Bertekun Dalam Iman Dan Berpegang Pada Injil Kristus

Bertekun Dalam Iman Dan Berpegang Pada Injil Kristus

Pdt. Paulus Budiono, Johor, Minggu, 17 Maret 2019

Shalom,

Sadarkah kita bahwa iman dapat hilang seperti dialami Petrus yang akhirnya me-nyangkal Gurunya, Yesus? Pengharapan tidak lagi menjadi harapan karena tidak tahu apa yang diharapkan juga kasih menjadi dingin seperti dialami oleh jemaat Efesus yang meninggalkan kasih semula!

Kita sudah mempelajari bahwa untuk mengenal Bapa Surgawi tidak ada jalan lain kecuali mengenal Yesus karena seluruh kepenuhan Allah ada di dalam Yesus (Kol. 1:19). Bila di zaman dahulu Allah berbicara kepada nenek moyang kita melalui perantaraan nabi-nabi, pada zaman akhir ini Ia berbicara kepada kita melalui Anak-Nya (Ibr. 1:1-2). Allah adalah kasih (1 Yoh. 4:8,16) dan Yesus adalah Firman (Yoh. 1:14). Kalau kita tidak mengasihi Firman, kita tidak dapat mengenal Bapa karena Yesus adalah wujud dari Bapa yang tidak kelihatan.

Bagaimana kita mampu mengasihi Yesus – Sang Firman? Kolose 1:23 menuliskan, “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”

Sering terjadi salah persepsi bahwa pengajaran Tabernakel hanya berkisar pada Tempat Kudus dan Tempat Mahakudus sehingga tidak lagi berbicara mengenai penginjilan yang terletak di Pelataran karena nanti akan diinjak-injak oleh antikristus. Pendapat seperti ini salah sama sekali! Penginjilan diperlukan sepanjang masa. Itu sebabnya Rasul Paulus dan Timotius selalu mengucap syukur mendengar iman, kasih dan pengharapan dari jemaat Kolose (juga kita yang membaca suratnya sekarang) dan tidak henti-hentinya berdoa oleh karena Injil (Kol. 1:3-6,9). Rasul Paulus menyadari ada orang yang bermain-main atau memutarbalikkan Injil sejati dan berusaha menarik jemaat Kolose untuk memercayainya. Oleh sebab itu Paulus mengingatkan agar mereka jangan mau digeser dari pengharapan Injil.

Aplikasi: hamba-hamba Tuhan harus tidak putus-putusnya berdoa supaya jemaat tidak hilang iman, hilang pengharapan dan otomatis hilang kasih. Sebaliknya, tetap tekun dan teguh dalam iman agar tidak mudah digeser dari pengharapan Injil yang telah didengar.

Kita harus bangga memiliki Alkitab yang lengkap karena sekarang banyak Alkitab diter-jemahkan sesuai dengan ideologi dan budaya negara di mana Alkitab tersebut diter-bitkan. Waspada, Iblis berusaha memutarbalikkan kebenaran Firman dengan pelbagai cara sehingga lama-lama orang Kristen tidak lagi senang membaca Alkitab, tidak mau lagi membawa Alkitab tetapi suka Alkitab yang tercantum dalam HP yang tipis. Sesung-guhnya gereja Tuhan sekarang harus bersikap seperti gereja awal yang menyimpan Alkitab – Firman Allah – di dalam hati seperti kata Daud (Mzm. 119:11). Perlu diketahui, jemaat zaman dahulu hanya mempunyai satu gulungan Surat Kolose yang ditulis oleh Rasul Paulus (di penjara) kemudian diedarkan oleh Thikikus kepada jemaat Kolose lalu jemaat Laodikia. Berbeda dengan sekarang, setiap orang dapat memiliki Alkitab pribadi dengan mudah, cukup men-download dalam berbagai bahasa tanpa perlu membeli.

Bagaimana kita dapat bertekun dalam iman? Iman menjadi kuat dan bertumbuh bila kita tekun mendengarkan dan membaca Alkitab tiap hari untuk diukir di hati. Ilustrasi: kita makan nasi sehari tiga kali tanpa mengomel karena bosan lalu berhenti mengonsumsi nasi. Yesus adalah Roti hidup (Yoh. 6:35,48). Mampukah kita kuat dan bertumbuh (rohani) jika kita makan Roti hidup (yang mampu memberikan solusi) hanya hari Minggu alias seminggu sekali padahal kita menghadapi banyak masalah tiap hari? Kita harus menjaga hati dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan (Ams. 4:23).

Untuk tidak mudah/mau digeser dari pengharapan Injil, kita harus mempunyai per-siapan, komitmen dan cara untuk mengetahui ketika dan bagaimana seseorang beren-cana menggeser Injil sejati dan menggantikannya dengan injil lain seperti injil sosial; injil kemakmuran dll. Contoh: Rasul Paulus menegur jemaat Galatia yang mengikuti injil lain yang memutarbalikkan Injil Kristus (Gal. 1:6-7). Yang dimaksud memutarbalikkan Injil ialah mereka memakai Alkitab yang sama, liturginya sama tetapi uraian, tafsiran dan penyampaiannya lain. Bukankah Iblis adalah bapa pembohong (Yoh. 8:44)?

Ironis, jemaat Galatia telah ‘dilahirkan’, dipelihara dan tumbuh dewasa tetapi mereka dapat terkecoh/tertipu oleh injil lain sehingga Rasul Paulus mengatakan dia menderita sakit bersalin lagi oleh karena mereka agar rupa Kristus nyata di dalam mereka (Gal. 4:19).

Jelas, Rasul Paulus sangat mengenal Injil Kristus (hanya satu). Penulis Injil Markus juga mengatakan, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk. 1:1). Jadi, Injil tidak dapat lepas dari Yesus Kristus yang bangkit dari kematian dan menyuruh para murid-Nya pergi ke seluruh dunia memberitakan Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis dan diselamatkan tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum (Mrk. 16:16).

Injil apa yang harus diberitakan ke seluruh dunia?

  • Injil (tertulis dalam Alkitab) yang sesuai dengan perintah Yesus.
  • Injil yang berkaitan dengan Kerajaan Allah bukan berita mengejar kejayaan dan kemakmuran duniawi.
  • Injil yang membawa keubahan hidupdan perdamaian bukan menimbulkan perkelahian dan perpecahan. Contoh: ketika Filipus memberitakan Injil di Samaria, banyak orang yang kerasukan setan dan orang lumpuh disembuhkan kemudian orang-orang di sana dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya (Kis. 8:4-7). Kepada Kornelius Rasul Petrus mengatakan bahwa dia menyampaikan Firman (Injil) yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus (Kis. 10:36).
  • Injil yang tidak datang dari bumi tetapi dari Kerajaan Surga.
  • Injil keselamatan; Ef. 6:15).

Siapa Paulus? Ia adalah rasul, guru dan penginjil. Apa yang dikatakan dalam tulisannya? Dia selalu menyinggung Injil. Contoh: Surat Roma 1:1-4 menuliskan, “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk membe-ritakan Injil Allah. Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci tentang Anak-Nya yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.”

Lebih lanjut Rasul Paulus meyakini bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menye-lamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi tetapi juga orang Yunani (Rm. 1:16). Untuk itu dia berkhotbah kepada orang-orang Yahudi lebih dahulu, karena ditolak dia memberitakan Injil kepada orang-orang Yunani. Dia begitu militan dalam menginjil hingga berani mengatakan, “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil.” (1 Kor. 9:16)

Introspeksi: sudahkah kita memiliki iman yang kukuh akan Injil Allah yang menye-lamatkan bukan menjadikan kita kaya dan tenar? Bila kita yakin sudah diselamatkan, kita tidak akan putus-putus berdoa untuk keluarga dan tahbisan kita.

Mengapa kita perlu menerima Injil Kristus? Agar iman bertambah, kasih terhadap sesa-ma semakin kuat dan tabah menderita dalam menghadapi penganiayaan dan penin-dasan supaya kita layak menjadi warga Kerajaan Allah. Allah yang adil akan mem-balaskan penindasan kepada mereka yang menindas kita dan mengadakan pembalasan kepada mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak menaati Injil Yesus. Mereka akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya (2 Tes. 1:3-9).

Injil Kristus harus diberitakan dan jangan digeser oleh Injil-injil lain agar keselamatan terjangkau bagi kita juga bagi orang-orang lain. Rasul Paulus tahu konsekuensinya da-lam memberitakan Injil sejati; itu sebabnya dia berdoa tanpa henti-hentinya dan selalu menyisipkan persoalan Injil dalam tulisan-tulisannya.

Ternyata Rasul Petrus juga menuliskan penderitaan sebagai orang Kristen, tercantum dalam 1 Petrus 4:16-17, “Tetapi jika ia menderita sebagai orang Kristen maka ja-nganlah ia malu melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu. Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?”

Masihkah kita menolak Injil dan pekerjaan Injil? Injil adalah landasan/dasar dari segala landasan. Rasul Paulus mengakui bahwa dia sebagai adalah seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar Yesus Kristus dan orang lain membangun terus di atasnya (1 Kor. 3:10-11).

Berbicara tentang Yesus Kristus tidak dapat dilepaskan dengan pengurbanan-Nya di salib. Seberapa jauh kita menghargai Perjamuan Tuhan? Apa lama kelamaan menjadi sakramen kebiasaan? Semua tergantung kita, sama seperti kita mengonsumsi nasi sebagai makanan sehari-hari, apakah kita bosan karenanya? Kalau kita percaya bahwa Yesus adalah Firman Allah yang kekal, setiap kali kita melakukan perjamuan Tuhan, kita memperingati kematian Yesus sampai Ia datang kembali.

Kita bertekun dalam iman jika kita terus menerus mendengarkan dan membaca Firman Tuhan bukan sekadar rajin melakukan kegiatan pelayanan (di) gereja. Dan iman kita dapat tetap teguh jika fondasinya kuat. Kita harus beriman pada tujuan akhir itulah Yerusalem baru, kota yang tidak tergoncangkan seperti imannya Abraham yang me-rindukan kota yang mempunyai dasar direncanakan dan dibangun oleh Allah (Ibr. 11: 10). Kitab Wahyu 21:10,14 menjelaskan bahwa tembok Yerusalem baru mempunyai 12 batu dasar dan di atasnya tertulis 12 nama rasul Anak Domba. Bangunan tersebut sangat kukuh dan diatur rapi sebab Allah Tritunggal itu rapi dan tertib.

Mengapa seseorang dapat meninggalkan iman sejati? Pasti ada masalah yang menye-babkan dia kecewa, jengkel, tidak senang dll. seperti ‘alasan’ suami/istri yang mening-galkan pasangan hidupnya. Jangan bertindak gegabah seperti dilakukan oleh Demas yang meninggalkan Paulus karena lebih mencintai dunia (2 Tim. 4:9)! Siapa Demas? Dia adalah pengerjanya Rasul Paulus yang melayani bersama Timotius, Tikhikus, Epafras dll. (Kol. 4:14; Flm. 1:24). Tidak dituliskan siapa yang memengaruhi Demas hanya saat Rasul Paulus menunggu eksekusi mati syahid, dia meminta Timotius untuk segera datang kepadanya karena Demas telah mencintai dunia dan meninggalkannya (2 Tim. 4:9-10).

Saat Paulus dianiaya di Filipi dan dimasukkan penjara, dia masih berjuang membangun jemaat di Tesalonika. Kondisi penduduk di Tesalonika penuh dengan penyembahan ber-hala namun melalui pemberitaan Injil Allah, Rasul Paulus berhasil membuat mereka berbalik kepada Allah yang hidup dan meninggalkan pemberhalaan (1 Tes. 1:9-10). Ironis, Demas malah kembali mencintai dunia yang penuh dengan pemberhalaan.

Waspada, begitu kita mencintai dunia, kita akan meninggalkan ibadah dan pelayanan! Apa yang menjadi daya tarik dunia? Keinginan daging, keinginan mata dan hidup som-bong (1 Yoh. 2:15-16). Perhatikan, tetaplah tekun beriman hingga akhir hidup seperti telah dilakukan oleh Rasul Paulus yang memelihara iman hingga garis akhir dan siap menerima mahkota kebenaran yang disediakan Tuhan (2 Tim. 4:6).

Hendaknya kita tetap mengasihi Yesus Kristus, menekuni Firman-Nya yang ajaib, memberitakan Injil keselamatan serta berpengharapan akan Yerusalem baru maka penantian kita tidak sia-sia. Satu kali kelak kita akan tinggal bersama Dia selamanya di sana. Amin.