Sekali Yesus Tetap Yesus

Sekali Yesus Tetap Yesus

Pdm. Kasieli Zebua, Lemah Putro, Minggu, 7 April 2019

Shalom,

Sungguh merupakan sukacita besar ketika mendengar Paduan Suara menyanyikan lagu ‘Sola Fide” (hanya oleh iman) sebab hanya dengan beriman kepada Yesus Kristus kita beroleh kese-lamatan di dalam Dia. Biarlah hati kita menjadi rumah Allah untuk beroleh jaminan dan kepastian bahwa Ia berada bersama kita sehingga ke mana pun kita melangkah kita mempunyai tujuan yang benar.

Berkaitan dengan iman, apa pesan Rasul Paulus melalui tulisannya dalam Surat Kolose 2:6-7? “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di da-lam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Hendaklah ka-mu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”

Kepada Pribadi siapa kita harus beriman? Kepada Yesus Kristus karena Ia adalah Pencipta, yang utama dari segala sesuatu, Kepala atas jemaat, memberikan hidup-Nya untuk keselamatan ma-nusia (Kol. 1:15-20). Oleh sebab itu sudah sepatutnya kita hidup bagi Dia dan semuanya untuk Dia.

Rasul Paulus begitu yakin jemaat Kolose (juga kita) bertumbuh dalam iman setelah menerima segala kekayaan dan keyakinan pengertian serta mengenal Kristus (Kol. 2:2). Namun Paulus te-tap menginginkan adanya progres pertumbuhan iman. Apa yang harus jemaat Kolose (juga kita) lakukan? Ayat 6 diawali dengan “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita”. Karena itu hendaklah kita:

  • Tetap Hidup di dalam Dia.

Jangan hari ini kita sungguh-sungguh percaya dan melayani Dia, besok kita ragu-ragu dan malas melayani-Nya. Sebaliknya, sekali kita menerima Kristus, kita harus tetap di dalam Dia dan tidak mudah digoyahkan. Kita harus berjalan di dalam Tuhan, hidup di dalam pikiran dan rencana-Nya. Ia hidup di dalam kita dan kita juga hidup di dalam-Nya. Kalau Tuhan berdiam dalam hati kita, Ia tidak pasif tetapi Ia hidup dan menghidupkan kita.

Rasul Paulus melihat bukti bahwa ada orang sudah percaya dan menerima Kristus tetapi dalam perjalanan hidupnya dia mengalami kemerosotan karena menghadapi banyak tantang-an berkaitan dengan keyakinannya kepada Kristus. Timbul keraguan dalam hati dengan pertanyaan-pertanyaan: sungguhkah Kristus satu-satunya yang memberikan keselamatan? Sungguhkah Kristus ialah Allah yang memberikan kehidupan bagi orang yang percaya kepada-Nya dst.? Untuk itu Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Kolose agar tetap hidup di dalam Kristus.

Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma dan mengatakan, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyela-matkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Rm. 1:16-17)

Dengan keyakinan yang kukuh itu, Rasul Paulus berusaha dan bergumul dengan segala tenaga (Kol. 1:28-29) untuk memberitakan Injil kepada jemaat di Kolose.

Aplikasi: bila kita sudah menerima dan percaya kepada Kristus, jangan mudah digoyahkan dan jangan pernah mundur.

  • Berakar di dalam Dia. Terjadi suatu peningkatan bukan statis/diam tetapi harus berakar. Ilustrasi: semakin besar dan tinggi sebuah pohon bertumbuh, semakin kukuh dan kuat pula akar yang dimilikinya. Jika akarnya tidak kuat, sekali ada angin kencang tumbanglah pohon itu. Alkitab membicarakan tentang bagaimana berakar di dalam Kristus. Matius 13 menulis-kan perumpamaan mengenai menabur benih.

Ada banyak pohon ditanam dan bertumbuh di mana saja tetapi yang menentukan dia ber-akar kuat ialah apabila pohon itu tertanam di tempat yang tepat. Jika benih Firman jatuh di tanah hati berbatu-batu, benih Firman tersebut tidak berakar dan hanya tahan sebentar. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena Firman, orang itu segera murtad (Mat. 13:20-21).

Kita harus berakar kuat di dalam Kristus untuk mampu menghadapi tantangan hidup sebab selama kita hidup di dunia ini kita tidak dapat lepas dari masalah pribadi, nikah, keluarga, dll. yang datang silih berganti bahkan terkadang datang bersamaan.

Waspada, kalau seseorang tidak berakar di dalam Kristus, dia segera murtad begitu mengha-dapi masalah. Bagaimana dapat berakar kuat? Tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak berdiri di jalan orang berdosa, tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, kesukaannya ialah merenungkan Taurat siang dan malam. Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air yang menghasilkan buah pada musimnya, daunnya tidak layu dan apa saja yang diperbuat-nya berhasil (Mzm. 1:1-3).

Introspeksi: kita telah mendengarkan dan merenungkan Firman Tuhan puluhan bahkan ra-tusan kali, sudahkah kita mempraktikkannya dalam kehidupan kita? Sudahkah kita menyukai kebenaran Firman Tuhan? Kita tidak mungkin mendapatkan nutrisi kalau tidak ditanam di tepi aliran air yang sumbernya tidak pernah habis. Jika ditanam di padang gurun, suatu saat airnya akan habis dan kita tidak dapat menyerap air lagi maka cepat atau lambat kita akan mati (rohani).

Hidup kita harus ditanam di tepi aliran air Firman Tuhan yang mengajar, menyatakan kesa-lahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik kita dalam kebenaran (2 Tim. 3:16). Sebagai-mana akar (yang hidup) tumbuh ke bawah dan menancapkan akar-akarnya untuk dapat menyerap makanan, demikian pula saat mendengarkan Firman Tuhan, kita menyerap Firman untuk dapat memahami kebenarannya dan membiarkan Firman menancap dalam hati untuk menghasilkan pertumbuhan iman, pengharapan dan kasih. Perhatikan, Firman Tuhan yang kita dengar bukan sekadar memberikan informasi tetapi Firman Tuhan itu hidup dan mampu menyegarkan hati serta jiwa kita bahkan membuat kita menghasilkan buah. Tidak cukup berakar, selanjutnya kita harus dibangun di atas Dia.

  • Dibangun di atas Dia. Berbicara mengenai bangunan, Rasul Paulus memberikan gambaran proses dan bahan-bahan yang diperlukan dalam membangun suatu bangunan. Misal: fondasi harus kuat agar bangunan dapat berdiri dengan teguh.

Dahulu hidup kita belum terbangun masih berbentuk batu dan pasir yang terserak di mana-mana, tidak berharga dan diinjak-injak karena belum menyatu satu dengan yang lain. Namun setelah semua bahan dikumpulkan, terbentuklah bangunan yang bagus.

Bagaimana kehidupan kita dibangun? Kita harus merelakan dan mengizinkan Tuhan memba-ngunnya melalui Firman-Nya. Bukankah Tabernakel dan setiap alat/perabot di dalamnya dibuat menurut segala yang ditunjukkan Allah kepada Musa (Kel. 25:38-40)?

Rasul Paulus sebagai ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar bangunan yang kuat yaitu Yesus Kristus (1 Kor. 3:10-11). Jangan kita dibangun pada dasar yang lain tetapi Yesus Kristus. Mengenai bahan bangunan di atasnya terserah, ada yang dari emas, perak, batu per-mata, kayu, rumput kering atau jerami (ay. 12). Artinya, hamba-hamba Tuhan (pendeta, ma-jelis, koordinator dll.) dipakai untuk membangun jemaat. Kalau mau membangun memakai emas dan permata dibutuhkan pengeluaran lebih banyak karena harganya lebih mahal. Untuk bangunan yang sedang (tidak mahal), cukup memakai kayu; kalau asal-asalan cukup memakai jerami. Artinya, untuk membangun pelayanan yang baik, ada harga yang harus di-bayar, misal: pengurbanan waktu untuk mempersiapkan Firman, latihan menyanyi dengan serius bukan asal jadi dst.

Kita adalah bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kita (ay. 16). Kita bukan sembarangan dibangun bukan pula dengan harga murahan. Bukankah pembangunan Tabernakel menge-luarkan biaya besar? Kita dibangun menjadi bait Allah bukan dengan emas dan perak tetapi dengan darah Kristus yang tak ternilai (1 Kor. 6:19-20). Hidup kita begitu berharga di mata Tuhan dan Ia telah membayar lunas. Oleh sebab itu tidaklah berlebihan jika Rasul Paulus meminta kita untuk tetap hidup di dalam Dia karena Dia telah berkurban bagi kita. Marilah berkomitmen “Sekali Yesus tetap Yesus”, jangan suka bimbang sebab orang bimbang/men-dua hati tidak akan mendapat apa-apa dan tidak tenang hidupnya (Yak. 1:6-8).

Harus diakui banyak hal dapat membuat kita menjadi ragu tetapi Rasul Paulus mengingatkan kita (para hamba Tuhan) untuk membangun dengan kesungguhan karena Tuhan telah terlebih dahulu membangun jemaat-Nya dengan harga yang mahal.

  • Bertambah teguh di dalam iman. Iman kita harus bertambah teguh, bukan semakin merosot.

Jangan sampai terjadi sudah lama mengikut Tuhan, iman yang dimiliki malah menurun bukan makin kukuh seperti terjadi pada Demas, teman sekerja Rasul Paulus. Awalnya dia begitu se-mangat melayani bersama (Kol. 4:14, Flm. 1:24) tetapi akhirnya meninggalkan pelayanan karena dia lebih mencintai dunia (2 Tim. 4:10). Apa yang ada di dunia ini? Keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup (1 Yoh. 2:16).

Waspada, dunia menawarkan hal-hal yang dapat menggoyahkan iman kita tetapi Rasul Paulus mengingatkan supaya kita bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepada kita. Jangan iman kita mudah goyah dan bimbang hanya karena Tuhan tidak segera menga-bulkan doa permohonan kita. Kenyataannya, Tuhan menjawab doa kita tetapi jawaban-Nya tidak kita pahami. Ini bukan berarti Tuhan yang salah kemudian kita menyalahkan Dia. Misal: kita tidak pergi ke gereja karena menghadapi banyak masalah. Apa salahnya Tuhan sehingga kita mogok tidak ke gereja? Seharusnya saat menghadapi banyak masalah, kita malah da-tang kepada Tuhan (bukan malah menjauh) untuk meminta pertolongan dari-Nya.

Yesus memberikan perumpamaan kekuatan iman sebesar biji sesawi yang mampu memin-dahkan gunung (Mat. 17:20). Namun iman ini harus ditingkatkan/ditambah dengan kebajikan – pengetahuan – penguasaan diri – ketekunan – kesalehan – kasih akan saudara – kasih akan semua orang (2 Ptr. 1:5-7).

Bukti seseorang beriman dapat dilihat dari buah-buah yang dihasilkan sebab iman tanpa per-buatan adalah mati (Yak. 2:17,26). Misal: salah satu hasil perbuatan iman ialah perkataan (lidah) yang tidak lagi tajam untuk melukai orang (Yak. 3:3-6); tidak memandang muka/si kaya dan si miskin (Yak. 2:1-9) dst.

  • Hati kita melimpah dengan syukur. Ucapan syukur yang keluar dari mulut bukan seka-dar basa basi atau asal-asalan tetapi keluar dari hati yang tulus karena menyadari betapa baik dan besar kasih Tuhan kepada kita.

Dalam keseharian hidup, kita mengucap syukur dan berterima kasih ketika seseorang me-merhatikan, peduli dan memberikan kita sesuatu, terlebih lagi kita harus bersyukur karena hati dipuaskan oleh kebaikan dan kasih Tuhan. Sebaliknya, orang yang suka bersungut-sungut, mudah emosi menunjukkan bahwa dia tidak merasakan kebaikan Tuhan. Hatinya tidak puas karena keinginannya tidak terpenuhi.

Introspeksi: apakah hati kita puas oleh karena berkat materi melimpah? Waspada, jika kita bersukacita karena kelimpahan berkat jasmani, fondasi kita tidak kuat. Bagaimana reaksi kita kalau Tuhan mengambil semua berkat fana yang dilimpahkan kepada kita? Masihkah kita dapat bersukacita? Berpeganglah kepada Yesus Kristus yang tidak pernah berubah alias tetap sama kemarin, hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibr. 13:8).

Bila hati kita menjadi tempat kediaman Roh Kudus, di mana pun dan dalam kondisi apa pun kita ada ucapan syukur yang tak ada habis-habisnya karena hati yang dipuaskan tidak mudah terpengaruh dengan pelbagai masalah yang menimpa. Oleh sebab itu kita perlu menjaga hati sebab dari hati terpancar kehidupan (Ams. 3:24).

Hendaknya kita yang sudah menerima Kristus tetap hidup di dalam Dia, berakar di dalam Dia, dibangun di atas Dia dan hati melimpah dengan syukur. Dengan demikian kita menjadi kesaksian hidup yang dapat dilihat orang-orang di sekitar dan Nama Tuhan Yesus dipermuliakan. Amin.