Cari Dan Pikirkan Kerajaan Allah!

Cari Dan Pikirkan Kerajaan Allah!

Pdt. Paulus Budiono, Lemah Putro, Minggu, 28 April 2019

Shalom,

Yakinkah Tuhan beserta kita (Imanuel) dan hadir saat kita beribadah? Tampak paradoks/bertentangan, bukankah Ia sudah duduk di sebelah kanan Allah yang mahakuasa (Kol. 3:1)? Apa yang Ia ingin kita lakukan sementara hidup di dunia ini? Surat Kolose mengingatkan kita, “Apabila kamu telah mati bersama-sama dengan Kristus dan bebas dari roh-roh dunia, mengapakah kamu menaklukkan dirimu pada rupa-rupa peraturan seolah-olah kamu masih hidup di dunia: jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia. Peraturan-peraturan ini walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi. Karena itu kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas di mana Kristus ada duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus yang adalah hidup kita menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” (Kol. 2:20-23; 3:1-4)

Tahukah kita berapa jauh jarak Surga dari bumi? Untuk jarak dekat, kita dapat berkomunikasi langsung dengan bertatap muka tetapi untuk jarak jauh kita menggunakan alat komunikasi canggih (telepon, SMS, WA, Skype, teleconference dll). Bagaimana kita berkomunikasi dengan Tuhan dan alat komunikasi apa yang kita gunakan?

Kita baru merayakan Paskah minggu lalu. Setelah Yesus bangkit dari kematian, Ia menyatakan diri kepada para murid juga orang-orang yang ditemui-Nya dan gencar mempromosikan Kerajaan Allah selama 40 hari sebelum Ia naik ke Surga. Peristiwa ini terjadi lebih dari 2.000 tahun lalu, masihkah pikiran kita terfokus pada Kerajaan-Nya dan berusaha mencari Dia?

Mengapa kita ‘dipaksa’ untuk mencari perkara-perkara di atas padahal kita masih hidup di bumi? Kita harus berpikir apa ada manfaatnya; jika tidak, untuk apa kita mencarinya? Apa tujuan kita beribadah? Apakah mencari Tuhan atau bertemu teman-teman daripada kesepian di rumah? Kalau terbangun di tengah malam, apa yang langsung terpikir dan apa yang dicari? Mulai dari pagi hari hingga malam menjelang istirahat untuk tidur kita tidak lepas dari mencari dan memikirkan sesuatu tetapi sayang kita lebih disibukkan mencari dan berpikir pada hal-hal yang sebenarnya tidak penting dan sia-sia.

Rasul Paulus mengingatkan kita yang telah mati dan bangkit bersama Kristus untuk mencari dan memikirkan perkara di atas karena kita telah bebas dari roh-roh dunia. Kita harus hati-hati terhadap peraturan dan ajaran (filosofi) manusia yang tampak penuh hikmat dan ibadat yang kelihatan rohani padahal semua itu hanya untuk memuaskan hidup duniawi.

Introspeksi: apakah ibadah kita lebih menuruti liturgi, dokrin dan peraturan manusia ketimbang perkenanan Allah? Jangan membanggakan gereja sendiri paling murni, paling hebat pengajarannya dll. tetapi tidak menurut Kristus (bnd. Kol. 2:8) atau tidak Kristus-sentris!

Bagaimana kita dapat menghindari pengajaran palsu buatan manusia? Harus mengenal pengajaran yang asli itulah Alkitab – Firman Allah. Yesus – Sang Firman – mempunyai wewenang untuk memberitakan Kerajaan Surga sebab Ia adalah Raja segala raja dan perkataan-Nya murni tanpa cacat cela.

Yesus mengajar kita untuk mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepada kita (Mat. 6:33). Namun faktanya kita lupa mencari Kerajaan Allah tetapi lebih sibuk mengejar berkat-Nya. Jika kebutuhan kita terpenuhi, kita malah tidak mencari Tuhan dan Kerajaan-Nya. Waspada, banyak orang memakai Nama Tuhan untuk bernubuat, mengadakan mukjizat, mengusir setan dll. tetapi Ia tidak mengenal mereka (Mat. 7:21-23) karena mereka mengejar popularitas bukan Kerajaan Surga. Kalau kita sungguh-sungguh mencari Kerajaan Surga, kita pasti mendapatkannya sebab Yesus mengatakan, “Mintalah maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Mat. 7:7)

Setelah Yesus naik ke Surga, pemberitaan tentang Kerajaan Surga diestafetkan oleh para murid-Nya juga oleh Saulus/Paulus setelah bertemu Yesus (Kis. 9). Petrus berani mem-beritakan tentang Yesus orang Nazaret yang disalibkan dan bangkit dari kematian oleh karena Roh Kudus memenuhi hatinya. Sebelum dipenuhi Roh Kudus, para murid-Nya tidak mengerti tentang Kerajaan Surga. Mereka masih fokus dengan kerajaan fisik sehingga bertanya kepada Gurunya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis. 1:7) Setelah dipenuhi Roh Kudus, mereka dipimpin langkah demi langkah hingga tertulis empat Injil dan kitab-kitab lain yang berbicara banyak tentang Kerajaan Surga.

Bukankah kita juga ada Roh Kudus tetapi kita sering membatasi Dia untuk berbicara tentang Kerajaan Surga? Roh Kudus juga mengingatkan kita untuk melakukan perkara-perkara yang penting dalam hidup ini tetapi kita sering mengabaikannya.

Seberapa sering Yesus berbicara mengenai Kerajaan Surga? Selama 3½ tahun pelayanan-Nya di dunia, empat Injil menuliskan Yesus mengajar tentang Kerajaan Surga sebanyak 125 kali di sinagoge pada hari Sabat (terhambat dengan peraturan Sabat yang diadakan hanya sekali seminggu) namun 40 hari setelah kebangkitan-Nya Ia terus menerus berbicara tentang Kerajaan-Nya. Bagaimana dengan kita? Berapa sering kita berbicara tentang Kerajaan Surga? Perhatikan, Kerajaan Surga bukan soal makan minum tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17) juga kuasa (1 Kor. 4:20). Kini tidak ada lagi batasan waktu kapan harus memberitakan Kerajaan Surga dan Alkitab tersedia bagi kita sehingga kita dapat memberitakannya setiap waktu.

Berbicara mengenai Kerajaan Surga, kita harus mengenal Pemiliknya itulah Yesus Kristus. Ia adalah Raja di atas segala raja. Berapa kali kita menyebut Yesus dalam doa kita? Bila Ia beserta kita, kita tidak perlu khawatir dan takut. Namun, banyak kali kehidupan rumah tangga dan nikah mengalami banyak masalah karena mereka tidak menghadirkan Yesus yang adalah Raja segala raja sekaligus Raja Damai. Akibatnya, perselingkuhan, perceraian, korupsi, kriminalitas dll. merajalela karena kerajaan dunia tempat kita hidup (sementara) dikuasai oleh Iblis (Luk. 4:5-6). Ironis, kita begitu gencar bepergian dan mempromosikan tempat-tempat pariwisata yang menarik dari seluruh pelosok dunia tetapi hampir tidak pernah mempromosikan Kerajaan Surga yang keindahan, kenyamanan dan keamanannya tak tertan-dingi.

Sesungguhnya Kerajaan Surga bukan terjadi 2.000 tahun lalu saat Yesus lahir tetapi Kerajaan Surga itu kekal selamanya (Mzm. 93:1-2; 45:6-8). Terbukti Perjanjian Lama menulis tentang (takhta) Kerajaan Surga beserta Pemiliknya, Allah, yang kekal dan diperuntukkan bagi bangsa Israel tetapi mereka menolaknya maka kerajaan tersebut jatuh ke bangsa kafir yang menerima Kristus, tertulis dalam Ibrani 1:8-9 (Perjanjian Baru). Itu sebabnya Rasul Paulus mengingatkan kita untuk mencari dan memikirkan perkara di atas. Kita diciptakan untuk lahir dan tinggal sementara waktu di dunia ini namun kelak hidup kekal bersama-Nya jika kita mencintai Firman-Nya.

Apa syarat untuk diperbolehkan tinggal dalam Kerajaan Surga? Kerajaan Surga penuh dengan kekudusan. Kalau kita ingin menjadi warga Kerajaan Surga maka:

  • Semua dosa kita harus ditebus oleh darah Yesus (Mazbah Kurban Bakaran), lahir baru (Bejana Pembasuhan), tekun mencari dan memikirkan Firman Tuhan (Meja Roti Sajian), menjadi saksi-Nya (Kandil Emas) dan suka menyembah (Mazbah Pembakaran Ukupan) untuk klimaksnya bersatu dengan Sang Raja dan Mempelai Pria Surga (Tabut Perjanjian).

Ternyata tidak mudah masuk ke dalam Kerajaan Allah seperti dialami oleh seorang pemuda kaya yang telah melaksanakan hukum kedua dari hukum Taurat (mengasihi sesama) tetapi masih terikat dengan kekayaannya (Mat. 19:16-24). Juga mereka yang memakai Nama Tuhan dalam bernubuat, mengadakan banyak mukjizat, mengusir setan dll. tetapi untuk kepentingan diri sendiri sehingga mereka ditolak oleh-Nya (Mat. 7:21-23).

Yesus selaku Promotor Kerajaan Surga tidak menuntut banyak dari kita karena daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan-Nya (1 Kor. 15:50). Yang terutama ialah kita harus mengalami keubahan hidup – lahir baru – dan meninggalkan cara hidup lama. Yesus pernah menegur Nikodemus, pemimpin agama Yahudi, dengan mengatakan, “…sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” (Yoh. 3:3)

  • Tidak meremehkan apalagi menghina Perjamuan Tuhan. Pada Perjamuan malam ter-akhir sebelum Yesus masuk dalam penderitaan, Ia mengatakan, “...mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.”

Berarti Perjamuan Tuhan berkaitan erat dengan Kerajaan Surga.

  • Beradaptasi dan membiasakan diri hidup menaati seluruh peraturan dan kebiasa-an warga negara Surgawi. Ilustrasi: untuk menjadi warga negara Indonesia yang baik, kita harus menaati semua hukum, peraturan dan kebiasaan penduduk Indonesia agar tidak menjadi warga yang ekslusif, menyendiri tidak mau membaur dan tidak mau berkomuni-kasi dengan warga di sekitarnya.

Introspeksi: sudah berapa banyak Firman Kerajaan Surga memperbarui dan mengkukuh-kan langkah-langkah hidup kita? Atau khotbah-khotbah dan buku-buku rohani lain lebih memengaruhi jiwa dan pola pikir kita?

Memang kita masih hidup di dunia (fana) yang sedang lenyap (1 Yoh. 2:17) tetapi hendaknya kita mencari dan memikirkan kota Allah yang hidup itulah Yerusalem Surgawi yang dihuni oleh ribuan malaikat dan mereka yang namanya terdaftar di Surga. Kerajaan-Nya tidak tergoncang-kan dan kita patut mengucap syukur serta beribadah kepada-Nya dengan hormat dan takut sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan (Ibr. 12:22-29).

Apa yang menjadi bahan dasar pembangunan hidup kita? Apakah kita dibangun di atas dasar kayu, rumput kering atau jerami yang gampang hangus terbakar oleh api atau dari bahan emas, perak, batu permata yang makin teruji kemurniannya oleh api (1 Kor. 3:12-13; 1 Ptr. 1:7)? Marilah kita merindukan kota Yerusalem Baru yang jalannya dari emas dan temboknya dari permata (Why. 21) untuk kelak tinggal bersama Kekasih jiwa kita, Mempelai Pria Surga, di sana selamanya. Amin.

. Paulus Budiono, Lemah Putro, Minggu, 28 April 2019