Gaya Hidup Seperti Yesus - Kolose 3:1-4

Gaya Hidup Seperti Yesus - Kolose 3:1-4

Pdm. Kasieli Zebua, Johor, Minggu, 5 Mei 2019

Shalom,

Dua minggu lalu kita merayakan Paskah yang mana Kristus telah bangkit mengalahkan maut karena Ia berkuasa dan sekarang Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Ia tidak mati selamanya tetapi hidup dan kita juga dihidupkan bersama-Nya. Untuk itu kita harus mencari dan memikirkan Kerajaan Allah di mana Kristus ada, sebab kita telah hidup terbebas dari prinsip-prinsip dasar dunia ini.

Apa yang harus kita lakukan setelah kita dibangkitkan bersama Kristus? Kolose 3:1-4 menuliskan, “Karena itu kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas di mana Kristus ada duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”

Ayat-ayat di atas merupakan lanjutan dari Kolose 2:16-23 sebab dahulu surat Kolose tidak memiliki pasal melainkan satu surat. Sebagai orang yang telah bebas dari prinsip-prinsip dasar dunia ini, kita harus memiliki gaya hidup seperti Kristus.

Mengapa kita harus memiliki “gaya hidup seperti Yesus”? Dalam ayat di atas, “bersama dengan Kristus” disebut tiga kali yaitu dibangkitkan bersama dengan Kristus (ay 1); hidup tersembunyi bersama dengan Kristus (ay. 3), dan menyatakan diri bersama dengan Kristus dalam kemuliaan (ay. 4). Bersama dengan Kristus dalam kebangkitan, kehidupan dan kemuliaan menuntut suatu gaya hidup yang sama seperti Kristus menjadi serupa dengan-Nya.

Kenyataannya, dunia dengan daya tariknya banyak memengaruhi kehidupan anak-anak Tuhan. Contoh: anak-anak muda memiliki gaya hidup meniru idola mereka dari TV, Youtube, dll. kemudian mengubah dandanan termasuk rambut, cara berpakaian, gaya bicara dll. bahkan tak segan-segan mengeluarkan uang untuk operasi plastik supaya mirip dengan idolanya. Ini menunjukkan mereka tidak puas dan tidak mensyukuri apa yang Tuhan ciptakan bagi dirinya. Bukankah setiap orang diciptakan Tuhan sebagai makhluk unik yang tidak memi-liki persamaan satu dengan lainnya? Dan bukankah Tuhan menerima kita apa adanya? Oleh sebab itu Firman Tuhan membawa kita kepada satu Pribadi, Kristus, dan menjadi serupa dengan-Nya.

Ada tiga poin yang disampaikan Rasul Paulus kepada jemaat Kolose (juga kita) sebagai gaya hidup seperti Yesus, yaitu:

  • Mencari dan memikirkan perkara di atas

Kita yang telah dibangkitkan bersama dengan Kristus harus mencari perkara di atas di mana Kristus ada dan duduk di sebelah kanan Allah.

Kristus sudah memberikan contoh kepada kita bahwa Ia berjuang selama di dunia ini kemudian mati, bangkit, naik ke Surga dan sekarang hidup bersama Allah di dalam Kerajaan-Nya untuk kelak membawa kita ke sana.

Jujur, kita tidak mempunyai bayangan seperti apa Kerajaan Allah itu tetapi kita mencari dan memikirkannya dengan iman. Firman Tuhan mengatakan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepada-mu.” (Mat. 6:33)

Sebagai anak-anak Allah, kita memprioritaskan diri mencari Kerajaan-Nya terlebih dahulu bukan seperti bangsa-bangsa tidak mengenal Allah yang sibuk mencari kebutuhan di dunia ini dengan penuh kekhawatiran.

Dan jangan lupa Kristus yang berada di dalam Kerajaan tersebut sedang mempersiapkan tempat bagi kita (Yoh. 14:2). Perhatikan, Kerajaan Allah bukan soal makanan dan minuman (seperti dicari banyak orang di dunia ini) tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus (Rm. 14:17). Dengan kata lain, kita harus mencari dan memikirkan – memperjuangkan serta menciptakan hidup dalam kebenaran, damai sejah-tera dan sukacita.

Introspeksi: sudahkah kita hidup dalam kebenaran? Sesungguhnya, bila hidup kita jauh dari kebenaran hilanglah damai sejahtera. Oleh sebab itu kita harus mencari, memper-juangkan dan mempertahankan damai sejahtera dan sukacita selagi hidup di dunia ini. Roh Kudus akan memampukan kita terutama saat kita menghadapi masalah hidup yang pelik. Dengan demikian kita sudah menikmati Kerajaan Surga sementara hidup di dunia sekarang ini tanpa perlu menunggu nanti/kelak. Kita menikmati suasana Surga di dalam keluarga, sekolah, pekerjaan, pelayanan dan di mana pun; kondisi seperti ini dapat kita alami jika kita telah dibangkitkan bersama dengan Kristus. Selama kita belum dibang-kitkan bersama dengan-Nya, kita masih mati di dalam dosa. Pikiran kita tidak akan memikirkan kebenaran, sukacita, dan damai sejahtera; sebaliknya, hidup kita diperhamba oleh dosa. Untuk itu Kristus mati agar kita hidup bagi-Nya (Rm. 6:1-11).

Perkataan “demikianlah hendaknya kamu memandangnya” (Rm. 6:11) dimaksudkan “kamu memikirkan dan menyakini bahwa kamu telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah” – memiliki gaya hidup seperti Kristus karena kita sudah dibangkitkan bersama dengan-Nya.

Jujur, pikiran kita terlalu banyak disita dengan kesibukan-kesibukan dunia ini entah oleh pekerjaan dan aktivitas kita bahkan oleh pelayanan kita. Namun biarlah semua yang kita pikirkan memiliki tujuan di atas di mana Kristus ada. Jangan beralasan tidak mampu memikirkan Kristus dan Kerajaan Surga karena terlalu tinggi sedangkan kesulitan hidup di dunia sudah membuat pikiran pusing tujuh keliling! Ingat, kalau Firman Tuhan meng-ajarkan kita untuk memikirkan dan mencari perkara di atas berarti Ia tahu kita mampu melaksanakannya. Karena kita sudah dibangkitkan bersama dengan Kristus, ada peru-bahan dalam mindset kita. Kita tidak lagi serupa dengan dunia tetapi ada pembaruan budi/mind (pikiran) sehingga kita dapat membedakan mana yang menjadi kehendak Allah, yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2).

  • Hidup dalam perlindungan Tuhan

Apa maksud hidup kita tersembunyi di dalam Kristus? Kita mati dari kuasa dosa dan hidup tersembunyi/dilingkupi/diayomi oleh Kristus. Kalau kita berada dalam pengayoman Kristus dan Firman-Nya, kita akan hidup sesuai dengan apa yang diinginkan oleh-Nya. Rasul Paulus mengakui bahwa dia hidup bukan lagi ia sendiri yang hidup melainkan Kristus hidup di dalamnya (Gal. 2:20).

Hidup kita tersembunyi di dalam Kristus berarti kita hidup di dalam Dia dan tersembunyi dari hal-hal duniawi. Tuhan memisahkan dan melindungi/membentengi kita untuk men-cegah kemungkinan-kemungkinan yang dapat menjerumuskan kita ke dalam dosa.

Dalam pola pengajaran Tabenakel:

- Kehidupan mati bersama Kristus → Mazbah Kurban Bakaran

- Kebangkitan bersama-Nya untuk mengalami keubahan hidup → Bejana Pembasuhan

- Hidup tersembunyi di dalam Kristus → Tempat Kudus

Di Tempat Kudus ini kita dilindungi dan digembalakan oleh Tuhan melalui Firman-Nya (Meja Roti Sajian) untuk menangkis serangan dosa; diterangi oleh-Nya (Kandil Emas) sebab Yesus adalah Terang; hidup dalam persekutuan doa dan penyembahan dengan-Nya (Mazbah Pembakaran Ukupan) sebab Yesus adalah Pendoa syafaat.

Terjadi peningkatan bila kita hidup bersama dengan Kristus. Kehidupan kita tidak berhenti pada pertobatan tetapi berlanjut pada pembaruan hidup untuk digembalakan oleh Firman Tuhan dan disucikan terus menerus menjadi semakin terang yang dapat dilihat jelas oleh orang-orang di sekitar kita.

Suatu saat Yesus meratapi Yerusalem, kata-Nya, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu sama seperti induk ayam me-ngumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya tetapi kamu tidak mau.” (Mat. 23:37)

Introspeksi: apakah kita juga menolak pengayoman dan perlindungan Tuhan? Bila Ia mengayomi kita, masalah apa pun boleh menimpa tetapi kita tidak berjuang sendirian karena Ia ada bersama kita. Sayang, kita sering melupakan penyertaan Tuhan dan me-nyelesaikan masalah dengan kekuatan sendiri. Jika gagal, kita kemudian menyalahkan Dia seperti telah diperbuat oleh para murid-Nya ketika menghadapi angin ribut yang menye-rang perahu mereka. Mereka lupa bahwa Yesus ada bersama mereka, tertidur di buritan. Baru setelah putus asa hampir binasa, mereka membangunkan Dia (Mat. 8:23-27).

Bertindaklah seperti Daud yang melibatkan Tuhan (dengan bertanya kepada-Nya) saat mau maju berperang melawan musuh (1 Sam. 23:2). Daud juga tahu diri tidak sem-barangan membunuh ‘musuh’ yang diurapi Tuhan (Raja Saul) karena Daud lebih takut kepada Tuhan (1 Sam. 24:1-7; 26:1-12). Dampaknya, dia berkemenangan karena Tuhan bersamanya.

Juga Yusuf muda yang disertai oleh Tuhan, ia tidak membenci saudara-saudaranya yang telah membuatnya menderita bertahun-tahun. Sebenarnya dia mempunyai kesempatan untuk membalas dendam kepada mereka tetapi dia tidak melakukannya sebab percaya garis perjalanan hidupnya telah ditentukan oleh Tuhan melalui perlakuan mereka (Kej. 50:19-21). Yusuf senantiasa disertai Tuhan berakhir dengan keberhasilan menduduki posisi penting di tanah Mesir (Kej. 41:40-44).

Implikasi: percayalah akan pemeliharaan dan perlindungan Tuhan saat kita menghadapi masalah (dosa) yang datang silih berganti membuat kita ‘sukar bernapas’! Bila kita mampu melalui masalah berat tersebut, bukankah ini karena kuasa Tuhan yang dinyatakan kepada kita?

  • Memiliki pengharapan akan kemuliaan

“Apabila Kristus, yang adalah hidup kita,” (ay. 4a) maksudnya Kristus yang menghidupkan kita, menjadi hidup kita, memberikan kita kehidupan-Nya. Dengan kata lain, tanpa Kristus kita akan mati, tanpa-Nya kita tidak dapat berbuat apa-apa, tidak mampu memikirkan hal-hal yang rohani.

Yesus memberikan ilustrasi bahwa Ia adalah pokok anggur dan kita ranting-rantingnya. Kalau ranting terpisah dari pokok, ranting itu akan kering dan mati (Yoh. 15:1-6). Jelas, kita tidak mampu hidup tanpa Kristus; itu sebabnya jangan coba-coba meninggalkan Dia.

Kapan Ia “menyatakan diri kelak”? Ketika Ia datang kedua kali dan membawa kita kepada kesempurnaan. Saat ini kita mungkin menghadapi banyak tantangan hidup yang membuat kita sulit tersenyum tetapi yakinlah akan kehidupan di dalam kemuliaan yang penuh de-ngan sukacita dan damai sejahtera sempurna → Tempat Mahakudus. Di sana kemuliaan Allah hadir dan kita dibawa kepada persekutuan indah, bersanding sebagai mempelai-Nya dan tinggal bersama Dia di dalam kesempurnaan.

Marilah kita memikirkan untuk dapat masuk dalam kemuliaan dan disempurnakan seperti Dia yang adalah sempurna. Rasul Paulus mengingatkan bahwa penderitaan ringan sekarang ini mengerjakan kemuliaan kekal melebihi segalanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kita (2 Kor. 4:17). Jadi, jangan kita memfokuskan pikiran dengan beratnya beban penderitaan saat ini tetapi pikirkan kemuliaan yang akan Tuhan berikan kepada kita! Kepada tujuh jemaat di Asia Kecil, Tuhan menjanjikan kemuliaan tiada tara bagi para pemenang (Why. 2 – 3).

Jelas, tujuan gereja bukan untuk hidup di dunia ini yang sibuk dengan urusan-urusan duniawi (pangan, sandang, papan) tetapi kehidupan kekal penuh kemuliaan setelah kematian yaitu gereja siap menjadi mempelai-Nya. Ilustrasi: untuk bersanding menjadi pasangan mempelai yang tampan dan cantik, calon mempelai pria dan wanita harus mempersiapkan diri jauh-jauh hari agar mereka tampil sempurna di hari H bagaikan ‘raja sehari’. Demikian pula, kita sekarang harus mempersiapkan diri (seperti lima gadis bijak-sana) menyambut kedatangan Kristus, Mempelai pria Surga, dalam kemuliaan karena kita tidak tahu dengan tepat kapan Ia datang menjemput kita sebagai mempelai perempuan-Nya. Jangan bersikap seperti lima gadis bodoh yang santai dan suka menunda-nunda persiapan karena mengira kedatangan mempelai masih jauh dan lama! Akibatnya mereka tertinggal ketika mempelai pria datang (Mat. 25:1-13).

Kita harus tetap tinggal di dalam Kristus supaya ketika Ia datang, kita memiliki keberanian dan tidak merasa malu terhadap-Nya (1 Yoh. 2:28-29). Mengapa calon pengantin perem-puan malu bertemu pujaan hatinya? Karena belum/tidak siap – ‘dandanannya’ awut-awutan.

Marilah kita memikirkan Kristus dan mempunyai gaya hidup seperti Dia agar kita siap saat Ia datang kembali menjemput kita untuk dijadikan Mempelai-Nya dan hidup bersama Dia selamanya dalam Kerajaan-Nya. Amin.