Bersyukur Dalam Kebenaran Dengan Hati Yang Murni

Bersyukur Dalam Kebenaran Dengan Hati Yang Murni

Pdm. Wahyu Widodo, Johor, Minggu 17 Februari 2019

Shalom,

Memerhatikan pertumbuhan iman jemaat berlandaskan kebenaran Injil Kristus secara utuh akan mendatangkan rasa syukur atas pelayanan sesama hamba Tuhan dan men-dorong untuk membangun persekutuan para pelayan Tuhan dengan jemaat.

Tampak bagaimana Roh kudus bekerja melalui para hamba Tuhan dari berbagai latar belakang budaya dan membimbing mereka ke arah penyatuan. Apa tulisan Rasul Paulus dalam suratnya ke jemaat Kolose? Kolose1:3-8 menuliskan, “Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, oleh karena peng-harapan yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil, yang sudah sampai kepada kamu. Injil itu berbuah dan berkembang di seluruh dunia, demikian juga di antara kamu sejak waktu kamu mendengarnya dan mengenal kasih karunia Allah dengan sebenarnya. Semuanya itu telah kamu ketahui dari Epafras, kawan pelayan yang kami kasihi, yang bagi kamu adalah pelayan Kristus yang setia. Dialah juga yang telah menyatakan kepada kami kasihmu dalam Roh.”

Ada beberapa hal yang membangkitkan ucapan syukur melampaui kesukaran dan penderitaan yang dialami Paulus dan kawan-kawan sepelayanan, di antaranya ialah karena:

  • Pertumbuhan iman jemaat oleh pemberitaan Injil yang telah mereka sampaikan. Jemaat mengalami pertumbuhan iman yang sehat bukan dari hasil kekuatan diri sendiri tetapi Roh Kudus berperan memberikan pengertian kepada mereka.

Perlu diketahui, iman timbul dari pendengaran oleh Firman Kristus (Rm. 10:17) tetapi tidak semua orang mendengarnya. Kalaupun mendengar, adakah mereka semua meresponsnya? Merupakan kasih karunia untuk dapat mendengar Firman-Nya. Tuhan memberikan “benih iman” dan kesempatan baik untuk mendengarkan Firman Kristus agar iman tersebut mengalami pertumbuhan hingga berbuahkan perbuatan-perbuatan iman.

Iman yang bertumbuh memberikan kemampuan menerima janji Allah sesuai dengan kebenaran Injil juga melakukan perintah-Nya. Oleh iman, jemaat memiliki dasar yang kukuh untuk berharap kepada segala sesuatu yang tidak kelihatan (Ibr. 11:1).

Iman yang bersumber dari Injil benar memiliki ciri mempersatukan menjadi keluarga besar Allah yang mempunyai pandangan dan pengharapan sama di dalam Yesus Kristus.

  • Memiliki kasih terhadap semua orang kudus. Ini adalah tindakan iman yang menunjukkan besarnya kepedulian terhadap kekudusan agar tercapai pengharapan untuk memperoleh segala yang disediakan di Surga.
  • Mengenal kasih karunia Allah secara penuh yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup bagi Tuhan. Dengan demikian hidup kita lebih diper-kenan Tuhan di dalam setiap pelayanan untuk kemuliaan-Nya.

Pertumbuhan iman, pengharapan dan kasih terjadi berdasarkan pemberitaan Injil Kristus yang murni. Epafras dengan setia memberitakan kebenaran Injil untuk meningkatkan rohani jemaat sehingga mereka memiliki daya tahan menderita untuk hidup setia kepada Kristus.

Melakukan perbuatan iman dan kasih menjadi tanda dari anak-anak Allah yang mengasihi Dia dengan melakukan perintah-perintah-Nya. Iman dan kasih memiliki kuasa yang sanggup mengalahkan dunia beserta keinginannya.

Tantangan yang ditimbulkan dunia masa kini dengan ajaran yang menyesatkan tidak dapat dibendung begitu saja kecuali dengan kekuatan iman yang berakar dan bertumbuh dari lnjil yang murni. Oleh iman, orang percaya lahir dari Allah dan dapat tetap bertahan menghadapi berbagai macam kepalsuan serta penyesatan yang ada di dunia ini (1 Yoh. 5:1-5).

Keberadaan Injil yang benar membawa jemaat mengenal Yesus Kristus lebih dalam; sebaliknya, Injil lain yang bertentangan dengan kebenaran sejati tidak membawa kepada Kristus tetapi membawa kepada kerusakan dan kutuk yang membinasakan. Rasul Paulus sangat kecewa terhadap jemaat Galatia yang telah berpaling kepada Injil lain yang sebenarnya bukan Injil karena bermaksud memutarbalikkan Injil Kristus. Paulus mengutuk siapa pun yang memberitakan injil berbeda dengan Injil yang dia dan rekan sepelayanan beritakan (Gal.1:6-7). Injil semacam ini tidak bermanfaat bagi kehidupan bahkan tidak dapat mencapai pengharapan di dalam Kristus.

Sikap Paulus tampak makin jelas mengapa dia bersyukur juga mengapa dia mengucapkan kata kutuk. Sikap yang muncul dari diri Paulus dan kawan-kawan menunjukkan ketegasan dalam menghadapi penghambat pertumbuhan iman.

Iman yang mengalahkan dunia ini mendekatkan jemaat pada pengharapan penuh untuk berdiam bersama Kristus. Sungguh tidak ada sesuatu pun dari dunia ini yang dapat membangkitkan ucapan syukur dari hati murni di hadapan Tuhan Yesus Kristus kecuali karena pertumbuhan iman oleh pemberitaan Injil yang mencapai pengharapan dalam kasih melebihi segala penderitaan yang ada. Amin.