Siapakah Yesus Yang Kita Sembah?

Siapakah Yesus Yang Kita Sembah?

Pdt. Paulus Budiono, Lemah Putro, Minggu, 10 Maret 2019

Shalom,

Setiap dari kita pasti memiliki hobi – main musik, olah raga, menyanyi, membaca dll. Misal: kalau hobi kita main piano, kita akan berusaha latihan piano tiap hari dan membeli buku-buku piano untuk dipelajari agar kita makin mahir bermain piano. Demikian pula kalau kita hobi membaca, kita akan mengoleksi ratusan bahkan ribuan buku favorit kita. Semua ini kita lakukan dengan sukacita tanpa beban sebab merupakan hobi/kesenangan kita. Apakah membaca Alkitab juga menjadi hobi kita? Dan seberapa serius kita membacanya? Apakah lebih serius membaca HP di mana pun dan kapan pun hingga melupakan orang-orang di sekitarnya?

Ketika membaca sepucuk surat, kita akan membaca dari halaman pertama hingga halaman akhir untuk mengerti maksud dan tujuan serta pesan dari si penulis. Kita sekarang sedang membaca Surat Kolose yang ditulis oleh Rasul Paulus. Hendaknya kita tidak sepenggal-sepenggal mempelajarinya tetapi menuntaskannya hingga pasal terakhir sebelum membaca surat-surat lainnya. Perhatikan, Surat Kolose tidak hanya ditujukan kepada pemimpin, penatua dan orang-orang tertentu tetapi kepada seluruh jemaat termasuk kita.

Surat Kolose dalam pola Tabernakel terkena pada Mazbah Pembakaran Ukupan → kehidupan doa

Doa bagaikan napas (kehidupan orang Kristen) yang mutlak diperlukan setiap saat jika kita tetap ingin hidup. Dengan senantiasa berdoa, kehidupan rohani kita akan tetap lanjut ber-tumbuh dengan baik. Sebaliknya, sikap malas bahkan tidak suka berdoa bagaikan kehabisan napas hingga berhenti bernapas maka kehidupan rohani kita makin lemah tak berdaya; klimaksnya ialah berhenti dan berakhirnya semua kegiatan dan seluruh kebanggaan serta segala rencana indah menjadi sia-sia.

Rasul Paulus dan Timotius tak henti-hentinya mendoakan jemaat Kolose (juga kita) agar mereka (juga kita) mengetahui kehendak Tuhan untuk tetap kuat dan bersemangat meng-hadapi ‘musuh’ yang datang menyerang tiba-tiba. Hari-hari ini kita membutuhkan ‘daya tahan tubuh’ yang kuat karena virus-virus pengajaran sesat menyebar di mana-mana dan siap menye-rang serta merusak kehidupan rohani yang lemah.

Lebih lanjut Rasul Paulus dan Timotius menjelaskan kepada jemaat Kolose (juga kita) tentang siapa Yesus Kristus itu, yaitu: “Ia (Anak-Nya yang kekasih = Yesus; Red.) adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati sehingga ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.” (Kol. 1:15-18)

Siapa Yesus yang dimaksud oleh Rasul Paulus?

v Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Memang bangsa kafir tidak mengenal Allah, tanpa Kristus dan tidak berpengharapan (Ef. 2:12).

Yesus adalah wujud Allah yang tidak kelihatan agar jemaat Kolose (juga kita) mengenal-Nya. Tidak ada seorang pun pernah melihat Allah tetapi Anak Tunggal Allah (Yesus) menyatakan-Nya (Yoh. 1:18). Yesus diakui Allah sebagai Anak yang dikasihi-Nya begitu keluar dari air sesudah dibaptis (Mat. 3:16-17). Juga saat Yesus dipermuliakan di atas gunung, Allah meneguhkan pengakuan-Nya bahwa Yesus adalah Anak yang dikasihi-Nya, kepada-Nya Allah berkenan (Mat. 17:5).

Yesus, Anak-Nya yang kekasih, telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memin-dahkan kita ke dalam kerajaan-Nya (Kol. 1:13). Di dalam Yesus ada pengampunan dosa (ay. 14).

Banyak orang tidak percaya bahwa Yesus adalah Pribadi Allah sendiri. Rasul Paulus mendengar dari Epafras tentang kondisi jemaat Kolose yang sedang menggandrungi filsafat dan ajaran-ajaran lain. Bukankah di akhir zaman ini begitu banyak orang menyimpang dari Firman kebenaran?

v Yesus adalah yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.

Waspada, jangan salah menafsirkan ‘Yesus lebih utama dari segala yang diciptakan’ berarti Ia diciptakan oleh Allah atau Ia adalah ciptaan Allah yang pertama! Tafsiran semacam ini benar-benar menyesatkan.

Sebuah buku berjudul “Rose Book of BIBLE CHARTS, MAPS & TIME LINES” membahas tentang kekristenan yang Alkitabiah termasuk siapa Yesus itu. Ia adalah Allah, pribadi kedua dari ketritunggalan Allah. Sebagai Allah Anak, Yesus telah ada dan tidak pernah diciptakan. Ia sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Yesus sama derajatnya dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Yesus menjadi manusia dari Roh Kudus dan dilahirkan melalui kandungan perawan Maria. Yesus merupakan satu-satunya jalan keselamatan dan hidup kekal. Ia mati sesuai dengan rencana Allah dan berkurban sepenuhnya untuk menebus dosa kita. Ia bangkit pada hari ketiga, tubuh jasmani dan Roh-Nya hidup selamanya. Selama 40 hari Ia disaksikan oleh lebih dari 500 orang, luka-Nya disentuh orang dan Ia makan. Kemudian Ia naik ke Surga dan akan datang kembali untuk membangun Kerajaan Allah dan menghakimi dunia.

Bagaimanapun juga kita harus hati-hati terhadap kelompok yang menamakan diri “Kristen” tetapi mempunyai tafsiran lain mengenai siapa Yesus itu, antara lain:

  • Saksi Yehuwamengatakan bahwa Yesus bukan Allah. Sebelum Yesus hidup di dunia, Ia adalah penghulu malaikat Mikhael. Yehuwa menciptakan alam semesta melalui dia. Di bumi Yesus mengarungi hidup sebagai manusia sempurna. Yesus mati di tonggak/pasak bukan kayu salib dan dibangkitkan dalam roh, tubuhnya musnah. Yesus tidak akan datang kembali. Ia “datang” dalam roh pada tahun 1914 dan bersama malaikat-malaikatnya akan segera membinasakan semua yang bukan pengikut saksi Yehuwa.

  • Mormonismemengatakan Yesus adalah Allah yang terpisah dari Bapa (Elohim). Yesus diciptakan sebagai anak roh dari Bapa dan Ibu di Surga; Yesus adalah saudara tua dari segala manusia dan makhluk roh. Tubuhnya diciptakan melalui hubungan seks Elohim dan Maria. Yesus menikah. Kematiannya di kayu salib tidak memberikan penebusan penuh bagi seluruh dosa tetapi memberikan kebangkitan bagi setiap orang.

  • Gereja unifikasi/penyatuan mengatakan Yesus adalah manusia sempurna bukan Allah. Ia anak Zakharia dan tidak dilahirkan oleh seorang perawan. Misinya ialah untuk menyatukan orang-orang Yahudi sebelum dia, menemukan pengantin sempurna dan memulai kehidupan berkeluarga yang sempurna. Misinya gagal. Yesus tidak bangkit secara fisik. Kedatangan Kristus kedua dipenuhi dalam diri Sun Myun Moon yang lebih superior daripada Yesus dan akan menyelesaikan misi Yesus.

  • Agama Yahudi memandang Yesus sebagai Mesias palsu atau guru Yahudi yang baik tetapi mati sebagai martir. Orang-orang Yahudi (kecuali orang Yahudi pengikut Mesias dan orang-orang Kristen Ibrani) tidak percaya Yesus adalah Mesias, Anak Allah atau Dia bangkit dari kematian. Orang Yahudi Ortodoks percaya Mesias akan memulihkan kerajaan Yahudi dan memerintah bumi.

  • Gereja Kristus, Ilmuwanmengatakan bahwa Yesus bukanlah Kristus tetapi manusia yang melaksanakan rancangan Kristus. Kristus berarti sempurna, bukan pribadi. Yesus bukan Allah dan Allah tidak pernah menjadi manusia atau daging. Dia tidak menderita dan tidak dapat menderita karena dosa. Dia tidak mati disalib, tidak dibangkitkan secara fisik dan tidak akan datang.

  • Gereja Kesatuan menyatakan Yesus adalah manusia bukan Kristus. Ia adalah manusia yang memiliki kesadaran akan Kristus. Kristus adalah keadaan sempurna yang ada dalam setiap orang. Yesus hidup beberapa kali sebelumnya dan mencari keselamatan bagi dirinya sendiri. Dia tidak mati sebagai kurban bagi dosa setiap orang. Yesus tidak bangkit secara fisik dan tidak akan datang kembali ke bumi dalam tubuh jasmani.
  • Scientologysangat jarang menyebut Yesus dalam ajarannya. Yesus bukan pencipta juga bukan thetan yang bekerja mengendalikan kekuatan gaib, dibersihkan dari cacat mental. Yesus tidak mati untuk dosa.

Sungguh mengerikan jika kita tidak mengenal siapa Yesus sesungguhnya sehingga mudah disesatkan oleh ajaran-ajaran yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan siap menyerang kehidupan rohani yang lemah. Hanya Alkitab yang dapat dipertanggungjawabkan dan sudah diuji dari abad ke abad sebelum dikanonisasikan menjadi kumpulan 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru.

v Di dalam Yesus telah diciptakan segala sesuatu yang ada di Surga dan yang ada di bumi (Kol. 1:16).

Allah di dalam Yesus menciptakan segala sesuatu baik yang kelihatan (alam fisik) maupun yang tidak kelihatan (alam roh). Jelas, Yesus bukan diciptakan tetapi menciptakan berarti Ia adalah Allah.

v Segala sesuatu diciptakan oleh Yesus dan untuk Dia.

Ada orang menciptakan sesuatu bukan untuk dirinya sendiri karena dia tidak membutuh-kannya tetapi dimanfaatkan untuk orang lain. Berbeda dengan Yesus, Ia menciptakan segala sesuatu untuk kembali kepada-Nya dan menjadi kesenangan-Nya. Jadi, kita hidup bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi hidup dan mati untuk Dia yang telah men-ciptakan kita.

v Yesus ada terlebih dahulu dari segala sesuatu (Kol. 1:17a).

Yesus sudah ada lebih dahulu dari segala sesuatu dan semua ada (termasuk kita) oleh karena Dia.

v Yesus adalah kepala tubuh yaitu jemaat. Ia yang sulung dan yang pertama bangkit dari antara orang mati (Kol. 1:18).

Yesus mengasihi gereja-Nya dan rela mati bagi kita agar kita tidak perlu mati tetapi hidup bagi-Nya. Oleh karena Ia mati, kita hidup; sebaliknya, jika Ia tidak mati, kita tidak hidup. Jadi, sudah sepatutnya kita hidup bagi Dia dan melayani-Nya dengan tulus penuh ucapan syukur bukan karena peraturan sebab peraturan gereja dapat membuat kita sombong, jenuh, dll.

v Seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Yesus (Kol. 1:19).

Kalau kepenuhan Allah ada di dalam pribadi Yesus, apa yang perlu kita khawatirkan lagi? Segala keperluan kita ada di dalam Dia dan Firman-Nya yang sempurna mampu menjawab serta memberi solusi terhadap masalah apa pun yang sedang kita hadapi.

v Yesus memperdamaikan segala sesuatu baik yang ada di bumi dan di Surga melalui darah pengurbanan-Nya disalib (Kol. 1:20).

Bagaimana mungkin kita menerima segala berkat yang ada di dalam Yesus jika kita ber-musuhan dengan Allah? Dunia dewasa ini gembar-gembor mengumandangkan perdamaian dan persatuan tetapi faktanya antarnegara masih saling curiga.

Kita dahulu hidup jauh dari Allah dan memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran yang dinyata-kan dalam perbuatan jahat namun sekarang diperdamaikan di dalam Kristus oleh kematian-Nya untuk menempatkan kita kudus tak bercela di hadapan-Nya (ay. 21-22).

Ingat, jangan memendam permusuhan bertahun-tahun yang hanya membawa beban hidup berat tak tertahankan, segeralah berdamai maka kelegaan dan sukacita luar biasa akan memenuhi hati selamanya! Bila kita telah berdamai dengan Tuhan, kita akan mudah ber-damai dengan sesama terutama dengan orang-orang dekat kita berdampak terciptanya persekutuan indah dalam pelayanan imamat kita.

Heran! Apa yang tertulis dalam Kolose 1:15-21 mirip dengan tulisan Rasul Yohanes kepada tujuh jemaat di Asia Kecil yaitu, ”…Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu dari Dia yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya – dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, – bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.” (Why. 1:4-6)

Berbahagialah kita bila menerima Yesus karena seluruh kepenuhan Allah ada di dalam Dia. Kita dijadikan suatu kerajaan dan imam-imam bagi Allah Bapa-Nya dan Nama Tuhan dipermuliakan melalui kehidupan kita. Amin.

dt. Paulus Budiono, Lemah Putro, Minggu, 10 Maret 2019


Don't have an account yet? Register Now!

Sign in to your account