanya banyak buku yang menyesatkan telah beredar, masihkah kita memercayai Alkitab yang kita miliki? Yakinkah kita bahwa Surat Kolose benar-benar ditulis oleh Paulus? Tahukah kitab-kitab lain di luar Alkitab (Injil Petrus, Injil Yudas, Injil Barnabas dll.) kini lebih dikagumi dan dipercaya? Jelas sekarang, tulisan/surat dengan nama dan tanda tangan Paulus yang dikanonisasikan adalah Firman Allah yang patut dipercaya.

Seberapa jauh surat-surat Paulus dapat dipercaya? Tulisannya sudah beredar 2000 tahun lalu dan ditulis di atas perkamen (kulit binatang). Bila ada huruf/kata yang salah, perkamen itu dibuang dan penulis harus mengulang mulai dari awal. Jika begitu rumit dan telitinya tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh para penulis Alkitab, sudahkah kita menghargai Firman-Nya?

Jemaat Tesalonika pasti memiliki hubungan erat dengan Rasul Paulus sehingga mereka dapat mengenali tulisannya. Sesungguhnya jemaat yang digembalakan harus mengenal gembalanya dengan baik. Sayang, ada jemaat yang tidak menghargai gembalanya sendiri tetapi malah mengenal gembala lain. Sudahkah kita mengenal Yesus, Gembala baik, dan mengenal suara-Nya (Yoh. 10:14,16)?

Berbicara mengenai tulisan dan tanda tangan, kita dapat membaca tabiat si penulis berdasarkan bentuk tulisan dan tanda tangannya – ruwet/simpel, tegak/miring, tebal/tipis, besar/sedang/kecil dst. Ternyata huruf-huruf tulisan Rasul Paulus besar (Gal. 6:11). Tentu ini bukan karena Paulus mempunyai masalah dengan matanya yang buram melainkan lebih menekankan sekaligus mengingatkan jemaat Galatia yang tidak lagi percaya pada Injil Kristus tetapi menerima injil lain yang menyesatkan. Dia menegur mereka dengan keras dan menegaskan terkutuklah mereka yang mem-beritakan injil berbeda dengan Injil Kristus yang telah diterimanya (Gal. 1:6-9). Rasul Paulus sendiri pernah berada dalam bayang-bayang kutuk ketika dia menyangkal salib Kristus. Waspada, jika pengkhotbah menyampaikan Yesus lain di mimbar sementara jemaat tidak mau mempelajari Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Bila kita mencermati seluruh kitab dalam Perjanjian Baru, nama Rasul Paulus muncul hanya 31 kali sementara Nama Yesus tertulis sebanyak 959 kali, Nama Kristus 570 kali dan Nama Tuhan 684 kali. Dalam seluruh tulisan Paulus, Nama Yesus muncul 248 kali. Dengan kata lain, Nama Tuhan Yesus Kristus adalah yang terutama dan patut ditonjolkan. Namun kenyataannya, kita begitu mengagumi penulis terkenal yang mengantongi banyak titel kemudian melupakan Alkitab. Ingat, Firman Allah ini kekal dan tidak ada satu tulisan pun dapat melebihi Alkitab! Rasul Yohanes menuliskan bahwa dunia tidak dapat memuat semua kitab untuk menuliskan pekerjaan Yesus satu persatu setelah Ia bangkit dari kematian (Yoh. 21:25). Buku-buku macam apa yang kita koleksi paling banyak di rak kita?

Berapa kali kita menyebut Nama-Nya dalam sehari? Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab dan total Nama Tuhan Yesus Kristus ditulis 2.213 kali; berarti paling sedikit kita menyebut Nama-Nya 6 kali sehari. Dan sejauh mana kita mau mengurbankan waktu untuk beribadah kepada-Nya? Bukankah kita sering menggunakan alasan-alasan: kerja lembur, kerja kelompok untuk tugas sekolah, hujan lebat hingga banjir, dapat mengikuti via live steaming atau YouTube dll. untuk tidak ke gereja? Dengan demikian, kita menjadikan gereja sekadar agama dan ritual bukan lagi suatu kebutuhan.

Introspeksi: Pebimas Kristen RI mengeritik bahwa pertumbuhan gereja hanya 6%. Semakin banyak sekolah Alkitab didirikan semakin sedikit jiwa dimenangkan. Beliau menegur kerja ketua sinode (berjas, berdasi bahkan bertoga) yang dihormati seha-rusnya membawa bangsa Indonesia percaya kepada Yesus tetapi yang terjadi malah perkelahian dan perpecahan kemudian membuat sinode baru.

Lebih lanjut apa kata Rasul Paulus kepada jemaat Galatia? Galatia 6:15-18, “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya tetapi menjadi ciptaan baru itulah yang ada artinya. Dan semua orang yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah. Selanjutnya janganlah ada orang yang menyusahkan aku karena pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus. Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai roh kamu, saudara-saudara! Amin.”

Surat-surat Paulus ada tanda Roh Kudus dan disahkan oleh kurban Yesus; Paulus begitu yakin hidupnya ada tanda-tanda milik Yesus. Bukankah Nama Tuhan lebih indah dari semua dan memberi damai kekal? Nama-Nya terukir dalam hati untuk melenyapkan dosa dan susah!

Introspeksi: adakah tanda-tanda Yesus dalam hati kita? Apakah nanti di Surga kita dikenal oleh Pemiliknya? Semua tergantung pada tanda yang ada dalam tubuh kita! Jangan sampai terjadi waktu Tuhan datang, Ia tidak mengenal kita walau kita telah menginjil, mengadakan seminar dalam Nama-Nya, menyebut Nama-Nya puluhan kali tiap hari (bnd. Mat. 7:21-23) tetapi sesungguhnya Nama Yesus tidak terukir dalam hati.

Rasul Paulus mengatakan bahwa kita adalah surat Kristus ditulis oleh pelayanannya tidak dengan tinta tetapi dengan Roh Kudus pada loh hati kita (2 Kor. 3:3). Roh Kudus memeteraikan Yesus tersalib yang menyelamatkan dan membebaskan kita dari belenggu dosa sehingga di mana pun kita berada, Nama-Nya lengket dalam hati kita.

Kapan Nama Yesus dan tanda kepemilikan-Nya ada dalam kita? Saat kita menerima-Nya, Roh Kudus memeteraikan kita dan kita diberi hak menjadi anak-anak Allah (Ef. 1:13-14) sehingga kita dapat menyebut Dia “ya Abba, ya Bapa” (Rm. 8:15). Jadi, kita mengenal Bapa melalui Yesus, Putra tunggal-Nya (Yoh. 14:6-7) dan Bapa mencurah-kan berkat-Nya melalui Yesus (Yoh. 15:16).

Tahukah bahwa Roh Kudus-Yesus-Allah adalah satu? Roh kudus menolong kita untuk membuang segala perbuatan dan tutur kata yang jahat serta membimbing kita untuk mengasihi Yesus, Sang Firman. Untuk itu kita tidak boleh mendukacitakan Roh Kudus (Ef. 4:30) apalagi memadamkannya (1 Tes. 5:19) dan Firman Tuhan terpancar ke luar dari dalam hidup kita (sebagai surat Kristus).

Yakinlah bahwa Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya; itu sebabnya tinggalkan keja-hatan, berkatalah benar, jauhi nafsu orang muda, jangan bertengkar, kejarlah keadil-an, kesetiaan, kasih dan damai serta tuntunlah dengan lemah lembut orang yang suka melawan agar mereka mengenal kebenaran dan bertobat (2 Tim. 2:14-26).

Sekarang kita mengerti mengapa Rasul Paulus menuliskan nama dan tandatangan pada surat-suratnya; semua ini bukan untuk kebanggaan diri tetapi untuk menekan-kan keaslian bukan surat-surat palsu yang mencatut namanya sebab dia menuliskan Nama Yesus jauh lebih banyak ketimbang namanya sendiri dengan maksud supaya pembaca (termasuk kita) mencintai Nama Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian, hanya Nama-Nya yang patut dipermuliakan dan ditinggikan bukan nama manusia yang paling terpopuler sekalipun. Amin.