Miliki Hidup Rukun - Harmonis Dalam Tuhan

MILIKI HIDUP RUKUN - HARMONIS DALAM TUHAN

Johor, Minggu, 26 Mei 2019

Pdm. Harijono

 

Shalom,

Merupakan suatu kerinduan sekaligus kebahagiaan bila suami, istri dan anak-anak dapat beribadah bersama untuk memuji dan memuliakan Allah. Bila sekeluarga dapat berkumpul untuk beribadah bersama, ini bukan karena kekuatan sendiri tetapi karena kehendak dan kasih Tuhan semata. Hendaknya kita dikuasai oleh Roh Kudus sehingga semua indra kita dapat fokus kepada Sang Firman berdampak kehadiran kita tidak sia-sia tetapi beroleh berkat secara pribadi. Memang orang tua bertanggungjawab akan masa depan anak-anak. Mereka disekolahkan sampai batas kemampuan orang tua tetapi terlebih penting ialah orang tua dapat mendidik anakanaknya sejak kecil untuk mengenal dan percaya kepada Tuhan sehingga bertumbuh takut dan hormat kepadaNya.

 

Jemaat Kolose dimenangkan untuk percaya kepada Tuhan melalui hamba-hamba-Nya antara lain: Epafras bersama Thikikus dan Onesimus. Mereka adalah rekan sepelayanan untuk menyampaikan surat dari Rasul Paulus yang tidak dapat terlibat langsung di tengah-tengah jemaat Kolose tetapi bertanggung jawab atas pertumbuhan rohani mereka.

Mengapa Paulus mengirim surat kepada jemaat Kolose? Karena terjadi penggerogotan akan kebenaran Firman Tuhan oleh kelicikan “pemberita-pemberita Firman” yang bermaksud jahat untuk mencari keuntungan dari jemaat. Melalui pembacaan suratnya, Paulus berharap jemaat Kolose terselamatkan tidak menjadi jemaat loyo terhadap ajaran palsu yang menitikberatkan pada keinginan daging. Paulus juga mendorong kita untuk hidup seturut dengan kehendak-Nya, dimulai dari lingkup terkecil dalam Tubuh Kristus itulah anggota keluarga.

Perhatikan, kasih Tuhan itu selalu mempersatukan. Siapa saja yang dipersatukan? Surat Kolose 3:18-21 menuliskan:

  • “Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.” (Kol. 3:18)
  • “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (ay. 19)
  • “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal karena itulah yang indah di dalam Tuhan.” (ay. 20)
  • “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu supaya jangan tawar hatinya.” (ay. 21)

Jemaat Kolose (juga kita yang membaca surat Paulus) dibina dan dididik melalui Firman Allah agar mereka (juga kita) bertumbuh rohaninya dan mengalami keubahan hidup. Istri, suami, anak dan bapak tidak hidup sekehendak diri sendiri tetapi menaati tuntunan Tuhan. Tentu tidaklah mudah untuk mewujudkannya, dibutuhkan pergumulan untuk melawan kemauan diri sendiri. Dengan hidup tergembala, kita diperlengkapi oleh kasih-Nya, Firman-Nya dan Roh Kudus.

Paulus sangat bersukacita bukan hanya karena melihat pertumbuhan rohani jemaat Kolose tetapi juga boleh menderita karenanya.

Aplikasi: sukacita dalam pelayanan bukan disebabkan karena perolehan berkat tetapi juga karena dilayakkan menderita oleh sebab keubahan hidup yang dikerjakan oleh Firman penyucian.

Firman penyucian yang tajam dan kuat akan direspons beragam: ada yang tidak kuat mendengar teguranteguran yang bersifat menyucikan manusia lama, ada yang cuek, ada pula yang sungguh-sungguh rindu diubahkan oleh Firman Tuhan. Diperlukan perjuangan keras dan kerelaan hati untuk mau diproses dan dibentuk menjadi kehidupan baru → ciptaan baru di dalam Kristus Yesus dan mengenakan pakaian Kristus (Kol. 3:12).

Kuasa kebangkitan Kristus yang memberikan kita keselamatan dan mmbenarkan membuat kita hidup berpengharapan di dalam Tuhan untuk memiliki hidup kekal. Kita patut bersyukur karena hidup kita yang patut dibinasakan beroleh kasih karunia untuk dihidupkan kembali.

Dengan mengenakan pakaian Kristus, kita bersukacita walau ada tanda penderitaan karena kita hidup bersamaNya untuk menjadi pelayan dan pemberita Injil Kristus.

Pertanyaan: apakah tantangan yang kita hadapi menjadi motor penggerak untuk makin sungguh-sungguh melayani Tuhan atau malah memicu kita mundur selangkah demi selangkah dengan mengemukakan banyak alasan?

Pakaian Kristus yang kita kenakan bukan berlandaskan kecakapan, kecerdasan dan kekuatan diri sendiri tetapi oleh belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kol. 3:12).

Perlu diketahui, pakaian Kristus dapat terwujud dimulai dari rumah tangga mencakup istri, suami, anak, bapak yang menjadi sasaran dari Firman.

Bagaimana seorang istri dapat tunduk kepada suami? Jika ada kerendahan hati. Jujur, tidaklah mudah dan enak untuk tunduk demi keutuhan rumah tangga itu sendiri. Firman Allah menegaskan bahwa istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri tetapi suaminya (1 Kor. 7:4). Bukankah Allah menciptakan manusia Adam terlebih dahulu baru Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam untuk menjadi penolong baginya (Kej. 2:21-22)?

Bagaimanapun juga penundukan terjadi oleh sebab kasih istri terhadap suami seperti dikehendaki Tuhan. Istri diminta tunduk supaya kalau ada suami yang tidak taat kepada Firman, mereka dapat dimenangkan oleh kelakuan si istri tanpa banyak kata (1 Ptr. 3:1-4).

Umumnya suami bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga sehingga ia cenderung bersikap otoriter dalam keluarga. Namun Tuhan tidak menginginkan hal ini terjadi. Diperlukan kerja sama yang dapat terwujud bila hati suami dan istri ada kelemahlembutan. Perhatikan, istri merupakan kaum lemah dan suami diminta untuk menghormatinya sebagai teman pewaris kasih karunia (1 Ptr. 3:7). Jangan suami malah menggunakan kekuatan dan kuasanya untuk menekan istri sebagai kaum yang lemah. Suami harus bersikap bijak yang diperoleh melalui Firman Tuhan.

Suami tidak berlaku kasar terhadap istri bila ia mengenakan belas kasihan Tuhan yang memampukan dia untuk mengasihi istri seperti mengasihi tubuhnya sendiri sama seperti Kristus mengasihi jemaat yang adalah anggota tubuh-Nya (Ef. 5:28-29).

Waspada, suami istri yang tidak dikuduskan akan melahirkan anak-anak cemar (1 Kor. 7:14). Namun kita adalah anak-anak Tuhan yang beroleh keselamatan oleh kasih anugerah Tuhan dan kita patut menaikkan doa syukur kepada-Nya.

Jangan meremehkan anak-anak yang masih kecil untuk dididik dalam Firman Tuhan sedini mungkin. Sekecil apa pun Firman Tuhan yang disampaikan dapat menjadi berkat bagi mereka. Mereka belajar mengasihi Tuhan melalui puji-pujian untuk memuliakan Nama Tuhan. Orang tua bertanggung jawab mengasuh mereka dan anakanak belajar hidup taat kepada orang tua di dalam segala hal supaya berbahagia dan panjang umur (Ef. 6:1-3). Anak-anak mampu menaati orang tua oleh sebab kemurahan Tuhan (Kol. 3:12) karena pengaruh luar (canggihnya teknologi dan berita dari medsos) membuat anak-anak zaman now sulit untuk dapat menaati orang tua.

Bapa-bapa tidak boleh membangkitkan amarah dan menyakiti hati anak-anak mereka. Sebaliknya, bapa-bapa harus mengenakan pakaian belas kasihan dan kelemahlembutan agar anak-anak tidak tawar hati. Jujur, bapabapa sering bertindak keras tanpa kasih ketika memperingatkan anaknya yang berbuat kesalahan (kecil). Perhatikan, kegaduhan dalam rumah tangga hanya karena masalah kecil menjadi contoh tidak baik bagi anakanak.

Marilah suami, istri, orang tua dan anak memeriksa diri sendiri, sudahkan kita mengenakan pakaian Kristus? Apakah masing-masing memiliki kasih untuk mampu saling mengasihi dan tidak menyakiti hati? Buanglah semua sakit hati dan kepahitan di dalam Nama Tuhan, pandanglah Yesus yang telah berkurban bagi kita dan contohlah teladan-Nya maka terciptalah keharmonisan dalam kehidupan nikah dan rumah tangga. Amin.