Sikap Hamba Yang Berutang Nyawa

Sikap Hamba Yang Berutang Nyawa

Pdm. Setio Dharma Kusuma, Lemah Putro, Minggu, 3 Februari 2019

Shalom,

Ketika seseorang menolong kita dalam hal keuangan atau perihal bantuan tenaga, pikiran dll. saat kita sangat membutuhkannya, kita akan berutang budi kepadanya walau mungkin si penolong melakukannya tanpa menginginkan balasan. Kalaupun pada saat tertentu pribadi yang menolong kita meminta bantuan maka kita dengan sukarela akan membantunya. Demikianlah posisi kita di hadapan Tuhan sebab tanpa pertolongan-Nya kita akan tetap berada dalam cengkeraman kuasa kegelapan: tunduk pada hawa nafsu kenajisan dan melakukan apa yang jahat di mata-Nya. Kita bahkan memusuhi Allah dalam hati dan pikiran yang dinyatakan dalam perbuatan jahat (Kol. 1:13,21).

Dalam posisi bermusuhan dengan Allah, satu-satunya jalan untuk mengalahkannya ialah Ia memberikan pengampunan dosa kepada kita yang dikerjakan di dalam Kristus. Hanya salib Kristus yang mampu memperdamaikan kita dengan Allah dan menempatkan kita kudus dan tidak bercela di hadapan-Nya (ay. 14, 20). Jelas, pengampunan tidak dapat dikerjakan oleh siapa pun atau apa pun kecuali Kristus di dalam salib-Nya.

Perlu diketahui, di dalam Kristus berdiam secara jasmaniah/nyata kepenuhan Allah Tritung-gal (Kol 2:9). Hanya salib Kristus yang berkuasa memindahkan kita dari kuasa kegelapan untuk bersekutu dengan Allah.

Apa yang terdapat di dalam salib Kristus?

1. Di dalam salib-Nya kita melihat puncak dosa kedegilan dan kejahatan sebab terkutuklah orang yang disalib (Gal. 3:13). Siapa sebenarnya yang patut disalib? Kita yang berdosa layak mati disalib tetapi Kristus memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib agar kita hidup untuk kebenaran (1 Ptr. 2:24).

2. Di dalam salib Kristus terlihat murka Allah (Rm. 5:9). Oleh darah-Nya kita dibenarkan dan diselamatkan dari murka Allah.

3. Di dalam salib Kristus terdapat kasih Allah (Yoh. 3:16). Sesungguhnya Yesus tidak pernah terpisahkan dari kesatuan Allah Tritunggal namun untuk beberapa saat Ia ‘ditinggalkan’ oleh Bapa-Nya (Mat. 27:46) sebab Ia yang tidak berdosa dijadikan berdosa karena kita (2 Kor. 5:21) sementara Allah Bapa dan Roh Kudus tidak dapat bersekutu dengan dosa.

Perhatikan, kita diselamatkan oleh iman bukan hasil diri sendiri bukan pula hasil pekerjaan kita (Ef. 2:8-9; Rm. 3:23-24). Jadi, apa yang mau kita sombongkan? Apakah kekayaan, kepandaian, kemampuan atau kemiskinan dan penderitaan hebat kita?

Setelah diselamatkan, kita harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12a). Beda dengan konsep orang yang tidak percaya kepada Yesus, mereka percaya bahwa keselamatan dikerjakan dengan memberi banyak sedekah kepada fakir miskin, beramal baik, dll. Sebaliknya, kita menerima keselamatan bukan hasil usaha sendiri maka kita berutang nyawa dan ada kerinduan melakukan sesuatu untuk membalas utang kepada Juru Selamat kita.

Sebagai hamba yang berutang nyawa, apa yang harus kita lakukan terhadap Tuhan, Sang Penebus jiwa kita?

1. Beriman disertai perbuatan kasih.

“karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus,” (Kol. 1:4)

Kasih itu tidak pasif/diam tetapi disertai tindakan/perbuatan. Rasul Yakobus menegaskan iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (Yak. 2:17). Kita tidak cukup hanya beriman kepada Kristus Yesus tetapi harus disertai perbuatan kasih terhadap semua orang.

Lebih lanjut, Rasul Paulus menuliskan kita harus bertekun dalam iman agar iman kita tetap teguh tidak bergoncang dan tidak digeser dari pengharapan Injil (Kol. 1:23). Untuk menekuni iman dibutuhkan proses yang membutuhkan waktu bukan terjadi secara instan. Contoh: tidaklah mudah untuk merubah paradigma yang sudah melekat dalam alam pikiran kita meskipun kita telah mendengarkan Firman Tuhan berulang-ulang. Penjahat yang disalib di sebelah Yesus merupakan kasus khusus yang mana dia beroleh kemurahan dan paradigmanya diubah di detik-detik terakhir menjelang ajalnya. Namun jangan kita mengambil risiko melakukan kejahatan sepanjang hidup kemudian bertobat menjelang kematian menjemput karena kita tidak tahu kapan kita dipanggil Tuhan!

Bagaimana kita bertekun dalam iman? Tetap di dalam Dia, berakar di dalam Dia, dibangun di atas Dia dan hati melimpah dengan syukur (Kol. 2:6-7).

Dapatkah tanaman berakar kuat kalau sering dipindah-pindah? Pasti tidak! Demikian pula dengan kita, jika kita mau ‘berakar’ kuat di dalam Tuhan, kita harus berada dalam satu penggembalaan bukan masuk ke luar satu gereja pindah ke gereja lain sebab nanti yang keluar dari mulut bukanlah ucapan syukur tetapi omongan membanding-bandingkan pendeta yang khotbah. Kita diminta untuk tetap di dalam Kristus dan berakar kuat supaya hati melimpah dengan ucapan syukur.

2. Beroleh hikmat dan pengertian yang benar untuk mengetahui kehendak Tuhan.

“Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,” (Kol. 1:9)

Kita perlu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar untuk mengetahui kehen-dak Tuhan dengan sempurna. Dari mana kita mengerti kehendak Tuhan? Dari Pribadi-Nya sendiri (Kol. 2:3).

Apa dampaknya jika kita mengerti kehendak Tuhan? Hidup kita layak di hadapan-Nya serta diperkenan oleh-Nya dalam segala hal, dapat memberi buah dalam segala peker-jaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah juga dikuatkan untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar (Kol. 1:10-11). Waspada, jika kita tidak mempunyai pengertian benar tentang Firman Tuhan, iman kita mudah runtuh. Itu sebabnya banyak keluhan dan kekecewaan terjadi (misal: kondisi ekonomi tidak berubah meskipun sudah bertahun-tahun mengikut Tuhan, doa yang tak kunjung dikabulkan dll.) karena awalnya menerima iman tetapi imannya tidak ditekuni agar berakar kuat untuk tidak mudah digoncangkan juga tidak mau dibangun di atas Dia.

Selain memperteguh iman, kita juga memerlukan hikmat dan pengertian yang benar untuk mengatasi:

v filsafat kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia (Kol. 2:8). Kenyataannya, setiap suku bangsa memiliki budayanya masing-masing. Kita tidak dapat meminta/memilih mau dilahirkan menurut etnis Tionghoa, Jawa, Batak dst. Setiap budaya mempunyai ajaran dan filsafat yang dipegang teguh dari generasi ke generasi berikutnya. Ada kalanya filsafat yang diajarkan bertentangan dengan kebenaran Firman Tuhan juga tidak dapat diterima dengan akal sehat. Contoh: wanita hamil tidak boleh ke rumah duka untuk mengunjungi kerabatnya yang meninggal dll.

v Peraturan-peraturan yang tampak penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri seperti merendahkan diri, menyiksa diri yang sebenarnya tidak ada gunanya kecuali untuk memuaskan hidup duniawi (Kol. 2:23). Ini terjadi di dalam gereja. Jujur, bukankah kita sering bersikap munafik, memberi salam dengan muka tersenyum kepada jemaat tetapi hati dongkol karena tidak senang kepadanya?

3. Mengenakan manusia baru yang terus menerus dibarui untuk memperoleh pengetahuan benar menurut gambar Khaliknya.

“Jangan lagi kamu saling mendustai karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khalik-nya;” (Kol. 3:9-10)

Jangan puas menjadi manusia baru tetapi harus terus menerus diperbarui. Jangan berhenti pada satu titik, misal: puas setelah dibaptis dan lahir baru tetapi harus dilanjutkan untuk senantiasa diperbarui.

Adapun ciri-ciri seseorang menjadi manusia baru yang terus menerus diperbarui ialah:

v Setelah dibangkitkan bersama dengan Kristus (menjadi manusia baru) kita mencari perkara di atas di mana Kristus ada dan duduk di sebelah kanan Allah serta memi-kirkan perkara yang di atas bukan yang di bumi (Kol. 3:1-2).

v Mematikan segala sesuatu yang duniawi – percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan yang sama dengan penyembahan berhala (Kol. 3:5).

v Membuang semua marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut (Kol. 3:8). Sebaliknya, perkataan Kristus dengan segala kekayaannya ada di dalam kita sehingga kita dapat menegur seseorang sambil menyanyikan mazmur dan puji-pujian (Kol. 3:15-16). Untuk itu diperlukan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran serta suka mengampuni (ay. 12-13). Perhatikan, jangan kita membiarkan seseorang terus-menerus berada dalam kesalahan dengan alasan ‘biarlah Firman Tuhan sendiri yang bekerja dan menegur-nya’ sebab belum tentu dia mengerti walau telah mendengarkan Firman Tuhan berkali-kali.

v Mengenakan kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempur-nakan (Kol. 3:14).

Bila kita dipenuhi kasih, kita mampu menegur seseorang yang bersalah tanpa emosi meledak-ledak tetapi penuh kasih sehingga ada ucapan syukur karena teguran dilakukan bukan bertujuan membenci/menjatuhkannya tetapi mengasihi orang ter-sebut. Contoh: Rasul Paulus sempat emosi ketika berselisih tajam dengan Barnabas yang membawa serta Markus yang pernah meninggalkan pelayanan sehingga mereka berpisah. Barnabas melayani bersama Markus sedangkan Paulus membawa Silas untuk pelayanan (Kis. 15:37-40). Namun seiring berjalannya waktu, Paulus dapat menerima kembali Markus dalam pelayanan bersama (Kol. 4:10).

Aplikasi: bila menegur seseorang dengan emosi, kedongkolan akan lama membekas dalam hati dan sulit untuk menghilangkannya tetapi jika kita menegur dengan kasih, hati meluap dengan ucapan syukur karena Tuhan menyelamatkan orang tersebut dari kesalahan yang membelenggunya.

v Melakukan segala sesuatu dengan perkataan atau perbuatan dalam Nama Tuhan Yesus (Kol. 3:17) dan melakukannya untuk Tuhan bukan untuk manusia (ay. 23).

Nasihat di atas (ay. 17 dan 23) ditujukan kepada hubungan suami-istri, anak-orang tua, hamba-tuan. Kalau kita melakukan segala sesuatu untuk Tuhan, kita dimam-pukan mengampuni sesama – istri dapat tunduk kepada suami dan suami dapat mengasihi istri dan tidak berlaku kasar; anak dapat menghormati orang tua dan orang tua tidak menyakiti hati anak; hamba menaati tuan dan tuan tidak berlaku semena-mena terhadap hamba. Masing-masing tidak mudah saling menyakiti hati yang menimbulkan pertengkaran mengingat apa yang diperbuat adalah untuk Tuhan. Namun harus dipastikan kita mengasihi Tuhan lebih dahulu baru kita mampu mengasihi sesama. Contoh: Rasul Paulus sebelum mengenal Tuhan adalah pembunuh berdarah dingin namun setelah bertobat dia berutang nyawa kepada-Nya. Untuk itu dia rela menderita bahkan bersukacita dalam penderitaan demi jemaat Kolose dan jemaat Laodikia padahal ada dari mereka yang belum mengenal dia secara pribadi (Kol. 1:24; 2:1). Dia mampu melakukannya sebab dia memiliki hati hamba (Kol. 1:25; 3:24b).

Introspeksi: mampukah kita menderita dengan sukacita bagi orang yang belum/tidak kenal? Semua ini dapat dilakukan bila kita memiliki hati hamba.

Sadarkah bahwa kita berutang nyawa bagi Tuhan yang telah menyelamatkan dan membarui hidup kita? Apa yang harus kita perbuat setelah menjadi manusia baru? Kita tidak boleh puas diri tetapi harus terus menerus dibarui sehingga iman kita kuat, berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Kita mengerti kehendak Tuhan dan suka mengampuni serta mampu berbuat baik tanpa pandang bulu karena kita memiliki hati hamba. Dengan demikian kita diperkenan oleh-Nya sekaligus menyukacitakan hati-Nya. Amin.